America Now adalah program interaktif VOA Indonesia dengan Sonora FM 92 Jakarta & Sonora Network yang disiarkan setiap Rabu malam, pukul 20.00-21.00 WIB, dipandu oleh penyiar VOA Adriana Sembiring dan Utami Hussin. Selain menyimak isu-isu hangat dan perkembangan terbaru di Amerika, para pendengar juga mendapat kesempatan untuk bertanya dan menjawab kuis berhadiah (VOA menyediakan 3 bingkisan menarik bagi yang beruntung.) Blog ini diangkat dari salah satu isu terhangat America Now.
Banyak orang Amerika tahu Bali, tapi kalau ditanya soal Indonesia mungkin baru dengar sekali dua kali. Malah kadang ada yang mengira Bali dan Indonesia adalah dua negara berbeda.
Hal itulah yang menjadi alasan pemerintah Indonesia menggencarkan promosi pariwisata “Wonderful Indonesia” di Washington, D.C.. Selama bulan Oktober ini, visual-visual cantik destinasi pariwisata Indonesia dipajang di transportasi publik – dari kereta dan bus metro, bus tingkat, dan sistem penyewaan sepeda.
Kampanye “Wonderful Indonesia” dipasang di transportasi publik Washington DC di kawasan yang dekat dengan kantor IMF dan World Bank. (Foto: KBRI Washington DC)
Kampanye ini juga dilakukan di markas besar IMF dan World Bank. Dua lembaga ini akan rapat tahunan di Bali, Oktober tahun depan. Pemerintah Indonesia menarget kalangan dua institusi global ini untuk juga berlibur ketika datang untuk rapat nanti. Mereka yang bekerja di lembaga ini pasti memiliku daya beli yang sangat tinggi.
Ada tujuh lokasi yang ditawarkan: Wakatobi, Bunaken, Raja Ampat, Toba, Jakarta, Lombok, dan tentu saja Bali. Tempat-tempat ini dipilih karena keunikannya. Wakatobi, Bunaken, dan Raja Ampat, sebagai misal, adalah tiga dari sejumlah lokasi selam terbaik di dunia. Sesuatu yang menurut survey lebih indah ketimbang yang ada di Thailand atau Vietnam, tapi tetap kalah popularitasnya.
Saya bisa menebak-nebak Thailand dan Vietnam lebih populer karena sejumlah hal. Vietnam punya kedekatan sejarah dengan Amerika Serikat. Thailand sudah lebih dulu masuk film seperti Kepulauan Koh Phi Phi dalam film The Beach (2000) dan Kota Bangkok dalam film Hangover 2 (2011). Dan mungkin, Indonesia identik sebagai negara dengan penduduk muslim yang besar sehingga menjadi berbeda dibanding kebanyakan negara Asia Tenggara.
Hal lainnya yang berpengaruh terhadap pengetahuan orang Amerika terhadap negara lain adalah populasi diasporanya. Orang Thailand di Amerika mencapai 1,3 juta (2015) dan Vietnam mencapai 2 juta (2015). Bandingkan dengan orang Indonesia yang tak sampai 100 ribu (2010).
Kondisi ini juga mungkin berhubungan dengan kenapa restoran Thailand dan Vietnam bisa ditemukan di banyak tempat di Amerika (bahkan di seberang apartemen saya di Arlington, Virginia, ada 1 restoran Thailand dan 1 restoran Vietnam). Tapi kalau restoran Indonesia sangat sedikit di seluruh AS, bahkan di Washington D.C. saja tidak ada.
Restoran Thaiphoon (Thailand) dan Saigon-Saigon (Vietnam) di Pentagon Row, Arlington, selalu ramai pengunjung. (Foto: Google Maps)
Indonesia bukannya tidak signifikan bagi AS. Indonesia adalah mitra utama AS di Asia Tenggara dalam perdagangan, kontra-terorisme, dan juga dialog lintas-agama. Tapi itu kan terjadi di kalangan pemerintah dan pebisnis. Bagi orang-orang biasa yang ingin berwisata, itu semua tidak ada artinya.
Upaya memperkenalkan Indonesia ke publik Amerika memang perjalanan panjang. Namun itu semua patut dicoba dengan kerja keras. Semoga semakin banyak turis AS ke Indonesia. Kita doakan yang terbaik!
Beberapa minggu lalu, saya mendapat undangan menghadiri wisuda dari seorang sahabat yang baru datang dari Indonesia. Ia berkunjung ke Amerika untuk beberapa keperluan, tetapi yang utama adalah menghadiri wisuda putrinya, yang baru saja lulus meraih gelar S-1 di University of Maryland.
Pada hari yang sama, saya juga diajak seorang teman untuk menghadiri syukuran atas kelulusan putra seorang kenalan. Masih pada bulan ini juga, saya melihat beberapa teman memasang foto-foto di laman Facebook yang memancarkan kebahagiaan mendampingi putra putri mereka wisuda. Lalu saya ingat-ingat lagi tanggal wisuda anak sulung saya tiga tahun silam. Ternyata tahun ini memang sudah sampai pada musimnya wisuda.
Wisuda, yang menandai berakhirnya masa kuliah, biasanya dilakukan pada penghujung semester. Pada semester musim dingin, wisuda berlangsung pada bulan Desember. Sedangkan untuk semester musim semi, wisuda dilangsungkan pada bulan Mei-Juni. Karena biasanya banyak mahasiswa lulus pada semester musim semi, tak heran acara wisuda pada musim ini pun dihadiri oleh lebih banyak orang.
Yang jelas, setelah beberapa kali menghadiri wisuda di dalam dan di luar negara bagian tempat saya tinggal, saya melihat setiap acara wisuda memiliki kekhasan tersendiri. Baik itu di perguruan tinggi besar maupun kecil, upacara yang mereka gelar tentu bakal menjadi kenangan istimewa bagi para alumninya.
Penuh sesak - Tak satupun kursi kosong terlihat di stadion football di Liberty University, Lynchburg, Virginia, sewaktu para wisudawan-wisudawati dan hadirin menyimak pidato wisuda yang disampaikan Presiden Donald Trump. (Foto: C. Presutti/VOA)
Nah, apa yang menarik dari wisuda di Amerika? Berikut beberapa di antaranya.
Baju, toga dan aksesori
Yang saya lihat pertama-tama adalah baju dan aksesorinya. Seperti di Indonesia, wisudawan mengenakan baju rapi, celana panjang berwarna gelap dan berdasi. Sementara itu para wisudawati umumnya mengenakan gaun pendek, tak melebihi toga yang panjangnya hingga pertengahan betis.
Selain topi dan toga (cap and gown) dengan warna khas perguruan tinggi bersangkutan, mereka yang diwisuda juga kerap mengenakan beberapa aksesori, di antaranya honor cord, jalinan tali dengan warna-warni tunggal atau campuran, selempang (sash), maupun medali. Aksesori ini biasanya mencerminkan partisipasi mereka dalam suatu program atau klub mahasiswa, keanggotaan dalam suatu kelompok mahasiswa berprestasi dalam bidang tertentu, atau pencapaiannya dalam berbagai bidang akademik.
Juga yang menarik adalah topi wisuda (mortarboard). Seperti biasa, di tengah-tengah topi itu terdapat rumbai-rumbai (tassel), yang posisinya akan dipindah dari bagian kanan ke kiri pada waktu wisuda. Namun yang menarik bagi saya adalah topi yang diberi hiasan-hiasan , antara lain agar posisi pemakainya mudah dilihat kerabat dan teman-temannya dari kejauhan. Ada yang berupa tulisan tahun kelulusan, ucapan terima kasih kepada orang tua, kata-kata penyemangat dan sebagainya. Tak hanya itu. Di University of Notre Dame di negara bagian Indiana, sarjana arsitektur yang diwisuda malah memiliki tradisi menambahkan hiasan berupa gedung-gedung, jembatan dan berbagai bentuk konstruksi lain di topi wisuda mereka. Unik, bukan?
Dekorasi - Topi wisuda yang dihias selempang yang menunjukkan asal negara, serta cord yang menunjukkan pencapaian akademik tertentu. (foto: dok. Megastasia Waddy/January Wiryawan)
Telah berkali-kali pula saya melihat pada penghujung acara wisuda, para sarjana baru itu beramai-ramai melemparkan topi mereka ke atas. Tradisi ini konon bermula di Akademi Angkatan Laut Amerika di Annapolis, Maryland. Sebelum tahun 1912, lulusan akademi itu wajib berdinas selama dua tahun sebelum diangkat sebagai perwira Angkatan Laut. Pada waktu dinyatakan lulus sebagai perwira, mereka tak lagi membutuhkan topi lama yang digunakan semasa pendidikan dan membuangnya dengan cara melemparkannya ke atas. Tradisi ini kemudian meluas ke perguruan-perguruan tinggi di dalam dan di luar Amerika.
Pidato
Nah, salah satu bagian penting dan menarik yang berbeda setiap tahun adalah menyimak pembicara tamu yang menyampaikan pidato wisuda (commencement speech). Ini juga bagian yang acap ditunggu-tunggu oleh hadirin. Sejak awal tahun, biasanya sudah ada daftar siapa akan berbicara di mana. Mereka berasal dari beragam latar belakang, dari presiden hingga artis, politisi hingga pengusaha.
Oya, biaya mengundang mereka juga beragam, rata-rata berkisar antara 25 ribu hingga 100 ribu dolar. Astrofisikawan, komunikator sains dan penulis terkenal Amerika Neil deGrasse Tyson menerima 25 ribu dolar, untuk pidato wisuda selama 15 menit di University of Massachusetts-Armherst, plus beberapa ribu lagi untuk keperluan pribadi dan pajak yang ditanggung pengundang. Aktor Matthew McConaughey yang berpidato di University of Houston, Texas, pada tahun 2015, mendapat bayaran 135 ribu dolar plus ongkos perjalanan dan pengeluaran lainnya. Namun McConaughey kabarnya pula mengatakan ia menyerahkan uang itu untuk yayasan amal. Aktor Arnold Schwarzenegger malah menolak bayaran 40 ribu dolar untuk pidatonya dalam acara wisuda di University of Houston tahun ini.
Siapa saja yang akan menyampaikan pidato wisuda tahun ini?
Sebagaimana para pendahulunya, Presiden Donald Trump telah dijadwalkan berpidato di beberapa perguruan tinggi. Pidato wisuda pertamanya ia sampaikan di Universitas Liberty di Virginia. Ini adalah perguruan tinggi Kristen terbesar di Amerika, yang rektornya termasuk di antara pendukung paling awal Trump. Presiden berpesan agar para sarjana baru jangan takut sama sekali dalam menantang kemapanan atau elit pemerintah yang mempertanyakan apapun yang mereka lakukan. “Mengikuti pendirian dan keyakinan pribadi artinya harus bersedia menghadapi kritik dari mereka yang tidak memiliki keberanian setara,” tegasnya.
Trump sedianya juga berpidato di University of Notre Dame di Indiana, suatu tradisi kehormatan bagi presiden Amerika yang baru dilantik. Namun kesempatan ini ia serahkan kepada wakil presiden Mike Pence, mantan Gubernur Indiana. Sebelumnya, ribuan mahasiswa dan staf fakultas kabarnya menandatangai petisi meminta rektor universitas Katolik ternama di Amerika itu agar tidak mengundang Trump.
Nah, pada waktu Pence memulai pidatonya, lebih dari 100 wisudawan meninggalkan lokasi itu sebagai protes terhadap pandangan dan kebijakan Pence semasa menjabat gubernur maupun wakil presiden. Di antaranya, tentangan Pence terhadap hak-hak kaum homoseksual, upayanya mencegah para pengungsi Suriah menetap di Indiana, serta dukungannya terhadap larangan imigrasi Presiden Trump.
Pence sendiri dalam pidatonya menyinggung tentang ketiadaan kebebasan berbicara di kampus-kampus. Menurutnya, terlalu banyak kampus yang kini memberlakukan aturan dalam berpidato, bahkan memberi sanksi administratif bagi mahasiswa yang berbeda secara politik. Ia menilai praktik semacam itu menyebabkan kehanduran dalam dunia pendidikan dan bertentangan dengan tradisi Amerika.
Sementara itu, mantan Ibu Negara, mantan Menteri Luar Negeri sekaligus mantan pesaing Trump pada pemilihan presiden yang lalu, Hillary Clinton, menyampaikan pidato kelulusan di Wellesley College, Massachusetts. Di perguruan tinggi alma maternya itu, Clinton menyerukan kepada mahasiswa yang baru lulu supaya terus berjuang untuk menegakkan kebenaran dan akal sehat. “Jangan takut mengejar ambisi dan impian kalian, dan manfaatkan kemarahan kalian untuk mencapai tujuan yang baik,” begitu pesannya.
Pembicara tamu biasanya adalah alumni perguruan tinggi bersangkutan atau yang memiliki ikatan atau hubungan dengannya. Contoh yang terakhir itu di antaranya adalah Mark Zuckerberg, CEO Facebook. Orang terkaya ke-enam di dunia dengan kekayaan sekitar 63,4 miliar dolar itu drop out dari Harvard 12 tahun silam untuk mengembangkan Facebook. Pekan lalu ia menanggalkan T-shirt abu-abu khasnya yang ia pakai setiap hari dan mengenakan jubah toga warna merah, serta menerima gelar doktor kehormatan dari perguruan tinggi ternama itu.
Dalam pidato setelah menerima gelar kehormatan itu, ia mengimbau kepada para lulusan Harvard agar memiliki sasaran atau tujuan hidup untuk dunia. “Menemukan tujuan hidup sendiri saja tidak cukup. Tantangan bagi generasi kita sekarang ini adalah menciptakan dunia di mana semua orang memiliki tujuan hidup,” tegasnya seraya mengingatkan tujuan hidup pribadinyalah yang membuat ia memutuskan untuk membangun Facebook.
Kehormatan - Setelah putus kuliah sebelum meraih gelar sarjananya dari Harvard University 12 tahun silam, CEO Facebook Mark Zuckerberg akhirnya kembali ke universitas tersebut dan menerima gelar doktor kehormatan. (Foto: AP)
O iya, banyak kalangan menilai pidato Zuckerberg sangat bertentangan dengan tema-tema dalam pidato Presiden Trump. Ada yang mengatakan bahwa Zuckerberg menempatkan diri sebagai seorang anti-Trump. Sebelum ini memang pernah muncul spekulasi bahwa ia mungkin akan mempertimbangkan untuk maju sebagai calon presiden, meski Zuckerberg membantahnya.
Sejumlah pesohor lainnya juga masuk daftar pembicara tamu dalam wisuda tahun ini. Oprah Winfrey, aktris, pembawa acara bincang-bincang dan dermawan terkemuka serta salah seorang kulit hitam terkaya di Amerika, dijadwalkan berbicara di sembilan perguruan tinggi di mana mantan murid-muridnya di Oprah Winfrey Leadership Academy kuliah. Salah satunya adalah di Smith College di Massachusetts. Ia mengatakan begitu banyak kebahagiaan pribadi yang ia peroleh justru karena ia mengulurkan bantuan untuk orang lain. Semakin banyak waktu yang ia curahkan untuk membantu, semakin puas dan sukses yang ia rasakan, begitu pesannya.
Sementara itu Sheryl Sandberg, COO Facebook, dalam pidatonya di Virginia Tech, Virginia mengingatkan, cara penting untuk dapat mengabdi dan memimpin adalah dengan membantu membangun ketangguhan orang-orang di seluruh dunia.
Aktor dan komedian tunggal terkenal keturunan Iran, Maz Jobrani, berpidato di almamaternya, University of California-Berkeley pertengahan Mei ini. Ia berharap para sarjana baru memiliki tujuan bagi masa depan yang menyuburkan keberagaman, sembari menyampaikan kisah hidupnya sebagai imigran. Tak seperti beberapa pembicara lain yang menyatakan tidak akan menyinggung-nyinggung tentang Trump dalam pidato mereka nantinya, Jobrani justru sedari awal sudah bertekad akan melakukan itu karena ia seorang imigran. Ia ingin Trump tahu dampak kebijakan imigrasinya dan kemudian menyampaikan pidatonya berselang-seling dengan serius dan humor.
Di antara ribuan pidato yang telah disampaikan, adakah yang kemudian kerap dikenang? Tentu saja ada. Salah satunya adalah yang disampaikan pendiri dan CEO Apple Steve Jobs pada acara wisuda tahun 2005 di Stanford University, California, setahun setelah ia didiagnosis menderita kanker pankreas. Majalah Time menempatkan pidato Jobs dalam daftar 10 pidato wisuda terbaik sepanjang masa. Ia mengingatkan agar kita mengisi hidup hari ini seolah-olah ini adalah hari terakhir kita. Berikut cuplikannya.
“Mengingat bahwa kita akan segera mati merupakan alat paling penting untuk membantu mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup,” ujarnya. “Pikiran semacam ini membuat kita memahami pentingnya pekerjaan kita. Dan satu-satunya cara untuk melakukan tugas dengan baik adalah mencintai apa yang kita lakukan. Jangan mandek. Dan sebagaimana semua hal yang terkait dengan hati atau perasaan, kita akan tahu setelah menemukannya.”
Mandek berati menyerahkan visi hidup kita kepada orang lain, jelas Jobs. “Jangan biarkan hingar bingar opini orang lain membuat kita meninggalkan suara hati kita. Dan yang paling penting, milikilah keberanian untuk mengikuti perasaan dan insting kita.”
Dilema Kebebasan Berpendapat di Kampus-Kampus Amerika
Benarkah kebebasan berpendapat terancam di kampus-kampus Amerika?
Pertanyaan ini menjadi pembahasan dalam dialog interaktif VOA dengan Sonora Networks minggu lalu setelah muncul berbagai laporan tentang kekerasan yang mewarnai demonstrasi di sejumlah kampus seperti UC Berkeley, Middlebury College, Claremont Colleges dan California State University di Los Angeles.
