#PejuangTA: Rangkuman Kisah Mahasiswa Labil #3
Chapter 1: Catatan Cinta Kemarin Sore
Nama gue Rama. Jam 19:30 gue baru aja menginjakkan kaki di Gramedia, Bintaro Plaza. Udah lama gue nggak main ke rak-rak buku komputer. Sekadar ngecek buku keluaran terbaru. Terakhir kali gue beli buku komputer, waktu semester akhir. Itupun terpaksa, cuma sekadar formalitas sebagai syarat mengikuti Tugas Akhir di jaman gue masih kuliah. Gue pribadi lebih suka buku bertema motivasi, pengembangan diri atau novel.
Gue adalah salah satu alumni sebuah kampus di daerah Ciputat. Meskipun banyak yang nggak tau di mana posisi tepatnya, tapi nggak sedikit orang Indonesia pasti pernah menyaksikan langsung kampus gue muncul di iklan televisi. Kampus gue emang kaya, bukan cuma promosinya lewat televisi, tapi siapa sangka, kampus gue pernah mengundang seorang Presiden Amerika Serikat sebagai brand ambassadornya, tapi versi KW-nya. Dan malam ini, gue menanti kehadiran alumni lainnya, teman-teman satu genk di kampus dulu. Kami telah sepakat untuk sekadar ‘temu kangen’ setelah 1 tahun lebih nggak kongkow bareng.
Entah, sedari tadi udah berapa buku yang gue baca penggalan sinopsisnya. Entah, udah berapa kali gue lihat dua pemuda diam-diam merobek sampul plastik novel-novel terbaru. Dan entah, udah berapa kali gue nggak sengaja berpapasan dengan seorang gadis ber-sweater pink. Cantik, memang. Tapi, orang kayak gue mana berani menghampirinya, apalagi sampe bilang ke dia
'hei cantik, boleh kenalan gak? nanti om ajak ke pasar malem deh'.
atau kayak di film-film drama Korea, pura-pura ngejambret tas dia dan ngebuntutin dia pulang, dengan wajah tanpa dosa, mengembalikan tasnya langsung di rumah dia, sambil bilang
'aku minta maaf, aku nggak ada maksud ngejambret kamu, jujur.. sebenernya, aku cuma mau kenalan sama kamu, boleh kan?'
yang ada gue malah digampar, paling parah diteriakin maling dan dibakar warga.
'udah maling! modusin pula!' katanya sambil nyiram gue pake bensin, beberapa menit sebelum gue jadi jomblo ngenes yang mati mengenaskan.
Drrttt.. Drrrtt.. Getar dan Melodi lagu Pemenang-nya D’Pan Band terdengar nyaring dari handphone gue, dan seketika menghamburkan imajinasi gue yang mulai liar. Telepon dari Irul.
'Halo sayang, kamu di mana?' suara Irul dibencong-bencongin.
'Aku di Gramedia sayang, aku sendirian.. Aku takut diculik.. Akuuu.. Akuuu.. Aku ketemu gadis cantik. Dia nyulik hati aku..' bisik gue, berlagak ketakutan.
'hahaha.. dahsyat, dahsyat! aku di parkiran.. aku segera ke sana!'
'tut.. tut.. tut..' tutup Irul. Gue ketawa bego dengan obrolan barusan.
Gue menuju rak komik di sebelah kasir. Untuk kesekian lainnya gue berpapasan dengan gadis bersweater pink itu. Dia baru aja selesai membayar buku, menatap gue beberapa detik sembari membalikkan badannya, dan lalu berjalan ke pintu keluar.
kayak di film-fim aja, batin gue. Dia berlalu. Gue merogoh saku celana, mengecek layar handphone. Ada tujuh sms masuk. Dari Bimo, Irul, Wahid, Marto, Lisa, Lina dan Amanda.
Amanda? tumben dia sms gue?
'Sorry bro, gue nggak bisa ikutan.. nganterin doi belanja' kata Bimo.
'Ane bawa sesuatu buat ente bro!' kata Irul.
'Ane di toilet.. kekunci dari luar nih kayaknya.. hadeuh..' kata Wahid.
'Lo di mana Ram? Gue sama David nih' kata Marto.
