23. Surat dari Arumi : Kisah seorang INFJ
Hai, kenalkan aku Arumi. Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang INFJ yang ingin berbagi kisah. Atau mungkin kamu juga salah satunya?
Diri ini dianugrahi rasa penasaran oleh Allah untuk mengenal kepribadian demi mencari metode self improvement yang tetap, plus juga demi menemukan potensi lain yang udah Allah titipkan ke diri ini. Ketika diri ini tahu kelebihan dan kekurangannya ini-itu, kita akan cepat sadar dan mengerti ‘bagaimana seharusnya’ ketika menghadapi situasi tertentu.
So accept me all the same, yeah?
Untuk kebanyakan orang, aku mungkin terlihat pendiam, introvert, namanya juga INFJ (introvert intuition feeling judging) buat sekumpulan orang tertentu aku bawel, outgoing, sanguinis, stand out in the crowd, dan ladidadidum lalala extrovert lainnya.
The bittersweet truth is…
Aku tidak pernah senyaman itu ketika berada di kerumunan.
yeah, i get energized by people, but only from my dear closest people.
Ini menjelaskan pertanyaan diri sendiri, mengapa aku seperti memiliki koefisien gesek statis yang besar sekali setiap ingin muncul di keramaian untuk jangka waktu yang lama? the answer is really simple: i am exhausted by crowd.
Aku bukan tipe orang yang biasa untuk memulai di keramaian, awalnya aku bisa sedikit heboh lalu lama-lama, pet! mati lampu. entah, crowd menghisap energiku seperti black hole.
Moving on! sebagai INFJ dominant function, aku adalah Introverted Intuition which is the most awesome thing that ever happens in my life, i only found this function awesome today. Ini sangat menjelaskan mengnapa aku suka mendapatkan kesan instan tentang orang asing, hmm apa ya ketika ada orang asing masuk ke kehidupanku seperti ada panggilan –entah dari mana- bilang itu orang baik, itu enggak, gitu. Entah itu mungkin bisikan intuisi dari alam bawah sadar, atau feeling ga enak kalo temen ada apa-apa, dan kadang aku kesal dengan diri sendiri karena kesannya gampang suudzhan, astaghfirullah haha.
Berbicara dengan intuisi, aku juga suka memperhatikan orang-orang dan menebak perasaan ataupun karakter orang. Aku bisa membaca beberapa orang yang memang ‘readable’ (kadang ada juga yang susah sih). Nah karena itulah kadang aku juga membuat diriku sendiri ‘unreadable’ –bagaimana caranya agar tidak mudah ditebak- (tapi beberapa orang berhasil menebak aku, hm). Hal-hal yang aku tebak kebanyakan selalu benar, mungkin inilah intuisi. Dari kecil aku senang sekali pelajaran mengarang, menggambar,mewarnai, mendongeng karena memang hobiku berimajinasi. Imajinasi itu antara lain menemukan sebuah ruangan di bawah tanah yang didalamnya seperti sebuah rumah lengkap dengan perabotannya.
Kadang apa yang aku bicarakan selalu sulit dimengerti oleh orang sekitar. Karena itu, aku jadi malas berbicara banyak dengan orang kecuali dengan orang-orang tertentu yang nyaman diajak bercerita dan cocok dengan karakterku. Aku lebih suka mengirim/menerima sms ketimbang menerima/me-nelepon, aku lebih senang berbicara lewat tulisan.
Setelah mengisi MBTI tes dan hasilnya INFJ, barulah terjawab kenapa selama ini aku seperti “ini”. Karena penjelasan tentang “introvert” saja belum cukup. Itu belum menjelaskan mengapa aku suka menganalisa suatu kasus dari berbagai sudut pandang, suka mengkritik diri sendiri dengan keras, mengapa aku suka pake bahasa yang berbelit-belit dan membiarkan orang menebak maksudnya.
Well, INFJ explanation answers all. You may have known me so well, based on my explanation about myself I wrote here.
Seperti umumnya orang-orang ‘sejenis’ seperti aku, aku bisa dengan lancar menuliskan segala sesuatu tentang diri aku lewat tulisan. Kalau ditanya secara verbal, agak sulit karena mungkin bisa jadi takut salah ngomong, grogi, salah paham atau bisa jadi jawaban yang kamu minta nggak bakal keluar semua.
Another obvious example is, ingatkah tulisan-tulisanku sebelumnya? Orang yang jeli pasti bisa melihat benang merah di antara tulisan-tulisan aku itu. Inti ceritanya mungkin cuma A. Titik. Tetapi aku bikin banyak tulisan dari situ, A-Z dari berbagai sudut pandang pihak-pihak yang terlibat. Di tulisan tertentu, aku jadi si “aku” dan melihat masalah plus berbagai emosi yang dirasakan dari sisi orang tertentu. At that time I didn’t even know that I’m an INFJ. Bagi yang mengenal aku, pasti juga tahu aku hobi menggunakan metaphorical language untuk menjabarkan sesuatu. Well. Gaya bahasa rumit dan sering menggunakan metafor juga salah satu ciri khas INFJ. Another abnormality explained. Another uncommon trait of me explained.