Unjuk rasa mahasiswa, yang banyak juga secara damai ini, ditujukan untuk menghadang atau memprotes pidato-pidato yang mereka pandang kontroversial di kampus mereka.
Selain soal keamanan, unjuk rasa dengan kekerasan itu membuat para pendukung kebebasan berpendapat prihatin karena dalam sejarahnya, universitas di Amerika selalu mendorong perdebatan terbuka. Mereka bahkan mengizinkan pidato tokoh-tokoh kontroversial sebagai salah satu wacana pendidikan, bahkan pembicara yang dipandang bisa memicu kebencian.
Pengunjuk rasa menyaksikan kobaran api di Sproul Plaza saat berdemonstrasi menentang pidato yang dijadwalkan oleh editor Breitbart News Milo Yiannopoulos di kampus Universitas California di Berkeley, 1 Februari 2017.
Aksi-aksi penolakan ini tampaknya sejalan dengan survei YouGov yang menunjukkan 43 persen mahasiswa ingin kampus terbebas dari diskriminasi walaupun itu berarti akan ada pembatasan terkait pembicara dan topik diskusi di kampus mereka. Menurut survei tahun 2015 ini, prioritas kampus bukan hanya melindungi hak mutlak untuk kebebasan berbicara.
Tapi banyak yang berpendapat bahwa pihak sekolah atau perguruan tinggi harus melakukan lebih banyak untuk melindungi para pembicara yang sudah diundang untuk berbicara.
Will Creeley, wakil presiden advokasi hukum di Foundation for Individual Rights in Education (FIRE), termasuk orang yang menyalahkan pihak kampus karena menyerah pada tuntutan para demonstran dengan kekerasan itu dan mengemukakan kepada VOA bahwa insiden itu menunjukkan kurangnya pengetahuan tentang UUD yang melindungi kebebasan berbicara di AS.
Yang cukup mengherankan adalah alasan bahwa ujaran kebencian juga dilindungi First Amendment atau Amandemen Pertama UUD AS.
Memang ada beberapa jenis ujaran yang tidak dilindungi oleh Amandemen Pertama Konstitusi AS. Tapi pengecualiannya sempit dan tidak ada hubungannya dengan "ucapan kebencian" seperti yang digunakan secara konvensional maupun semua pernyataan yang menyinggung perasaan orang lain dari agama atau ras yang berbeda.
Pengecualian diberikan untuk “fighting words” - penghinaan pribadi yang langsung ditujukan kepada orang tertentu, yang kemungkinan besar akan segera memicu perkelahian.
Menurut Will Creeley, Mahkamah Agung AS cukup bijak ketika membatasi kategori pidato yang tidak dilindungi itu ke dalam sekumpulan pengecualian yang sempit, termasuk ancaman sesungguhnya (true threats), intimidasi, hasutan, dan kecabulan. Kampus-kampus yang menerima dana federal memiliki kewajiban hukum untuk melarang pelecehan yang diskriminatif tapi pengecualian ini memiliki definisi hukum yang dibuat dengan hati-hati. Definisi itu rasanya cukup rumit untuk dipahami orang awam.
“Hate speech”juga tidak memiliki makna yang tegas dan tetap menurut undang-undang AS, kata Eugene Volokh, dosen di UCLA School of Law.
Dengan ketidakjelasan terkait definisi ujaran kebencian dan apa saja yang dilindungi konstitusi sebagai kebebasan berpendapat ini, banyak kalangan tertentu dengan mudahnya melontarkan ujaran kebencian, penistaan dll. di kampus tanpa takut akan konsekuensinya.
Lebih dari 30 kampus di AS, termasuk University of Texas, University of Maryland, University of Hartford di Connecticut, University of Rochester di New York dan Auburn University di Alabama, akhir-akhir ini menjadi target kelompok-kelompok supremasi kulit putih yang mengedarkan pamflet-pamflet yang menyatakan "America is a white nation."
Pamflet itu juga mengajak para mahasiswa kulit putih untuk melaporkan orang-orang yang mereka duga penduduk gelap kepada dinas imigrasi karena mereka kriminal.
Aksi ini rupanya tanggapan atas kebijakan universitas mereka untuk melindungi hak-hak sipil mahasiswa yang tidak memiliki dokumen imigrasi.
Tren-tren berbahaya di perguruan tinggi Amerika ini mendorong legislator di beberapa negara bagian untuk membuat UU baru yang lebih tegas dan jelas terkait kebebasan berbicara di perguruan tinggi.
Legislator dari kedua partai utama di Tennessee baru saja meloloskan RUU yang melindungi kebebasan berpendapat para mahasiswa di kampus. Pihak universitas juga tidak boleh begitu saja membatalkan pembicara yang sudah diundang hanya karena diprotes pihak tertentu.
UU tersebut melarang dibentuknya “free speech zones,” yang digunakan pejabat universitas untuk membatasi pidato-pidato kontroversial di tempat-tempat tertentu saja. Negara bagian Virginia, Missouri, Arizona, dan Colorado sudah mengadopsi aturan ini sejak April lalu.
Di Michigan, dua RUU sedang digarap di Senat negara bagian itu untuk memberi hukuman yang berat kepada mahasiswa perguruan tinggi negeri yang melanggar hak kebebasan berbicara di kampus. Selain itu, katanya definisi pelanggaran itu sendiri juga akan di perjelas. RUU serupa juga sedang diajukan di California.
Banyak juga seruan untuk mempertahankan First Amendment sebagaimana yang dimaksud para pendiri Amerika Serikat. Apalagi sempat muncul wacana bahwa Presiden Donald Trump ingin mengubah amandemen yang melindungi kebebasan berbicara itu karena kesalnya dia pada media-media yang katanya menyebar berita palsu. Kesalnya dia pada orang-orang yang membakar bendera sebagai aksi protes.
Bagaimana mempertahankan kebebasan berpendapat sepenuhnya tanpa merugikan pihak lain tidaklah mudah.
Sebuah selebaran terlihat di papan pengumuman dekat Sproul Hall di Universitas California Berkeley, California. Mahasiswa yang mengundang Ann Coulter untuk berbicara di kampus mengajukan gugatan hukum, 24 April 2017, dengan mengatakan universitas tersebut melakukan tindakan diskriminatif terhadap pembicara konservatif dan melanggar hak para siswa untuk kebebasan berbicara.
Masyarakat Amerika, terutama kaum muda sepertinya perlu memahami hubungan antara apresiasi yang lebih luas terhadap kebebasan berbicara dan bagaimana kebijakan tertentu dapat mengurangi atau mengikis kebebasan itu secara permanen.
Dalam sebuah blog di website American Civil Liberties Union baru-baru ini yang berjudul "We All Need to Defend Speech We Hate," pengacara ACLU Lee Rowland mengemukakan bahwa melarang atau berteriak-teriak menolak pidato yang dipandang berisi kebencian atau rasis sama saja artinya dengan penyensoran.
Rowland mengemukakan bahwa ketika semua orang bebas berpendapat, yang kemudian menciptakan bursa ide, maka ide terbaik yang akan menang. Jadi yang sebenarnya dibutuhkan adalah melatih para mahasiswa untuk benar-benar mendengarkan gagasan yang mereka benci dan merespons dengan sebaik-baiknya.
Bila memilih penyensoran sebagai substansi argumen, maka kita akan kalah dalam perdebatan, tambah Rowland. Karena tak satu pun dari kita yang akan menjadi lebih bijak, lebih luas pengetahuannya tentang berbagai hal ketika pendapat yang berbeda dibungkamkan.
Kalau meminjam istilah perkuliahan berarti para mahasiswa itu tidak melakukan tugasnya. Nilai untuk debat intelektualnya F.
Proses untuk melibatkan mahasiswa dalam wacana yang produktif dan kritis bisa saja menciptakan ketegangan dan konflik bagi banyak orang, mengingat tidak semua anggota masyarakat kampus memandangkebebasan berbicara yang dilindungi UU itu sebagai pidato yang baik atau produktif.
Namun, daripada mencap mahasiswa sebagai "makhluk yang rapuh" atau memaksa institusi untuk menghukum mahasiswa yang ingin memprotes pembicara di kampus, tentu ada pendekatan yang lebih baik, kata Neal H. Hutchens, profesor pendidikan tinggi di University of Mississippi dan Brandi Hephner LaBanc, wakil urusan kemahasiswaan di University of Mississippi
Jika mahasiswa mengungkapkan keberatan terhadap pembicara kontroversial, ada baiknya mereka ditanggapi dengan serius, kata Hutchens . Libatkan mereka dalam pembahasan tentang bagaimana merekonsiliasi keprihatinan mereka dan komitmen institusi untuk menjunjung kebebasan berbicara.
Isu kebebasan berbicara di kampus biasanya dan bisa membuat mahasiswa dan pejabat kampus tidak nyaman. Tapi ketidaknyamanan itu juga menghadirkan peluang untuk bertumbuh.
Kebanyakan orang Amerika percaya bahwa institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mendorong perdebatan dan untuk membantu mahasiswa menimba ilmu dari pengalaman dalam memproses dan menanggapi pesan-pesan yang mereka anggap tidak pantas.
Dengan demikian diharapkan semua pihak bertekad menjaga kampus agar bebas melakukan dialog yang bermakna berdasarkan rasa saling hormat.
Bagi perempuan, topik tentang uang, berapa besar penghasilannya, berapa besar tabungannya atau berapa sewa rumahnya, tabu untuk dibicarakan didepan umum. Untungnya di Amerika Serikat ada satu hari yang bisa dipakai untuk mengikis keengganan perempuan untuk berbicara soal uang, terutama tentang upah yang setara dengan kaum lelaki.
“Equal Pay Day” memang bukan hari besar resmi tapi hanya hari simbolis menandai seberapa jauh ke tahun ini kaum perempuan harus bekerja untuk mendapatkan upah yang sama dengan kaum lelaki dalam satu tahun sebelumnya.
Sebagai perempuan yang tidak merasakan perbedaan gaji dengan kolega laki-laki saya di kantor VOA, saya menjadi bertanya-tanya mengapa Equal Pay Day masih keras gaungnya mengingat kesetaraan upah atau Equal Pay Act sudah berlaku selama 54 tahun di Amerika?
Apalagi UU itu juga sudah diperkuat oleh Presiden Obama dengan The Lilly Ledbetter Fair Pay Act, pada 29 Januari, 2009, legislasi pertama yang dia tanda tangani ketika memasuki Gedung Putih. Peraturan ini mempermudah seorang perempuan untuk menggugat majikannya jika terbukti dia mendapat gaji yang lebih kecil dibanding laki-laki dalam pekerjaan yang sama.
Presiden Barack Obama menandatangani keppres yang bertujuan untuk menutup kesenjangan kompensasi antar, Selasa, April 8, 2014, di Ruang Timur Gedung Putih di Washington, dalam sebuah acara Equal Pay Day. Lilly Ledbetter, berbaju hijau, berdiri di sebelah presiden. (AP Photo/Susan Walsh)
Equal Pay Day tahun ini diperingati pada tanggal 4 April lalu, yang berarti perempuan harus bekerja tiga bulan lagi ke tahun 2017 untuk menyamai pendapatan laki-laki pada tahun 2016.
Equal Pay Day memang datang lebih cepat tahun ini (Equal Pay Day tahun 2016 jatuh pada tanggal 12 April) tapi para advokat tidak melihatnya sebagai perubahan yang signifikan karena perbedaan upah masih tetap besar.
National Partnership for Women and Families (NPWF) mencatat bahwa kesenjangan rata-sata hanya berubah satu sen, dari 79 menjadi 80 sen dari satu dolar yang diperoleh laki-laki dalam setahun ini.
Perbedaan itu sangat besar mengingat kira-kira setengah tenaga kerja di Amerika adalah perempuan. Secara keseluruhan, perempuan Amerika kehilangan sekitar $ 840 miliar per tahun karena kesenjangan itu, dan pada tingkat individu artinya perempuan bisa kehilangan dana untuk membeli kebutuhan dapur selama satu tahun lebih.
Bayangkan dampaknya jika perempuan ini adalah pencari nafkah tunggal atau orang tua tunggal. Keluarga ini bisa hidup dalam kondisi yang buruk dan kekurangan gizi.
(AP Photo/Jessica Hill)
Tapi ternyata banyak juga orang Amerika tidak percaya bahwa kesenjangan gaji ada, meskipun ekonom telah sepenuhnya menolak kesalahpahaman itu.
Tujuh dari 10 pekerja yang disurvei oleh situs tenaga kerja Glassdoor.com pada 2016 menunjukkan mereka percaya lelaki dan perempuan dibayar setara oleh perusahaan mereka. Laki-laki jauh lebih banyak yang mengatakan hal tersebut, di mana hampir 8 dari 10 setuju, dibandingkan dengan 6 dari 10 perempuan yang setuju.
Dan kalaupun mereka mengakui ada perbedaan upah antar gender, seberapa besar kesenjangan itu masih terus diperdebatkan.
Biro Sensus mengatakan perempuan mendapatkan 79 sen untuk setiap dolar yang mendapatkan laki-laki, berdasarkan gaji rata-rata pekerja penuh waktu. Tapi kalau berbicara soal upah mingguan dan per jam, kesenjangan tidak begitu besar, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja.
Orang-orang yang mengatakan kesenjangan upah antar gender hanya mitos mengemukakan bahwa perbedaan gaji antara perempuan dan laki-laki jelas dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk pendidikan formal dan keterampilan yang dipelajari pada pekerjaan melalui pengalaman kerja.
Menurut mereka, rata-rata perempuan memiliki pengalaman kerja lebih sedikit, perempuan mengambil waktu untuk membesarkan anak-anak dan mereka memilih karier yang cenderung memiliki jam kerja yang lebih fleksibel dan potensi penghasilan lebih rendah.
Selain itu, dibandingkan dengan perempuan, kaum lelaki cenderung tertarik ke arah jurusan kuliah dengan nilai pasar yang lebih besar. Misalnya, sekitar 80% laki-laki memilih jurusan teknik dan ilmu komputer jurusan sementara 66% perempuan memilih jurusan ilmu-ilmu sosial, drama, tari, pendidikan dan jurusan seni rupa.
Penelitian Warwick Economics pada tahun 2016 menemukan bahwa bagi pekerja di bawah 40 tahun, tampaknya tidak ada perbedaan dalam situasi di mana perempuan dan laki-laki itu memiliki pekerjaan di mana gaji bisa dinegosiasikan; di mana kedua gender berhasil memperoleh kenaikan gaji jika mereka memintanya. Jadi, jika para perempuan berusia 40 tahun ke bawah ini menegosiasikan kenaikan gaji sesering laki-laki, mereka akan mendapatkannya.
Linda Babcock, profesor ekonomi di Carnegie Mellon University dan salah seorang pendiri organisasi “Women Don’t Ask,” mencatat bahwa perempuan kadang-kadang dibayar lebih kecil karena mereka tidak bernegosiasi sesering dan sepintar rekan lelaki mereka ketika membahas gaji awal atau pun kenaikan gaji.
Kalau bisa saya simpulkan perempuan umumnya mendapat gaji yang lebih kecil untuk pekerjaan dan jabatan yang serupa karena tiga faktor signifikan, yaitu penalti yang dihadapi perempuan karena menjadi seorang ibu, kurangnya kemampuan perempuan untuk menegosiasikan gaji, dan bias atau prasangka majikan yang secara sengaja atau tidak masih meremehkan kemampuan perempuan.
(AP Photo/Jessica Hill, File)
Stereotip bahwa perempuan mempunyai nilai yang lebih rendah bagi perusahaan memang sulit diperbaiki karena sudah mengakar di masyarakat tapi perempuan bisa melatih strategi menegosiasikan gaji atau promosi jabatan setelah meyakinkan diri bahwa dia layak mendapatkannya.
Menurut Joan C. Williams, seorang profesor hukum dan penulis buku “What Works for Women at Work” perempuan yang meminta kenaikan gaji cenderung tidak disukai karena pandangan bahwa perempuan seharusnya sederhana dan tidak segan berkorban. Dan, tambah Williams, ketika lelaki meminta kenaikan gaji mereka sering dianggap bernegosiasi demi keluarga mereka, sehingga mungkin tampak tidak pamrih, sedangkan seorang perempuan akan dilihat sebagai sombong dan mementingkan diri sendiri.
Sementara untuk mengatasi kurangnya pendapatan karena menunaikan tugas sebagai ibu, pemerintah bisa membantu dengan membuat UU yang mengharuskan perusahaan memberi cuti melahirkan tanpa potongan gaji atau pergeseran posisi dan memberi subsidi untuk penitipan anak seperti yang dilakukan pemerintah Swedia.
Sejumlah negara bagian di Amerika telah memberlakukan UU Kesetraan Upah. California, misalnya, menerapkan salah satu UU yang menuntut agar perusahaan membuktikan bahwa mereka membayar perempuan dan laki-laki dengan upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. Tapi proposal undang-undang itu di tingkat federal, yang disebut Paycheck Fairness Act, telah berulang kali terhenti di Kongres.
Sementara menunggu Kongres bertindak, Sarah Fleisch Fink dari National Partnership for Women and Families (NPWF) menyarankan agar perusahaan turun tangan dengan mengaudit diri sendiri dan melihat apakah ada diskriminasi gaji yang mungkin tidak mereka sadari keberadaannya.
Keterlibatan Putri Presiden Amerika di Gedung Putih
Media berita dan media sosial sama-sama heboh membahas peran Ivanka Trump yang konon begitu besar mulai dari masa kampanye sampai ayahnya, Donald Trump, terpilih menjadi presiden Amerika. Apa lagi setelah baru-baru ini dikabarkan putri sulung Trump ini diberi kantor di West Wing Gedung Putih dan akses ke informasi rahasia meskipun dia bukan pegawai pemerintah federal.