'Abaaang, di mana bang?! Aku sm Lina di depan Gramedia. Ke sini bang!' kata Lisa.
'Rama di mana Rama? Aku lagi di depan Gramed nih. Lagi ngaso dulu sama Lisa'. kata Lina.
'Halo Ram.. anak-anak udah sampe? Aku sama Galang nih, bentar lagi sampe' kata Manda.
Tujuh sms terkirim. Gue mengarahkan mereka untuk berkumpul di depan Gramedia. Gue berjalan menuju pintu keluar. Tampak Lisa dan Lina sedang ketawa-ketiwi di sebuah bangku panjang yang kira-kira cuma muat empat orang.
'Halo Lisa.. Lina..' sapa gue.
'Apa kabar kalian? hehe'.
'Alhamdulillah kita berdua makin cantik Ram'. jawab Lina.
'jiaaah.. pede bingit! hahaha'
Lisa ketawa. Lina cengar-cengir.
'Abang kabarnya gimana? Yang lain mana bang?' tanya Lisa.
'sama.. makin ganteng juga.. haha.. bentar lagi sampe katanya, sabar dulu ya.. hehe'
'Sip.. kita mau nonton apa bang?' lanjut Lisa.
'nonton? kita kan nggak janjian buat nonton. Siapa yang bilang?' tanya gue.
'Lisa barusan yang bilang. yakali aja kita mau nonton. Kan dari dulu kita ke sini cuma nonton doang.. hehe' jawab Lisa, polos.
'hahaha.. iya juga ya.. dulu kita sering banget nonton di mall ini.. tapi nggak kok.. kita nggak nonton malam ini. Si Adit ngundang kita ke tempat usaha bokapnya'
'usaha apa? bukannya bokapnya masih jualan Nasi Goreng Nanas di bogor ya Ram?' tanya Lina. Lisa bingung.
'Kalian ke hutan mulu sih.. ngilang.. jadi nggak dapet kabar kan? haha. kebetulan dia sama bokapnya baru buka cabang seminggu yang lalu. Nah tuh.. di samping XXI persis tempatnya..'
'Wihh.. serius bang?' tanya Lisa.
'Makin sukses aja dia. Kok nggak cerita sama gue ya?' Lina heran.
'anggap aja surprise Lin.. haha'
Tiba-tiba lagu Pemenang-nya D’Pan Band terdengar lagi.
'Nah ini.. Adit nelepon.. bentar ya..'
Gue menjawab telepon dari Adit. Dia menanyakan di mana posisi gue dan siapa saja yang akan hadir di mini restoran milik ayahnya itu. Dia udah kangen kita semua, katanya. Sementara Irul, Wahid, Marto, David, Galang, dan Amanda baru saja tiba di hadapan kami bertiga. Senyuman Amanda, gue dibuat gagap olehnya.
Senyuman manisnya membuat waktu berjalan lambat. Entah kenapa, terdengar sayup-sayup musik berganti dari dalam Gramedia, Sheila on 7 mempertemukan gue dengan dia yang terlewatkan.
'ke mana kau slama ini?'
'bidadari yang ku nanti..'
'kenapa baru sekarang?'
'kita di pertemukan..'
Semuanya slow motion. Hitam dan putih. Cuma Amanda yang berwarna di mata gue. Sekarang, Amanda berjalan ke arah gue. Perlahan, suara Adit menghilang, handphone gue turun ke saku kemeja. Batin gue bergejolak.
Adit? Jangan sekarang dit. Gue sibuk! lihat Dit, itu Amanda!
Amanda membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Pelukan? Sebuah pelukan Dit! Apa mungkin?! Sumpah gue nggak bisa ngedip Dit! Amanda.. ke sini sayang.. sedikit lagi.
Sekelebat bayangan mendekati Amanda. Gue nggak nyangka. Sebuah pelukan dari Amanda, tepat sasaran.
Amanda memeluk erat Lisa dan Lina. Dan saat itu juga gue mati gaya.
Mampus! pede gila gue! untung nggak ada yang ngeh. Gue kacau.
