BUNAKEN, EKSOTIKA DI UTARA INDONESIA
Photographs & Text by Joe Roland S. Bokau
Pernah mendengar Bunaken? Ya, sebuah pulau indah terletak di lepas pantai tak jauh dari kota Manado, Sulawesi Utara. Taman laut Bunaken secara keseluruhan terdapat beberapa pulau pada taman laut Bunaken yaitu Pulau Manado Tua, Pulau Bunaken, Pulau Siladen, Pulau Mantehage, Pulau Naen dan beberapa anak pulau yang terdapat disekitarnya. Kawasan ini merupakan salah satu tempat dengan pemandangan bawah laut yang menakjubkan di Indonesia bahkan di dunia. Pertama kali saya menginjakkan kaki di pulau Bunaken 20 tahun lalu, saat itu liburan panjang kenaikan kelas. Di suasana liburan yang kurang lebih mirip dengan 20 tahun lalu, akhir Juni 2012 lalu saya berkesempatan mengunjungi taman laut yang eksotis ini, kebetulan sedang ada assignment di Manado, Sulawesi Utara.
Kalau dulu saya hanya naik speedboat, kini saya cukup beruntung dengan mengikuti paket menyelam dan snorkeling dari Tasik Ria Resort, sebuah resort yang keliatannya cukup terkenal. Hari itu cukup banyak penyelam berkebangsaan asing yang ingin menikmati eksotika pemandangan bawah laut bunaken, kalau tidak salah hitung, ada 6 orang. Perjalanan ditempuh kira-kira 1 jam dengan tujuan pertama pulau Manado Tua, sebuah pulau yang letaknya tak jauh dari pulau Bunaken, pulau ini paling jelas terlihat dari kota Manado karena pulau tersebut merupakan gunung yang menjulang cukup tinggi. Disini terdapat dive spot yang bernama Muka Gereja. Ternyata letaknya memang tepat didepan sebuah gereja.
Snorkeling pun sudah cukup bagi saya untuk menikmati pemandangan bawah laut di spot ini. Indah! Di spot Muka Gereja ini terdapat dinding atau tebing bawah laut yang bahasa diving nya wall. Ikan-ikan bahkan ular laut berenang dengan cantiknya di karang/coral. Teringat 20 tahun lalu, saat itu pemandangan seperti ini hanya bisa saya nikmati dari atas perahu katamaran, perahau yang ada kacanya untuk melihat pemandangan bawah laut. Jatah snorkeling di spot pertama hari itu hanya 1 jam, walaupun cukup singkat ada perasan puas dan tentunya sedikit pegal.
Mendekati pulau Manado Tua, para penyelam asing itu pun berkumpul untuk persiapan menyelam. Briefing dibuka oleh divemaster yang berasal dari Jerman bernama Marina.
Penyelam terjun ke laut untuk melakukan penyelaman di spot pertama hari itu. Walaupun sedikit-sedikit saya bisa menyelam, tapi salah seorang guide bernama Hasan melarang saya. Saya terakhir menyelam kira-kira 10 tahun lalu, saat mengikuti Pendidikan Dasar Search and Rescue, Jungle & Sea Survival, itupun hanya di laut dangkal yang dalamnya kira-kira 5 meter.
Sambil menunggu divers, saya pun coba mengabadikan pemandangan pulau Manado Tua. Cuaca panas khas iklim tropis Indonesia juga dimanfaatkan untuk berjemur.
Sekitar 1 jam penyelaman spot Muka Gereja. Total ada 20 dive spots di kawasan taman laut Bunaken.
Spot kedua dan ketiga hari itu letaknya dekat dengan pulau Bunaken. Setelah menghabiskan 1 jam selanjutnya untuk snorkeling di spot kedua, saya pun memilih untuk mendatangi pulau Bunaken, pulau yang pernah saya datangi 20 tahun lalu. Sampai di bibir pantai, pemandangan yang sedikit asing terlihat, tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Tapi sebuah ikon pulau ini yang tak berubah sejak dulu, seakan menyambut kedatangan saya. Ternyata pulau Bunaken sudah jauh berbeda dengan apa yang pernah saya lihat 20 tahun lalu.