Berbeda dengan suaminya, Jared Kushner, yang menjabat sebagai penasihat senior presiden, Ivanka Trump tidak akan memiliki jabatan resmi. Pasangan ini tidak menerima gaji dan katanya Ivanka akan berperan sebagai 'mata dan telinga' ayahnya seperti ketika bekerja sebagai wakil direktur eksekutif untuk Trump Organization.
Apakah benar keterlibatan putri presiden di Gedung Putih tidak pernah seperti ini sebelumnya dalam sejarah Amerika?
Sebelum melihat sejarahnya, mungkin saya kemukakan dulu beberapa hal yang menjadi sorotan media, bahkan memicu keprihatinan, para pakar, pengamat, maupun masyarakat awam Amerika tentang keterlibatan Ivanka dalam urusan Gedung Putih. Sebelumnya juga sempat muncul berbagai spekulasi bahwa Ivanka akan berfungsi sebagai ibu negara di Gedung Putih.
Keterlibatan Ivanka ini tidak lepas dari perdebatan lama tentang perlunya batas-batas yang tegas antara kegiatan-kegiatan politik dan bisnis keluarga Trump guna menghindari kemungkinan terjadinya konflik kepentingan, pelanggaran Undang-undang anti nepotisme tahun 1967 dan pelanggaran kode etik, mengingat dia tidak tak pernah disumpah untuk jabatan publik di kantor kepresidenan AS.
Sejak ayahnya memenangkan Gedung Putih, Ivanka sering menghadiri berbagai pertemuan tingkat tinggi ayahnya, termasuk pertemuan tertutup Trump dengan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, 17 November 2016, di mana Ivanka menuai kecaman pedas karena perusahaannya sedang menegosiasikan perjanjian lisensi dengan perusahaan milik pemerintah Jepang. Sejak itu dia mengaku sudah melepaskan tanggung jawab manajemen perusahaannya kepada sebuah perwalian yang independen. Tapi seperti ayahnya, Ivanka masih menerima uang keuntungan dari perusahaannya.
Setelah itu pada 15 Februari 2017, Ivanka menghadiri pertemuan kenegaraan ayahnya dengan PM Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih dan kemudian menghadiri pertemuan kenegaraan Trump dengan PM Kanada Justin Trudeau dan pertemuan baru-baru ini dia malah duduk di sebelah Kanselir Jerman Angela Merkel.
Komentator politik ABC News, Cokie Roberts, yang telah menulis beberapa buku tentang peran perempuan dalam pembangunan Amerika Serikat dan dalam pemerintahan sebelumnya, mengatakan bahwa Ivanka Trump bukanlah putri presiden pertama yang berperan dalam pemerintahan ayahnya tapi peran mereka mungkin belum pernah sebesar itu.
Roberts merujuk pada putri Presiden Amerika kelima James Monroe yang menjalankan tugas-tugas ibu negara dari tahun 1817 sampai 1825. Eliza Monroe Hay memiliki peran publik yang cukup besar dalam pemerintahan ayahnya karena sang ibu yang sakit-sakitan.
Doug Wead, penulis buku “Game of Thorns: Inside the Clinton-Trump election of 2016,” menunjukkan bahwa Martha Johnson, putri Presiden Andrew Johnson, banyak melakukan tugas-tugas ibu negara untuk ayahnya yang menghadapi proses pemakzulan menjelang tahun 1868.
Ibunya sakit-sakitan sehingga Martha mengambil alih peran ibu negara dan menciptakan berbagai protokol di Gedung Putih yang ternyata masih berlaku sampai hari ini. Kabarnya dia juga berani berkunjung ke Capitol Hill untuk melobi alokasi dana.
Sebelum Ivanka, putri presiden yang paling berpengaruh dalam pemerintahan ayahnya mungkin Alice Roosevelt Longworth dalam masa kepresidenan ayahnya dari tahun 1901 sampai 1909.
Menurut majalah Politico, Presiden Theodore Roosevelt menjadikan putrinya sebagai aset politik pada tahun 1905 ketika dia mengirim “Princess Alice” ke Asia untuk lawatan 4 bulan. Sebagai utusan ayahnya, Alice membantu membuka jalan bagi KTT di Portsmouth, New Hampshire, untuk mengakhiri Perang Rusia-Jepang. Untuk upaya diplomatik tersebut, yang membawa Amerika ke panggung internasional sebagai negara paling berpengaruh di dunia, Presiden Roosevelt menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun berikutnya.
Melihat sekilas sejarahnya ternyata banyak juga putri presiden Amerika yang berperan besar di East Wing, yaitu bagian Gedung Putih di mana ibu negara berkantor, tetapi tidak banyak yang berkantor di West Wing, apalagi dengan pengaruh besar seperti Ivanka Trump.
Seperti diketahui, lokasi kantor resmi Presiden AS berada di West Wing. Di bagian yang juga disebut Executive Office Building ini terdapat Oval Office, Cabinet Room, Situation Room, dan Roosevelt Room yang biasa digunakan sebagai ruang pertemuan Presiden AS dengan tamu-tamu pentingnya.
Mungkin perlu juga kita menilai anak-anak calon presiden yang sudah dewasa sebelum mencoblos namanya pada hari pemilu mengingat potensi peran mereka dalam pemerintahan sang ayah.
Ibuku sayang, apa kabar? Semoga sehat selalu ya, seperti halnya aku di sini. Apakah ibu sempat mengikuti acara America Now di Radio Sonora Rabu lalu? Kami sempat membahas tentang kabar terbaru bunga sakura lho, yang di sini dikenal sebagai cherry blossom. Tak lama memang, karena kesempatannya baru muncul pada penghujung acara. Itu sebabnya kutulis surat ini, Bu, untuk bercerita lebih banyak tentang musim sakura kali ini.
Masih teringat, ketika persis setahun lalu mengunjungiku, Ibu tak sempat berlama-lama memandangi sakura. Padahal aku tahu persis, Ibu sangat senang dan betah berlama-lama memandangi tanaman dan bunga-bunga yang indah. Memang hanya dua macam tempat yang selalu menarik perhatian Ibu: taman dan kebun, serta toko buku. O iya, Ibu pun tak sempat mengikuti berbagai acara di Ibu Kota untuk menyambut mekarnya sakura. Kesibukanku ketika itu malah membuatku lupa bercerita banyak tentang sakura. Oke, sekarang saja ya, kuceritakan serba serbi sakura di Washington DC.
Ibu, ketika Siska, penyiar Sonora itu menanyai aku dan Adri di ruang siar VOA tentang kabar terbaru sakura, hu hu… rasanya aku mau menangis. Aku belum tahu apakah tahun ini bisa menyaksikan bunga-bunganya merimbun berbarengan. Bagaimana bisa?
Sebetulnya Maret adalah bulannya bunga-bunga mulai bermekaran. Banyak orang sudah menunggu-nunggu untuk menyaksikan warna-warni bunga maupun pohon-pohon yang rimbun, bukan sekadar pohon, batang, dahan dan ranting yang gundul tanpa daun. Dan pohon-pohon sakura yang memamerkan bunga-bunganya secara serempak adalah salah satu atraksi yang paling banyak mengundang wisatawan di kawasan sekitar Tidal Basin, danau buatan di Washington DC, pada bulan Maret dan April.
TIDAL BASIN - Pohon-pohon sakura dengan bunga yang rimbun di tepian danau buatan Tidal Basin di Washington DC, sekiranya mekar serempak seperti tampak pada tahun 2016 lalu. (Foto: Tito Sidharta)
MONUMEN - Selain di pelataranr Monumen Nasional Washington, pengunjung bisa menikmati keindahan cherry blossom di sekitar Monumen Martin Luther King Jr. dan Monumen Thomas Jefferson. (Foto: Tito Sidharta, Utami Hussin)
Cuaca sejak Februari hingga awal Maret ini sangat menjanjikan untuk itu, Bu. Pakar cuaca bilang, ini musim dingin yang mild. Seingatku, hampir sepanjang bulan Februari sudah mulai terasa hangat. Begitu pula pekan-pekan pertama Maret. Sampai tak percaya rasanya kalau dalam perjalanan pulang, aku melihat ada warga yang jogging dengan mengenakan celana pendek dan baju lebih tipis atau terbuka.
Ketika datang ke kawasan sekitar Monumen Nasional Washington DC dan Tidal Basin, Ibu masih mengenakan baju hangat, kan? Bagi mereka yang terbiasa tinggal di Jakarta, suhu ketika itu tentu terasa sejuk. Memang, rata-rata suhu siang hari di Washington DC pada awal Maret biasanya sekitar 11 derajat Celsius, yang akan beranjak naik menjadi 16-17 derajat pada akhir bulan. Bila suhu yang relatif lebih hangat daripada rata-rata ini bertahan cukup lama, inilah saatnya bunga sakura mulai bermekaran.
Pada pekan-pekan pertama Maret, kami di sini sempat ‘kepanasan’ karena suhu beberapa kali menyamai suhu rata-rata akhir bulan, bahkan pernah mencapai 21 derajat Celsius. Cuaca hangat ‘menipu’ ini menyebabkan beberapa pohon di sana sini sudah mulai berbunga sementara kawan-kawannya lebih banyak memunculkan putiknya.
Dinas Taman Nasional (National Park Service, NPS) awal bulan ini memperkirakan, masa puncak (peak bloom) berkembangnya bunga sakura antara tanggal 14 - 17 Maret. Yang disebut peak bloom adalah ketika 70 persen pohon sakura jenis Yoshino di tepian Tidal Basin berbunga.
Tapi oh tetapi, Bu, menjelang akhir minggu lalu, ramalan cuaca menunjukkan suhu sepekan berikutnya anjlok hingga di bawah titik beku. Bukan itu saja, badai Stella juga ‘dijadwalkan’ menyapa DC di penghujung winter ini mulai Senin (13/3) malam hingga siang keesokan harinya.. Tak hanya mencurahkan salju, Stella juga membawa angin sangat kencang yang membuat pepohonan miring menahan tiupannya. Bunyi desau anginnya pun seperti yang di film-film horor itu. Ibu tahu kan, aku paling menghindari film jenis ini. Menakutkan! Dan angin kencang menakutkan juga musuh bunga-bunga yang baru mulai mekar atau masih berupa putik.
Aku dan beberapa sahabatku akhirnya memutuskan untuk melihat sebagian dari sedikit sakura yang mulai mekar itu sehari sebelum badai. Kami tak mengunjungi kawasan Tidal Basin, Bu. Tak jauh dari sana, di kawasan tepian Sungai Potomac, ada cukup banyak pohon sakura yang telah bersemi, meskipun belum serimbun kala mereka mengeluarkan seluruh bunganya. Di tengah suhu di sekitar titik beku yang menusuk tulang, kami merasa cukup puas dapat berfoto ria dengan bunga cantik ini di sana.
CERAH - Sehari sebelum Badai Stella tiba, hari masih cerah. Sebagian pohon di tepian Sungai Potomac telah mulai mengeluarkan bunga, sebagian ada yang baru memunculkan putik, ada pula yang masih gundul. (Foto: Utami Hussin)
Kami memang telah bersiap-siap patah hati tak bisa melihat sakura pada pekan-pekan ini. Sewaktu mengumumkan pengunduran perkiraan masa peak bloom menjadi 19-22 Maret, NPS menjelaskan, suhu minus 2 derajat Celsius akan merusak 10 persen bunga. Jika turun lagi menjadi minus 4 Celsius, yang rusak bisa-bisa mencapai 90 persen.
Foto-foto yang muncul di berbagai media seusai badai menunjukkan putik-putik dan bunga-bunga sakura yang membeku berlapis es. Pilu rasanya memandangi foto-foto itu. Tapi setidaknya ada dua info NPS yang menggembirakanku muncul pertengahan minggu ini. Pertama, putik-putik mungil sakura yang masih menguncup diperkirakan pada akhirnya akan bisa mekar sepenuhnya dan mencapai puncaknya dalam beberapa hari lagi, artinya sekitar minggu-minggu depan.
Ke-dua, memang 70 persen dari sakura yang berjajar di tepian Tidal Basin adalah dari jenis Yoshino. Tapi Yoshino, yang rawan rusak akibat suhu dingin membeku dan termasuk yang mekar paling awal, hanyalah satu dari 12 varietas sakura di Washington DC. Sakura Kwanzan, yang jumlahnya sekitar 12 persen dari seluruh sakura di Ibu Kota, serta Sakura Usuzumi (sekitar 1 persen) dan Shirofugen (kurang dari 1 persen) belum menunjukkan perkembangan berarti dan tidak serapuh Yoshino. Masa puncak mekarnya diperkirakan akan terjadi pertengahan April. Hore! Hore!
Ternyata masih ada harapan untuk kembali melihat pohon-pohon ini menampilkan keindahan bunganya. Rasanya ada yang kurang kalau tak melihat sakura pada musimnya berbunga. Ini seperti sudah menjadi tradisi bagiku sejak bermukim di sini selama hampir 11 tahun belakangan. Masa yang cukup singkat dibandingkan dengan keberadaan pohon sakura di DC.
Menurut yang kubaca di Internet, Bu, gelombang pertama pohon-pohon sakura dari Jepang tiba di Ibu Kota pada tahun 1910. Semuanya dibakar musnah karena pepohonan ini ternyata diserang parasit nematoda. Gelombang berikutnya, sebanyak 3.020 pohon, tiba pada tahun 1912. Ini hadiah dari rakyat Jepang sebagai simbol persahabatan kedua negara. Penanaman pertama pohon sakura di tepian Tidal Basin dilakukan oleh Ibu Negara Amerika ketika itu, Helen Taft, dan istri Dubes Jepang Viscountess Iwa Chinda. Konon, kedua pohon yang ditanam mereka itu masih berdiri hingga kini.
O iya, Bu, tradisi lain menyambut musim sakura di DC juga ditandai oleh National Cherry Blossom Festival atau Festival Nasional Sakura. Tahun lalu, kita tak sempat mengikuti satupun acaranya selain menikmati keindahan sakura. Padahal banyak sekali acara digelar dalam festival tersebut, yang tahun ini berlangsung mulai 15 Maret lalu hingga 16 April. Intinya adalah untuk memperkenalkan seni budaya Jepang, meskipun ada negara-negara lain berpartisipasi menampilkan budaya mereka sendiri.
Kalau melihat jadwalnya, festival yang pertama kali diselenggarakan 90 tahun lalu ini akan kembali menggelar antara lain demo membuat seni kerajinan tradisional, pertunjukan teater, musik, dan tari tradisional maupun modern, pemutaran film, lomba lari, pesta kembang api, mencicipi minuman teh hijau, juga gula-gula. Di Museum Seni Amerika Smithsonian, anak-anak akan belajar membuat seni kerajinan bertema sakura, memainkan alat musik Jepang, dan yang banyak mereka sukai adalah, mendapat lukisan wajah.
Nah yang biasanya tak kulewatkan sebelumnya, dan ingin kusaksikan lagi tahun ini adalah festival layang-layang, serta parade. Peserta parade 8 April nanti begitu banyak, Bu, daftarnya memakan tempat hampir 1,5 halaman tabloid Express yang kuambil setiap akhir pekan.
KEGIATAN KELUARGA - Banyak kegiatan selama Festival Sakura yang bisa diikuti seluruh anggota keluarga: mengenal baju tradisional kimono dan mengenakannya di National Children’s Museum, menonton parade dengan balon raksasa berbentuk sakura di Constitution Avenue, atau sekadar berjalan-jalan, berpiknik dan berfoto di antara pohon-pohon sakura dekat Tidal Basin. (Foto-foto ki-ka dari atas: Anne Budianto, AP/Carolyn Kaster, Tito Sidharta)
Seperti halnya di Jepang, festival bunga sakura merupakan saat-saat berkumpul bersama keluarga atau orang-orang tersayang. Tapi di sini tidak banyak yang berpiknik di bawah pohon sakura. Seperti yang Ibu lihat tahun lalu, pengunjung lebih banyak lalu lalang, sekadar memandang, memotret atau berfoto dengan latar belakang sakura. Di antara mereka, ada yang mengenakan kimono, bakiak dan payung kertas. Wah, kalau mereka hadir dalam jumlah banyak, mungkin kita serasa berada di Jepang ya, ha ha ..
Ibu, sewaktu aku menulis, tak terasa sesekali kusenandungkan lagu semasa kecilku mengenai cherry blossom. Ibu mungkin tahu lagu yang katanya menceritakan keindahan bunga ini. Aku tak hafal seluruh lirik lagu berjudul Sakura ini. Hanya bait-bait pertamanya saja yang kuulang-ulang, lantas kuteruskan dengan menggumamkan nadanya, he he…
Ibuku sayang, panjang sudah ceritaku. Kuakhiri dulu ya. Nanti, kalau sakura bermekaran, akan kubagikan lagi cerita mengenai keindahannya. Harapku, semoga saja suhu di sini mulai menghangat.
Doa dan restu ibu juga kupinta selalu.
I love you, Ibu!
Aksi “A Day Without a Woman” atau “Sehari Tanpa Perempuan” digelar Rabu lalu bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional oleh kelompok yang menyelenggarakan Women’s March Januari lalu.
Mereka mengajak perempuan di seluruh dunia untuk bersama-sama memperjuangkan kesetaraan gender, keadilan dan hak-hak asasi perempuan serta semua orang yang tertindas karena gendernya, melalui demonstrasi solidaritas ekonomi satu hari. Para perempuan Amerika diajak untuk libur sehari dari pekerjaan yang dibayar maupun tidak dibayar, tidak berbelanja selama sehari dan mengenakan baju merah sebagai tanda cinta dan pengorbanan, warna energi dan aksi. “Sehari Tanpa Perempuan” ini pada dasarnya adalah aksi mogok sehari untuk menunjukkan kekuatan ekonomi mereka.
