Tentang Desa dan Sedih Yang Mendera
Kau mengingatkanku pada kampung halaman.
Meskipun suasana desa yang tenang dengan kehidupan yang lamban berkebalikan dengan langkah kakimu yang selalu bergerak cepat, kau tetap mewujud sebuah sore yang sejuk.
Jumlah pohon tumbuh setara dengan sawah dan kebun yang masih dipelihara dengan begitu baiknya, seperti buku-bukumu. Mereka serupa, ya? Sama-sama sumber kehidupanmu. Selain sungai yang mengalir cukup deras ketika musim penghujan datang, selain berbagai gagasan penambah wawasan yang kau pelajari tiap malam untuk menjaga status intelektualitas.
Belum lagi bau tanah basah pada jalan yang belum di-paving blok dengan tumbuhan teh-tehan yang terpangkas rapi di kanan-kirinya. Harum. Seperti wangi tubuhmu yang tinggi dan kurus. Zat-zat dalam botol warna monokrom di depan cermin kamarmu tentu dapat mudah meresap ke pori-pori kulitmu.
Juga rumah-rumah yang sebagian besar materialnya berasal dari kayu dengan dapur beralas tanah basah dan dibangun tidak megah—padahal mereka bisa saja membuatnya lebih mewah. Melihat pemandangan itu membawaku pada suatu masa dimana ada kamu di sana, ketika kita duduk berhadapan bermandikan lampu kota. Pakaianmu, barang-barang yang menempel di tubuh maupun yang tersimpan di ranselmu; sederhana. ‘Cukup’ adalah kata yang mewakilinya. Sebab aku pernah mendengar sebuah pepatah,
“Kadang, yang lebih justru terasa kurang, nduk.”
Di desa itu, orang-orang menuju ke tempat mata pencaharian bersama hewan-hewan ternak yang digembalakan, berbarengan dengan anak-anak yang berangkat sekolah dengan melangkahkan kaki mungilnya—tidak ada alat transportasi, tidak perlu. Bukan tentang jalan kakinya, namun semangat menuntut ilmunya yang sebelas-dua belas denganmu.
Embun yang masih tertinggal di atas dedaunan yang kalau dipotret dengan lensa makro akan seperti kolam dengan gelembung raksasa. Pagi berkabut dengan sinar matahari yang masih malu-malu menelusup lewat celah-celah pohon yang rimbun. Daun bambu yang layu jatuh di sepanjang jalan.
Hal-hal kecil itu kadang luput, hanya beberapa orang yang kelewat sayang dengan kampung halamannya atau orang kurang kerjaan yang mengingatnya. Tapi sayang, kamu sama sekali tidak pernah terlewatkan. Orang-orang selalu menyebut kau. Namamu yang menggaung itu dengan cepat mengantar rangsang untuk membentuk suatu kenangan tentang kampung halaman di otakku, tentang perasaan-perasaan manusia yang dialami ketika tidak berada di kota.
Kebersahajaan. Kebersamaan.
Itu semua mewujud kau. Kau yang kukenal dan selalu membuatku sedih tiap kali aku pulang.



















