Baâda Sholat Ashar, semua barang yang akan dibawa ke Sukoharjo sudah siap. Bus pemerintah kabupaten yang akan membawa kita pun sudah datang. Kegiatan Perkemahan Bakti Saka Bakti Husada dilaksanakan 20 s.d 25 Juni 2014 di Desa Gentan Kecamatan Bulu Kabupaten Sukoharjo. Kami kontingen Banyumas berangkat hari Kamis, 19 Juni 2014 menggunakan 1 mobil pemkab, 1 mobil dinkes, dan 1 mobil bak terbuka. Perjalanan memakan waktu sekitar 9 jam. Kami sampai tempat kegiatan sekitar pukul 02.00 dini hari. Kami langsung menurunkan barang-barang dan menuju ke homestay masing-masing. Setelah semuanya selesai, kami diperbolehkan untuk istirahat.
Kegiatan Pertihusada ini dimulai dari tanggal 20 Juni, diawali dengan kegiatan pendaftaran dan lomba tertib administrasi. Kak Indra dan Kak Ely selaku pimpinan kontingen berangkat pagi untuk mendaftarkan kontingen Banyumas ke panitia. Kegiatan pertihusada ini dibagi menjadi  3 rangkaian dalam setiap harinya. Giat pagi, giat siang, dan giat malam. Banyak sekali rangkaian kegiatan yang harus dijalankan selama 6 hari di Sukoharjo. Dari kegiatan umum, kegiatan rutin, kegiatan prestasi, kegiatan wawasan, kegiatan kesakaan, kegiatan bakti fisik, kegiatan bakti non fisik, kegiatan persaudaraan, dan kegiatan yang menyenangkan adalah kegiatan wisata. Perbedaan kegiatan perkemahan penggalang dengan penegak terlihat jelas. Jika dulu saya saat penggalang materi pramuka atau kegiatan prestasi yang diutamakan tetapi di penegak yang diutamakan adalah wawasan dan pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan Prestasi saat pertihusada hanya meliputi LCTP Bakti Husada, lomba desain poster, lomba Safari Krida, lomba sendratasik penyuluhan kesehatan dan lomba tertib administrasi. Oiya, kami di Sukoharjo tidak mendirikan tenda. Kami tinggal di sebuah rumah. Setiap kontingen diberi 4 rumah, 2 untuk putra dan 2 untuk putri.
Aku bersama Asti dan Ani mengikuti LCTPBH pada hari pertama, awalnya adalah babak penyisihan yang kemudian diambil 3 terbaik untuk diadu final. Alhamdulillah banyak soal yang kami pelajari keluar, tapi kami heran, banyak juga soal yang menurut kami tidak ada jawabnya. Semua soal dalam bentuk pilihan ganda. Kami yakin bisa masuk ke final, tapi keesokan harinya ada sebuah pengumuman. Kami tidak berhasil masuk final. Mungkin memang belum rejeki kami di LCTPBH. Yanng penting kami sudah berusaha dan berdoa. Hasil memang sudah ditentukan oleh yang di atas. Kami hanya berada di urutan ke 5. Sedangkan yang diambil hanya 3 kontingen terbaik. Dihari kedua kami melaksanakan upacara pembukaan yang dibuka langsung oleh Kak Mabida Kak Ganjar Pranowo, seperti yang sudah saya ceritakan di pos sebelumnya. Upacara pembukaan berlangsung meriah, berakhir sekitar pukul 17.30 WIB. Kegiatan malam aku mengikuti kegiatan ceramah umum oleh ka pinsaka nasional bakti husada yaitu orang kementerian kesehatan. Tapi saya lupa namanya, tapi dari beliau aku diceritai pengalaman beliau menemani menteri kesehatan untuk berkeliling Indonesia. Beliau  yang lahir bertepatan dengan ulang tahun gerakan pramuka 14 Agustus itu selalu menyempatkan diri ke tukang cukur jika beliau ke suatu tempat. Jadi setiap berkunjung ke daerah di Indonesia, pasti beliau mencari tempat untuk mencukur rambutnya.