Women participate in International Women's Day Protest in Washington, D.C. on March 8, 2017. (Photo: E. Sarai / VOA)
Menurut sebuah studi oleh Center of American Progress, jika semua perempuan Amerika yang bekerja di luar rumah libur sehari, produk domestik bruto Amerika akan terpangkas sampai $21 miliar untuk hari itu saja. Biro Sensus AS memang menyatakan lebih dari 47 persen angkatan kerja adalah perempuan.
Namun perempuan di Amerika masih terus dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki, mendapat 80 sen untuk setiap dolar upah yang diterima laki-laki. Perempuan mengalami ketidakadilan yang lebih besar, lebih rentan terhadap diskriminasi, pelecehan seksual, dan jaminan kerja yang tidak jelas.
Walaupun tujuannya mulia, strategi “Sehari Tanpa Perempuan” ini ternyata mengundang banyak kecaman dari kalangan konservatif di Amerika yang menganggap aksi mogok ini tidak jelas tujuannya dan mementingkan diri sendiri, dan hanya untuk perempuan kaya.
Ini adalah hari memanjakan diri sendiri bagi perempuan akademisi dan profesional yang cukup beruntung memegang posisi dengan seperangkat keterampilan khusus, pekerjaan dengan cuti dibayar dan tidak menanggung risiko nyata saat mengambil libur sehari, kata Audrey Rabenberg, seorang pengacara di Alexandria, Virginia,
Dalam tulisannya di thefederalist.com, Audrey mengemukakan aksi itu melupakan kaum perempuan berpenghasilan rendah yang terancam mata pencahariannya dan tidak memiliki sistem pendukung untuk begitu saja meninggalkan tugas, di tempat kerja maupun di rumah tangganya.
Karin Agness, pendiri kelompok perempuan konservatif Network of Enlightened Women, setuju mengenai perlunya kesetaraan gender. Tetapi dia tidak berpartisipasi dalam aksi hari Rabu itu karena tidak mencerminkan dirinya dan memberi pesan yang keliru.
Karin, yang pada tahun 2014 terpilih sebagai salah satu dari 55 perempuan paling berpengaruh di Twitter menurut majalah Fortune, mengatakan kepada VOA bahwa perempuan telah mencapai kemajuan yang sangat besar dan sebagai perempuan muda dia frustrasi karena gerakan perempuan sekarang ini benar-benar masih melihat perempuan sebagai korban, dan sebagai kelompok korban yang perlu bantuan pemerintah untuk mengatasi masalahnya.
Suzanne Venker, penulis yang terkenal dengan komentarnya yang provokatif dan menarik tentang kaum lelaki, perempuan dan keluarga, mengaku dia sebenarnya tidak merasa perempuan bernasib buruk. Setiap orang, lelaki atau perempuan bisa mengalami situasi buruk tapi, secara keseluruhan perempuan Amerika tidak yang tertindas.
Penulis buku "The Alpha Female’s Guide to Men & Marriage: HOW LOVE WORKS" ini mengemukakan bahwa orang Amerika yang tidak mendukung pandangan negatif tentang situasi perempuan saat ini merupakan “silent majority” dan mereka menyadari bahwa negara mereka tidak sempurna, seraya mengakui bahwa perempuan Amerika adalah manusia yang paling beruntung di planet ini.
Kaum konservatif berbeda pendapat mengenai defisi kemajuan seperti yang digembar-gemborkan kaum feminis yang menyebutnya pembebasan dari lelaki, dari anak-anak, dari konstruksi masyarakat, dari apa saja yang membuat perempuan merasa berkewajiban secara moral terhadap seseorang atau sesuatu yang lain dari diri mereka sendiri.
Tapi jutaan perempuan Amerika tidak setuju dengan definisi kemajuan yang dikemukakan kaum liberal yang katanya sudah puluhan tahun berusaha meyakinkan perempuan bahwa Amerika perlu menyesuaikan diri agar perempuan lepas dari borgol, bebas dan mungkin bahagia.
Tapi anehnya, laporan 2007 dari National Bureau of Economic Research menyatakan, "sementara perempuan telah mendapatkan lebih banyak kebebasan, pendidikan yang lebih tinggi, dan wewenang yang lebih besar, mereka menjadi kurang bahagia."
Itulah salah satu alasan perempuan yang tidak berpartisipasi dalam aksi “Sehari Tanpa Perempuan.” Mayoritas yang diam ini akan terus menjalankan hidup mereka dan menonton aksi itu dari kejauhan.
People participate in the 'Day Without a Woman' rally in front of Los Angeles City Hall, March 8, 2017. (E. Lee/VOA)
Walaupun hanya sebagian kecil dari perempuan yang bekerja ikut berpartisipasi, tidaklah mengejutkan bahwa masyarakat tidak bisa berfungsi tanpa mereka semua.
Data statistik dari American Community Survey 2013-2015 di bawah ini bisa menggambarkan rutinitas orang Amerika yang paling terganggu jika semua perempuan libur dari pekerjaan mereka bersama-sama.
Sekolah akan terganggu karena 84% guru TK, SD, SMP dan guru sekolah luar biasa adalah perempuan.
85% kasir bank adalah perempuan. 44% supir bus dan ambulans serta pegawai transportasi lainnya adalah perempuan.
78% dokter gigi dan asisten dokter gigi adalah perempuan.
78% dokter, ahli bedah dan perawat adalah perempuan.
50% pengacara, hakim dan pegawai pengadilan lainnya adalah perempuan.
Data ini akan berubah mengingat saat ini perempuan lebih besar kemungkinannya mendapat gelar sarjana daripada lelaki. Masyarakat akan semakin bergantung pada kaum perempuan.
Apa lagi setelah menonton film "Hidden Figures" yang bercerita tentang kehebatan 3 perempuan kulit hitam dalam program antariksa Amerika.
Yakinlah kita bahwa jika diberi kesempatan perempuan akan unggul dalam berbagai bidang.
Semoga pihak-pihak berwenang senantiasa membuka dan memperluas peluang itu dengan kebijakan-kebijakan yang sesuai.
Mungkin teman-teman bertanya-tanya dengan judul di atas. Apa kaitannya dengan topik America Now, acara interaktif radio VOA Indonesia dengan radio Sonora, pekan ini? Memang tidak ada. Judul di atas, “Tambah Usia, Banyak Cerita” (many years, many stories) adalah tagline atau slogan dalam rangka 75 tahun usia Voice of America, VOA. Nah, kali ini saya ingin berbagi cerita dan gambar menyambut ulang tahun ke-75 VOA, yang perayaannya berlangsung Kamis 2 Maret lalu.
Meski baru sebentar bergabung, saya bangga bisa ikut menjadi bagian dari VOA dalam perjalanan usianya yang sudah cukup panjang. Ya, VOA mengudara untuk pertama kalinya pada 1 Februari 1942 melalui radio gelombang pendek. Siaran pertama berdurasi 15 menit ini dipancarkan ke Eropa untuk menangkis propaganda Nazi, sekitar tujuh minggu setelah Amerika resmi terjun ke kancah Perang Dunia ke-2.
Ketika itu, wartawan Amerika William Harlan Hale mengatakan, “Inilah suara yang disiarkan dari Amerika. Hari ini, dan pada jam yang sama setiap hari mulai sekarang, kami akan menyampaikan kepada Anda tentang Amerika dan perang. Beritanya mungkin baik atau buruk. Namun kami akan menyampaikan kebenaran.”
Kebenaran. Kata inilah yang kemudian menjadi landasan pedoman siaran VOA yang dituangkan dalam Piagam VOA. Piagam ini ditandatangani Presiden Gerald Ford dan disahkan menjadi undang-undang pada 12 Juli 1976. Dalam piagam itu antara lain disebutkan, VOA harus senantiasa menjadi sumber berita yang konsisten, andal, dan dapat dipercaya. Berita VOA akurat, objektif dan menyeluruh.
Seiring usianya, tak terhitung lagi berita yang telah dilansir maupun cerita kehidupan yang diliput VOA. Mulai dari kabar-kabar baik dan menyenangkan mengenai kemajuan dan pencapaian umat manusia dalam berbagai bidang, hingga perang, bencana, konflik dan tragedi kemanusiaan lainnya di berbagai penjuru dunia. Tak sedikit wartawan VOA yang harus berkorban nyawa sewaktu bertugas di daerah-daerah berbahaya itu.
GUGUR - Foto para wartawan VOA yang gugur dalam tugas diabadikan di salah satu dinding di dalam gedung kantor VOA. (foto: Adriana Sembiring)
Perubahan di dalam tubuh VOA sendiri pun tak sedikit. Diawali dengan siaran perdana dalam bahasa Jerman, VOA pernah mengudara dalam 50 lebih bahasa. Sekarang ini, VOA disampaikan dalam 47 bahasa, termasuk di antaranya siaran bahasa Indonesia. Diudarakan pertama kali dari studio sewaan di Kota New York, VOA kini memiliki kantor pusat yang lengkap dengan studio-studio radio dan televisi di Washington DC. Dan seiring perkembangan teknologi, VOA telah menjadi multimedia internasional yang membuat VOA dapat dinikmati melalui siaran radio, televisi, Internet dan media sosial. VOA kini menyiarkan berita dan berbagai acara lainnya di seluruh dunia melalui 2.500 afiliasi televisi dan radio - sekitar 300 di antaranya di Indonesia - dengan jangkauan pemirsa dan pendengar yang melampaui 236 juta orang setiap minggu.
KANTOR PUSAT - Gedung Wilbur J Cohen (kiri) di Washington DC menjadi lokasi kantor pusat VOA yang dilengkapi dengan studio-studio radio dan televisi. (Foto: Utami Hussin)
Acara puncak perayaan sendiri telah direncanakan sejak tahun lalu, Beberapa seksi siaran bahasa menyelenggarakan acara khusus. VOA Indonesia misalnya, pada 23 Februari lalu membuat acara spesial. Selain mengudara seperti biasa, Siaran Petang ketika itu juga menyajikan acara spesial Facebook Live, yang diselingi pemutaran ucapan-ucapan selamat yang kreatif dari radio-radio afiliasi kami.
EDISI KHUSUS - Tim Siaran Petang berinteraksi dengan para pendengar dari berbagai penjuru dunia melalui Facebook Live dalam rangka menyambut HUT ke-75 VOA. (foto: istimewa)
Acara puncaknya pada 2 Maret ini melibatkan semua divisi. Pada pagi hari di auditorium VOA, hadirin diingatkan lagi mengenai sejarah badan penyiaran Amerika ini. Ada pula kisah dari dan mengenai para jurnalis VOA, pemutaran video pesan-pesan ucapan selamat dari berbagai penjuru dunia, serta penampilan duta-duta VOA yang mengenakan pakaian khas atau tradisional dari seksi siaran bahasa yang mereka wakili.
KISAH - Sejumlah wartawan mendapat kesempatan menyampaikan kisah mereka dan menjadi duta VOA. (Foto: Adriana Sembiring)
Disusul kemudian dengan pemutaran film-film pilihan, di antaranya beberapa dokumenter hasil liputan mendalam reporter-reporter VOA. Pada siang harinya, berlangsung perayaan di sejumlah divisi yang memamerkan pernak-pernik dan budaya-budaya khas mereka. Saya dan rekan Adriana Sembiring menyempatkan diri mengunjungi perayaan di divisi Afrika, sambil tak lupa mencicipi macam-macam makanan khas Asia Tengah dan Selatan
PAMERAN BUDAYA - Seksi-seksi siaran bahasa di divisi Afrika serta Asia Tengah dan Selatan memamerka pernak-pernik budaya khas mereka. (Foto: Adriana Sembiring/Utami Hussin)
Bagaimana perayaan di kalangan VOA Indonesia sendiri?
Dalam acara syukuran ini, beberapa di antara kami berbagi cerita. Sajian berupa nasi tumpeng komplet beserta lauk pauknya, es teler, serta jajan pasar seperti getuk dan lupis kami nikmati dengan gembira bersama sejumlah alumni, mereka yang pernah bekerja bersama VOA Indonesia, yang menyempatkan diri datang untuk turut merayakan pertambahan usia VOA.
KOMPAK, MERIAH - Wartawan senior dan muda, para alumni, peserta magang, pimpinan dan staf VOA Indonesia berbaur memeriahkan perayaan HUT VOA dengan mengenakan baju khas daerah dan menikmati hidangan tumpeng. (Foto: istimewa)
Pesta semeriah ini boleh saja berakhir. Tetapi yang jelas VOA takkan berhenti menyuarakan kebenaran pada setiap berita yang disampaikannya. Juga, terus menyampaikan berita berimbang serta cerita-cerita mengenai Amerika Serikat dan rakyatnya. Namun, terkait dengan apa yang telah dicapai VOA dalam usianya yang ke-75, saya kutipkan judul lagu yang diperkenalkan Tony Bennett dan dipopulerkan Frank Sinatra, The Best is Yet to Come!
Walaupun penting bagi kehidupan bersama dan bernegara, politik hanyalah salah satu aspek kehidupan. Sebagian besar aspek kehidupan pribadi kita, termasuk keluarga, pertemanan, hiburan, dan ibadah, sebaiknya jauh dari politik dan campur tangan pemerintah. Kalaupun ada, campur tangan pemerintah hendaknya minimal saja, hanya untuk kesejahteraan bersama. Ini pendapat saya. Bagaimana menurut Anda?
Bagi orang yang berkarier di Washington D.C. tentu isu politik sudah menjadi menu pembicaraan sehari-hari. Apalagi sebagai orang media dengan kantor di seberang gedung kongres, Capitol Hill.
Selama masa kampanye pilpres Amerika tahun lalu, saya banyak terlibat dalam debat politik, debat sehat untuk membuka wawasan dan memahami argumentasi pihak lawan. Karena belum mengakar pada salah satu dari kedua partai utama di Amerika, saya biasa dan suka mengambil posisi sebagai lawan teman debat saya. Saya jadi banyak belajar tentang Partai Demokrat dan Partai Republik.
Pendukung Hillary Clinton dan pendukung Donald Trump berdampingan membawa poster dukungan masing-masing dalam parade Hari Pahlawan di Chappaqua, New York. (Foto: Dok)
Kampanye pilpres yang lalu memang diakui banyak orang sebagai kampanye paling kotor dan paling memecah belah rakyat Amerika. Tapi setelah Donald Trump terpilih dan Hillary Clinton langsung mengakui kekalahannya, maka yang terbayang di benak saya adalah masa transisi yang damai dan kehidupan kami akan kembali normal, terbebas dari pertikaian politik yang begitu sengit.
Saya membandingkan dengan persaingan ketat dalam pilpres 2000 antara George Bush dan Al Gore, yang dimenangkan Bush, walaupun perhitungan suara nasional menunjukkan Gore unggul.
Apa daya keinginan saya tak terwujud.
Dendamnya masih terus membara, tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan situasi malah memburuk, memperlihatkan jarak yang melebar antara Republik dan Demokrat dan mengerasnya posisi-posisi ideologis yang menurut para sosiolog dan ilmuwan politik meningkatkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan akan membuat kompromi politik semakin sulit.
Pelantikan presiden sendiri sudah langsung didemo besar-besaran, malah dijadikan ajang politik bagi banyak kelompok, mulai dari pendukung hak-hak perempuan, LGBT, imigran, keadilan rasial sampai perubahan iklim. Padahal upacara itu seharusnya menjadi ajang untuk merayakan persatuan setelah masa pemilu yang memecah-belah dan untuk menunjukkan rasa hormat bagi institusi kepresidenan.
Suasana 'Women's March' di Washington dari atap gedung Voice of America di Washington, DC 21 Januari 2017(B. Allen / VOA)
Sebenarnya banyak hal sudah biasa dipolitisasi di Amerika. Informasi atau satu peristiwa sudah sering dijadikan bahan perdebatan politik atau posisi yang bertentangan antar partai yang dengan mudah menyebar berkat sosial media sekarang ini. Orang-orang yang terlibat rasanya tidak begitu peduli dengan fakta, objektivitas atau dampaknya bagi tatanan masyarakat.
Dalam isu seperti ras, agama, keadilan sosial dan ekonomi, tampaknya orang Amerika tak bisa lepas dari lensa politik. Dalam menalar isu-isu tersebut, mereka sepertinya bergantung pada doktrin partai, baik yang tak kentara maupun yang terang-terangan.
Tapi setelah Presiden Trump menjabat, dan mungkin karena gayanya dalam memerintah, pertikaian antara kelompok yang berbeda ideologi di Amerika semakin ganas dan cakupannya semakin luas.
Sekarang politik ada di mana saja kapan saja di Amerika.
Bayangkan, beberapa toko di daerah saya sampai harus melapor ke polisi karena di-bully oleh orang-orang yang tidak senang dengan pandangan politiknya. Tapi memang agak janggal juga melihat pemilik toko memajang sikap politiknya di depan toko.
Sejumlah merek terkenal seperti L.L. Bean, Target dan New Balance, menghadapi ancaman boikot karena salah seorang pejabatnya mendukung Trump. Sementara Patagonia, yang menjual pakaian dan perlengkapan untuk kegiatan mendaki gunung, olahraga salju dan lain-lain, menggunakan toko-tokonya untuk kampanye “Vote Our Planet,” upaya mengurangi dampak perubahan iklim bagi lingkungan.
Lain lagi dengan, Phil Boyle, pemilik jaringan toko buku komik Coliseum Of Comics di Florida. Dia marah dan muak dengan politisasi isi buku komik dan mengancam akan berhenti menjual buku komik itu jika mengadu partai politik dengan cerita kekerasan.
Yang lebih kasihan kasus Nordstrom. Toko serba ada kelas atas itu memutuskan untuk tidak lagi memesan produk mode Ivanka Trump karena penjualan selama ini lemah. Keputusan bisnis itu langsung dipolitisasi oleh presiden dengan cuitan ini.
Capeklah mengikutinya. Rasanya tidak sehat.
