Geopolitik Nabi
Ust. Anis Matta dalam satu kesempatan memberikan perspektif yang menarik berkenaan turunya Surat Ar-Rum yang menjadi refleksi kondisi umat hari ini.
Saat itu tahun ke-7 kenabian, jumlah kaum muslimin tidaklah banyak dan dalam keadaan tertindas oleh Kaum Quraisy. Namun Allah menurunkan surat tersebut di waktu tersebut. Apa hikmahnya?
Menurut beliau, Surat itu bercerita tentang pertempuran antara dua imperium besar : Romawi (Bizantium) dan Persia (Sasanid), yang saat itu dimenangkan oleh Persia.
Dalam kondisi umat yang ditindas, turunya surat Ar-Rum menjadi semacam pemantik untuk umat Islam memiliki pandangan visioner dalam melihat peradaban, karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam yang akan memimpin dunia kelak.
Sama halnya dengan peristiwa Perang Khandaq, di tengah kondisi yang genting bagaimana bisa Rasulullah Shalallahu alaihi Wassalam mengatakan akan menaklukan Yaman, Persia, dan Romawi padahal saat itu ancaman akan datang mengepung Madinah.
Tapi inilah Islam. Agama yang Haq. Kemenangan adalah sesuatu telah dijanjikan. Tentunya dengan ikhtiar dan perencanaan yang baik dalam mencapainya.
Maka, pemahaman Geopolitik adalah sebuah keniscayaan yang harus dipahami untuk mencapai hal itu. Dan kita semua tahu, akhirnya Umat Islam menaklukan Sasanid Persia pada Perang Qadisiyah dan 800 tahun setelahnya Imperium Romawi resmi berakhir saat penaklukan Konstantinopel.
Di zaman yang penuh fitnah ini, hemat beliau, baik Para Ulama harus berikhtiar bersama-sama dalam proses "Pendewasaan Umat" dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi konflik geopolitik global hari ini.
Jangan sampai konflik yang ada menjadikan umat Islam sebagai kayu bakar yang akhirnya memuluskan superpower dunia hari ini dan akhirnya umat hanya menjadi abu dan arang.
Maka pentingnya kita untuk mempercepat pendewasaan dengan berijtihad dalam Fiqh Tanabu (Forecasting) melihat potensi masa depan umat dan Fiqh Daulah untuk mendudukan cara bersikap dalam bernegara dan berbangsa hari ini.
Memang konflik yang menjadi pengalaman masing-masing harokah secara tidak langsung akan membentuk mental outsider : menjauhkan dari kolaborasi elemen bangsa, bangga menjadi 'asing', dan lantas abai dengan permasalahan-permasalahan umat domestik maupun global. Sekali lagi, kita perlu pendewasaan dengan Para Ulama dan Umara yang menjadi aktor sekaligus katalisator.
Pengalaman penjajahan dunia Islam yang terjadi dahulu adalah konsekuensi dari kelemahan (dalam kacamata global tanpa menihilkan peran jihad masa lalu). Tidak ada penjajahan kalau tidak ada pihak yang lemah dan hari ini umat Islam sebagian besar ada di posisi itu.
Perjalananya memang panjang, butuh kolaborasi dan proses pendewasaan yang lebih cepat. PR umat masih banyak.
Karangayar, 19 Januari 2026. Notulensi Pertemuan Ulama Soloraya dengan Ust. Anis Matta (Wamenlu RI untuk dunia Islam)