Hari ketiga, seperti halnya hari kedua, kami setiap pagi melaksanakan olahraga pagi. Dari senam aerobic yang dipimpin oleh panitia, senam pramuka, dan juga dance messengers of peace. Setelah kegiatan olahraga, dilanjutkan apel pagi dari apel pagi kami biasanya diberitahu kegiatan untuk satu hari itu apa saja. Tak hanya di pagi hari, di sore hari pun apel juga dilaksanakan. Untuk hari ini, aku mendapat kegiatan bakti induk semang, enterpreneurship berbasis kesehatan, dan promosi kesehatan. Bakti induk semang adalah kegiatan berbakti kepada rumah yang kami tempati untuk homestay. Dari bagian dalam rumah kami bersihkan sampai lingkungan sekitarnya. Kami berdua puluh membagi diri untuk membersihkan dalam rumah, membersihkan kamar mandi, memperbaiki pengairan, membuat tempat pembuangan sampah, membersihkan halaman, dan kegiatan bakti lainnya.  Kegiatan siangnya adalah enterpreneurship berbasis kesehatan, narasumbernya adalah dari orang Sukoharjo juga,  aku lupa juga namanya. Soalnya catatan kegiatan ku entah kemana. Beliau merupakan wirasusahawan sukses, yang mengembangkan teknologi hydro life kalau tidak salah, yang untuk pemurnian air minum. Tak hanya itu, ada bisnis lain itu juga. Kami semua peserta enterpreneurship berbasis kesehatan juga diminta untuk menuliskan bisnis apa yang kiranya hemat dan menguntungkan. Aku menuliskan âAku akan mengembangkan produksi sandal bandol, sandal khas Banyumas yang terbuat dari karet bekas ban motor atau mobil. Jadi nantinya akan jadi seperti sandal Joger yang terkenal dari Baliâ. Aku terinspirasi menulis ini gara-gara karya tulisan ku yang membahas tentang perbandingan potensi Banyumas tak kalah dengan Bali. Dipilih beberapa  yang terbaik dan kemudian menjelaskannya di depan. Aku tak terpilih, belum rejeki. Saat itu juga keadaanku sungguh lagi kurang vit, sebenarnya sepele cuma flu, tapi sangat menyiksa. Sebelum kegiatan aku minum obat, alhasil saat kegiatan efek obat yang aku makan sangat terasa yaitu ngantuk. Tapi alhamdulillah setelah kegiatan kami tidak sengaja mampir ke warung dan di situ terdapat es jeruk. Aku mencobanya tetapi aku meminta kepada pedagangnya untuk diganti airnya dengan air hangat. Dengan wedang jeruk itu flu ku berangsur berkurang.
Kegiatan malam aku mengikuti kegiatan promosi kesehatan yaitu tentang bahaya rokok. Aku bersama Faik memberikan penyuluhan kepada warga sekitar desa Gentan tentang bahaya rokok. Aku bersama dengan Said dan Afifah dari kontingen Kabupaten Karanganyar. Dari awal saat kami masih di tempat pengarahan kegiatan, kami sudah mengobrol banyak. Cerita tentang kegiatan selama 3 hari yang lalu dan sampai cerita apa yang menarik dari kabupaten masing-masing. Kami berempat mendatangi orang-orang untuk diberi penyuluhan sedikit tentang bahaya rokok, walaupun berbeda orang tentunya, tapi kami mencarinya bersama. Aku dan Faik mempromosikan bahaya rokok hampir ke 20 orang lebih. Kami menggunakan bahasa Jawa krama semampu kami. Ketika itu ada orang tua bertanya kepada kami. âSaking pundi sih de?â tanyanya. âBanyumas pakâ jawab kami. âOh pantes bahasa kambi logate bedaâ imbuhnya. Dari situ juga aku baru percaya bahwa bahasa ngapak Banyumasan itu lucu. Ditambah lagi Said dan Afifah yang memang suka sekali kalau aku dan Faik bicara dengan bahasa ngapak. Sampai mereka berdua itu tertawa lepas jika kami sedang berbicara bahasa ngapak. Kami juga diajak oleh mereka berdua untuk mampir ke homestay mereka, di situ kami menghabiskan waktu beberapa menit untuk mengobrol. Aku dan Faik pun masih disuruh untuk mengobrol dengan bahasa ngapak. Tapi aku bangga bicara ngapak, itu kan budaya kita jadi harus tetap kita gunakan agar tidak hilang. Setelah kami puas mengobrol, kami lanjutkan untuk mengumpulkan tanda tangan orang yang telah kami beri penyuluhan dan menyerahkannya kepada panitia sebagai bukti bahwa kami sudah melaksanakan kegiatan.