Mau cari hiburan dengan menonton ajang penghargaan musik dan film malah jadi miris karena diwarnai isu-isu politik yang bikin kesal.
Pada saat menerima penghargaan Cecil B DeMille Award Januari lalu penghargaan Golden Globe, Meryl Streep menjelma menjadi aktor politik, mengecam presiden terpilih AS Donald Trump.
Penyerahan Screen Actors’ Guild dan People’s Choice Awards setelah itu juga diisi pidato-pidato kecaman terhadap keppres yang melarang sementara migrasi dari 7 negara yang mayoritas Muslim.
Tidak heran kalau banyak orang Amerika deg-degan ketika menunggu Super Bowl ke-51, pertandingan sepak bola Amerika antara tim New England Patriots dan Atlanta Falcons. Takut kalau ajang pertandingan olah raga paling terkemuka, yang seharusnya tidak memandang perbedaan ideologi itu, dipolitisasi.
Walaupun Lady Gaga, pengisi acara hiburan paruh waktu yang biasanya spektakuler, tidak terjerat dalam isu politik yang kontroversial dan merangkul semua golongan, jutaan penonton sudah menyaksikan iklan-iklan yang dibuat khusus untuk Super Bowl yang bernada politis dan dianggap memecah belah.
Sekarang saya harus hati-hati kalau berkomentar atau berdebat politik karena suasana yang semakin panas membuat banyak orang dengan mudah mencap kita lawan atau kawan. Seolah-olah tidak ada lagi orang yang netral, yang tidak memihak atau tidak tahu mau memihak siapa.
Mungkin kita perlu ingat kata-kata mutiara: segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik.
Politik memiliki tempat, tetapi ketika berlebihan, ketika pemikiran kita dan banyak aspek kehidupan kita dicemari isu politik, maka masyarakat menjadi tidak sehat dan sejahtera.
Ironis kalau mengingat politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
Saya baru merasakan langsung kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek setelah bermukim di Fairfax, Virginia, yang letaknya sekitar 20 kilometer dari Washington D.C.
Di kota-kota Amerika dengan komunitas Asia yang besar, terutama Tionghoa, Chinese New Year Parade sudah menjadi acara tahunan yang ditunggu-tunggu karena biasanya megah, menampilkan keragaman seni dan budaya yang menarik, mulai dari pakaian warna-warni, musik, tari, lampion dan ornamen unik lainnya, seni bela diri dan akrobat, marching band, dan tentu saja barongsai dengan genderang yang meriah, yang di sini disebut Dragon and Lion Dance.
Ketika tinggal di Indonesia sampai tahun 1995, saya belum pernah melihat parade Imlek, apa lagi yang semeriah di China Town, Pecinan Washington D.C.
Selain parade di kota besar seperti DC, New York, Boston, Los Angeles, Seattle dan San Francisco, kegiatan-kegiatan yang dilakukan komunitas kecil juga tidak kalah menariknya, bahkan sejak 14 Januari lalu sudah ada acara-acara untuk menyambut tahun ayam, tahun 4715 yang jatuh pada 28 Januari 2017 ini.
Setiap tahun, Luther Jackson Middle School di Falls Church (sekitar 15 menit dari rumah saya) menjadi tempat perayaan Tahun Baru China atau Lunar New Year yang diselenggarakan oleh Asian Community Service Center. Para siswa biasanya diminta mengenakan pakaian yang berbau Asia dan mengikuti pawai barongsai mengelilingi sekolah mereka.
Anak-anak dan masyarakat sekitar yang datang tahun ini dihibur dengan pertunjukan musik dan tari dari China, India, Thailand, Indonesia dan Vietnam. Setelah itu mereka mengikuti permainan khas Asia, membuat kerajinan tangan dan mencicipi makanan Asia yang lezat. Yang tak kalah seru buat anak-anak sekolah itu adalah “lucky money”….angpao dalam amplop merah.
Walikota Rockville, Maryland dan Council and Asian Pacific American Task Force di kota itu bekerjasama untuk menggelar pertunjukan multi-generasi, pameran dan mengajak anak-anak melakukan kegiatan budaya dan mencicipi makanan-makanan khas Imlek.
Dalam acara gratis ini anak-anak Indonesia yang tergabung dalam kelompok IKPA (Indonesian Kids Performing Arts) menampilkan lagu-lagu rakyat dari Indonesia bagian timur bersama kelompok budaya dari negara-negara Asia lainnya.
Smithsonian American Art Museum merayakan Lunar New Year 2017 dengan mengundang masyarakat ikut membantu "membangunkan singa" dan memulai tahun ayam dengan musik, kegiatan kerajinan yang menyenangkan, pertunjukan tradisional yang disajikan dalam kemitraan dengan Kedutaan Besar Republik Rakyat China.
Pada hari yang sama, masyarakat Vietnam merayakan tahun barunya ‘Tet Celebration’ di Eden Center, kompleks pertokoan yang bernuansa Saigon, dengan acara pertunjukkan seni.
Di Musium Tekstil Washington DC, masyarakat juga bisa mengikuti acara Okinawa Lunar New Year, yang merayakan tahun baru sesuai tradisi Kerajaan. Demonstrasi karate selalu menjadi sajian yang ditunggu-tunggu mengingat Okinawa adalah kampung halaman seni bela diri tersebut. Acara grastis sepanjang hari pertama tahun baru ini digelar oleh Okinawa Kai of Washington, D.C., dalam kerjasama dengan pemerintah Okinawa.
Perayaan Imlek di Amerika juga berkaitan erat dengan pesta perayaan datangnya musim semi yang berakhir pada bulan purnama, 15 hari kemudian. Acara yang disebut Lantern Festival ini kalau di Indonesia saya ingat istilahnya Cap Go Meh.
Menurut Asian Community Service Center, penyelenggara utama festival musim semi di daerah saya, tanggal 4 Februari adalah hari istimewa karena merupakan awal musim semi menurut kalender lunar, yang diyakini waktunya semua bangun dan nasib buruk rakyat diusir.
Pada tanggal itu, masyarakat sekitar Washington D.C bisa menikmati perayaannya di Kennedy Center yang menampilkan akrobat Beijing dan musisi China. Pengunjung bisa ikut belajar kaligrafi dan rias wajah/pakaian Tionghoas, dll.
Perayaan Tahun Baru Imlek di Washington D.C. rasanya bukan hanya untuk keluarga keturunan Tionghoa saja, tetapi sudah menjadi tontonan spektakuler bagi masyarakat umum. Masyarakat kota ini banyak yang saling mengucapkan Gong Xi Fa Cai, ucapan selamat dan semoga banyak rezeki, bahkan kepada teman non-Tionghoa.
Walaupun sudah menjadi migran di Amerika sejak tahun 1800-an, dan kebanyakan sudah berasimilasi dengan budaya barat, komunitas Tionghoa tentu masih mengisi perayaan tahun baru ini dengan tradisi penting yang dibawa nenek atau orang tua mereka, memahami makna ritual yang mereka lakukan, dan pada akhirnya, membuat mereka bangga sebagai orang Tionghoa.
Setelah dua tahun berturut-turut diprotes karena nominasi penghargaan utama dunia perfilman AS didominasi oleh kulit putih, tampaknya The Academy of Motion Picture Arts and Sciences atau AMPAS telah membuka mata dan telinga.
Tidak tanggung-tanggung lho. Mencetak rekor. Tahun ini, organisasi yang menganugerahkan Piala Oscar itu menominasikan enam aktor dan aktris kulit hitam.
Mahershala Ali dan Naomie Harris masing-masing mendapat nominasi peran pendukung berkat peran mereka dalam film “Moonlight,” drama tentang pemuda kulit hitam di Miami yang bergulat dengan seksualitasnya. Sementara Viola Davis aktris pendukung film “Fences” dan Octavia Spencer aktris pendukung film “Hidden Figures” juga merebut nominasi tahun ini.
Para pemain dan kru "Moonlight" yang merebut penghargaan Golden Globe untuk Best Motion Picture - Drama, 8 Januri 2017.
Tak hanya itu, nominasi peran utama juga diberikan kepada aktris kulit hitam Ruth Negga sementara Denzel Washington mencetak rekor sebagai aktor kulit hitam dengan nominasi aktor terbaik paling banyak, setelah mendapat nominasi aktor terbaik ke-7 lewat film “Fences” yang diadaptasi dari sandiwara klasik August Wilson tentang kehidupan warga kulit hitan di Pittsburgh pada tahun 1950-an.
Denzel Washington dan Viola Davis membintangi film "Fences."
Entertainment Tonight juga menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya aktor/aktris kulit hitam masuk dalam nominasi semua kategori akting.
Selain itu, 4 dari 9 pemegang nominasi film terbaik, yaitu Lion, Fences, Moonlight, dan Hidden Figures, menampilkan keragaman ras aktor, aktris, sutradara, dan kategori lainnya dalam pembuatan film.
Oh iya, Dev Patel yang berasal dari India juga mendapat nominasi dalam kategori Actor in a Supporting Role untuk perannya dalam film “Lion.”
Dalam kategori film dokumenter, AMPAS juga membuat sejarah ketika mengumumkan 4 dari 5 film yang dinominasikan adalah karya sutradara kulit hitam
Jadi apa gerangan yang menyebabkan perubahan besar ini?
Sebelum mencari jawabannya, saya melihat sejarah warga kulit hitam dalam ajang penghargaan Hollywood ini.
Pada tahun 1940, Hattie McDaniel tercatat menjadi yang aktris kulit hitam pertama yang dinominasikan untuk Academy Award berkat perannya dalam film Gone With the Wind dan yang mengejutkan, dia memenangkan Oscar untuk aktris pendukung terbaik.
Hattie McDaniel berperan sebagai Mammy dalam film Gone With the Wind.
Pada tahun 1964 Sidney Poitier menjadi actor kulit hitam pertama yang meraih Oscar untuk aktor terbaik lewat film Lilies of the Field.
Sebelum tahun 1968, biasanya hanya satu pemain film berkulit hitam yang mendapat nominasi pada tahun yang sama. Setelah itu, satu film bahkan pernah membuahkan lebih dari satu nominasi, bukan hanya pemain film tetapi juga musisi kulit hitam.
Tahun 2010 barulah pemenang kategori Adapted Screenplay jatuh ke tangan penulis kulit hitam, Geoffrey Fletcher, berkat skenario film Precious yang diadaptasinya dari novel sebuah novel. Pada tahun yang sama, Roger Ross Williams menjadi sutradara kulit hitam pertama yang memenangkan Oscar dokumenter pendek terbaik.
Nah pada tahun 2014, peran insan film berkulit hitam tampaknya makin diakui.
Walaupun sebagai sutradara film Twelve Years a Slave Steve McQueen tidak berhasil membawa pulang piala Oscar, dia menjadi produser berkulit hitam pertama yang memenangkan penghargaan film terbaik. Lewat film itu juga Lupita Nyong'o merebut gelar aktris pendukung terbaik dan John Ridley memenangkan Oscar untuk skenario terbaik.
Padaa tahun 2015 musisi kulit hitam, Common dan John Legend memang membawa pulang penghargaan best original song untuk "Glory" yang mengisi film Selma, tapi ajang penghargaan itu rasanya tidak menunjukkan keragaman ras dan gender mengingat besarnya partisipasi mereka.
Sutradara dan produser Ava DuVernay berpose setelah pemutaran film "Selma" di Hollywood, California, 11 November 2014.
Kelompok yang menentukan nominasi Oscar sebenarnya punya kesempatan untuk mencetak sejarah dengan menominasikan Ava DuVernay sebagai perempuan kulit hitam pertama untuk kategori Best Director setelah filmnya “Selma” mendapat pujian dari kritikus film.
Pada tahun 2015 sepertinya wajar saja ketika nominasi AMPAS rada putih karena hanya ada satu film yang dijagokan kaum kulit hitam, yaitu “Selma” yang mendapat nominasi untuk film terbaik dan lagu terbaik.
Tetapi ketika pada tahun 2016 nominasi Oscar masih didominasi kaum kulit putih, banyak orang menyimpulkan bahwa kesalahannya ada pada institusi yang bersangkutan, mengingat banyaknya film karya sutradara dan keterlibatan aktor/aktris kulit hitam yang dianggap bermutu, termasuk “Creed,” “Straight Outta Compton,” “Chi-raq,” dan “Beasts of No Nation.”
Kalau melihat struktur organisasinya, presiden AMPAS memang perempuan berkulit hitam, tetapi anggotanya didominasi lelaki kulit putih. Laporan dari harian Los Angeles Times pada tahun 2012 mengungkapkan bahwa pemilih Oscar 94% berkulit putih, 77% lelaki dan hanya 14% berusia di bawah 50 tahun.
Masalah sistem dan struktur organisasi inilah yang dikecam Common ketika dia menerima penghargaan Oscar tahun 2015. Tapi tampaknya kecaman dari kalangan kulit hitam kurang gencar atau mungkin kurang didengar. Protes #OscarsSoWhite mulai bergulir di dunia Twitter dan mencuat dengan dukungan kelompok minoritas lain.
Sutradara terkenal Spike Lee, aktor Will Smith dan istrinya Jada Pinkett memboikot Oscar 2016, walaupun The African-American Film Critics Association tidak mendukung boikot itu. Para aktivis hak-hak sipil juga turun tangan dengan menggelar protes di dekat lokasi penyelenggaraan Oscar dan kota-kota lain di seluruh Amerika. Bahkan pembuat film dokumenter Michael Moore yang berkulit putih juga ikut memboikot.
Protes-protes itu tampaknya membuat AMPAS mengumumkan upaya jangka panjang untuk menciptakan keragaman anggotanya yang berjumlah 6.687 orang, karena peraturan organisasi tidak memungkinkan untuk memecat anggota yang sudah ada sebelum masa jabatan 10 tahun mereka berakhir. Tahun lalu AMPAS telah merekrut 683 anggota baru yang beragam dalam hal gender dan ras.
Para pengunjuk rasa berkumpul di luar kantor WABC-TV, menuntut keragaman ras dalam industri perfilman, 28 Februari 2016, di New York.
Dalam jangka pendek, sebagian pengamat mengatakan protes besar lewat media sosial seperti #OscarsSoWhite telah memicu studio-studio film untuk meningkatkan keragaman ras dan gender dalam produksi mereka, yang buntutnya menciptakan kemajuan besar dalam nominasi Oscar baru-baru ini.
Dengan melihat manisnya buah protes #OscarsSoWhite baru-baru ini, saya kembali diingatkan tentang betapa besar peran media sosial dalam mencapai perubahan yang positif (atau negatif) dan merasa optimistis isu-isu rasial, setidaknya dalam industri film, akan semakin diperhatikan.
Presiden Obama dan ibu negara Michele Obama sebenarnya sudah sejak sebulan lalu mulai menggelar berbagai kegiatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada rakyat Amerika, para stafnya dan tentu mengucapkan selamat tinggal Gedung Putih.
Tapi menurut saya yang paling berkesan adalah pidato perpisahan Pak Obama di hadapan ribuan pendukungnya di Chicago, terutama kata-katanya yang optimistis ini:
“So that’s what we mean when we say America is exceptional. Not that our nation has been flawless from the start, but that we have shown the capacity to change, and make life better for those who follow.”
Karena menurut saya, hanya orang yang bisa melihat dan mengakui kelemahan/kekurangannya yang dapat maju dan mencapai yang lebih baik dalam setiap aspek kehidupannya.
Sebagai seorang perempuan, saya ikut terharu ketika pak Obama mengambil sapu tangan dan mengusap matanya setelah menyebut betapa besar peran Michele Obama dalam karier dan kehidupannya. Bangga rasanya punya presiden yang rendah hati.
Presiden Barack Obama (R) di atas panggung didampingi ibu negara Michelle Obama dan putrinya Malia, Wakil Presiden Joe Biden dan istrinya Jill Biden, setelah pidato perpisahannya di Chicago, Illinois, 10 Januari, 2017.
Banyak orang Amerika tidak rela ditinggal presiden yang satu ini. Dengan approval rating yang tinggi, mencapai 60%, tidak heran kalau hampir 24 juta orang menonton siaran langsung pidato terakhir Pak Obama sebagai presiden yang berlangsung hampir 50 menit Selasa malam lalu.
Kepopuleran Obama juga terlihat dari banyaknya like dan sambutan terhadap pesan Tweeter-nya Selasa lalu.
Presiden Barack Obama memang merupakan panglima militer AS pertama yang gemar menggunakan media sosial, dan cuitan perpisahannya ini menumbangkan rekor retweet terbanyak sebelumnya terkait keputusan MA untuk membatalkan larangan pernikahan sesama jenis.
Katanya pidato perpisahan presiden ke-44 ini seperti sebuah mimpi.
Bagi pendukungnya yang cemas menghadapi Donald Trump, ini tentu awal mimpi buruk yang tidak mereka harapkan. Sementara bagi para penentang Obama tentu pidato ini menjadi akhir mimpi buruk mereka.
Berbeda dengan pendapat kaum Demokrat, pihak oposisi memandang pidato perpisahan Pak Obama sebagai fiksi belaka, terlalu muluk.
Mereka menuding Obama menyampaikan pidato itu seolah-olah sedang berkampanye lagi, seolah-olah tidak rela mundur.
Tidak heran, kata pihak oposisi itu, kalau substansi pidato perpisahan Obama hanya mengulang-ulang prestasinya, menyebut kembali tentang Kongres yang "disfungsional", menyindir bahwa pandangan yang berbeda tentang perubahan iklim tidak mencerminkan "jiwa" orang Amerika dan malah mengatakan demokrasi terancam karena tidak sesuai dengan perubahan yang diinginkannya.
Apakah benar pidato perpisahan Pak Obama hanya membanggakan diri sendiri dan tidak realistis?
Karena penasaran, saya kemudian membaca sejarah pidato perpisahan presiden AS.