Di saat ketiganya cipika-cipiki. Gue berkilah, kembali mengambil handphone dari saku. Call Ended. 2 menit 47 detik. Adit baru aja memutuskan panggilan.
'Apa kabar bro?!' suara dan tepukan di punggung kontan membuat gue kaget. Sebuah pelukan persahabatan dari Wahid. Di susul yang lainnya, kecuali Amanda.
Saat itu juga, acara temu kangen resmi dimulai. Gue dan yang lainnya berjalan beriringan sembari berbagi kisah seadanya. Adit melambaikan tangan dari seberang sana, nggak jauh dari tempat tujuan kami. Banner Nasi Goreng Nanas hasil desain gue terpampang mantap, menyambut siapapun yang pengin mampir. Ruangan dengan sinar lampu kuning cukup jelas terlihat. Meja-meja yang ditata lesehan menambah rasa penasaran kami untuk masuk ke dalamnya. Desain kuning, cokelat, hijau menjadi ciri khas mini restoran itu.
Langkah terhenti. Jabat tangan bergantian di tangan Adit. Kami memberinya ucapan selamat atas kerja kerasnya menjemput mimpi itu. Mimpi yang selalu dia rindukan. Adit mengawal kami bertemu dengan kedua orang tuanya. Mereka sedang kebanjiran pelanggan. Hanya sebentar menyapa dan berbincang dengan orang tuanya, Adit mengajak kami ke sebuah meja, meja warna krem yang disusun memanjang dari tiga meja persegi, khusus untuk gue dan sahabat-sahabat gue. Kami langsung turun, duduk lesehan, di permukaan karpet cokelat dengan motif sulur-sulur hijau. Adit berdiri, ada yang pengin dia bilang.
'Oke.. Selamat datang keluarga CCC(Cenat-Cenut Community: genk absurd kami di jaman kuliah dulu).. Selamat datang di markas besar Nasi Goreng Nanas wilayah Bintaro, Tangerang Selatan. Rasakan kenikmatan dan kesegaran dari berbagai menu pilihan berkualitas yang kami sajikan. Nikmati Nasgornya. Nikmati malam ini' suara Adit nyaring, dengan gaya pramusaji. Semua nyengir lihat Adit.
'Mas.. mas.. pesenan saya kok belum sampe ya? saya tadi pesen sop kaki gembel mas..' kata gue ke Adit. Wahid ketawa. Irul juga.
'Maaf mas.. kami nggak jual sop kaki, kalo gembel, ada.. itu di samping mas..' timpal Adit, dia nunjuk Irul. Semua ngakak.
Irul ketawa sambil nahan malu, mukanya merah.
'Hahaha.. jangan salah.. gini-gini gembel cinta.. gembel yang digilai wanita..' kata Irul, membela diri. Wahid ngakak, refleks mukul bahu Irul. Semua ketawa dengan filosofi Irul yang selalu terdengar aneh.
'Hahaha.. Bisa! bisa!' kata gue.
'kenyataannya? tetep aja nggak ada cewek yang nyantol! dasar gembel!' Galang nyeletuk. Suasana jadi rusuh dengan ketawa kami. Orang-orang di meja sebelah heran melihat tingkah kami.
'ada kok.. ada.. orang Bandung..' sahut Irul. Disambut 'cieeee' dan 'asiiikk' dari yang lainnya.
'cewek apa cowok Rul?' timpal Wahid.
'hahaha.. dari luar sih cewek, tapi nggak tau dalemnya gimana.. nanti deh ane cek.. haha' kata Irul. Semua ketawa lagi.
'ane ikut!' kata Marto polos. Marto yang nggak biasanya nimbrung ngobrolin topik pacar membuat semua pecah seketika. Ngakak sejadi-jadinya.
'Halo kakak-kakak!' seketika sebuah suara terdengar menyapa kami. Seorang gadis dengan kaus panjang ungu gelap datang membawa nampan dengan beberapa piring nasi goreng, dia seorang Dina, mantan pacarnya Adit.
'Cieee balikan!' kata Lisa.
'Aiiihhh Dina.. Adit…' kata Amanda.
'Pajak balikan.. pajak balikan!' sindir Lina. Adit dan Dina cengengesan.
