Tinggal (aku) selamat tinggal (kamu)
Tak perlu ada yang disimpan dalam kenangan bukan? Lalu, mengapa dingin selalu saja menyelimuti tangisan dan lagi-lagi hanya keheningan yang sedia bersemayam? Malam-malam setelah kau membungkam semua harapan, sudah tak lagi bisa kulihat arah mana yang selanjutnya harus menuju. Apa masih ada tempat untuk bersinggah, setelah kamu menjadi penyebab ada ragu untukku kembali bersungguh.
Begitukah caramu mengucap salam perpisahan? Tanpa ada sepatah kata yang terucap. Tanpa ada sapa dan senyum seperti biasa.
Begitu mudahkah kamu meninggalkan? Padahal seluk pikirku masih terisi penuh oleh bayang-bayang tentangmu. Sepahit itukan cinta kita berdua?
Ingat saat itu? Saat dimana kelopak mataku kuyup oleh derasnya hujan dan air mata, aku bahagia. Karena kau mengucap 'akan selalu ada'. Sederhana, namun sanubari tak henti-hentinya bergemetar memikirkannya.
Setelahnya. Hati yang dulu kau anggap sebagai singgasana. Kini hanya menjadi ruangan semu penuh rasa hampa.
Berat bagiku, ringan bagimu.
Adakah alasanmu untuk membela? Adakah kata yang kau pikir bisa meredakan sesak di dada?
Meskipun kutahu, takdir telah memberi keputusan untuk lebih awal memilihmu bersanding dengan Tuhan.
Maaf, aku tak bisa dengan cepat menyamai posisimu. namun, tentang waktu yang pernah kita lalui, Sungguh selalu tersayat dihati. Ya, aku bersyukur kau pernah berada disini. Disisiku.
Jika kau masih menyayangiku. Izinkan aku untuk kembali tersenyum. Izinkan agar aku bisa merasakan kembali keharmonisan cinta.
Izinkanlah untukku kembali bahagia. Dengan orang yang saat ini aku jaga, dengan orang yang saat ini aku cinta. Dengan orang, tanpa ada kamu kamu di dalamnya.






