[DIMULAI] Ah, sungguh, ingin sekali aku jera untuk menulis segala tentangmu, Dee. Tetapi tangan ini justru semakin susah untukku atur sendiri. Dia memberontak layaknya ombak yang senang menghantam bebatuan di pinggir pantai. Dan, begitu pula-lah dengan hati yang tak kunjung lelah merasa nyeri atas luka yang selalu saja menolak untuk diobati. Menurutmu, aku harus bagaimana? Mengikuti keinginan batin yang begitu ngotot untuk menyelesaikan rasa meski berakhir dengan luka baru, atau tunduk pada logika yang jelas-jelas tidak akan mau satu kubu dengan hati? Ah, sial. Mengapa urusan dengamu, kini semakin memperumit kondisiku, Dee? Atau, hanya aku sendiri yang terlalu menggunakan hati sehingga menjadikan aku yang sekarang? Baiklah, untuk kali ini.. biarkan hati yang memegang alih segala macam bentuk rasa. Ku percayakan secara menyeluruh sebab dan akibat yang akan ditanggung pada hati, walau mati rasa adalah satu satu dari sekian banyak kosekwensi yang terjadi. Dan kepada logika, mari kita berjabat tangan. Mari kita lihat bagaimana semesta membolak-balik rasa yang telah membuat seseorang pernah menjadi utuh. Sebab kali ini, kau tak perlu banyak untuk ikut campur apa yang tlah ku beri pada hati. Ah.. jika boleh aku mengeluarkan air mata, akan aku keluarkan. Tetapi sayangnya kini sudah tidak bisa. Air mataku terlanjur mengering karena sudah menangis setiap malam dalam 5 tahun lamanya. Bahkan mulutku pun memilih bungkam jika mataku tlah mengeluarkan jurus saktinya. Bagaimana ini, Dee? Bagaimana jika aku ternyata masi belum siap? Bagimana.. jika ternyata kau tak pernah menemukan untaian akrasa bisuku, meski kau sendiri selalu meyakinkan aku bahwa kelak kau akan menemukannya? Dan teruntuk readers setiaku,selamat membaca. Semoga kau bertahan denganku hingga babak penghabisan dalam menyelamidiksi-diksi yang selalu ku hadiahkan untuk Dee yang sempat bersamaku pada 10tahun silam. Tidak. Kau tidak perlu takut untuk ikut menjelajahi rasa-rasa yangsudah pernah kau cicipi ini. Karena yang kau perlukan setelah membaca untaian-untaianini ialah, tumbuhnya rasa kerelaan terhadap segala hal yang sudah terjadi. —Pekanbaru, 2018.