Seingat saya, daerah ini dulu hanya pantai yang lumayan kosong dan tidak terlalu ramai, tempat bersantai ataupun berkemah. Kini pantai telah dibatasi oleh pagar besi. Pantai tempat bermain yang dulu dihiasi karang dan ikan-ikan kini dihiasi limbah plastik kemasan air minum dan makanan ringan. Tidak aneh karena penjual-penjual makanan kini memenuhi pantai, juga pengunjung pulau yang kadang tidak membuang sampah pada tempatnya. Penjual suvenir dan kaos untuk oleh-oleh, tempat penyewaan peralatan snorkeling, diving, sampai perahu lengkap dengan jasa foto bawah laut kini banyak memadati area pantai. Resort-resort mewah pun banyak bertebaran di beberapa kawasan pulau Bunaken. Bahkan katanya ada private beach disini, dimana tidak sembarang orang boleh memasuki kawasan private tersebut.
Pagar besi yang membatasi area pantai dan pedagang membuat area pantai semakin sempit.
Masih jelas di ingatan saya, 20 tahun lalu ada Helikopter AS332 Super Puma milik TNI-AU landing di dermaga itu.
Jika kita berdiri menghadap selatan, maka disebelah kanan terlihat pulau Manado Tua.
Disebelah kiri terlihat daratan pulau Sulawesi bagian utara dengan kota Manado ada disebelah kiri.
Warung makan yang kini banyak terdapat di area pantai.
Penjual souvenir yang tak kalah banyaknya dengan warung makan.
Selain suvenir, kaos-kaos juga banyak dijual di pulau ini.
Memang kurang lengkap jika belum snorkeling di kawasan taman laut Bunaken ini.
Walaupun demikian, taman laut seluas 75.265 hektare ini tetap saja menunjukkan keindahan yang menurut saya tiada bandingannya. Keramahan penduduk sekitar, keindahan pulau dan pantai, apalagi pemandangan bawah laut yang menakjubkan membuat taman laut Bunaken cocok dijadikan tujuan liburan atau sekedar pelarian sesaat ditengah kepenatan pekerjaan. Sedikit ironis, walaupun berjarak tempuh sekitar 1 jam dari kota Manado, Sulawesi Utara, banyak penduduk lokal yang belum pernah mengunjungi taman laut ini. Justru banyak wisatawan asing yang datang, bahkan rela meluangkan waktu khusus hanya untuk menyelam, seperti 2 wisatawan asing asal Inggris yang turut serta dalam perjalanan hari itu. Sehari sebelumnya mereka menempuh kira-kira 20 jam penerbangan dari London, Singapura, lalu Manado.
Indonesia memang kaya dengan tempat-tempat eksotis seperti taman laut Bunaken, yang menunggu untuk dijelajahi. Sayangnya, luasnya kepulauan Indonesia membuat banyak wisatawan domestik lebih memilih untuk liburan ke luar negeri, khususunya yang berasal dari ibukota Jakarta mengingat harga tiket pesawat menuju kawasan Indonesia bagian timur sama bahkan lebih mahal dibanding tiket pesawat Singapura, Kuala Lumpur ataupun Thailand. Padahal jika dihitung-hitung, backpacker-an ke tempat-tempat eksotis di Indonesia biayanya relatif sama dengan keluar negeri.
Kembali ke kapal dengan speedboat setelah mengunjungi pulau Bunaken.
Kapten Engel Pelealu membawa kami kembali ke daratan pulau Sulawesi bagian utara dengan kecepatan rata-rata 10 knot. Cemilan seperti pancake, sandwich, kopi dan teh menemani perjalanan hari itu, lebih dari cukup untuk mengisi perut lapar setelah seharian menjelajah dive spot di taman laut Bunaken.
Kota Manado dari kejauhan dengan latar belakang gunung Klabat disebelah kiri dan gunung Lokon disebelah kanan. Jujur saja, saya jatuh cinta dengan kota ini.
Golden hour di dermaga Tasik Ria Resort. Pulau Manado Tua menunjukkan kemegahannya dikala senja.
Also posted on Flickr
<![CDATA[// <![CDATA[ // <![CDATA[ var _gaq = _gaq || []; _gaq.push(['_setAccount', 'UA-33337407-1']); _gaq.push(['_trackPageview']); (function() { var ga = document.createElement('script'); ga.type = 'text/javascript'; ga.async = true; ga.src = ('https:' == document.location.protocol ? 'https://ssl' : 'http://www') + '.google-analytics.com/ga.js'; var s = document.getElementsByTagName('script')[0]; s.parentNode.insertBefore(ga, s); })(); // ]]]]]]><![CDATA[><![CDATA[> // ]]]]><![CDATA[>]]>