Semua kenal mantan pacarnya Adit. Adik kelas, satu kampus.
Semua cengar-cengir. Dina dan Adit udah lama balikan. Nggak banyak yang tau. Cuma gue, Irul, dan Wahid yang tau.
'Teman teman.. saya punya berita penting.. mudah-mudahan kalian semua tidak kaget.' Adit mulai lagi, kali ini dengan gaya khas seorang public speaker. Semua menyimak Adit. Adit merangkul Dina.
'Teman teman.. kami berdua telah memutuskan, jika tidak berhalangan, jika punya umur panjang, jika Tuhan mengizinkan, tahun depan, kami, Adit dan Dina akan membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih serius, kepada kebahagiaan yang tak berkesudahan' kata Adit yang membuat suasana seketika mengharu biru, ikut bahagia. Dina memeluk nampan, tersipu malu.
'Yeaay!! selamat ya Dina, Adit!' seru Lisa.
ucapan selamat bersahutan dari kami untuk keduanya.
'Maaf mendahuluimu kakak pertama' raut wajah Adit serius, meledek Irul yang paling tua di antara kami, yang sudah hampir kepala 3 tapi belum juga menikah. Semua ketawa lagi.
'Tak apa Cut Pat Kai.. semoga kalian bahagia dunia akhirat' jawab Irul.
Dina dan Adit ketawa. Yang lainnya cekikikan. Semua mengucap ‘aamiinn’.
'Eh.. Kak.. bentar ya.. Dina mau ngambil nasi gorengnya lagi.. belum kebagian semua kan?' kata Dina.
'Oke sayang.. Lanjutkan latihan membahagiakan kedua calon mertuamu..' kata Adit ke Dina. Dina gemes, nyubit Adit. Kami senyum-senyum melihat cara mereka berdua. Dina kembali ke dapur.
Dan gue teringat sesuatu.
'Oh iya.. bro.. tadi bukannya ente kekunci di kamar mandi ya? kok bisa?! haha' kata gue ke Wahid.
'nih.. Dia nih.. iseng! bukan dikunci ternyata, gagang pintunya ditahan sama dia pas ane mau keluar.. haha' kata Wahid, sewot ke Irul. Irul ngakak.
'hahaha.. emang ente berdua pada janjian di kamar mandi?' tanya gue.
'tadi pas di parkiran, ane lihat si Wahid jalan, mau ke dalem, eh dia belok ke toilet.. Ane ikutin kan.. diem-diem.. Eh taunya dia masuk ke tempat boker.. haha.. pas dia mau keluar.. ane tahan pintunya dari luar.. hahaha' jelas Irul.
Kita bertiga ketawa membayangkan kejadian konyol itu. Dina datang lagi dengan beberapa piring nasi goreng. Para wanita bersiap menyantap. David dan Marto udah nggak sabar nyicipin. Galang ngendus-ngendus.
'Nih.. janji ane buat ente!' Irul berbisik, sembari menyodorkan handphonenya. Di layarnya tampak seorang gadis ber-sweater pink, gadis yang gue jumpai di rak-rak buku Gramedia.
'loh? kok? ini yang ane bilang tadi! ini gadis yang nyulik hati aku! sempet-sempetnya ente foto dia.. haha' seru gue.
'beneran?! dia orangnya? dahsyat! hahaha' kata Irul.
'Ada apa ya mas?' tiba-tiba Adit nimbrung.
'Nih bro!.. secara nggak sengaja ane sama Rama ngeliat gadis yang sama.. hahaha' jelas Irul.
'loh ini.. ane juga lihat! barusan masuk ke sini loh.. energinya emang nggak biasa nih..' kata Adit yang juga berpapasan dengan orang yang sama. Kami bertiga dengan cekatan, melihat ke sekitar, ke seluruh penjuru mini restoran, mencari gadis ber-sweater pink itu.
'Nah..!' gue, Irul, dan Adit menunjuknya hampir berbarengan. Kita ketawa bego.
'emang dahsyat.. dahsyat!' kata Irul.
'udeh embat.. kalo gue masih jomblo sih gue yang ngembat.. haha' kata Adit.
'ini mah jatahnya Si Rama.. haha' lanjut Irul. Gue cengar-cengir.
