MERASA MEMILIKI. Ramadhan belum lama pergi. Rabu itu, terhitung genap memasuki hari ke sepuluh bulan Syawwal. Fajar belum sempurna menampakkan dirinya. Sedangkan kaum muslimin sedang disibukkan persiapan dan perbekalan. Langit yang sedianya tenang tiba-tiba berubah dengan cepat. Wussh... berkelabat anak panah meluncur. Satu per satu awalnya, kelamaan seperti hujan tak kenal henti. Pasukan yang terhimpun dari kabilah-kabilah di sekitar Mekkah ini semakin berani. Strategi pemimpin mereka, Malik bin Auf berhasil. Suku Hawazin, Tsaqif, Nashr, Jusyam, S'ad, Bani Hilal, dan suku lainnya sekitar Mekkah yang masih menolak Islam, terus melancarkan serangan. Pasukan muslim kali ini jumlahnya hingga dua belas ribu orang. Tak masuk akal rasanya bila kekalahan yang dituai. Bila saja Rasul dan beberapa orang beriman tak berjiwa pemberani, bukan tidak mungkin, kegelimangan Fathu-Makkah yang baru saja diperoleh akan lenyap pagi itu. Keadaan berbalik saat Rasul meminta pamannya, Al-Abbas berteriak meminta pembuktian baiat setia kaum Muslimin. Lalu turunlah AtTaubah ayat 25-26. Maka lembah Hunain menjadi saksi, bahwa sifat sombong mengalahkan logika jumlah. Tersebab ada sebagian yang sudah merasa memiliki kemenangan. Berupaya mendahului takdirNya. Pun pada kisah Qarun, kita belajar bahwa sifat merasa memiliki membuatnya tersapu dari dunia, bersama harta melimpah yang ia klaim telah memilikinya. Maka kita adalah termasuk pandir dan bodoh bila tak belajar dari dua kisah mashur ini. Merasa memiliki sesuatu atau seseorang, merasa memiliki masa depan, merasa memiliki kebahagiaan, merasa memiliki surga, dan perasaan telah memiliki lainnya. Meramal ketetapan yang belum saatnya. Seringkali kita tenang terhadap sesuatu yang belum dijamin, sebaliknya, merasa khawatir pada apa yang telah ditetapkanNya. Fagfhirlana. Foto: Masjid An-Nur Biofarma, Bandung










