Ibuku sayang, apa kabar? Semoga sehat selalu ya, seperti halnya aku di sini. Apakah ibu sempat mengikuti acara America Now di Radio Sonora Rabu lalu? Kami sempat membahas tentang kabar terbaru bunga sakura lho, yang di sini dikenal sebagai cherry blossom. Tak lama memang, karena kesempatannya baru muncul pada penghujung acara. Itu sebabnya kutulis surat ini, Bu, untuk bercerita lebih banyak tentang musim sakura kali ini.
Masih teringat, ketika persis setahun lalu mengunjungiku, Ibu tak sempat berlama-lama memandangi sakura. Padahal aku tahu persis, Ibu sangat senang dan betah berlama-lama memandangi tanaman dan bunga-bunga yang indah. Memang hanya dua macam tempat yang selalu menarik perhatian Ibu: taman dan kebun, serta toko buku. O iya, Ibu pun tak sempat mengikuti berbagai acara di Ibu Kota untuk menyambut mekarnya sakura. Kesibukanku ketika itu malah membuatku lupa bercerita banyak tentang sakura. Oke, sekarang saja ya, kuceritakan serba serbi sakura di Washington DC.
Ibu, ketika Siska, penyiar Sonora itu menanyai aku dan Adri di ruang siar VOA tentang kabar terbaru sakura, hu hu… rasanya aku mau menangis. Aku belum tahu apakah tahun ini bisa menyaksikan bunga-bunganya merimbun berbarengan. Bagaimana bisa?
Sebetulnya Maret adalah bulannya bunga-bunga mulai bermekaran. Banyak orang sudah menunggu-nunggu untuk menyaksikan warna-warni bunga maupun pohon-pohon yang rimbun, bukan sekadar pohon, batang, dahan dan ranting yang gundul tanpa daun. Dan pohon-pohon sakura yang memamerkan bunga-bunganya secara serempak adalah salah satu atraksi yang paling banyak mengundang wisatawan di kawasan sekitar Tidal Basin, danau buatan di Washington DC, pada bulan Maret dan April.
TIDAL BASIN - Pohon-pohon sakura dengan bunga yang rimbun di tepian danau buatan Tidal Basin di Washington DC, sekiranya mekar serempak seperti tampak pada tahun 2016 lalu. (Foto: Tito Sidharta)
MONUMEN - Selain di pelataranr Monumen Nasional Washington, pengunjung bisa menikmati keindahan cherry blossom di sekitar Monumen Martin Luther King Jr. dan Monumen Thomas Jefferson. (Foto: Tito Sidharta, Utami Hussin)
Cuaca sejak Februari hingga awal Maret ini sangat menjanjikan untuk itu, Bu. Pakar cuaca bilang, ini musim dingin yang mild. Seingatku, hampir sepanjang bulan Februari sudah mulai terasa hangat. Begitu pula pekan-pekan pertama Maret. Sampai tak percaya rasanya kalau dalam perjalanan pulang, aku melihat ada warga yang jogging dengan mengenakan celana pendek dan baju lebih tipis atau terbuka.
Ketika datang ke kawasan sekitar Monumen Nasional Washington DC dan Tidal Basin, Ibu masih mengenakan baju hangat, kan? Bagi mereka yang terbiasa tinggal di Jakarta, suhu ketika itu tentu terasa sejuk. Memang, rata-rata suhu siang hari di Washington DC pada awal Maret biasanya sekitar 11 derajat Celsius, yang akan beranjak naik menjadi 16-17 derajat pada akhir bulan. Bila suhu yang relatif lebih hangat daripada rata-rata ini bertahan cukup lama, inilah saatnya bunga sakura mulai bermekaran.
Pada pekan-pekan pertama Maret, kami di sini sempat ‘kepanasan’ karena suhu beberapa kali menyamai suhu rata-rata akhir bulan, bahkan pernah mencapai 21 derajat Celsius. Cuaca hangat ‘menipu’ ini menyebabkan beberapa pohon di sana sini sudah mulai berbunga sementara kawan-kawannya lebih banyak memunculkan putiknya.
Dinas Taman Nasional (National Park Service, NPS) awal bulan ini memperkirakan, masa puncak (peak bloom) berkembangnya bunga sakura antara tanggal 14 - 17 Maret. Yang disebut peak bloom adalah ketika 70 persen pohon sakura jenis Yoshino di tepian Tidal Basin berbunga.
