Pemberita Injil Masa Kini
Markus 1:38
Beberapa waktu yang lalu, salah satu kakak kelas semasa kuliah mengirimkan pesan melalui aplikasi perpesanan dijital mengajak saya untuk menjadi bagian dari grup media sosial yang bernama “Hostility to Hospitality”. Grup ini dibentuk dengan berangkat dari pergumulan meningkatnya peredaran berita-berita negatif seputar pandemi Covid-19. Dalam percakapan yang mulai intens, salah seorang anggota berkata mulai “lelah” mendengarkan begitu banyak hoax dan berita-berita negatif yang mendominasi masyrakat serta berdampak tidak baik bagi kesehatan mental. Oleh karena itu, masyarakat seharusnya sudah dan terus bergerak melawan hoax itu dengan berita-berita positif. Memang tidak dapat dipungkiri berita negatif pasti ada, tetapi kita dapat menyeimbangkannya dengan menerima berita-berita positif yang mampu menjaga kesehatan mental kita dengan baik.
Berita positif yang mengandung kebaikan dan kabar gembira perlu disebarkan secara konsisten. Itulah yang dikehendaki oleh Kristus kepada para murid yang bersama dengan-Nya maupun kita para murid di masa kini. Seselesainya Kristus melakukan karya kesembuhan bagi ibu mertua Petrus dan orang banyak, keesokan harinya Ia mengajak para murid pergi, padahal Simon dan para murid yang lain baru saja mengatakan bahwa orang banyak mencari. Namun, Kristus berkata bahwa mereka harus pergi ke kora-kota yang lain, yang berdekatan. Apakah ini berarti Kristus mengabaikan orang yang mencari-Nya? Bukan demikian. Ia harus pergi ke kota-kota lain supaya Injil Kerajaan Allah diwartakan, karena untuk itulah Ia datang ke dunia (Mrk. 1:38). Dengan kata lain, Kristus menghendaki bahwa Injil yang berisikan kabar sukacita-kasih dan kebaikan Allah itu tak hanya diterima dan dimiliki (dimonopoli) pihak tertentu saja, tetapi dirasakan oleh semua umat manusia di manapun berada juga seluruh ciptaan.
Setiap kita dikehendaki dan diutus oleh Kristus untuk memberitakan Injil dalam setiap kesempatan yang kita miliki. Pemberitaan Injil adalah respon iman terhadap karya keselamatan dalam Kristus. Banyak ragam bentuk kita memberitakan Injil. Kita dapat memberitakan Injil dengan bercerita secara langsung kepada orang yang kita jumpai maupun lewat kebaikan-kebaikan nyata yang dapat dirasakan langsung. Namun, juga ada metode-metode yang lain dengan konteks masa kini. Perkembangan teknologi yang pesat dengan media sosial yang beragam dapat kita optimalkan untuk memberitakan Injil. Kita dapat posting tulisan-tulisan pendek tentang kebaikan Allah yang kita rasakan lalu kita bagikan di media sosial. Atau, mengambil foto momen-momen yang inspiratif di sekitar kita melalui gawai/gadget/handphone, kita unggah dengan diberi kalimat komentar (caption) yang positif ke akun media sosial yang kita miliki. Dapat juga, kita membuat video kesaksian tentang peristiwa hidup sehari-hari yang mana di sana kita melihat karya kasih Tuhan mengalir dan memberkati, sehingga hal itu menjadi kabar sukacita dan pengharapan bagi orang-orang di sekitar kita. Maka, teknologi informasi-komunikasi dengan media sosial sebagai salah satu bentuknya, menolong kita untuk dapat setia memberitakan Injil dengan semua ide kreatif yang menyertainya. Sehingga, media sosial akan semakin dibanjiri dengan cerita-cerita sukacita kebaikan kasih Allah dan membuat setiap pembacanya merasakan damai sejahtera Allah dalam hidupnya. Sediakah kita menjadi pemberita Injil masa kini? Tuhan menolong! (septorang) * Tulisan ini diterbitkan di Kolom Renungan Warta Jemaat GKI Madiun tanggal 7 Februari 2021.








