Sampai saat ini aku masih mencintainya, tetapi aku sadar, ada hal-hal yang memang tidak bisa dan tidak mesti dipaksakan di dunia ini. Cinta bukanlah memaksa, tapi cinta itu merelakan. Rela perasaanmu ada begitu saja terhadapnya, rela kamu merindukannya terus menerus, rela melihatnya bahagia di hadapanmu, meski akhirnya dia bahagia bukan bersama kamu lagi, ya kamu mesti merela. Begitulah aku mendefinisikan cinta, meski sebenarnya aku tidak tahu betul apa artinya.
Sebelumnya aku tidak pernah memilih untuk jatuh cinta kepadanya, jangankan jatuh cinta, mengandaikan berbincang dengannya saja aku tidak berani. Dia bagiku terlalu tinggi dan jauh, seperti bintang di angkasa, sedangkan aku berdiri di bumi, sehingga aku hanya bisa memandangnya yang mempesona tanpa bisa mendekatinya.
Dia selalu berkilau, senyumnya yang manis, wajahnya yang ramah, matanya yang berbinar hanya dengan melihat hal-hal sederhana, dan tutur katanya yang santun membuatku selalu bahagia saat memerhatikannya diam-diam. Bukankah menyukai tidak mesti selalu dipersembahkan di hadapan? Begitulah caraku mencintainya tanpa mengharap perhatian. Hingga suatu hari, beberapa hari sebelum hari ulang tahunku dia menyapaku dengan sapaan seperti sudah saling mengenal sebelumnya. Padahal seingatku mungkin dia tahu aku, tapi hanya sekadar tahu, tidak mengenal nama bahkan mengenal aku seutuhnya. Mulai saat itulah kedekatan aku dengannya berawal, kedekatan yang pernah aku harapkan namun akhirnya membuatku tidak lagi berani menginginkannya. Mungkin saat itu aku yang berharap terlalu berlebihan, katanya yang berlebihan itu tidak baik. benar saja, aku terluka dengan harapan-harapan yang kubuat sendiri. Dia tidak memilih aku, dia memilih orang lain untuk menemaninya selalu. Aku memang terluka, tetapi aku sadar memang seharusnya aku tidak berada di tempat itu, di hadapannya dengan perasaan yang selama ini kusembunyikan, aku tidak seharusnya berada di sana.
Butuh waktu lama aku untuk memulihkan hatiku, menyadari kenyataan yang ada di hadapanku, dan merelakan apa yang terjadi kepada hatiku. Hatiku pulih, tidak lagi bersedih. Hatiku tabah, tidak lagi merana. Tetapi aku masih mencintainya. Aku memang bisa memulihkan hatiku tetapi tidak bisa menghilangkan dia begitu saja. Aku masih selalu merindukannya, mengenang segala yang pernah dilalui berdua, serta mengingat selalu senyumnya yang pernah dipersembahkan untukku. Ah, setelah kuraba-raba hatiku, sampai saat ini pun aku masih memiliki rasa yang sama. Bedanya aku lebih menata dengan rapih rasa itu, tidak lagi berani mengharapkan berlebihan atasnya.
Sederhana saja, aku kembali mencintainya dengan sederhana. Aku kembali pada tempatku, di bawah langit itu untuk bisa memandangnya seperti dulu. Dia kembali menjadi bintangku, bintang yang kupandang dengan perasaan bahagia tanpa diketahuinya, bintang yang kembali membuat mataku berbinar, bintang yang sering membuat hatiku berdesir, bintang yang mengajari aku cara mencintai dengan tabah, dan bintang yang sinarnya memintaku untuk mencintainya dengan utuh. Dan aku sadar, tempat ternyaman untukku mencintainya dengan bahagia bukanlah di hadapannya, tetapi di balik punggungnya.
Aku pernah terluka karenanya, tetapi entah mengapa aku kembali menyukainya diam-diam, dan merelakan perasaanku tumbuh dalam-dalam, meski sendirian.