Gus dan Seleb Hijrah
Dulu saya pernah beranggapan bahwa oknum gus-gusan nyeleneh dan juga seleb hijrah itu pada dasarnya sama, hanya beda pangsa pasarnya saja.
Melihat kelakuan oknum gus yang nyeleneh belakangan tentu bukan hal yang baru. Varian seperti itu memang sudah lama dan banyak pengikutnya. Mendasarkan kajian yang penting lucu tapi minim ilmu, bisa upload di facebook dan instagram dengan konten yang kata kuncinya "kata-kata", atau terlalu berlebihan memuji melalui sholawat yang malah menihilkan makna sholawat.
Yang seperti ini sudah saya tinggalkan sejak lama.
Tinggal menunggu waktu saja kapan ceramah nyeleneh-nyeleneh itu viral. Dan kita semua melihat mereka-mereka ini berakhir dengan video permintaan maaf atas kelakuanya.
Kalau untuk selebgram hijrah, pengalaman pribadi ini memang agak tricky, terutama dari akun-akun media sosial mereka.
Pada awalnya inspiratif, memberi semangat namun lama-lama banyak tebar pesonanya daripada membagikan ilmu. Hanya oknum.
Beberapa juga banyak yang riding the wave isu tapi kurang paham konteksnya, misal menggunakan lagu-lagu untuk motivasi-motivasi tebar pesona.
Jaka sembung memang. Cringe. Akhirnya saya unfoll untuk mengurangi dengki dalam hati. hehe.
Setidaknya postingan ini sudah cukup mewakili :
Namun dalam satu momen, saya mendapat nasihat dari guru kami tentang kematangan berdakwah, terkhusus bagaimana menyikapi fenomena-fenomena seperti di atas :
1. Merasa Lebih Baik
Beliau mengingatkan, hendaknya kita sebagai seorang penggerak dakwah agar selalu meluruskan dan memperbarui niat, terkhusus dakwah di media sosial yang menjadi sarangnya fitnah akhir zaman.
Dua contoh fenomena di atas adalah faktor yang tidak bisa kita kendalikan, sedangkan respon kita atas hal itu adalah faktor yang bisa dikendalikan.
Maka dari itu, jangan sampai merasa lebih baik dari orang lain. Boleh jadi apa yang mereka lakukan lebih banyak mendatangkan kebaikan dan kalaupun belum mungkin itu adalah proses pendewasaan mereka agar menjadi dai yang matang dalam membina umat kelak.
Tugas kita adalah mengingatkan, mendoakan, dan setidaknya tidak mengikuti hal-hal kurang tepat.
2. Menjaga Izzah
To much information terkadang menjadi distraksi dalam bersosial media. Dalam rangka menjaga izzah penggerah dakwah perlu kita memperhatian adab-adabnya: jangan mudah membagikan kelemahan di media sosial, jangan terlalu menye-menye, dan jangan terlalu terlihat kebelet nikah. Jangan.
Tegas beliau, bagaimana mau menjaga izzah umat kalau menjaga izzah sendiri tidak bisa.
3. Dekat Dengan Ilmu
Dekatkanlah jiwa dengan ilmu. Karena amal tanpa disertai ilmu tentu akan sia-sia. Mulailah dari tahsin Al-Quran, fiqh sederhana keseharian seperti thaharah, dan perangkat-perangkat dasar keislaman untuk bekal hidup.
Mereka yang disibukan dengan ilmu insyaAllah akan terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Jangan lupa istigfar dan mengharap keberkahan agar ilmu itu tidak menjadi seperti poin nomor satu.
***
Perlu diingat bahwa musuh kita yang nyata setidaknya ada 2 : zionis israel dan kebodohan yang mengakibatkan kita kalah dengan zionis.
Teruntuk gus-gus, selebgram hijrah, para penggerak dakwah, para pemuda haroki sekalian, sadarilah peran penting kita dalam meraih kejayaan umat.
Janganlah terpecah belah, perbanyaklah ilmu, kapitalisasi amal seluas-luasanya, dan tak lupa jagalah izzah kita sebagai simbol dari agama Islam yang agung ini.
Kalau kata Imam Syahid Hasan Al-Banna :
Surakarta, 08 Desember 2025.

















