Pidato Perpisahan Presiden Obama Yang Mengharukan
Presiden Obama dan ibu negara Michele Obama sebenarnya sudah sejak sebulan lalu mulai menggelar berbagai kegiatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada rakyat Amerika, para stafnya dan tentu mengucapkan selamat tinggal Gedung Putih.
Tapi menurut saya yang paling berkesan adalah pidato perpisahan Pak Obama di hadapan ribuan pendukungnya di Chicago, terutama kata-katanya yang optimistis ini:
“So that’s what we mean when we say America is exceptional. Not that our nation has been flawless from the start, but that we have shown the capacity to change, and make life better for those who follow.”
Karena menurut saya, hanya orang yang bisa melihat dan mengakui kelemahan/kekurangannya yang dapat maju dan mencapai yang lebih baik dalam setiap aspek kehidupannya.
Sebagai seorang perempuan, saya ikut terharu ketika pak Obama mengambil sapu tangan dan mengusap matanya setelah menyebut betapa besar peran Michele Obama dalam karier dan kehidupannya. Bangga rasanya punya presiden yang rendah hati.
Presiden Barack Obama (R) di atas panggung didampingi ibu negara Michelle Obama dan putrinya Malia, Wakil Presiden Joe Biden dan istrinya Jill Biden, setelah pidato perpisahannya di Chicago, Illinois, 10 Januari, 2017.
Banyak orang Amerika tidak rela ditinggal presiden yang satu ini. Dengan approval rating yang tinggi, mencapai 60%, tidak heran kalau hampir 24 juta orang menonton siaran langsung pidato terakhir Pak Obama sebagai presiden yang berlangsung hampir 50 menit Selasa malam lalu.
Kepopuleran Obama juga terlihat dari banyaknya like dan sambutan terhadap pesan Tweeter-nya Selasa lalu.
Presiden Barack Obama memang merupakan panglima militer AS pertama yang gemar menggunakan media sosial, dan cuitan perpisahannya ini menumbangkan rekor retweet terbanyak sebelumnya terkait keputusan MA untuk membatalkan larangan pernikahan sesama jenis.
Katanya pidato perpisahan presiden ke-44 ini seperti sebuah mimpi.
Bagi pendukungnya yang cemas menghadapi Donald Trump, ini tentu awal mimpi buruk yang tidak mereka harapkan. Sementara bagi para penentang Obama tentu pidato ini menjadi akhir mimpi buruk mereka.
Berbeda dengan pendapat kaum Demokrat, pihak oposisi memandang pidato perpisahan Pak Obama sebagai fiksi belaka, terlalu muluk.
Mereka menuding Obama menyampaikan pidato itu seolah-olah sedang berkampanye lagi, seolah-olah tidak rela mundur.
Tidak heran, kata pihak oposisi itu, kalau substansi pidato perpisahan Obama hanya mengulang-ulang prestasinya, menyebut kembali tentang Kongres yang "disfungsional", menyindir bahwa pandangan yang berbeda tentang perubahan iklim tidak mencerminkan "jiwa" orang Amerika dan malah mengatakan demokrasi terancam karena tidak sesuai dengan perubahan yang diinginkannya.
Apakah benar pidato perpisahan Pak Obama hanya membanggakan diri sendiri dan tidak realistis?
Karena penasaran, saya kemudian membaca sejarah pidato perpisahan presiden AS.
Yang mengatakan hal di atas sepertinya membandingkan pidato Obama dengan pidato perpisahan kepresidenan yang pertama oleh George Washington yang menurut mereka seharusnya menjadi standar bagi presiden berikutnya.
Pidato itu diserahkan bukan disampaikan di gedung yang besar dan mewah, dalam arti pidato itu ditulis dan dipublikasikan kepada rakyat Amerika dengan cara sederhana.
Pesan berjudul “The Address of General Washington to the People of the United States on his declining the Presidency of the United States” yang ditulis George Washington pada tahun 1796 itu memang diakui sebagai pesan perpisahan presiden yang paling terkenal dalam sejarah Amerika.
Surat perpisahan itu dibuka dengan menjelaskan mengapa dia melepaskan kursi kepresidenan setelah dua masa jabatan, walaupun banyak tekanan agar dia mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.
Washington mengungkapkan beberapa prinsip yang dia yakini akan menjadi panduan bagi negara yang berkembang pada masa depan, termasuk persatuan, patriotisme, dan netralitas.