'kenapa harus ane?' tanya gue.
'karena di antara kita bertiga, cuma ente yang berstatus H Q J! sekali-sekali ente deketin dan ajak kenalan dong, kirim energi.. kirim energi!' kata Irul.
'Nah.. bener tuh!' Adit menguatkan opini Irul. Gue berpikir sejenak, gue mana bisa kayak mereka, ngajak kenalan langsung. Ah, susah! gue nggak pede kalo ngajak kenalan kayak gitu. Tapi, bener juga sih.. nggak salahnya mencoba. Kapan lagi? ini bisa jadi pengalaman pertama buat gue kenalan sama seorang gadis cantik. Semangat Rama! batin gue mantap sembari menatap punggung gadis itu. Dia di seberang sana, 5 meter dari meja kami, membelakangi kami. Asyik berbincang dengan sahabatnya. Hanya sebagian wajahnya yang bisa dilihat.
'hmm.. oke.. sip! tantangan diterima!' seru gue.
'Nah.. gitu dong..' kata Irul. Adit senyum ke gue.
'tapi abis makan ya.. hahaha' lanjut gue.
'jiaaaahhh.. hahaha' mereka kecewa, Irul dorong bahu gue. Adit nempeleng gue, tapi nggak kena.
'makan dulu.. biar berenergi bro.. kalo belum makan, terus ngajak kenalan cewek, bahaya. kalo gugup, dengkul lemes, terus ane jatoh pingsan gimana? kan malu-malu-in.. haha' jelas gue.
'iya.. juga.. hahaha' Adit ketawa. Kami kembali ke posisi masing-masing.
'Rama.. kamu belum dapet nasi goreng ya?.. nih buat kamu..' tiba-tiba, Amanda menghampiri gue dengan sepiring nasi goreng.
'oh.. iya.. makasih ya Man..' jawab gue.
Amanda duduk di sebelah kanan gue.
'ke sini sendirian? nggak ngajak pacar? hehe' tanya Amanda. Gue jadi kikuk dan ngebatin sendiri.
pacar? kok jadi nanyain pacar? terus gue jawab apa? Apa gue harus jawab dengan sepiring cerita?
Oke! gue nggak peduli apapun respon Amanda dengan jawaban gue, gue jawab!
'Ng.. iya.. sendirian Man.. pacar? aku bingung.. mau bawa yang mana.. hehe' jawab gue. Amanda senyum sambil tetap fokus ke piring nasi goreng. Tangannya sibuk mempertemukan acar dan nasi dengan sendok dan garpu.
'O gitu.. Enak yah? hehe' lanjut Amanda.
'Enak? enak punya pacar?' kata gue, bingung.
'Nggak.. maksud aku, ini nasi gorengnya enak.. hehe' jelas Amanda.
'Oh.. i.. iya.. enak.. hehe' kata gue, salah tingkah.
'sibuk apa sekarang? masih kerja di Bank?' lanjut gue, mangalihkan.
'masih, tapi Jum'at depan mau resign'
'Oh.. mau kerja di tempat lain?'
'iya.. mau nyoba PNS lagi'
'nggak lanjut ke S1?'
'pengen sih, tapi mama selalu bilang, mau gelar setinggi apapun, ujung-ujungnya di dapur juga. hehe'
'tapi nggak seratus persen bener kan?'
'maksudnya?'
'di dapur kan nggak selamanya, kalo menurut aku, itu ungkapan yang kurang tepat?'
'seharusnya gimana?'
'mau gelar setinggi apapun, ujung-ujungnya..'
'di sumur?'
Gue menggeleng.
'di kasur?'
gue menggeleng lagi.
'terus?' Amanda bingung.
'mau gelar setinggi apapun, ujung-ujungnya dikubur.. haha' kata gue.
'hahaha.. iya bener juga. hahaha' Amanda ketawa geli. Geli banget.