Hari keempat di Sukoharjo, aku diberi tugas untuk kegiatan korve, wisata dan jumpa tokoh. Aku pagi hari bertugas untuk korve, yaitu menjaga homestay dan bersih-bersih di homestay. Setelah agak siang, aku bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan wisata bersama dengan Bagus, Mas Kukuh, Mba Fatmah, Indri, dan Sakho. Mungkin karena informasi yang tidak kami dapatkan, jadi kami ketinggalan bus. Kami berenam melihat ketika bus itu baru jalan. Tetapi mereka yang ada di bus tidak melihat kami. Kami melapor ke panitia, tetapi tetap saja bisnya tidak bisa kembali. Akhirnya kami pulang ke homestay. Kami melapor ke kak Indra dan Kak Ely sebagai pimpinan kontingen. Akhirnya kami diantarkan ke obyek wisata terakhir yang kami kunjungi saat itu yaitu Pandhawa Waterworld Solo Baru. Kami diantarkan menggunakan mobil dinas kesehatan. Kami juga diberi peta untuk menuju ke sana. Sempat takut nyasar sebenarnya, kami juga sempat bertanya kepada orang di jalan. Baru teringat juga, ada mba Fatmah yang membawa hp dan ada aplikasi Google Maps nya. Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Di sana belum ada siapa-siapa, baru kami yang memakai seragam pramuka. Setelah menunggu beberapa puluh menit, akhirnya rombongan datang dan kami melaporkan diri ke panitia bahwa kami telat. Di dalam waterboom, kami hanya berfoto-foto saja. Hampir 1 jam kami disana, akhirnya kami semua peserta dipanggil panitia untuk kembali ke bus. Perjalanan ke Gentan tidak terasa, aku pun tertidur saat diperjalanan. Kami langsung kembali ke homestay saat kami sudah sampai di Gentan. Sebelum kegiatan malam, kami diberi brefing oleh kak Indra bahwa untuk kegiatan malam, semua ikut membantu teman-teman yang akan mengikuti sendratasik. Soalnya, ada beberapa properti yang digunakan untuk kegiatan itu. Banyumas tampil urutan nomor terakhir yaitu urutan nomor 35 membawakan sendratasik begalan. Aku bertugas untuk membawa geber yang tersusun dari kayu dan kain. Aku membawanya ke atas panggung bersama teman yang lain. Karena aku berada di belakang dibanding teman-teman yang lain, aku disuruh untuk tidak usah turun. Akhirnya aku menjaga geber itu dari belakang dan tidak bisa menyaksikan pertunjukan hanya bisa melihat dari balik geber. Awalnya aku sendiri, tapi karena Resti yang ikut sendratasik perannya sudah selesai akhirnya membantuku untuk menjaga geber itu. Setelah sendratasik itu selesai, kami semua turun panggung dan meneriakan yel-yel kami.
âSiapa bilang Banyumas takkan juara?â
âYang bilang itu yang iri sama kita. Kontingen Banyumas kita tercinta. Yakin menang di Pertihusadaâ
Sungguh luar biasa semangat kita pada saat itu.