Tapi oh tetapi, Bu, menjelang akhir minggu lalu, ramalan cuaca menunjukkan suhu sepekan berikutnya anjlok hingga di bawah titik beku. Bukan itu saja, badai Stella juga ‘dijadwalkan’ menyapa DC di penghujung winter ini mulai Senin (13/3) malam hingga siang keesokan harinya.. Tak hanya mencurahkan salju, Stella juga membawa angin sangat kencang yang membuat pepohonan miring menahan tiupannya. Bunyi desau anginnya pun seperti yang di film-film horor itu. Ibu tahu kan, aku paling menghindari film jenis ini. Menakutkan! Dan angin kencang menakutkan juga musuh bunga-bunga yang baru mulai mekar atau masih berupa putik.
Aku dan beberapa sahabatku akhirnya memutuskan untuk melihat sebagian dari sedikit sakura yang mulai mekar itu sehari sebelum badai. Kami tak mengunjungi kawasan Tidal Basin, Bu. Tak jauh dari sana, di kawasan tepian Sungai Potomac, ada cukup banyak pohon sakura yang telah bersemi, meskipun belum serimbun kala mereka mengeluarkan seluruh bunganya. Di tengah suhu di sekitar titik beku yang menusuk tulang, kami merasa cukup puas dapat berfoto ria dengan bunga cantik ini di sana.
CERAH - Sehari sebelum Badai Stella tiba, hari masih cerah. Sebagian pohon di tepian Sungai Potomac telah mulai mengeluarkan bunga, sebagian ada yang baru memunculkan putik, ada pula yang masih gundul. (Foto: Utami Hussin)
Kami memang telah bersiap-siap patah hati tak bisa melihat sakura pada pekan-pekan ini. Sewaktu mengumumkan pengunduran perkiraan masa peak bloom menjadi 19-22 Maret, NPS menjelaskan, suhu minus 2 derajat Celsius akan merusak 10 persen bunga. Jika turun lagi menjadi minus 4 Celsius, yang rusak bisa-bisa mencapai 90 persen.
Foto-foto yang muncul di berbagai media seusai badai menunjukkan putik-putik dan bunga-bunga sakura yang membeku berlapis es. Pilu rasanya memandangi foto-foto itu. Tapi setidaknya ada dua info NPS yang menggembirakanku muncul pertengahan minggu ini. Pertama, putik-putik mungil sakura yang masih menguncup diperkirakan pada akhirnya akan bisa mekar sepenuhnya dan mencapai puncaknya dalam beberapa hari lagi, artinya sekitar minggu-minggu depan.
Ke-dua, memang 70 persen dari sakura yang berjajar di tepian Tidal Basin adalah dari jenis Yoshino. Tapi Yoshino, yang rawan rusak akibat suhu dingin membeku dan termasuk yang mekar paling awal, hanyalah satu dari 12 varietas sakura di Washington DC. Sakura Kwanzan, yang jumlahnya sekitar 12 persen dari seluruh sakura di Ibu Kota, serta Sakura Usuzumi (sekitar 1 persen) dan Shirofugen (kurang dari 1 persen) belum menunjukkan perkembangan berarti dan tidak serapuh Yoshino. Masa puncak mekarnya diperkirakan akan terjadi pertengahan April. Hore! Hore!
Ternyata masih ada harapan untuk kembali melihat pohon-pohon ini menampilkan keindahan bunganya. Rasanya ada yang kurang kalau tak melihat sakura pada musimnya berbunga. Ini seperti sudah menjadi tradisi bagiku sejak bermukim di sini selama hampir 11 tahun belakangan. Masa yang cukup singkat dibandingkan dengan keberadaan pohon sakura di DC.
Menurut yang kubaca di Internet, Bu, gelombang pertama pohon-pohon sakura dari Jepang tiba di Ibu Kota pada tahun 1910. Semuanya dibakar musnah karena pepohonan ini ternyata diserang parasit nematoda. Gelombang berikutnya, sebanyak 3.020 pohon, tiba pada tahun 1912. Ini hadiah dari rakyat Jepang sebagai simbol persahabatan kedua negara. Penanaman pertama pohon sakura di tepian Tidal Basin dilakukan oleh Ibu Negara Amerika ketika itu, Helen Taft, dan istri Dubes Jepang Viscountess Iwa Chinda. Konon, kedua pohon yang ditanam mereka itu masih berdiri hingga kini.
