Pelepasan, Awal Sebuah Mimpi
Tidak seperti training center (TC) biasanya. Hari itu aku dan teman-teman calon kontingen Perkemahan Bhakti Saka Bhakti Husada menjalankan TC yang terakhir. Sore itu, kami mempersiapkan apa saja yang harus dibawa ke Sukoharjo. Dari alat-alat berat, sampai buku administrasi kami packing. Tanpa kecuali. Kami tidak mendirikan tenda, kami tidak disuruh untuk mendirikannya. Senja pun berganti malam, kami masih mempersiapkan semuanya. Mempersiapkan mental dan fisik juga untuk kegiatan esok hari yaitu Pelepasan Kontingen Pertihusada dan Jambore Daerah SD/MI Kabupaten Banyumas bertempat di Pendopo Wakil Bupati Banyumas. Malam telah datang, kami semua beristirahat tidak di tenda melainkan di Masjid untuk putra dan di ruang Kwarcab untuk putri. “Tidak ada korve untuk malam ini. Semuanya tidur” ujar kak Indra. Kak Indra adalah pimpinan kontingen sangga putra. Tapi dalam batinku masih ada rasa deg-degan takut ada PLB lagi. Namun, sampai subuh tidak ada PLB. Kami bangun, sholat, dan dilanjutkan bersih diri persiapan untuk acara pelepasan. Jam 6 kami sudah siap untuk berangkat menuju ke pendopo wakil bupati. Kami 21 orang dengan kak Diana sebagai pengemudi, berada dalam satu mobil. Ditambah dengan kami yang membawa alat-alat untuk pentas seni begalan yang rencananya akan ditampikan saat pelepasan. Acara berlangsung hikmat. Ternyata bukan hanya pelepasan kontingen saja, tetapi juga penerimaan kontingen dari perkemahan satu hari adik-adik siaga yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Candra Birawa Semarang. Sungguh senang dan ikut bangga kepada adik-adik siaga itu. Kecil-kecil tapi sudah berprestasi di tingkat daerah. Saat pelepasan, kami dipanggil satu per satu. Aku dipanggil di urutan ke 7. Kala namaku dipanggil “Ginanjar Ramadhan SMA Negeri Jatilawang”, “Siap!” jawabku. Sungguh senang dan merasa bangga bisa ada situ. Kegiatan di kancah daerah/provinsi adalah kegiatan yang aku idam-idamkan sejak sekolah dasar dulu. Aku dulu waktu SD Alhamdulillah berprestasi. Di tingkat kecamatan, aku berhasil 3 kali menjadi juara 1 dan melanjutkan ke tingkat kabupaten. Namun, hasilnya belum sesuai harapan. Tiga kali ke tingkat kabupaten, paling tinggi hanya meraih peringkat 14 dari 27 saat itu. Waktu SMP pun, aku sering mengikuti kegiatan lomba di tingkat kabupaten. Pernah peringkat 1 lomba BPCR (Boden Powell Cycle Rally) tetapi kegiatan tersebut tidak berjenjang, jadi hanya sampai kabupaten saja. Pernah mengikuti kegiatan berjenjang, tetapi aku hanya bisa mencapai peringkat 2, hanya selisih beberapa poin dengan peringkat 1. Alhasil, gagal lagi ke provinsi. Di tingkat SMA, Alhamdulillah diberi kesempatan untuk mengikuti lomba berjenjang lagi dari beberapa kali mengikuti, satu kali aku mendapatkan peringkat 1. Tetapi karena sesuatu hal, jadi kegiatan provinsi tidak diadakan untuk lomba tersebut. Waktu itu mungkin adalah waktu-waktu terakhir aku aktif mengikuti kegiatan, yaitu akhir semester 2 kelas XI. Tetapi rejeki memang sudah ada yang mengatur. Tidak mungkin akan tertukar dengan orang lain. Alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan Pertihusada ini saat di akhir aku aktif berkegiatan di sekolah. Hari itu sangat penting bagiku. Hari dimana aku bisa mencapai salah satu mimpiku dari kecil yaitu mengikuti kegiatan di tingkat daerah. Ya, mungkin bagi sebagian mereka merupakan hal kecil. Tapi bagiku ini adalah sebuah mimpi yang besar, pengalaman tak terlupakan berlangsung disini. Saat pelepasan, semua orangtua calon kontingen hadir. Eyang ku lah yang datang pada saat acara itu. Sebenarnya mamaku juga ingin datang, tapi karena sesuatu hal yang tidak bisa ditinggalkan, mamaku tidak bisa hadir. Terlihat di sini eyangku sangat bangga terhadapku. Aku juga turut senang bisa membahagiakan orang tuaku lewat kegiatan ini. Walaupun beberapa semester terakhir akademik ku turun, tapi aku bisa membuat kebanggan untuk orang tua ku lewat jalan ini. Terima kasih telah memberi kesempatan ini ya Allah. Dari pelepasan ini, kami akan berjuang selama kurang lebih seminggu untuk berjuang membawa nama baik Banyumas di kancah Daerah. Ya, jika mimpi kita hanya dipendam saja maka tak akan terwujud. Ayo realisasikan mimpi kita dengan terus berusaha, jangan pernah menyerah. Jika kamu gagal, teruslah mencoba. Jika kamu menyerah, berarti kamu kalah. Kita tidak pernah tau kesempatan itu akan datang, teruslah berdo’a memohon kepada-Nya tanpa henti agar kau diberi. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa’a kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran” (2:186)
Regards
Ginanjar Ramadhan