Yang mengatakan hal di atas sepertinya membandingkan pidato Obama dengan pidato perpisahan kepresidenan yang pertama oleh George Washington yang menurut mereka seharusnya menjadi standar bagi presiden berikutnya.
Pidato itu diserahkan bukan disampaikan di gedung yang besar dan mewah, dalam arti pidato itu ditulis dan dipublikasikan kepada rakyat Amerika dengan cara sederhana.
Pesan berjudul “The Address of General Washington to the People of the United States on his declining the Presidency of the United States” yang ditulis George Washington pada tahun 1796 itu memang diakui sebagai pesan perpisahan presiden yang paling terkenal dalam sejarah Amerika.
Surat perpisahan itu dibuka dengan menjelaskan mengapa dia melepaskan kursi kepresidenan setelah dua masa jabatan, walaupun banyak tekanan agar dia mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.
Washington mengungkapkan beberapa prinsip yang dia yakini akan menjadi panduan bagi negara yang berkembang pada masa depan, termasuk persatuan, patriotisme, dan netralitas.
Bapak pendiri Amerika yang kemudian menjadi presiden ke-4, James Madison, menuliskan draf pesan perpisahan itu empat tahun sebelumnya, ketika Washington mempertimbangkan untuk lengser setelah masa jabatan pertamanya. Tapi kemudian Alexander Hamilton yang menuntaskan tulisan itu dengan perbaikan dari Washington sendiri untuk mengekspresikan ide-idenya.
Pujian terhadap pidato Washington ini jelas menghantui para penerusnya dalam hal menyampaikan pesan resmi kepada rakyat, sampai akhirnya presiden ke-7, Andrew Jackson, mengimbangi dengan rekor lain, pesan perpisahan terpanjang dalam sejarah Amerika.
Tentara dan negarawan yang dipandang sebagai pendiri Partai Demokrat ini menggunakan sekitar 8.247 kata dalam pesannya, yang antara lain mengingatkan rakyat akan bahaya kepentingan golongan dan pengaruh uang yang mengancam hak-hak kaum jelata.
Tetapi era radio dan televisi kemudian memungkinkan atau memudahkan presiden menyampaikan pidatonya langsung kepada rakyat.
Jadi apa salah Obama?
Oh... rupanya selama ini presiden AS menyampaikan pidato perpisahan hanya dari Oval Office di Gedung Putih. Obama, yang katanya mau mencalonkan diri kalau tidak dilarang oleh konstitusi, memilih cara lain, cara yang mendobrak tradisi. Presiden Obama membuka dan menutup masa kemenangannya di kota yang sama.
Menurut sejarah pidato perpisahan presiden AS, Harry Truman, presiden ke-33, menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan siaran langsung dari Oval Office. Pada tanggal 15 Januari 1953, Truman berbicara tentang beberapa keputusannya yang kontroversial semasa menjabat, khususnya keputusan untuk menjatuhkan bom atom di Jepang dan meminta rakyat agar membayangkan diri mereka di posisi presiden saat itu.
Setelah Perang Dunia Kedua, pidato perpisahan yang paling terkenal katanya disampaikan oleh Dwight D. Eisenhower, presiden ke-34, dari Oval Office pada 17 Januari 1961. Pesan paling penting dari jenderal bintang 5 ini adalah peringatan untuk melihat ke dalam negeri sendiri, kekhawatiran akan bangkitnya “military-industrial complex” yang dirancang untuk menandingi Soviet Union.
Hmmmm.....andai saja peran militer tidak seheboh sekarang... bagaimana ya keadaan dunia?
Sejak Eisenhower, sejarah Amerika Serikat belum mencatat ada lagi presiden yang memberi dampak besar dengan pidato perpisahannya.
Tapi tentu banyak yang merupakan momen yang patut dikenang.
Richard Nixon, yang mundur setelah skandal Watergate yang memalukan pada tahun 1974 tidak lupa menyampaikan pidato perpisahan. Bukan hanya sekali, bahkan dua kali. Pengumuman pengunduran dirinya pada tanggal 8 Agustus 1974, sering dianggap pesan perpisahannya kepada rakyat, tetapi ia juga memberikan sambutan perpisahan kepada staf Gedung Putih pada hari berikutnya, yang disiarkan secara nasional.
George W. Bush membuka pidato perpisahannya pada 15 Januari 2009 dengan menyebut pemilihan penggantinya, Barack Obama, “a moment of hope and pride for our whole nation.”
Dalam pembahasan PBS Newshour mengenai warisan Obama dan pidato perpisahan presiden, pakar sejarah Michael Beschloss, dan Annette Gordon-Reed dari Harvard University mengemukakan pidato perpisahan berkesan ketika memberi kita perasaan bahwa presiden itu berterus terang kepada kita dengan cara yang tidak bisa dilakukannya selama dia menjabat sebagai presiden. Jadi dia mengemukakan sesuatu yang belum pernah kita dengar sebelumnya dengan blak-blakan, sesuatu yang dipelajari dari jabatannya selama 4 atau 8 tahun terakhir.
Apakah pidato perpisahan presiden Obama akan menjadi warisan yang diperhitungkan dalam sejarah?
Jika saya menyebut LeBron James, Kevin Durant, Kobe Bryant, Shaquille O’Neal, Michael Jordan, Magic Johnson atau katakanlah Kareem Abdul Jabbar, banyak di antara Anda mungkin tahu bahwa mereka adalah nama-nama pemain basket terkemuka di Amerika. Tak seperti olahraga asli Amerika lainnya, yakni sepakbola Amerika yang dikenal dengan sebutan American football, permainan dan nama-nama pemain bola basket jauh lebih mendunia. Ya, sebelum tiba di Amerika, saya juga termasuk yang sudah cukup tahu beberapa nama tersebut dan klub terakhir mereka, meskipun saya bukan penonton fanatik permainan ini.
JUARA NBA - LeBron James dari Cleveland Cavaliers (tengah) bersama timnya merayakan kemenangan dalam final NBA melawan Golden State Warriors di Oakland, California, 19 Juni 2016. (AP/Marcio Jose Sanches)
Sama-sama ‘diciptakan’ pada abad ke-19, permainan basket muncul lebih belakang daripada American football, tepatnya pada Desember tahun 1891. Ketika itu, James Naismith, seorang guru pendidikan jasmani kelahiran Kanada, bertugas mengajar di YMCA Training School di Springfield, Massachusetts. Ia menginginkan ada olahraga yang cocok untuk dimainkan para siswa di dalam ruangan relatif kecil pada musim dingin yang biasanya lama dengan suhu membekukan di kawasan ini. Naismith ingin menciptakan permainan yang melibatkan keterampilan, bukan yang mengandalkan kekuatan semata.
Pada permainan pertamanya, Naismith memakukan keranjang wadah buah persik pada ketinggian 3 meter di dua sisi balkon yang berhadapan di ruang olahraga sekolah. Dua tim, yang ketika itu masing-masing beranggotakan 9 pemain, berupaya membenamkan bola ke dalam keranjang lawan untuk mencetak skor. Permainan dengan aturan-aturan yang disusun Naismith sendiri itu langsung populer. Pada 20 Januari 1892, kedua tim itu lagi-lagi berhadapan di Albany, New York. Inilah pertandingan resmi pertama permainan yang oleh Naismith kemudian disebut basket ball atau bola basket itu. Skor yang dicetak ketika itu? 1-0.
Perubahan dan perkembangan
Berkat aktivitas YMCA ke berbagai negara, permainan basket semakin mendunia sejak tahun 1893 dan mulai dipertandingkan dalam ajang Olimpiade di Berlin pada tahun 1936. Sebagian dari 13 aturan yang konon disusun Naishmith dalam satu jam saja itu masih terpakai hingga kini. Tak sedikit pula perubahan-perubahan yang dilakukan hingga permainan basket menjadi seperti yang sekarang ini.
Di antaranya, dalam hal jumlah pemain, jenis dan warna bola yang digunakan. Permainan ini tak lagi menggunakan bola sepak, dan warna bola bukan lagi coklat. Yang paling mencolok adalah tidak digunakannya lagi basket atau keranjang beralas. Sebelumnya, setiap kali bola masuk keranjang, perlu ada orang yang mengambilnya dengan tangga. Keranjang seperti itu diakhiri penggunaannya dan diganti dengan yang bentuknya seperti yang digunakan sekarang pada tahun 1906.
Sekarang ini bola basket termasuk salah satu olahraga yang paling populer di Amerika Serikat setelah American football dan baseball. Namun di kalangan remaja Amerika, bola basketlah olahraga favorit mereka. Tak seperti American football dan baseball, bola basket dapat dimainkan oleh lelaki maupun perempuan.
Alasan lain mengapa olahraga basket begitu populer adalah karena permainan ini tidak memerlukan biaya besar untuk memainkannya, baik peralatan - hanya perlu ring basket dan bola - maupun kostumnya. Kalau menyusuri kawasan perumahan di sini, bukan hal aneh jika kita menemukan ada satu dua rumah yang memiliki ring basket di halaman atau garasi mereka. Di gelanggang-gelanggang olahraga komunitas juga biasanya tersedia lapangan basket.
Klub basket di sekolah, mulai dari SD hingga perguruan tinggi, termasuk yang banyak peminatnya. Beberapa tahun lalu saya mengantar putri saya mengikuti try out untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga di SMA-nya. Ia tertarik mengikuti klub basket dan softball. Dan dari tahun ke tahun, mereka yang mengikuti try out untuk olahraga basket ternyata jauh lebih banyak dibandingkan olahraga lainnya.
Try out dilakukan untuk menentukan kelompok yang akan dimasukinya, apakah termasuk golongan yang terampil (varsity) atau pemula (junior varsity). Dan jalan menuju rekrutmen menjadi pemain profesional bisa dikatakan dimulai sejak tingkat SMA. Bintang-bintang basket seperti LeBron James dan Kobe Bryant termasuk di antara pemain varsity di SMA mereka masing-masing yang direkrut para pencari bakat dari klub-klub profesional. Ada pula yang lebih dulu ditawari beasiswa untuk bermain di klub universitas sebelum direkrut menjadi pemain profesional, seperti Kevin Durant dan Dwyane Wade.
Menjadi anggota NBA, National Basketball Association, memang dianggap sebagai karier tertinggi dalam olahraga bola basket profesional putra di Amerika, bahkan di dunia. Para pemain NBA adalah atlet-atlet dengan gaji tahunan tertinggi. Pada tahun ini, LeBron James tercatat sebagai pemain NBA dengan pendapatan tertinggi. Di tingkat dunia, pendapatannya diungguli hanya oleh pendapatan pemain sepakbola Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. James, pemain Cleveland Cavaliers yang dinobatkan sebagai atlet terbaik tahun ini oleh majalah olahraga bergengsi Sports Illustrated, menerima gaji 23 juta dolar. Ditambah dengan bayaran sebagai bintang iklan dan aktivitas lainnya, pendapatan totalnya mencapai 77,2 juta dolar. Sementara itu Kevin Durant dari Oklahoma City meraih total pendapatan 56,2 juta dolar dan bintang LA Lakers Kobe Bryant meraup 50 juta dolar.
March Madness
Lantas kapankah saat paling ditunggu-tunggu penggemar olahraga ini? Bagi para penggemar permainan profesional, pertandingan final tim-tim NBA berlangsung setiap bulan Juni. Namun pertandingan di kelompok perguruan tinggi tak kalah dinantinya, sampai-sampai dikenal apa yang disebut March Madness. Turnamen basket putra dan putri di tingkat nasional ini adalah salah satu acara olahraga terbesar di Amerika yang mendatangkan penonton dan pendapatan terbesar bagi penyelenggaranya, National Collegiate Athletic Association (NCAA). March Madness, yang sebagian besar berlangsung dalam bulan Maret dan finalnya berlangsung bulan berikutnya, diikuti oleh 68 tim sekarang ini dengan sistem gugur. Sejak tahun 2011, pertandingan dalam turnamen ini bahkan disiarkan hingga ke luar negeri.
Ada kegiatan yang menarik di luar arena basket. Ini disebut dengan bracketology, suatu proses memprediksi partisipan dalam Turnamen Bola Basket NCAA. Kita mengisi bagan dengan nama-nama tim yang bertanding, memprediksi tim yang kalah atau menang. Media massa dan banyak kalangan biasanya menyediakan bagan tersebut untuk diisi para pembacanya. Bagi para penggemar basket, ini semua ada ilmunya, bukan mengisi asal-asalan. Bracketologist andal dapat memprediksi dengan tepat tim apa saja yang bakal bertanding di pertandingan empat besar atau Final Four dan siapa yang nantinya tersingkir atau menang.
BRACKETOLOGY - Sebuah bar mengadakan tantangan mengisi bagan untuk memprediksi partisipan final March Madness. (AP/Brennan Linsley)
Kalau Anda berada di Amerika bulan Maret, Anda akan mendengar dan melihat sendiri serunya pembicaraan mengenai isian bagan ini, yang tak jarang menjadi ajang taruhan atau kompetisi berhadiah besar. Tahun 2014, misalnya, salah satu perusahaan pemberi KPR terbesar di Amerika, Quicken Loans, dan perusahaan Berkshire Hathaway milik investor Warren Buffet, bergabung menawarkan hadiah 1 miliar dolar bagi pengisi bagan yang memprediksi dengan tepat pemenang setiap pertandingan. Dan suka atau tidak, demam March Madness juga disebut sebagai penyebab berkurangnya produktivitas para pegawai. Inilah salah satu ‘kegilaan’ atau madness dalam bulan Maret di seputar turnamen final basket NCAA.
Kegiatan mengisi bagan ini juga sampai di Gedung Putih. Presiden Barack Obama, seorang penggemar fanatik olahraga bola basket, juga terkenal dengan prediksinya. Saluran TV khusus olahraga ESPN menyediakan segmen khusus yang disebut Barack-etology sejak Obama menjabat, di mana ia memprediksi calon-calon pemenangnya. Namun ia tak bisa dikatakan sebagai bracketologist andal. Prediksinya tahun lalu meleset, sampai-sampai Emilia, seorang anak berusia 11 tahun mengiriminya surat. Katanya, Obama memang hebat sebagai presiden, tapi dia bukan pengisi bagan yang baik.
O iya, seorang sahabat Sonora dalam acara America Now pekan ini bertanya, berapa sih harga tiket pertandingan basket? Tentu saja semua tergantung dari lokasi maupun tingkat pertandingannya. Seingat saya, anak saya membayar beberapa dolar saja sewaktu menonton pertandingan basket di sekolahnya. Tak seberapa dibandingkan dengan harga pada pertandingan Final Four tahun ini yang rata-ratanya sekitar 324 dolar, turun dari 547 dolar pada pertandingan serupa tahun lalu. Sebuah situs penjual tiket, StubHub, tahun ini menjual tiket yang harganya berkisar dari 34 dolar hingga 8.995 dolar. Namun tiket termahal, untuk kursi yang lebih dekat dengan lapangan, dibandrol dengan harga 10 ribu dolar oleh situs tersebut.
Diplomasi
Popularitas pemain basket Amerika juga mengingatkan saya pada mantan pemain Dallas Maverick Dennis Rodman yang menjalin hubungan baik dengan pemimpin rezim represif Korea Utara Kim Jong-un. Usai pertemuan pertama mereka di Pyongyang, Rodman menyebut pemimpin Korea Utara itu sebagai teman, dan menyarankan agar Presiden Obama menelpon Kim, karena kedua pemimpin itu adalah penggemar bola basket. Meskipun bukan bagian dari misi diplomasi basket pemerintah, kunjungan Rodman beberapa kali ke negara yang merupakan musuh politik Amerika itu secara tak langsung membuahkan pembebasan seorang warga Amerika, Kenneth Bae, yang dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa di Korea Utara.
Yang jelas, popularitas permainan basket di berbagai penjuru dunia memang dimanfaatkan pemerintah Amerika sebagai salah satu sarana diplomasinya. Setiap tahun, ada saja pemain NBA dikirim ke luar negeri untuk membantu membangun komunitas global yang lebih kuat.
Tidak lama setelah Amerika resmi memulihkan hubungan diplomatiknya dengan Kuba pada tahun lalu, misalnya, dua mantan bintang NBA, Steve Nash dan Dikembe Mutombo, membuka kamp pelatihan bagi para pebasket Kuba. Mengenai kegiatan itu, Mutombo dikutip menyatakan, “Olahraga bola basket merupakan jembatan yang dapat mempersatukan orang-orang dan budaya.” Mantan bintang NBA lainnya, Shaquille O’Neal, tampak membuka klinik basket bagi anak-anak dan pemuda setempat di Havana pertengahan tahun ini.
Selain menjadi duta resmi dari program yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri, para pemain juga terlibat dalam kerjasama dengan berbagai organisasi internasional seperti Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), Palang Merah Internasional serta Koalisi Bisnis Global untuk Kesehatan dalam aktivitas mereka di negara-negara berkembang. Para atlet itu berperan membantu menyebarluaskan nilai-nilai utama yang mereka terapkan di lapangan basket, yakni kerjasama, integritas, inovasi dan respek atau rasa hormat.
Diplomasi basket ini terbukti menunjukkan hasil positif. Menurut jajak pendapat yang dilakukan Pew Research dua tahun silam, masyarakat di daerah-daerah yang dikunjungi para pemain, pelatih maupun pengurus klub-klub NBA dan WNBA pada umumnya memiliki persepsi yang baik terhadap Amerika.
Nah, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin memompa semangat saya sendiri dengan mengutip kunci kesuksesan salah seorang pemain basket yang tenar sekali pada masa muda saya, Michael Jordan. Dengan segudang prestasi dan penghargaan yang diraihnya, tak pelak ia adalah salah seorang pebasket terhebat sepanjang masa. Berikut kata-kata mantan bintang Chicago Bulls yang sering dikutip, dibuat stiker atau poster:
"I've missed more than 9000 shots in my career. I've lost almost 300 games. 26 times, I've been trusted to take the game-winning shot and missed. I've failed over and over and over again in my life. And that is why I succeed."
