Langit, Bintang, dan Kita
Jarimu, hatimu, dan juga matamu itu, menciptakan cahaya yang menyilaukan, hingga malam pun terasa terang. Hangatnya seperti jatuh dan meresap ke tubuhku, membalutku dalam tujuh warna cahaya. Bersamamu, aku seperti bagian dari rasi bintang, terhubung oleh garis yang takkan pernah putus. Kunamai bintang itu namamu.
Malam itu dingin, namun langit terbentang seperti kain beludru hitam bertabur berlian.
Eleena memeluk lututnya, duduk bersandar pada Tara yang berbaring santai di rerumputan.
Keheningan mengisi udara, hanya suara jangkrik dan hembusan angin malam yang menjadi melodi.
Eleena mendongak, memandang bintang-bintang dengan tatapan penuh kekaguman.
“Seharusnya aku melihat aurora malam ini,” katanya tiba-tiba, memecah keheningan.
“Tapi entah kenapa, bintang-bintang ini… selalu terasa cukup untukku.”
Tara mengangkat sebelah alisnya, menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
“Aku tak tahu apa yang membuatmu selalu penuh pertanyaan tentang langit, Eleena.”
Eleena menoleh, tersenyum kecil. “Kau tahu, aku selalu penasaran. Bagaimana orang-orang dulu bisa membaca bintang untuk menemukan jalan? Bukankah itu luar biasa?”
Tara terkekeh pelan. “Dan kau selalu memilihku untuk ditanyai. Padahal kau tahu, aku tak tahu apa-apa soal bintang.”
Eleena tertawa kecil, lalu kembali memandang langit. “Kau tidak penasaran, Tara? Apa yang ada di balik bintang-bintang itu?”
Tara menatapnya sejenak, lalu mengarahkan pandangannya ke langit. “Entahlah. Tapi kalau aku harus menebak, mungkin di balik bintang-bintang itu ada sesuatu yang lebih indah dari yang bisa kita bayangkan.”
Eleena tersenyum. “Kau selalu memberikan jawaban seperti itu. Sesuatu yang indah.”
“Dan kau selalu menyukai jawabanku.” Tara menyeringai, lalu kembali menikmati keheningan.
Namun, keheningan itu segera pecah oleh suara antusias Eleena. “Tara! Lihat! Bintang jatuh!” serunya, menunjuk ke atas.
Tara mengikuti arah tangannya. Di antara hamparan gelap langit, seberkas cahaya melesat cepat. Bintang jatuh.
“Kata orang, kalau kita melihat bintang jatuh, kita bisa membuat harapan.” Tara melirik Eleena, matanya berkilau dalam gelap. “Jadi, apa harapanmu, Eleena?”
Eleena terdiam, seolah-olah bintang jatuh itu membuatnya kehilangan kata-kata. Setelah beberapa saat, ia berbisik pelan, “Aku berharap… kebahagiaan. Untuk semua orang. Tapi terutama untukmu, Tara. Aku ingin kau selalu bahagia. Dan aku ingin kau tetap di sini, bersamaku.”
Tara menatapnya, wajahnya perlahan melembut. “Harapan yang sederhana, tapi indah. Aku juga punya harapan.”
“Apa itu?” tanya Eleena.
“Aku berharap kebahagiaanmu, Eleena. Dan agar kita tak pernah dipisahkan oleh apa pun.” Tara tersenyum tipis, lalu, tanpa peringatan, ia menunduk dan mencium kening Eleena dengan lembut.
Eleena terdiam, wajahnya memerah. “T-Tara! Apa yang kau lakukan?” serunya, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Tara tertawa pelan. “Hanya menunjukkan betapa berharganya kau bagiku. Apa itu salah?”
“Tidak, tapi…” Eleena berusaha menyembunyikan senyumnya, kemudian berdiri cepat. “Kita harus masuk. Udara semakin dingin.”
Tara mengikuti gerakannya, mengangguk dengan santai. “Baiklah, Nona. Tapi esok malam, kita harus kembali ke sini. Bintang-bintang selalu lebih terang saat bersamamu.”
Mereka berjalan beriringan, meninggalkan padang rumput yang mulai tertutup embun.
Di atas sana, bintang-bintang bersinar, seolah merestui doa yang diam-diam terucap.