Temen-temen gue ngelihat Amanda ketawa. Mereka senyum-senyum sendiri. Nggak ada satupun yang muncul ngeledek gue dan Amanda. Entah kenapa, tapi gue nggak peduli. Yang penting, gue bisa ngobrol lagi sama dia. Kaus oranye berkerah dengan balutan cardigan ungu muda dan celana jeans favoritnya menambah aura tersendiri. Rambut dicepol dan anting yang bersinar-sinar kena pantulan sinar lampu menambah ayu wajahnya. Pokoknya, Amanda jauh lebih manis dan cantik. Momen yang jarang terjadi di hidup gue.
'kamu sendiri, sibuk apa sekarang?' tanya Amanda.
'sibuk menghabiskan nasi goreng ini.. hehe'
'hahaha.. maksud aku.. aktivitas kamu.. kerja atau ngapain gituh?'
'owh iya.. hehe.. biasa, yang ngga pernah lupa, makan, mandi, tidur.. selain itu, ngoding seperti programmer pada umumnya, ngerjain desain pesenan, update status, kadang kalo lagi nggak ada kerjaan bikin video atau nulis-nulis artikel di blog.. hehe '
'Oh.. masih kayak dulu ya? hehe'
'Ya bisa dibilang begitu..'
'apa kabar cita-cita kamu?'
'cita-cita yang mana?'
'cita-cita buat terjun ke dunia perfilman'
'Owh.. sinematografi? masih inget aja kamu? hehe' gue ngebatin. Gue kaget, Amanda masih inget mimpi gue.
'iya.. tapi masih butuh ilmunya, aku masih buta banget sama ilmu sinematografi, makanya target tahun depan harus lanjut S1, ada kampus bagus di Bandung, mudah-mudahan bisa mempercepat cita-cita jadi nyata.. hehe .'
'aamiin.. keren deh, sukses ya kamu..'
'aamiin.. iya.. sukses buat kamu juga.. hehe'
'aamiin.. bareng-bareng deh suksesnya.. hehe.. eh.. bentar ya.. ada telepon nih' pinta Amanda. Amanda membuka tasnya, mengambil handphone. Dia lalu menjawab.
'Halo masee' kata Amanda lembut, manja.
'Halo' suara lawan bicara Amanda terdengar samar. Suara laki-laki. Ah, mungkin sepupunya. Di saat Amanda sibuk teleponan, gue sibuk menghabiskan nasi goreng yang masih belasan sendok lagi.
'sorry ya jadi pending ngobrolnya.. hehe' kata Amanda, selesai teleponan.
'iya nggak apa-apa Man' jelas gue. Sejujurnya gue pengen nanya siapa yang tadi telepon dia, Ah tapi buat apa? Itu privasinya.
Di saat gue pengin banget melanjutkan obrolan gue dengan Amanda, pandangan gue seketika dialihkan oleh gerak-gerik di seberang gue, tampak Dina bangkit dari depan piringnya yang bersisa sendok garpu, dan segumpal tisu. Mata gue kontan mengikutinya. Dia perlahan berjalan ke meja lainnya, dia mendekat ke meja gadis ber-sweater pink. Dia berbircara sesuatu kepada gadis ber-sweater pink itu. Siapa sangka, gadis itu bangkit dan lalu menuju ke meja kami, bersama Dina di depannya. Lalu Dina merangkul pinggul gadis itu, dan mereka berdiri sejajar. Gue deg-degan.
'Kakak..! aku minta waktunya sebentar ya.. hehe.. Aku mau ngenalin temen sekelasku, ini.. namanya Syatila..' kata Dina di depan genk CCC.
'Halo Kak.. salam kenal.. aku Syatila' kata gadis ber-sweater pink itu. Dia tersenyum ramah.
Semua merespon
'Halo Syatila..' kecuali gue, gue bingung campur kaget, ternyata dia kenal sama Dina.
Dunia kadang berasa sempit ya? orang yang bahkan nggak kita kenal sekalipun, bisa jadi ternyata adalah sahabatnya teman kita, batin gue.
Gue menatap Adit di seberang sana. Dia menaik-turunkan alisnya sambil cengar-cengir. Begitu juga dengan yang Irul lakukan ketika gue menoleh padanya. Kode yang berarti bahwa mereka berdua udah kenal dengan gadis bernama Syatila itu.