“Lebih dari 9.000 lemparan sepanjang karier saya meleset. Saya kalah dalam hampir 300 pertandingan. Telah 26 kali saya dipercaya melakukan lemparan penentu kemenangan namun lemparan itu meleset. Saya pernah gagal, gagal dan gagal lagi dalam hidup. Dan itu sebabnya saya berhasil.”
Selamat ulang tahun ke-125 permainan bola basket!!
Berita bohong yang sensasional, yang diputarbalikkan, dipenggal-penggal ataupun dihubungkan satu sama lain tanpa bukti, telah membanjiri media sosial selama musim kampanye pemilu lalu sehingga menyesatkan banyak orang di Amerika.
Termasuk Edgar Maddison Welch yang mendatangi restoran piza Comet di Washington DC dengan membawa senapan serbu dan mengancam nyawa. Untungnya tidak ada yang cedera ketika pria berusia 28 tahun itu melepaskan tembakan yang membuat karyawan dan para pelanggan yang sedang makan di sana panik dan menelepon polisi yang segera tiba untuk mengamankannya.
Comet Ping Pong ternyata sudah berminggu-minggu menjadi pusat teori konspirasi #PizzaGate yang digaungkan oleh kelompok supremasi kulit putih dan sejumlah website berita palsu. Mereka menyebarkan berita tanpa didukung fakta bahwa Hillary Clinton dan manajer kampanyenya terlibat dalam jaringan prostitusi anak dengan menggunakan restoran piza itu sebagai kedok.
Salah satu website yang dicap pabrik berita bohong atau hoax (AP)
Gosip yang kemudian menjadi hastag atau tagar dan berkembang menjadi teori konspirasi itu akhirnya benar-benar menjadi berita setelah Welch datang jauh-jauh dari North Carolina untuk menyelamatkan anak-anak teraniaya yang dia yakini disembunyikan di terowongan-terowongan misterius di bawah restoran piza itu.
Insiden ini menunjukkan konsekuensi nyata sebuah berita bohong yang menyebar dengan sangat cepat di dunia maya.
Tampilan berita yang tidak masuk akal, aneh, tetapi dikemas seperti berita konvensional itu sering kali diterima begitu saja di dunia maya dan bahkan disebarkan oleh para pejabat tanpa mengecek keakuratannya sehingga bisa menciptakan reaksi berbahaya, atau mungkin pertumpahan darah.
Bayangkan! Seorang jenderal Amerika yang berpendidikan tinggi pun tak kebal berita bohong yang buntutnya memicu penembakan di restoran Comet Ping Pong itu.
Konsekuensi nyata yang mengerikan akibat berita palsu untuk menjatuhkan pihak lawan di Amerika malah sudah pernah merenggut nyawa.
Setahun lalu, sebuah rekaman video rahasia yang telah diedit oleh sekelompok orang untuk menunjukkan dokter-dokter organisasi nirlaba Planned Parenthood memperjualbelikan jaringan embrio telah memicu Robert Dear menyerbu klinik mereka di Colorado.
Dia meneriakkan kata “no more baby parts” setelah membunuh 3 orang dan melukai 9 lainnya dengan tembakan membabi buta.
Rekaman gambar yang sudah diedit habis-habisan itu ternyata digunakan untuk memperkuat kesaksian anggota Kongres AS yang ingin menghapus dana pemerintah untuk penyedia layanan kesehatan reproduktif itu karena dituduh memfasilitasi aborsi.
Mengapa berita bohong di internet sulit dibasmi?
Sebelum era internet, kita lebih mudah mencurigai berita bohong karena biasanya diterbitkan oleh koran kuning atau majalah gosip.
Tapi kita mungkin tidak tahu berita bohong atau hoax jika kita melihatnya di Google atau Facebook. Google mencantumkan cerita paling populer dengan jelas di Google News. Cerita-cerita bohong itu muncul tanpa ada yang memeriksa di Facebook, di mana cerita itu menuai banyak ‘like’, disebarkan dan dibaca.
Ini menjadi masalah karena Facebook dan Google sekarang merupakan dua situs terbesar dan paling populer di internet. Mereka juga rakus akan iklan digital yang menghasilkan dolar. Mereka menarik miliaran pengunjung per hari. Jadi jika Facebook dan Google memiliki masalah berita palsu, ada argumen yang mengatakan internet itu sendiri memiliki masalah berita palsu yang meracuni masyarakat.
Keprihatinan akan berita palsu ini mencapai puncaknya sejak 8 November, ketika Donald Trump, calon Partai Republik, memenangkan kursi kepresidenan AS dalam kemenangan yang mengejutkan. Sebagai buntut dari pemilihan itu, lawan Trump menuduh bahwa berita palsu yang beredar di Facebook dan situs lainlah yang membantunya menang.
Tuduhan ini langsung dibantah Mark Zuckerberg, CEO Facebook, yang mengaku telah menerbitkan pedoman untuk hal-hal yang ingin dilihat atau tidak dilihat di Facebook. Ini saja tidak cukup, kata para pakar media yang merasa frustrasi dengan sulitnya memahami algoritma yang digunakan kedua raksasa internet itu untuk mempromosikan dan membagi cerita.
Google sendiri sudah mengakui bahwa mereka membuat kesalahan dengan membiarkan cerita bohong bertengger di jajaran Google News dan kabarnya akan berusaha memperbaiki algoritmanya.
Kesulitan untuk memverifikasi atau menunjukkan pembuktian berita yang tak masuk akal juga membuat penyebarannya tidak terhambat, seperti pernyataan terkait serangan terhadap Comet Ping Pong.
Verifikasi, yang merupakan persyaratan minimum yang mutlak untuk mempublikasi berita, tidak hanya dicampakkan tapi dikutuk oleh situs berita palsu. Jurnalis yang terlatih untuk mencari dan mempromosikan kebenaran yang diverifikasi untuk pembacanya sekarang malah dituntut untuk membuktikan firasat para pembaca. Dan ketika jurnalis gagal, mereka tanpa sadar memberikan kredibilitas kepada konspirasi yang berusaha mereka runtuhkan.
Masalah lain adalah sejarah berita palsu di Amerika sendiri.
Benih berita palsu, kata NPR, sudah ditanam sejak dahulu kala oleh kaum konservatif yang terperanjat mendapati bintang realitas televisi berhasil menguasai partai mereka.
Selama bertahun-tahun, Partai Republik telah menanamkan rasa tidak percaya kepada media, mengejek statistik dan ilmu pengetahuan, dan umumnya memperlakukan informasi yang diverifikasi sebagai bias.
Ada juga situs berita palsu yang khusus dibuat untuk pemirsa/pembaca sayap kiri atau liberal, tapi menurut beberapa pencipta berita palsu, kaum konservatif jauh lebih rentan terhadap berita palsu, umumnya karena mereka lebih banyak yang tidak percaya pada berita yang sebenarnya.
Pada era informasi digital ini, berita-berita bohong atau hoax diciptakan bukan hanya untuk menjatuhkan lawan politik atau orang yang dibenci tetapi untuk mencari uang, dengan kata lain menarik minat pembaca/pembeli/pelanggan untuk suatu produk tertentu.
Pembuat berita palsu atau pabrik hoax di internet ini tidak peduli dengan etika jurnalistik dan ketenteraman masyarakat karena tujuannya hanya untuk mendapatkan ‘klik’ sebanyak mungkin di website mereka.
Harian Wall Street Journal kemarin menurunkan laporan yang menyebut merek-merek terkenal serang kali, secara tidak sengaja, ikut mendanai situs-situs yang membuat berita bohong di internet.
Iklan dari perusahaan seperti Hotels Choice, SoundCloud dan Bose Corp muncul di situs dengan berita palsu atau menyesatkan. Perusahaan-perusahaan itu termasuk di antara ribuan merek yang bisa muncul di situs tersebut berdasarkan riwayat browsing pengguna atau demografi.
Eksekutif industri itu mengatakan beberapa situs berita palsu bisa menghasilkan pendapatan bulanan puluhan ribu dolar dari iklan online.
Kalau urusan uang, siapa yang ingin mundur atau menghentikan aktivitas yang menghasilkan uang.
Bagaimana kalau pemerintah membuat aturan keras dan denda besar terhadap berita bohong, seperti yang baru-baru ini diterapkan Tiongkok?
Mantan calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton hari Kamis dalam acara perpisahan dengan Pemimpin Minoritas Senat Harry Reid kembali mengingatkan tentang bahaya berita bohong atau hoax, seperti insiden "Pizzagate" di Washington, D.C. dan harus ditangani dengan cepat. Menurut Clinton, undang-undang yang didukung kedua partai sedang dibahas di Kongres untuk meningkatkan respons pemerintah terhadap propaganda asing, dan dunia internet yang sudah menghadapi ancaman gelombang berita palsu.
Belum jelas bagaimana bentuknya, tetapi kebanyakan orang Amerika tidak menginginkan sensor ketat pemerintah. Umumnya orang berpendapat kebijakan yang mengendalikan media sosial akan melanggar hak asasi manusia, khususnya kebebasan berekspresi.
Para pendukung amandemen pertama konstitusi Amerika telah mengkritik negara-negara yang menutup internet mereka selama pemilu karena kontrol media hanya akan menyusutkan ruang politik seperti di Rusia dan Turki. Pemerintah di sana menutup LSM, menindas warga jurnalis, dan berusaha menguasai Twitter dan Facebook.
Mungkin akan lebih baik kalau warga sendiri yang belajar mencerna berita untuk mengetahui mana yang palsu mana yang sah, mencari informasi tentang situs-situs mana saja yang diketahui sebagai pabrik hoax atau mau meluangkan waktu untuk memeriksa sebelum mengklik “share.”
Tapi bagaimana kalau dia tahu bahwa berita itu bohong tapi tidak peduli?
Kalau Tidak Akan Mengubah Hasil Akhir, Mengapa Hitung Ulang Suara Pilpres AS Dilakukan?
Perolehan Suara Clinton Meningkat, Seruan Hitung Ulang Makin Gencar.
Kepala berita seperti ini tentu membuat banyak orang menduga bahwa permintaan hitung ulang hasil pilpres 8 November lalu diajukan oleh pihak Hillary Clinton, yang unggul lebih dari 2 juta suara secara nasional sementara Donald Trump memenangkan Electoral College dengan margin suara 306 lawan 232.
Clinton bungkam mungkin karena menyadari bahwa hal itu tidak akan mengubah pemenang pilpres 2016. Ia akan menjadi calon presiden ke lima dalam sejarah Amerika dan yang kedua dalam 16 tahun terakhir yang memenangkan suara terbanyak tapi kalah dalam pemilu karena konstitusi Amerika yang berumur dua abad menetapkan sistem lembaga perwakilan pemilih, atau Electoral College, untuk memilih presiden.
Petisi penghitungan ulang surat suara di negara bagian Wisconsin, Pennsylvania dan Michigan memang bukan gagasan Clinton. Petisi tersebut diajukan oleh Jill Stein, kandidat presiden Partai Hijau hanya memperoleh 1 persen suara nasional dalam pemilu lalu.
Presiden AS terpilih Donald Trump, yang paling sering menggembar-gemborkan kecurangan dan peretasan dalam pemilu, malah menyebut upaya Partai Hijau itu “skema penipuan” setelah tim kampanye Partai Demokrat akhirnya ikut mendukung seruan penghitungan ulang di tiga negara bagian yang dengan suara tipis dimenangkan Trump.
Para pengecam juga menuduh Jill Stein ingin mengangkat pamor Partai Hijau di arena nasional sembari meraup dana jutaan dolar. Stein berhasil mengumpulkan hampir $7 juta untuk upaya hitung ulang ini, padahal sebelumnya dia hanya mampu menggalang dana sekitar $3 juta untuk kampanyenya sendiri.
Pendukung Presiden terpilih Donald J. Trump telah mengajukan gugatan hukum di Pennsylvania, Wisconsin dan Michigan dalam upaya yang tiba-tiba kuat untuk menghentikan penghitungan ulang pemilihan presiden di sana.
Tentangan kubu Trump ini telah memicu pertanyaan: mengapa Trump takut dengan penghitungan ulang ini mengingat awalnya dia yang paling gencar menuduh adanya kecurangan?
Sebagian pendukungnya ternyata tidak ingin legitiasi kemenangan Trump diragukan, sebagian mengatakan penghitungan ulang tidak akan akurat karena dilakukan tergesa-gesa untuk mengejar tenggat waktu.
Bill Schuette, Jaksa Agung Michigan yang mendukung Trump, mengatakan pemilih di negara bagian itu berisiko membayar jutaan dolar dan berpotensi kehilangan suara mereka dalam proses Electoral College.
Mengapa Jill Stein gigih memperjuangkan petisi yang bisa menelan biaya lebih dari 5 juta dolar ini?
Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh dokter, aktivis lingkungan dan politisi dengan nama lengkap Jill Ellen Stein ini.
Yang pasti bukan untuk menangkis serangan dari kalangan yang menudingnya sebagai penyebab kekalahan kandidat Partai Demokrat seperti pada pemilihan presiden tahun 2000.
Saat itu, banyak pengamat politik menyalahkan kandidat presiden Partai Hijau Ralph Nader setelah George W. Bush mengalahkan Al Gore di Florida, dengan berkilah bahwa kalau sebagian dari 97.000 pendukung Nader memilih Gore, maka kandidat Demokrat itu akan mampu menyamai perolehan Bush yang unggul hanya 500 suara di negara bagian itu dan akhirnya memenangkan pemilihan presiden.
Salah satu alasan, kata Jill Stein, adalah kecurigaannya dengan surat suara kosong yang demikian banyak dalam pemilihan presiden di Michigan. Dia merujuk pada 84.000 surat suara tidak mencantumkan pilihan presiden. Ada dua kemungkinan dikemukakan Stein: kesalahan mesin penghitung atau ada orang yang mencurangi surat suara.
Dalam tulisannya di harian USA Today, Stein mengatakan dalam era komputerisasi dan pengaruh perusahaan yang sangat besar terhadap pemilu, sistem elektoral AS semakin terancam.
Selama masa kampanye, semua partai politik sudah mengkhawatirkan penyimpangan daftar pemilih pada tahun 2016. Para peretas yang canggih berusaha membobol sistem pendaftaran pemilih di 20 negara bagian dan berhasil menembus sistem Illinois. Insiden tersebut menimbulkan pertanyaan serius tentang kerentanan data pemilih. Kekhawatiran atas keamanan komputer dengan layar layar sentuh yang digunakan untuk pemilihan sudah sangat serius sehingga beberapa negara bagian, seperti California, Maryland dan Virginia, telah melarang penggunaannya atau menghilangkannya secara bertahap.
Mesin surat suara elektronik untuk pemilu di Columbus, Ohio (AP)
Untuk memastikan setiap suara warga dihitung dengan benar, kata Stein, Partai Hijau telah meminta penghitungan ulang surat suara di Wisconsin, Michigan dan Pennsylvania karena menurut sejumlah pakar independen, ketiga negara bagian yang diperebutkan dengan sengit ini berpotensi memiliki sistem yang rentan untuk dicurangi.
Tujuannya bukan untuk mengubah hasil pemilu tetapi untuk memastikan integritas dan akurasi pemungutan suara. Semua orang Amerika, terlepas dari partainya, layak untuk tahu bahwa pemilu ini dan setiap pemilu akan adil serta semua suara diverifikasi, tambah Stein.
Tujuannya memang mulia tetapi tantangannya cukup besar karena setiap negara bagian di Amerika memiliki peraturan pemilu masing-masing dan banyak yang sudah nyaman dengan sistem mereka walaupun pernah mengalami masalah kalibrasi dan kemacetan mesin digital.
Penghitungan ulang sudah berjalan di Wisconsin yang memiliki 10 perwakilan pemilih dan pada hari Senin Stein memulai langkah-langkah menuju penghitungan ulang di Pennsylvania dengan mengajukan petisi hukum atas nama 100 pemilih.
Tabulasi sedang berlangsung di West Bend, Wisconsin (AP)
Bagi negara bagian Michigan ini adalah penghitungan ulang terbesar dalam sejarah karena melibatkan 4,8 juta surat suara. Selain itu tidak jelas apakah penghitungan ulang, yang hasil resminya menunjukkan Trump unggul 10,704 suara dari Clinton, akan selesai atau bahkan akan dimulai karena kubu Trump sudah mengajukan keluhan setelah Stein membayar biaya hitung ulang $973.250.
Selain soal biaya yang sangat besar, komisi pemilu di negara bagian Wisconsin ternyata telah menolak permintaan Stein untuk menghitung surat suara itu satu per satu, secara manual, bukan dengan mesin yang digunakan pada waktu pemungutan suara lalu.
Pemimpin Partai Hijau ini sudah memohon agar pengadilan memerintahkan tabulasi suara secara manual di semua distrik Wisconsin tetapi ditolak. Sekarang penghitungan suara akan mengikuti peraturan daerah masing-masing, ada yang secara manual, ada yang menggunakan mesin digital, bahkan mesin yang digunakan tiap daerah pun bisa berbeda-beda.
Dengan pembicaraan tentang peretasan, gangguan pemerintah asing dan penipuan pemilih selama ini, Stein ingin membuktikan apakah jumlah total suara akurat. Jika ada kertas suara, total suara resmi dapat dengan mudah diverifikasi dalam penghitungan ulang secara manual.
Kesulitan lain dalam penghitungan ulang ini adalah tenggat waktu.
Hitung ulang harus tuntas sebelum jam 20.00 pada tanggal 12 Desember sehingga komisi pemilu Wisconsin dapat menyiapkan tabulasi resmi sebelum tanggal 13 Desember, batas waktu untuk menghitung suara perwakilan atau Electoral College negara bagian tersebut.
