Aku berkebun, kenapa? Seringkali malas-malasan sampai cuma bilang suka. Padahal jadi kesukaan pun baru setelah diperkenalkan. Terimakasih iceberg teori yang jadi penjelasan atas segala penyederhanaan.
Awalnya karena banyak pemateri kuliah yang sering mengingatkan kalau permukiman dan pembangunan menyisakan banyak masalah. Contohnya bertebaran dimana-mana. Kalau prodi ini sih primadonanya jauh-jauh: kegagalan desain brasilia lah, pruitt igoe lah, tapi rata-rata semua bicara hal yang sama: dampak sosial dan dampak lingkungan (lah, frase ini iceberg juga. haha)
Beruntung anginnya mendarat sampai Kemenuh. Bermodalkan the green studio handbook hasil jadi anak baik-baik satu semester, aku ketemu seseorang yang nabok aku pertama kali pakai realitas yang paling terjangkau di mata. Lokasi proyek yang dia jalankan ada tepat di sebelah Tukad Petanu, sebuah sungai yang disakralkan yang tambangi secara liar untuk batu parasnya. Waktu itu prolognya belum sampai ke sana. Prolog yang diperkenalkan baru seputar air permukaan (aquifer) di Bali yang turun sampai 8meter pertahunnya (data 2013). Melalui pemukiman dan gaya hidup, ia mencari jalan terbaik menanggapi kejadian-kejadian ini.
Konsepnya adalah manusia memimikri sistem alam agar tetap menjadi bagian dari keseimbangan. Bukan manusia sebagai yang dijamu dan difasilitasi, kita kan di bumi ngga cuma bertamu tiga hari. Makanya dari sistem mendesain bangunan dan sistem permukiman, sampai cara menjalani keseharian dirombak jadi siklus yang berkesinambungan. Alam ngga menyisakan sampah, selalu ada yang berfungsi untuk selalu menjalankan rotasi. Alam serba dekat, pemenuhan kebutuhan ngga perlu jauh-jauh didapat.
Terkait pola hidup, waktu itu dia mencontohkan pakai pohon dan monyet. Ada pohon, ada hujan ada matahari, sama ada monyet. Monyet bobo di pohon, makan dipohon, pupnya di pohon, terus pupnya jadi makanan pohon, pohon berbuah monyetnya makan lagi, gitu seterusnya. Manusia baiknya juga gitu. Ngga perlu jauh-jauh nyambung listrik dan selalu bergantung sama PLN. Ngga perlu jauh-jauh nyambung air dan selalu bergantung sama PDAM. Ada banyak cara lainnya yang ternyata dekat dengan kita dan bisa kita lakukan sendiri. Termasuk juga mengenai pemenuhan kebutuhan makanan. Ngga perlu ada sayuran naik pickup dari pinggiran kota ato malah dari belahan dunia mana terus kita selalu jemput dia di mana. Mumpung ini di Indonesia lho, aku pernah ngga sengaja jadi tanam melon gara-gara bijinya hidup di ember kompos. Segitu gampanya apa-apa hidup di sini. Itu yang bikin orang yang bermukim di proyek ngebun semua, terus aku ketularan bibit-bibitnya.