O iya, Bu, tradisi lain menyambut musim sakura di DC juga ditandai oleh National Cherry Blossom Festival atau Festival Nasional Sakura. Tahun lalu, kita tak sempat mengikuti satupun acaranya selain menikmati keindahan sakura. Padahal banyak sekali acara digelar dalam festival tersebut, yang tahun ini berlangsung mulai 15 Maret lalu hingga 16 April. Intinya adalah untuk memperkenalkan seni budaya Jepang, meskipun ada negara-negara lain berpartisipasi menampilkan budaya mereka sendiri.
Kalau melihat jadwalnya, festival yang pertama kali diselenggarakan 90 tahun lalu ini akan kembali menggelar antara lain demo membuat seni kerajinan tradisional, pertunjukan teater, musik, dan tari tradisional maupun modern, pemutaran film, lomba lari, pesta kembang api, mencicipi minuman teh hijau, juga gula-gula. Di Museum Seni Amerika Smithsonian, anak-anak akan belajar membuat seni kerajinan bertema sakura, memainkan alat musik Jepang, dan yang banyak mereka sukai adalah, mendapat lukisan wajah.
Nah yang biasanya tak kulewatkan sebelumnya, dan ingin kusaksikan lagi tahun ini adalah festival layang-layang, serta parade. Peserta parade 8 April nanti begitu banyak, Bu, daftarnya memakan tempat hampir 1,5 halaman tabloid Express yang kuambil setiap akhir pekan.
KEGIATAN KELUARGA - Banyak kegiatan selama Festival Sakura yang bisa diikuti seluruh anggota keluarga: mengenal baju tradisional kimono dan mengenakannya di National Children’s Museum, menonton parade dengan balon raksasa berbentuk sakura di Constitution Avenue, atau sekadar berjalan-jalan, berpiknik dan berfoto di antara pohon-pohon sakura dekat Tidal Basin. (Foto-foto ki-ka dari atas: Anne Budianto, AP/Carolyn Kaster, Tito Sidharta)
Seperti halnya di Jepang, festival bunga sakura merupakan saat-saat berkumpul bersama keluarga atau orang-orang tersayang. Tapi di sini tidak banyak yang berpiknik di bawah pohon sakura. Seperti yang Ibu lihat tahun lalu, pengunjung lebih banyak lalu lalang, sekadar memandang, memotret atau berfoto dengan latar belakang sakura. Di antara mereka, ada yang mengenakan kimono, bakiak dan payung kertas. Wah, kalau mereka hadir dalam jumlah banyak, mungkin kita serasa berada di Jepang ya, ha ha ..
Ibu, sewaktu aku menulis, tak terasa sesekali kusenandungkan lagu semasa kecilku mengenai cherry blossom. Ibu mungkin tahu lagu yang katanya menceritakan keindahan bunga ini. Aku tak hafal seluruh lirik lagu berjudul Sakura ini. Hanya bait-bait pertamanya saja yang kuulang-ulang, lantas kuteruskan dengan menggumamkan nadanya, he he…
Ibuku sayang, panjang sudah ceritaku. Kuakhiri dulu ya. Nanti, kalau sakura bermekaran, akan kubagikan lagi cerita mengenai keindahannya. Harapku, semoga saja suhu di sini mulai menghangat.
Doa dan restu ibu juga kupinta selalu.
I love you, Ibu!
Mungkin teman-teman bertanya-tanya dengan judul di atas. Apa kaitannya dengan topik America Now, acara interaktif radio VOA Indonesia dengan radio Sonora, pekan ini? Memang tidak ada. Judul di atas, “Tambah Usia, Banyak Cerita” (many years, many stories) adalah tagline atau slogan dalam rangka 75 tahun usia Voice of America, VOA. Nah, kali ini saya ingin berbagi cerita dan gambar menyambut ulang tahun ke-75 VOA, yang perayaannya berlangsung Kamis 2 Maret lalu.
Meski baru sebentar bergabung, saya bangga bisa ikut menjadi bagian dari VOA dalam perjalanan usianya yang sudah cukup panjang. Ya, VOA mengudara untuk pertama kalinya pada 1 Februari 1942 melalui radio gelombang pendek. Siaran pertama berdurasi 15 menit ini dipancarkan ke Eropa untuk menangkis propaganda Nazi, sekitar tujuh minggu setelah Amerika resmi terjun ke kancah Perang Dunia ke-2.