'Temen temen!.. maaf nggak bisa lama-lama.. sebenernya masih pengen kumpul, masih kangen sama kalian, tapi udah ada janji juga nih' seru Amanda dengan wajah kecewa. Amanda bangkit dari duduknya sembari menarik tas.
'Lu mau ke mana Man? kok buru-buru sih?' tanya Galang.
'Cowok gue ada di parkiran, dia baru aja sampe..'
'Cowok?! oh.. jadi kamu udah punya… pacar?' batin gue terbata-bata. Asli, ini kejutan buat gue.
'dari Semarang dia?' lanjut Galang.
'Iya Lang.. thanks tebengannya tadi ya..'
'Sip.. salam dari gue ya..'
'Oke! hehe' kata Amanda ke Galang dan lanjut cipika-cipiki sama Lisa dan Lina.
'Duluan ya Ram..' kata Amanda sebelum melangkah untuk pamit pada orang tuanya Adit.
'Adiiit.. thanks yaaa! Enak!' seru Amanda ke Adit. Adit mengacungkan jempolnya.
'Dateng lagi yaaa.. kami tunggu..' kata Adit.
'Pastiii' seru Amanda.
'Daaaah.. semuaaaa..' Amanda melambaikan tangannya. Tangan kami refleks meresponnya. Mata gue mengikutinya sampai punggungnya menghilang di balik pintu masuk.
'Mandaaa! salam dari aku buat cowok kamu! bilang sama dia, suruh dia jaga kamu baik-baik! aku yakin dia bisa jaga kamu lebih baik.. lebih baik dari aku…' batin gue teriak memanggil Amanda yang sudah pergi.
'udahlah bro.. dia akan baik-baik saja' bisik Irul yang sadar kalo gue lagi bengong ngeliatin Amanda pergi, gue kontan menolehnya.
'hehe.. iya, semoga..' kata gue pelan.
'Kak Ramaaa!' suara Dina memotong pembicaraan gue dengan Irul.
'Eh, iya Din?' kata gue.
'Sini kaaak'
'Ngapain Diin?'
'Ke sini duluu deh'
'udah sana bro!' kata Irul sembari dorong bahu gue.
'iya bro.. santai dong.. tapi ada satu pertanyaan, ente sama Adit kenapa nggak bilang kalo udah kenal sama Syatila?' bisik gue ke Irul.
'hahaha.. ini masih ada kaitannya sama sms ane yang tadi “ane punya sesuatu buat ente!”'
'apa? ini hadiah atau sedekah?'
'anggap aja sedekah.. haha'
'kalian bertiga ngerancanain apa sih sebenernya?' kata gue heran sembari cengar-cengir.
'hahaha.. udeh sana tuh ditungguin Dina!' kata Irul. Gue lalu bangkit menghampiri Dina. Gue duduk di sebelah kiri Syatila. Dina ada di samping kanannya.
'ini.. ada yang mau kenalan sama Kakak.. hahaha' kata Dina sembari menyenggol bahu Syatila, Dina meledek. Syatila refleks menatap Dina, dan mencubitnya.
'Awww.. ih! gue kan becanda Sya.. hahaha' kata Dina ke Syatila. Syatila sebal sendiri. Adit ketawa.
'Loh? tadi kan udah kenalan' kata gue, heran.
'haha.. becanda kak, becanda.. boleh minta tolong nggak kak?' lanjut Dina.
'Owh.. Ya boleh lah.. hehe.. minta tolong apa?'
'Minta tolong.. bahagiakan Syatila.. hahaha' Dina meledek lagi. Sebalnya Syatila makin jadi. Dia refleks nyubit pipi Dina. Dina kesakitan tapi sambil ketawa. Gue cengar-cengir lihat tingkah mereka.
'hehe.. emang selama ini Syatila nggak bahagia?' kata gue, mencoba mengajak Syatila ngobrol.
'Ih.. Kakak mah percaya aja sama orang gilaaa..' jawab Syatila, dia sebentar menoleh ke gue sambil tetap sibuk mencoba nyubit badannya Dina. Dina ketawa-ketiwi sembari menghindar dari serangan cubitan.
'kalopun Dina bohong, Kakak tetep mau kok?' kata gue pelan.
______tobecontinued_______