Kami biasa “bermain-main” dengan emosi orang. Karakter dasar INFJ adalah intuitif, sensitif, dan emphatic. Kami bisa merasakan emosi orang. Orang INFJ juga sering dikira extrovert karena kami bisa dengan mudah bersosialisasi dengan orang. Aku khususnya tahu, kapan saat yang tepat untuk mengajak bicara orang untuk menanyakan suatu hal tertentu, bernegosiasi, atau kapan harus tutup mulut, kapan harus berpura-pura dan menempatkan sesuatu pada tempatnya ‘versi diriku sendiri’. Plus, orang menyangka INFJ mempunyai kepribadian ganda. Kepribadianku yang asli terlihat kalau sedang dengan orang-orang dari “lingkaran dalam”.
INFJ dikenal sebagai orang yang idealis dan keras kepala kalau itu menyangkut prinsip dan pandangan hidup. Sulit untuk dekat dengan orang lain. Butuh waktu berbulan-bulan bagi orang lain untuk bisa menembus lapisan-lapisan kepribadian aku yang rumit. Itupun kalau mereka cukup sabar, dan sudah bakal dipastikan kalau orang-orang disekitarku itu orang yang sabar :,)
INFJ personalities have a unique combination of idealism and decisiveness – this means that their creativity and imagination can be directed towards a specific goal.
Kreativitas dan imajinasi bisa dipakai untuk mendapatkan apa yang diinginkan. INFJ juga seorang perfeksionis. Digambarkan kalau orang INFJ selalu mengkritik dirinya sendiri karena susah untuk benar-benar percaya diri. Ditambah dengan peka sensitivitas, kami kurang bisa menolerir kesalahan. Kadang sekalinya kecewa sama orang, susah untuk kembali normalnya, atau…ketika seseorang bertanya ‘sesuatu’ ketika moody, bisa bikin mood aku benar-benar terjun bebas. Kamu pernah mengalaminya?
INFJ juga orangnya planner, bisa stress kalau harus menghadapi sesuatu secara spontan. Aku punya toleransi yang amat sedikit terhadap perubahan di dalam hidupku. Aku justru merasa nyaman dalam rutinitas. Aku merasa stress kalau tahu ada sesuatu yang mendadak. Kalaupun memang harus ada, aku harus tahu itu jauh-jauh hari, jadi bisa siap mental dulu. Inilah kenapa aku agak sulit sama pandangan orang yang bilang kita harus keluar dari comfort zone kalau mau sukses. Aku lahir dari kebiasaan, ketika kita nyaman, berada pada zona yang menyenangkan, membakar semangat kita, well kenapa tidak bisa untuk sukses?
I have my own definition of success based on my perspective that most of you won’t understand.
Orang-orang sepertiku tidak suka konflik. Makanya kami cenderung lari dari masalah kalo harus menghadapi konflik. Bukannya takut, kami justru tidak suka kalau kami menyebabkan ketegangan.
We love harmony. The disharmony situation will stress us out. That’s why when it comes to opinion, I much prefer sweet lies than bitter truths.
Karakter INFJ lainnya antara lain: Njelimet, banyak remah-remah hidup di dalam kepalanya, kreatif, imajinatif, suka possibilities, suka mengamat-amati dan mencatat hasilnya diam-diam di kepala, amat private, socially awkward ,moody, tidak suka keramaian, tertarik sama sesuatu yang tersembunyi dan tersamarkan (seperti makna pada kalimat-kalimat ambigu berhias metafor, atau bahkan motif tersembunyi seseorang), curigaan, misterius, jauh lebih bisa menggambarkan sesuatu dalam tulisan ketimbang secara verbal.
INFJ itu tipe kepribadian langka di dunia. Di MBTI, ada 16 kepribadian, dan INFJ cuma dimiliki sekitar 1% penduduk dunia. Ditambah lagi, kepribadian ini rumit. Plus, ada banyak lapisan-lapisan diri yang harus disingkap satu-satu untuk bisa mengetahui yang sesungguhnya. Itulah kenapa, kami misterius, kami punya banyak rahasia, karena itulah kami menutup diri dan cuma membagi pikiran-pikiran terdalam kami ke orang yang benar-benar bisa dipercaya.
Nah. I’ve tried to describe myself and explain my “abormalities” to you, karena aku sulit menjelaskan tentang apa yang aku rasakan dan karakter-karakter dasar aku ke orang lain secara verbal. Susah. Entar mau ngomong apa, yang keluar malah apa. Aku selalu begitu. Nanti pas dipikir-pikir lagi, “eh, kenapa tadi ngomong begitu? Seharusnya……. tralala lainnya”
Baiklah. Mungkin ada di antara kamu yang setipe denganku? I’d be glad to know :)
-Arum(i)
11:45




