Uang PANAI
Uang Panai memang menjadi adat yang harus dilakukan oleh beberapa suku di Nusantara ini. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah uang Panai berbanding lurus dengan kehormatan seorang wanita?
Sebelumnya, rasanya aku gak berhak mengomentari hal ini. Karena aku bukan berasal dari suku yang mewajibkan uang panai. Tetapi, boleh dong aku menuangkan sedikit kata dan kalimat-kalimat yang sedari tadi pagi berputar-putar di otakku yang kecil ini.
Uang Panai adalah uang mahar yang diberikanoleh calon mempelai pria untuk meminang seorang gadis.
Lagi asyik nih diobrolin. Baru-baru ini di dunia sosial media sedang ribut masalah foto seorang perempuan cantik dan sedang membawa baki berisi uang senilai 150 juta beserta emas 35 gram dan entah apa lagi emas-emasan (gak apal). Si peng-upload memang sudah meminta maaf atas apa yang telah beliau post. Ada kalimat terakhir yang membuatku tergelitik untuk menulis celotehan gak penting ini.
“Saya sangat senang apabila ada saudara perempuan yang entah itu siapa di pinang dengan hormat seperti ini”
Kurang lebih begitu lah isinya. Tunggu dulu, jadi kehormatan perempuan dibayar dengan uang senilai 150 juta dan emas ber-gram-gram itu?
Menurut pendapatku, sebesar apapun uang panai yang diberikan pihak laki-laki, seharusnya hal itu tidak menjadi tolak ukur kehormatan seorang perempuan. Karena, kami ada tidak untuk diperjual-belikan seperti itu.
Dengarlah, kami perempuan, kami ada bukan untuk diperjual-belikan dengan cara seperti itu. Kehormatan kami jaga bukan untuk memperoleh sejumlah uang besar ketika kami dilepaskan dari pelukan hangat orang tua. Pendidikan kami tinggi, juga bukan untuk mempersulit calon mempelai laki-laki yang mencintai kami dan kami cintai. Kami hanya perempuan yang ingin melanjutkan kehidupan menjadi sosok ibu yang akan melahirkan manusia-manusia baru ke dunia. Jika ikatan suci pernikahan kami di bandroll dengan jumlah nol dibelakang titik, apalah perbedaan kami dengan kerbau, kambing dan sapi yang engkau pelihara dengan penuh kasih?
Tulisan ini tidak untuk menghilangkan adat uang panai itu sendiri. Tetapi, hanya sebagai pengingat. Adat yang sudah ada jangan disalah-gunakan untuk kepentingan diri sendiri. Jangan sampai, karena adat, kita memperjual-belikan anak-anak gadis kita. Jangan sampai, karena adat, kita salah memposisikan anak gadis kita sebagai manusia. Jangan sampai, karena adat, harga diri anak gadis kita menjadi begitu murahnya karena dapat terbeli oleh uang dan berbagai emas-perak.
Tak perlulah kita mengumbar mahar si A, si B, si C, si D sekian-sekian. Biarlah hal itu tetap menjadi rahasia kedua keluarga yang bersangkutan.
Ah, di zaman modern ini. Seakan kita sudah kehilangan ruang untuk menyimpan privasi diri sendiri.













