Suasana kelam menggelayuti langit Kota Jakarta. Sejak ditetapkan sebagai tahanan rumah pada Januari 1968, kesehatan Bung Karno terus memburuk. Dalam pertengahan Juni 1970 ia diangkut dari Wisma Yaso ke RSPAD Jakarta. Berbondong-bondong rakyat membanjiri Wisma Yaso selama hari-hari yang amat menguras air mata itu. Mereka berharap, kesehatan Bung Karno akan membaik. Namun takdir berkata lain. "Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia Hadji Dr. Ir. Soekarno Minggu pagi tanggal 21 Djuni 1970 djam 07.00 telah wafat di RSPAD Djakarta, setelah sedjak tgl. 16 Djuni jbl. dirawat dirumah sakit tsb. Dibawah pengawasan suatu team dokter jang ditugaskan oleh pemerintah". Segera saja kabar tersebut mengundang isak tangis seluruh keluarga dan bangsa Indonesia. Bukan saja dari dalam negeri, ucapan belasungkawa berdatangan dari para pemimpin dunia. Dalam sekejap, berita kepergian Bung Karno menghiasi headline berbagai surat kabar nasional serta internasional. Secara fisik Bung Karno telah meninggal, tetapi api semangatnya, gagasannya yang ia guratkan dalam tulisan maupun utarakan dalam ucap, sekali-kali tidak pernah pergi. Untuk segala pengabdiannya bagi bangsa Indonesia dan kemanusiaan, semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Seperti diucapkan Bung Karno dalam pidatonya, 17 Agustus 1965, 'Salah-seorang penyair kita menyatakan 'ingin hidup seribu tahun lagi'. Aku pun ingin hidup seribu tahun lagi. Tetapi hal ini tentu tidak mungkin. Tidak ada satu manusia pun yang mencapai umur seribu tahun. Tetapi aku mendoa, ya Allah ya Rabbi, moga-moga gagasan-gagasanku, ajaran-ajaranku, yang kini tersimpul dalam Lima Azimat, gagasan-gagasan dan ajaran-ajaranku itu akan hidup seribu tahun lagi!'. Repost from @presidensukarno #Jasmerah #potolawassukarno #proklamator #soekarno #potolawas #Soekarno (di DKI Jakarta) https://www.instagram.com/p/CUEPy1_BI4S/?utm_medium=tumblr