Payung
Langkahku makin cepat, naik-turun, turun, kemudian naik, dan semakin cepat. Aku lihat mendung sudah menutup permukaan. Baik, kali ini aku harus sedikit berlari. Aku sedang berkejaran dengan mendung, berkejaran dengan gerimis. Aku tadahkah tanganku ke atas memastika hujan belum mulai turun, dan kali ini aku menyerah. Hujan menang. Dia turun dengan derasnya di antaraku. Sebelum basah kuyup, aku buka payung di atas kepalaku.
Langkahku tetap cepat sambil memakai payung. Hujan makin deras dan kali ini disertai angin kencang. Tidak-tidak, aku harus sampai dulu baru boleh berhenti, batinku. Aku tetap bertahan dengan langkahku beriringan dengan hujan bertumpu payung. Hujan deras angin makin hebat mengobrak-abrik pepohonan di sekitarku. Payungku tak kuat menahan amukannya, kemudian payungku terbalik ke atas. Aku terhenti, tanganku menggapai-gapai ujung payung yang sudah terlanjut terbalik ke atas dan tak mau kembali ke posisinya untuk memayungiku. "Eh mbak-mbak payungnya terbalik", seorang bapak menyapaku. Baiklah, aku basah kuyup, angin tidak mau berhenti. Sambil menggapai-gapai ujung payungku, membuatnya kembali ke posisi semula, aku masih berhenti tertahan, dan pasrah oleh hujan.