Pennsylvania bahkan lebih rumit dari Wisconsin. Stein sendiri mengakui dia kewalahan mematuhi UU pemilu di negara bagian itu.
Pennsylvania memiliki dua jalur untuk mengajukan penghitungan ulang, dan kedua jalan itu rasanya hampir mustahil buat Stein. Dia harus menyediakan bukti kuat adanya kecurangan pemilu - yang tidak dia miliki - atau menyediakan tiga keterangan tertulis yang disahkan notaris dari masing-masing precinct (kepolisian sektor) yang jumlahnya 9.163 di Pennsylvania.
Opsi Stein satu-satunya adalah jalur hukum dengan mengajukan permohonan atas nama 100 pemilih untuk melindungi hak mereka mempertanyakan hasil pemilihan di Pennsylvania di luar penghitungan ulang yang diajukan oleh pemilih di tingkat polsek.
Dan kalaupun Stein mampu melakukan penghitungan ulang ini, ada kendala lain: Pennsylvania adalah salah satu dari 15 negara bagian yang menggunakan mesin pemilihan elektronik tanpa jejak kertas. Dengan kata lain, tidak ada kertas suara yang dapat diaudit secara manual.
Umumnya orang Amerika meyakini bahwa penghitungan ulang hasil pilpres yang mahal, menguras tenaga dan waktu ini tidak akan mengubah pemenang tetapi besarnya dukungan keuangan bagi upaya Jill Stein tersebut tampaknya menunjukkan ketidakpuasan masyarakat dengan sistem pemilihan saat ini dan perlunya memulihkan kepercayaan rakyat bahwa sistem pemilihan umum di Amerika adil, aman, dan akurat.
Thanksgiving Day atau Hari Bersyukur dirayakan setiap Kamis ke-empat bulan November di Amerika.
Apa makna hari besar ini bagi orang Amerika? Apakah Hari Bersyukur ini hanya untuk orang yang juga merayakan Natal? Kedua pertanyaan ini diajukan sahabat Sonora Network dalam acara interaktif Rabu lalu.
Yang paling mudah tentu menjawab pertanyaan kedua. Thanksgiving Day sudah menjadi hari raya sekuler bagi orang Amerika, tanpa memandang etnis dan agama, walaupun perayaannya memang dimulai oleh orang-orang Kristen.
Meski makna keagamaan Thanksgiving telah hilang di Amerika, warga Muslimnya masih banyak yang merasa ini adalah hari raya orang Kristen.
Sebagian Muslim Amerika mengikuti tradisi Thanksgiving Day ini untuk menunjukkan nasionalisme sebagai warga Amerika. Mereka menghidangkan ayam kalkun halal sebagai menu utama, dipadu dengan berbagai makanan khas dari kampung halaman mereka.
Dyan Wibowo dan kerabatnya merayakan Hari Bersyukur 2016 di Virginia.
Bagi Muslim Amerika, Hari Bersyukur juga digunakan untuk mengingat kesulitan yang dialami imigran pertama Amerika yang datang dengan harapan bisa bebas menjalankan keyakinan mereka dan hidup dengan damai bersama penduduk yang sudah ada di benua ini.
Presiden Barack Obama sendiri telah mendesak warga Amerika untuk menunjukkan kemurahan hati kepada para pengungsi Suriah dalam pesan Thanksgiving-nya Kamis lalu, mengingatkan mereka bahwa imigran pertama yang datang ke Amerika pada tahun 1620 juga melarikan diri dari penganiayaan,
Guru dan murid McCollough-Unis di Dearborn, Michigan, merayakan Thanksgiving.
Thanksgiving Day sudah menjadi tradisi dalam kehidupan orang Amerika sebagai hari untuk berkumpul dengan keluarga, menikmati santapan khas Thanksgiving berupa ayam kalkun, kentang tumbuk, kue labu dan lainnya, menonton pertandingan football, serta menjadi hari istrahat untuk berburu barang-barang berdiskon besar selama Black Friday.
Beberapa keluarga Muslim merayakan Thanksgivings (dok. Vena Annisa)
Hari libur nasional ini juga dijadikan kesempatan untuk melakukan bakti sosial di komunitas masing-masing. Mulai dari membagi-bagikan kalkun dan bahan makanan lainnya untuk kaum miskin, menyediakan makanan hangat di dapur-dapur umum untuk tuna wisma sampai membantu pengiriman paket Thanksgiving untuk tentara-tentara Amerika yang sedang bertugas di luar negeri.
Presiden AS Barack Obama dan ibu negara Michelle Obama menyerahkan bantuan makanan untuk Thanksgiving kepada warga kurang mampu di Washington DC .
Para tuna wisma dan orang-orang yang kurang mampu di wilayah Skid Row, Los Angeles, mendapatkan makanan gratis dalam perayaan Thanksgiving
Konon kabarnya perayaan Thanksgiving di Amerika Utara dimulai pada tahun 1621 oleh imigran pertama dari Eropa untuk berterima kasih atas panen besar setelah musim dingin yang parah. Mereka makan bersama dengan penduduk asli Amerika, suku Wampanoag, yang telah membantu mereka beradaptasi.
Dalam acara-acara Thanksgiving berikutnya, orang Amerika juga mensyukuri semua peristiwa yang dianggap sebagai berkah dari Tuhan.
Tetapi bagi sebagian orang Amerika Thanksgiving Day masih menjadi ‘duri’ dalam daging. Tanya saja kepada suku asli Amerika, suku-suku Indian yang jumlahnya ratusan.
Penyakit, kebakaran, dan perampasan termasuk diantara ‘duri’ yang asosiasi suku-suku Indian dengan tradisi Thanksgiving Amerika. Kemurahan hati dan keramahan nenek moyang mereka katanya dibalas dengan gensosida dan penindasan budaya dan tradisi.
Pada tahun 1637 Gubernur Massachusetts John Winthrop merayakan "Thanksgiving Day" resmi pertama untuk menandai kepulangan sekelompok pria dari koloni Inggris. Tapi katanya ada bagian sejarah yang dilupakan: enam ratus orang Pequots dibunuh setelah meletakkan senjata mereka dan menerima kekristenan.
Ini tidak untuk disyukuri.
United American Indians of New England menyatakan: "Ini adalah hari peringatan dan hubungan spiritual, serta protes terhadap rasisme dan penindasan yang terus dialami penduduk asli Amerika."
Mereka perduli dengan sejarah itu telah vokal dalam mendukung perjuangan untuk pelestarian air bersih dan tanah suci suku Indian di Standing Rock, North Dakota, yang telah dilancarkan selama tujuh bulan. Minggu malam lalu aksi protes mereka yang didukung lebih dari 400 orang menghadapi gas air mata, peluru karet, dan meriam air dari pihak berwenang.
Inipun tidak patut disyukuri, kata mereka.
Perpecahan akibat pilpres 2016 ini juga mengurangi kegembiraan dalam merayakan Thanksgiving.
Banyak orang Amerika menghindari kekisruhan dan panasnya perdebatan pasca pemilihan presiden dengan memutuskan untuk tidak mudik karena orang tua atau kerabatnya memilih kandidat lawan.
Bagi keluarga yang akan berkumpul, agar terhindar dari konflik dan kecanggungan, disarankan untuk tidak membahas isu politik, walaupun mereka sudah terbiasa membahas politik dalam pertemuan-pertemuan keluarga.
Moratorium politik di meja makan diterapkan tahun ini agar Thanksgiving Day terfokus pada acara kekerabatan dan pengucapan syukur atas semua berkat selama ini.
Setelah itu, mereka melanglang buana ke mall-mall yang dibuka Kamis malam dan subuh Jumat.
Masyarakat memanfaatkan harga banting Black Friday di Macy's Herald Square, 24 Nov. 2016, di New York.
Sebuah survei pra-liburan oleh National Retail Federation mendapati hampir 136 juta orang Amerika, atau hampir 60 persen dari mereka yang disurvei, berencana berbelanja selama akhir pekan Thanksgiving. Lebih dari 183 juta, atau hampir 80 persen dari mereka yang disurvei, berencana untuk berbelanja online pada Cyber Monday.
Adobe Digital Insights, yang melacak data itu, memperkirakan belanja Black Friday akan mencapai $ 3 miliar, meningkat 11,5 persen dari tahun lalu, dan penjualan Cyber Monday juga akan mencapai $ 3 miliar, meningkat 9,5 persen dibanding tahun lalu, menurut Forbes.com.
Buat saya Thanksgiving Day tahun ini rasanya semakin penting untuk menyatukan teman dan keluarga, walaupun hanya satu dua jam di meja makan, mengucap syukur atas berkat bagi negara Amerika, tempat saya bermukim selama 21 tahun ini.
Setelah membaca sejarah Thanksgiving Day, terungkap pada saya bahwa semangat rekonsiliasi seperti ini, Amerika bersatu, yang membuat Abraham Lincoln menetapkan hari nasional Bersyukur atau Thanksgiving pada tahun 1863, pada puncak Perang Saudara di Amerika.
Demi semangat rekonsiliasi, apakah perlu juga hari raya sekuler seperti ini di Indonesia?
Protes terhadap presiden terpilih Donald Trump berlanjut sampai hari ini, Jumat 18 November, di berbagai wilayah, bahkan oleh siswa-siswi SMA yang belum memiliki hak pilih di Amerika.
Mereka umumnya menyuarakan bahwa Trump bukan presiden mereka dan menuntut agar dia disingkirkan karena khawatir dengan janji-janji kampanyenya yang memecah belah akan mengikis hak-hak sipil Amerika dan menyulut kerusuhan.
Gelombang protes itu dimulai hanya beberapa jam setelah kemenangan Trump yang mengejutkan atas mantan menteri luar negeri Hillary Clinton yang dikukuhkan 9 November dini hari.
Sebagian pengunjuk rasa mengatakan mereka tahu Trump akan mengambil kendali pemerintahan pada 20 Januari tetapi mereka ingin menegaskan bahwa mereka tidak senang dengan hasil pemilu kali ini dan mereka tidak akan diam.
Demonstran di kampus University of Connecticut, menentang presiden terpilih Donald Trump, 9 Nov. 2016.
Sementara itu lebih dari 4,3 juta orang telah menandatangani petisi online dan menulis surat kepada anggota Electoral College (Dewan Elektor) agar ‘elector’ yang seharusnya memilih Trump mau mengalihkan suara kepada Clinton atau memilih abstain karena Trump tidak layak menjadi presiden dan penghitungan suara terakhir menunjukkan Clinton memenangkan suara populer tetapi Trump memenangkan pemilihan (290-232) berkat sistem Electoral College yang sudah digunakan dalam pemilihan presiden sejak 1787.
Sistem Electoral College yang digunakan oleh Amerika Serikat dalam pemilihan presiden merupakan kompromi antara demokrasi langsung dan perwakilan. Amerika Serikat sebenarnya melakukan 51 pemilu terpisah (satu untuk setiap negara bagian ditambah District of Columbia) bukan satu pemilu nasional.
Dalam pemilu presiden, rakyat tidak langsung memilih Clinton atau Trump, walaupun nama mereka yang tercantum dalam surat suara, tapi memilih perwakilan negara bagian atau ‘elector' yang sudah ditentukan partai masing-masing lewat pemilihan internal.
Para ‘elector’ yang tergabung dalam Electoral College itu akan bertemu 41 hari setelah pemilu untuk memberikan suaranya kepada pasangan capres/cawapres.
Konstitusi AS menetapkan jumlah ‘elector' yang sama dengan gabungan anggota Senat dan DPR tiap negara bagian, yang jumlah seluruhnya 538.
Kandidat yang meraih suara mayoritas dalam satu negara bagian akan meraup semua ‘electoral votes’ kecuali negara bagian Maine dan Nebraska yang tidak menganut sistem winner takes all ini. Kandidat yang meraih mayoritas ‘electoral votes’ (270 atau lebih) adalah pemenangnya.
Peta sementara Electoral College 2016
Sebagian pendukung Hillary Clinton masih berharap mereka bisa membujuk para perwakilan negara bagian itu untuk mungkir dari janjinya untuk mendukung Trump ketika mereka berkumpul pada tanggal 19 Desember mendatang.
Salah satu 16 perwakilan Michigan yang akan dipanggil untuk memberikan suara yang mensahkan pemilihan Donald Trump dalam Electoral College telah bersaksi bahwa dia dan rekannya di negara bagian itu telah menerima "puluhan ancaman kematian" dari pendukung Hillary Clinton yang ingin mereka mengalihkan suara mereka untuk Clinton.
BuzzFeed melaporkan hari Kamis bahwa kelompok anti-Donald Trump, #NotMyPresident Alliance, telah merilis informasi pribadi puluhan anggota Electoral College di negara-negara bagian yang memilih Partai Republik dengan harapan banyak orang akan menghubungi mereka untuk mengalihkan suara.
Tapi pernahkah dalam sejarah Amerika seorang ‘elector’ mungkir dari janji kepada negara bagiannya? Jawabnya pernah. Tetapi tidak pernah dalam jumlah yang diperlukan Hillary Clinton saat ini untuk memenangkan pemilihan.
Sejumlah negara bagian memang tidak memiliki hukum yang melarang perwakilan itu mengubah suara dan kalau pun ada, pelanggaran itu hanya menimbulkan denda kecil. Jika pendukung Clinton bisa mendapatkan suara yang cukup dari 163 pemilih dari negara-negara bagian di mana Trump menang dan tidak melarang peralihan suara pada 19 Desember, Clinton bisa menjadi presiden Amerika Serikat berikutnya.
Sejak Electoral College digunakan, telah ada 157 perwakilan pemilih yang mungkir. Menurut FairVote.org, 71 orang diantaranya berubah karena kandidat yang asli meninggal sebelum hari di mana Electoral College memberikan suara mereka. Tiga perwakilan pemilih memutuskan untuk abstain. 82 perwakilan pemilih lainnya berubah karena inisiatif pribadi.
Kenyataan bahwa Hillary Clinton memenangkan sejuta suara lebih banyak dari Trump, tetapi jauh dari 270 “electoral vote” yang dibutuhkan untuk memenangkan Gedung Putih, telah membuahkan protes besar yang menuntut agar sistem pilpres saat ini diubah.
Demonstran itu yakin sistem Electoral College melanggar kesetaraan dalam berpolitik karena tidak semua suara setara. Buntutnya, Electoral College terkadang tidak mewakili kehendak mayoritas rakyat, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2000, dan terulang kembali pada tahun 2016.
Tapi banyak pakar mengatakan perubahan itu akan sulit.
Para pendiri Amerika sudah membahas panjang lebar tentang apakah pemilihan presiden harus didasarkan sepenuhnya pada kehendak rakyat, atau apakah Kongres (atau beberapa badan kecil yang terdiri dari orang bijaksana dan berpengetahuan) yang seharusnya memilih Presiden. Mereka menyimpulkan bahwa demokrasi langsung itu ada bahayanya, karena seorang diktator yang karismatik bisa memanipulasi kehendak rakyat.
Para pendukung Electoral College bersikeras bahwa para pendiri Amerika merancang sistem ini untuk melindungi negara bagian yang kecil agar jangan sampai didominasi oleh negara bagian yang populasi kotanya besar.
Kebenaran alasan di atas sedang ramai diperdebatkan di Amerika tapi yang pasti mengubah cara memilih presiden akan membutuhkan amandemen konstitusi yang pada akhirnya harus disetujui dua pertiga suara di DPR dan Senat dan dukungan dari tiga perempat badan legislatif negara-negara bagian.
Belum lagi tantangan para pendukung Electoral College yang tentunya akan membawa kasus ini ke Mahkamah Agung.
Sulitlah untuk terjadi.
Kelompok yang tidak puas dengan pemilihan presiden katanya bisa saja pindah ke Kanada atau mengambil tindakan seperti sekelompok separatis California yang memanfaatkan suasana panas ini untuk mendorong 'CalExit', upaya negara bagian itu untuk memisahkan diri dari Amerika Serikat.
Sejak tahun 1988 California selalu mendukung kandidat Demokrat, terutama San Francisco, hub teknologi yang dikenal sebagai kubu kuat Demokrat.
Mulai dari pemimpin Google Eric Schmidt, CEO Apple Tim Cook, dan pemimpin Silicon Valley lainnya telah memberikan kontribusi besar untuk kampanye Clinton karena kebijakan Trump banyak yang bertentangan dengan nilai-nilai liberal yang didukung Silicon Valley.
Hasil pilpres 2016 ini telah membuat banyak penentang retorika Trump gusar dan memicu seruan yang semakin gencar agar California memisahkan diri.
Pendukung 'CalExit' juga mengemukakan bahwa perekonomian California, yang terbesar di AS, nomor 6 di dunia dan setara dengan Perancis, merupakan salah satu alasan yang kuat untuk memisahkan diri. Apalagi populasinya juga lebih besar dari Polandia.
Tidak heran kalau gerakan ‘Yes California’ yang didukung oleh gerakan-gerakan lain seperti California National Party dan New California, yang didanai investor Uber Shervin Pishevar, yakin mereka bisa mendorong isu ini menuju referendum pada musim semi 2019.
Perpecahan wilayah bukan barang baru di Amerika kalau kita mengingat Perang Sipil Amerika dan upaya Texas untuk memisahkan diri pada tahun 1869.
Mahkamah Agung memutuskan bahwa Konstitusi tidak mengizinkan negara bagian untuk memisahkan diri secara sepihak dan gerakan Nasionalis Texas sesekali berkobar, seperti pada tahun 2008 ketika Barack Obama terpilih menjadi Presiden.
Buat orang yang tidak kuat menahan stres di bawah pemerintahan Trump mungkin mereka bisa pindah ke negara bagian yang dalam telah melegalkan mariyuana untuk keperluan rekreasi lewat pemilu, seperti Washington DC, Colorado, Alaska, California, Maine, Massachusetts, Nevada, Oregon dan Washington.
Atau seperti saya yang menerima presiden AS apa adanya.