Hari kelima di Sukoharjo, aku ditugaskan untuk mengikuti kegiatan benah rumah sehat, diskusi T/D, untuk kegiatan malamnya adalah malam Cakra. Kegiatan pagi yaitu benah rumah sehat, aku bersama dengan Ani sengaja tidak mandi karena akan menjadi kuli selama beberapa jam. Benah rumah sehat adalah kegiatan kerja bakti untuk membenahi rumah agar masuk kriteria rumah sehat. Waktu itu aku membantu orang untuk memplester lantai. Aku hanya membantu untuk membawa adukan semen dan pasir dari tempat adukan menuju ke dalam rumah. Kita yang satu rumah terdapat beberapa orang dari berbagai kontingen saling estafet. Aku juga berkesempatan mengaduk adukan semen dan pasir itu. Lelah memang, tapi kegiatan kali ini aku merasakan bahwa ini kegiatan benar-benar bakti untuk masyarakat.  Sekitar pukul 11 kami kembali ke homestay dan melanjutkan kegiatan siang. Aku ditugaskan untuk mengikuti diskusi T/D bersama  Fuad dan Asti. Di sana kami dibagi lagi menjadi beberapa kelompok, didalam kelompok itu diberi waktu untuk mendiskusikan bagaimana kegiatan Saka Bakti Husada di kabupaten masing-masing. Dan kebetulan kelompokku isinya adalah hampir sama seperti aku yaitu bukan asli dari anggota Saka. Jadi kami pun saat ditanya oleh Kak Aulia dari DKD yang merupakan pemandu acara, ya bilang seadanya bahwa kami semua bukan asli anggota saka, jadi kami tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Tapi walaupun begitu,kami tetap mendapatkan manfaat diskusi dari keolmpok lain, dan kami pun semuanya menyimpulkan hasil diskusi bersama-sama. Setelah selesai acara, aku meminta kak Aulia untuk menuliskan sesuatu di buku kegiatanku. Teman-teman yang lain hanya meminta biodata tapi aku hanya minta sebuah kata motivasi. Kak Aulia menuliskan âJadilah orang yang bisa membahagiakan orang lain. Semangat, senyum with ikhlas.â Kegiatan malam hari ke lima adalah malam terakhir di Sukoharjo. Kegiatan malam adalah upacara api unggun dilanjutkan malam Cakra. Malam Cakra dibuka oleh anggota DKD dengan dance Messanger of Peace dan dikuti oleh seluruh peserta. Tapi ketika belum selesai malam Cakra, kami dari kontingen Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga yang tergabung dalam binwil Banyumas berkumpul di homestay kontingen Cilacap membuat acara sendiri. Binwil yang katanya binwil ngapak ini di acara ini saling berkenalan dan saling bertukar pengalaman. Karena homestay kontingen Banjarnegara yang cukup jauh, jadi acara berlangsung hanya sekitar sampai pukul 12 malam.
Hari terakhir di kabupaten yang berjargon Makmur ini, agenda kami adalah mengemasi barang-barang dan membersihkan rumah yang ditempati untuk homestay selama 6 hari. Kegiatan pagi langsung upacara penutupan kegiatan yang bertindak sebagai pembina adalah Kak Slamet Budi Prayitno yang merupakan Kak Kwarda Jawa Tengah. Beliau berpesan untuk selalu ingat dengan kegiatan ini, dan apa yang didapatkan selama kegiatan ini untuk diterapkan di pangkalan masing-masing. Di upacara penutupan, diumumkan juga hasil giat prestasi. Alhamdulillah kontingen Banyumas mendapatkan 1 kejuaraan yaitu Juara 2 Lomba Tertib Administrasi. Setelah kami mengikuti serangkaian acara di Sukoharjo, akhirnya kami pulang ke Banyumas. Seperti saat berangkat, kami menggunakan bus pemkab. Kami sempat mampir juga untuk mampir di Solo yaitu tepatnya di PGS (Pusat Grosir Solo). Kami disuruh untuk berbelanja. Aku bersama Bagus berkeliling di PGS mencari sesuatu yang bisa ku beli. Aku hanya membeli sepasang baju batik dan sepatu, lumayan uang kerja keras sendiri. Karena kami satu kontingen diberi uang saku oleh dinkes setelah kegiatan selesai. Di PGS hampi satu jam lebih, kami berangkat menuju Banyumas lagi sekitar pukul 1 siang.
Kami sampai di Banyumas sudah tengah malam, sekitar pukul 12 malam. Langsung disambut oleh orang kwarcab dan meaksanakan acara penerimaan kontingen. Aku bersama teman-teman dari Lumbir yaitu Roni, Bagus, Faik, dan Ratna. Menunggu sampai pagi untuk pulang ke rumah. Rencananya kami mau pulang naik bus tapi ternyata dari puskesmas Lumbir ada yang akan menjemput, jadi aku juga ikut dengan mereka karena tempat ku turun satu arah dengan Lumbir. Aku dijemput oleh mamaku di Klapagading. Dan langsung pulang ke rumah. Aku sudah ditunggu oleh eyangku, beliau yang mengambil raporku bilang âNjar, ngga masuk rangking sepuluh besar pun. Tapi ya ngga papaâ ujarnya. Aku sebenarnya merasa sedih tidak bisa masuk 10 besar di kelas. Biasanya aku selalu berada di deretan 6 besar. Tapi tak masalah buatku, Allah sudah memberikan kesempatan untuk bisa membuat bangga orang tua ku dengan cara yang lain.