Bapak pendiri Amerika yang kemudian menjadi presiden ke-4, James Madison, menuliskan draf pesan perpisahan itu empat tahun sebelumnya, ketika Washington mempertimbangkan untuk lengser setelah masa jabatan pertamanya. Tapi kemudian Alexander Hamilton yang menuntaskan tulisan itu dengan perbaikan dari Washington sendiri untuk mengekspresikan ide-idenya.
Pujian terhadap pidato Washington ini jelas menghantui para penerusnya dalam hal menyampaikan pesan resmi kepada rakyat, sampai akhirnya presiden ke-7, Andrew Jackson, mengimbangi dengan rekor lain, pesan perpisahan terpanjang dalam sejarah Amerika.
Tentara dan negarawan yang dipandang sebagai pendiri Partai Demokrat ini menggunakan sekitar 8.247 kata dalam pesannya, yang antara lain mengingatkan rakyat akan bahaya kepentingan golongan dan pengaruh uang yang mengancam hak-hak kaum jelata.
Tetapi era radio dan televisi kemudian memungkinkan atau memudahkan presiden menyampaikan pidatonya langsung kepada rakyat.
Jadi apa salah Obama?
Oh... rupanya selama ini presiden AS menyampaikan pidato perpisahan hanya dari Oval Office di Gedung Putih. Obama, yang katanya mau mencalonkan diri kalau tidak dilarang oleh konstitusi, memilih cara lain, cara yang mendobrak tradisi. Presiden Obama membuka dan menutup masa kemenangannya di kota yang sama.
Menurut sejarah pidato perpisahan presiden AS, Harry Truman, presiden ke-33, menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan siaran langsung dari Oval Office. Pada tanggal 15 Januari 1953, Truman berbicara tentang beberapa keputusannya yang kontroversial semasa menjabat, khususnya keputusan untuk menjatuhkan bom atom di Jepang dan meminta rakyat agar membayangkan diri mereka di posisi presiden saat itu.
Setelah Perang Dunia Kedua, pidato perpisahan yang paling terkenal katanya disampaikan oleh Dwight D. Eisenhower, presiden ke-34, dari Oval Office pada 17 Januari 1961. Pesan paling penting dari jenderal bintang 5 ini adalah peringatan untuk melihat ke dalam negeri sendiri, kekhawatiran akan bangkitnya “military-industrial complex” yang dirancang untuk menandingi Soviet Union.
Hmmmm.....andai saja peran militer tidak seheboh sekarang... bagaimana ya keadaan dunia?
Sejak Eisenhower, sejarah Amerika Serikat belum mencatat ada lagi presiden yang memberi dampak besar dengan pidato perpisahannya.
Tapi tentu banyak yang merupakan momen yang patut dikenang.
Richard Nixon, yang mundur setelah skandal Watergate yang memalukan pada tahun 1974 tidak lupa menyampaikan pidato perpisahan. Bukan hanya sekali, bahkan dua kali. Pengumuman pengunduran dirinya pada tanggal 8 Agustus 1974, sering dianggap pesan perpisahannya kepada rakyat, tetapi ia juga memberikan sambutan perpisahan kepada staf Gedung Putih pada hari berikutnya, yang disiarkan secara nasional.
George W. Bush membuka pidato perpisahannya pada 15 Januari 2009 dengan menyebut pemilihan penggantinya, Barack Obama, “a moment of hope and pride for our whole nation.”
Dalam pembahasan PBS Newshour mengenai warisan Obama dan pidato perpisahan presiden, pakar sejarah Michael Beschloss, dan Annette Gordon-Reed dari Harvard University mengemukakan pidato perpisahan berkesan ketika memberi kita perasaan bahwa presiden itu berterus terang kepada kita dengan cara yang tidak bisa dilakukannya selama dia menjabat sebagai presiden. Jadi dia mengemukakan sesuatu yang belum pernah kita dengar sebelumnya dengan blak-blakan, sesuatu yang dipelajari dari jabatannya selama 4 atau 8 tahun terakhir.
Apakah pidato perpisahan presiden Obama akan menjadi warisan yang diperhitungkan dalam sejarah?
Mungkin saja.
Adriana Sembiring
Washington D.C. 13 Januari 2017











