Sebatas "TEMAN"
Perihal sebuah kisah yang terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan. Tak selamanya kisah itu murni tanpa cinta dan perasaan. Didalamnya pasti salah satu pihak pernah kalah. Meskipun pada akhirnya keduanya akan dan pasti berusaha menghapus guratan perasaan yang ada. Dari beberapa pengalaman, perempuan selalu menjadi korban di akhir cerita. Selalu menjadi makhluk yang kalah. Di akui atau tidak, pada akhirnya perasaan berada diatas segala-galanya bagi seorang makhluk bernama perempuan. Dalam sebuah persahabatan antara laki-laki dan perempuan, nyaman dan perhatian yang didapat maupun diberikan satu sama lain mampu meruntuhkan tembok keyakinan bernama “sebatas teman”. Seorang laki-laki, biasanya kalah dan mengalah ketika diawal. Sebagai percobaan terhadap hal yang baru dan juga sebagai selingan terutama ketika mereka merasa bosan dengan pasangan mereka yang sesungguhnya. Di akhir, biasanya mereka hanya mampu menyalahkan, bahwa perempuan terlalu menggunakan hatinya dalam segala hal. Seorang laki-laki yang mengaku menggunakan logikanya, semua sikap apik nan penuh perhatian hanyalah sewajarnya sikap yang diberikan dalam sebuah “pertemanan”. Apalagi ketika mereka sudah tak lagi bosan dengan pasangannya, sang perempuan hanyalah teman butuh di waktu dan tempat tertentu ketika sang laki-laki tak dapat bersama dengan pasangannya. Pada akhirnya, perempuan lah yang salah. Tanpa disetujui atau tidak pun ia lah yang harus mengalah dan menyadari bahwa semuanya hanya “sebatas teman”.
Oleh karena itu, bagi makhluk bernama “perempuan”, kuatkanlah hatimu, jangan lah sedikit demi sedikit kau gunakan hatimu, gunakan lah logikamu. Ada saatnya hatimu berada diatas logikamu, namun ada saatnya pula logikamu berasa diatas hatimu.
“Sakit yang kau dapat berasal dari nikmat yang kau yakini sendiri”













