Sosial Media dan Empati
Zaman sekarang ini rasanya tidak ada manusia tanpa satu akun media sosial. Generasi saat ini menjadi generasi yang bukan lagi melek huruf tapi juga melek teknologi.
Saya sendiri mengalami bagaimana punya Friendster, Facebook, Twitter, Path, dan terakhir Instagram. Mungkin kalau kita pergi ke belahan dunia manapun, sangat sulit untuk tidak ditemukan. Karna kita terhubung dengan segala akun yang ada. Dan itu melacak pergerakan langkah kita. Seharusnya di zaman sekarang, manusia semakin takut melakukan kejahatan. Ya kan? Haha
Saat ini saya sedang di fase yang suntuk. Setahun ke belakang, saya meninggalkan FB, kalau Twitter mungkin sudah tiga tahun ini tidak membukanya. Facebook hanya digunakan sebagai "alat" saja. Agar memudahkan saya satu kali klik membuka akun lain untuk mendaftar. Masuk linkedIn, Gojek, Iflix, dll yang mengharuskan untuk mengisi data diri. Tapi dengan FB, membuat semuanya lebih mudah. Hahaha duh watir banget ya FB, kamu hanya dibutuhkan saat perlu.
Dulu, apa-apa update di FB. Sekarang dia mulai ditinggalkan. Manusia fokus ke Instagram. Oh jelas, lebih bagus IG kalau dari segi konsep. IG menjadi galeri foto dunia maya yang sangat memanjakan mata kita.
Instagram sangat cocok bagi mereka yang suka dengan dunia fotografi. Selebihnya bagi mereka yang ingin eksis, dianggap ada dan masih hidup dengan kondisi yang amat sangat baik.
Membagikan setiap momen berharganya untuk diketahui banyak orang. Disinilah kita harus berusaha memberikan konten yang baik dan layak untuk dibagikan. Disinilah kita diuji akan niat. Asli lah saya belum yakin pada diri saya sendiri kalau yang saya tampilkan murni untuk berbagi kebahagiaan, berbagi cerita. Karna masih saja ada pikiran picik yang ingin menampilkan kesombongan, ingin pujian, ingin komentar baik, dibalik foto yang di upload. Itu mah saya. Kamu mah nggak kan?
Ujian juga ketika niat kita tak sama dengan persepsi orang. Kita hanya ingin membagi foto berharga seperti foto pernikahan, cincin tunangan, berduaan, bersama anak, dll lalu menyimpannya di dunia maya. Beda dengan orang sekitar kita, yang melihat foto tersebut. Kadang diantaranya, enak ya jadi dia, duh seneng ya udah nikah, bahagia banget ya lihatnya, aku kapan ya, kok dia enak banget ya jalan hidupnya.
Masa sih tun? Lo aja kali yang gitu... Hahaha
Tapi betul kenyataannya memang begitu. Dulu iri sama tetangga. Ya karna ada di lingkungan kita dan terlihat oleh mata. Sekarang? Kita bisa iri dengan teman lama yang jauh disana. Mereka yang sedang jalan-jalan, mereka yang sudah bekerja, mereka yang sudah mapan, mereka yang terlihat mudah atas pencapain hidupnya.
Begitulah penggambaran sosial media. Siapapun bisa terlihat baik, terlihat kaya, terlihat bahagia, terlihat cantik, dan semoga tidak hanya kelihatannya saja.
Saya mulai merefleksikan diri saya. Sejauh mana saya menggunakan sosial media dengan menyuguhkan manfaat. Saya masih jauh dari kata itu. Saya juga takut akan mengalaminya. Mengalami hal baru terus-terusan dibagikan pada dunia maya.
Bagi mereka yang baru merasakan hal baru, memang psikis nya begitu. Masih meletup-letup untuk terus dihidangkan. Masih belum puas untuk menampilkan satu dua foto. Misalnya, yang baru menikah. Ia akan terus membagikan setiap momen romantisnya. Baru punya anak. Ia akan terus berfoto bersama lalu go public.
Ya biarin lah. Itu kan urusan dia tun. Emang nggak boleh?
Boleh sangat boleh. Sangat wajar. Tapi tetaplah meninggikan empati. Kalau kita bisa bertoleransi antar agama, suku, budaya. Kita juga harus ahli dalam berempati. Jangan terlalu banyak menampilkan hal baru yang sedang kita nikmati. Orang lain belum tentu senang, boleh jadi ada sebagian dari temanmu yang belum mendapatkan pekerjaan menjadi iri atas foto yang kamu tampilkan. Kita tak pernah tahu akan hal itu. Dan saya banyak belajar akan hal ini.
Kita harus belajar menjadi pengguna sosial media yang bijak. Nasehat klasik yang memang sulit diwujudkan di era masa kini. Kalau bukan kita, siapa lagi?
Ini pun yang membuat saya memutuskan menonaktifkan IG sementara waktu. Saya bukan anti sosial media. Dan saya juga tidak berjanji akan melepas selamanya. Haha. Saya hanya butuh ruang sendiri. Ceilah #temantulus ahaha.
Saya terlalu banyak memikirkan perilaku orang lain, terlalu ingin tahu atas kegiatan orang lain, terlalu sibuk menghitung jumlah like, komentar, siapa yang kepo, yang kalau kata teman saya Reka, like itu bangke banget tun! Hahaha bener sih.
Nah iya mungkin. Saya ngebangke banget. Waktu saya habis oleh IG. Sudah sholat ingin buka, selesai mandi kepo juga, di jalan masih aja penasaran, ngobrol sama Ibu pun sambil main HP. Puncaknya pas kemarin lebaran. Saya lihat acara Alvin yang mewawancara Reza Rahardian. Dia hidup tanpa sosmed tapi tetap fine-fine saja. "Aku lebih suka ngobrol dengan face to face. Sambil ngopi dsb. Itu cukup buat aku."
Edan gak sih. Saya tertohok. Haha. Seorang artis papan atas pun nggak gila sosmed meeeen. Ini kenapa saya tiap detik addict banget. Disitulah saya mulai yakin untuk non aktifkan IG. Saya masih perlu mengevaluasi diri saya bagaimana cara saya bersikap di dunia maya. Belajar mengontrol diri saya. Dan mungkin saat ini saya ada di fase jenuh dan ingin direhabilitasi karna kecanduan sosmed!
Intinya adalah, untuk saat ini saya belum memerlukan IG untuk dijadikan peluang kebaikan. Banyak hal baik yang saya temukan, contohnya Ibu Retno Hening. Tapi lebih banyak membuang waktu dengan mengurusi hal yang tidak penting. Saya lebih baik menghabiskan waktu dengan hobi dan melatih diri untuk terus menulis di blog ini.
Tidak ada sosial media yang buruk. Penggunanya saja yang kurang baik. Jadikan sosial media sebagai ladang kebaikan.
Seperti biasa, yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca.
Janatun Rahmilah
Bandung, 18 Juni 2018