Ketika itu, wartawan Amerika William Harlan Hale mengatakan, “Inilah suara yang disiarkan dari Amerika. Hari ini, dan pada jam yang sama setiap hari mulai sekarang, kami akan menyampaikan kepada Anda tentang Amerika dan perang. Beritanya mungkin baik atau buruk. Namun kami akan menyampaikan kebenaran.”
Kebenaran. Kata inilah yang kemudian menjadi landasan pedoman siaran VOA yang dituangkan dalam Piagam VOA. Piagam ini ditandatangani Presiden Gerald Ford dan disahkan menjadi undang-undang pada 12 Juli 1976. Dalam piagam itu antara lain disebutkan, VOA harus senantiasa menjadi sumber berita yang konsisten, andal, dan dapat dipercaya. Berita VOA akurat, objektif dan menyeluruh.
Seiring usianya, tak terhitung lagi berita yang telah dilansir maupun cerita kehidupan yang diliput VOA. Mulai dari kabar-kabar baik dan menyenangkan mengenai kemajuan dan pencapaian umat manusia dalam berbagai bidang, hingga perang, bencana, konflik dan tragedi kemanusiaan lainnya di berbagai penjuru dunia. Tak sedikit wartawan VOA yang harus berkorban nyawa sewaktu bertugas di daerah-daerah berbahaya itu.
GUGUR - Foto para wartawan VOA yang gugur dalam tugas diabadikan di salah satu dinding di dalam gedung kantor VOA. (foto: Adriana Sembiring)
Perubahan di dalam tubuh VOA sendiri pun tak sedikit. Diawali dengan siaran perdana dalam bahasa Jerman, VOA pernah mengudara dalam 50 lebih bahasa. Sekarang ini, VOA disampaikan dalam 47 bahasa, termasuk di antaranya siaran bahasa Indonesia. Diudarakan pertama kali dari studio sewaan di Kota New York, VOA kini memiliki kantor pusat yang lengkap dengan studio-studio radio dan televisi di Washington DC. Dan seiring perkembangan teknologi, VOA telah menjadi multimedia internasional yang membuat VOA dapat dinikmati melalui siaran radio, televisi, Internet dan media sosial. VOA kini menyiarkan berita dan berbagai acara lainnya di seluruh dunia melalui 2.500 afiliasi televisi dan radio - sekitar 300 di antaranya di Indonesia - dengan jangkauan pemirsa dan pendengar yang melampaui 236 juta orang setiap minggu.
KANTOR PUSAT - Gedung Wilbur J Cohen (kiri) di Washington DC menjadi lokasi kantor pusat VOA yang dilengkapi dengan studio-studio radio dan televisi. (Foto: Utami Hussin)
Acara puncak perayaan sendiri telah direncanakan sejak tahun lalu, Beberapa seksi siaran bahasa menyelenggarakan acara khusus. VOA Indonesia misalnya, pada 23 Februari lalu membuat acara spesial. Selain mengudara seperti biasa, Siaran Petang ketika itu juga menyajikan acara spesial Facebook Live, yang diselingi pemutaran ucapan-ucapan selamat yang kreatif dari radio-radio afiliasi kami.
EDISI KHUSUS - Tim Siaran Petang berinteraksi dengan para pendengar dari berbagai penjuru dunia melalui Facebook Live dalam rangka menyambut HUT ke-75 VOA. (foto: istimewa)
Acara puncaknya pada 2 Maret ini melibatkan semua divisi. Pada pagi hari di auditorium VOA, hadirin diingatkan lagi mengenai sejarah badan penyiaran Amerika ini. Ada pula kisah dari dan mengenai para jurnalis VOA, pemutaran video pesan-pesan ucapan selamat dari berbagai penjuru dunia, serta penampilan duta-duta VOA yang mengenakan pakaian khas atau tradisional dari seksi siaran bahasa yang mereka wakili.
KISAH - Sejumlah wartawan mendapat kesempatan menyampaikan kisah mereka dan menjadi duta VOA. (Foto: Adriana Sembiring)
Disusul kemudian dengan pemutaran film-film pilihan, di antaranya beberapa dokumenter hasil liputan mendalam reporter-reporter VOA. Pada siang harinya, berlangsung perayaan di sejumlah divisi yang memamerkan pernak-pernik dan budaya-budaya khas mereka. Saya dan rekan Adriana Sembiring menyempatkan diri mengunjungi perayaan di divisi Afrika, sambil tak lupa mencicipi macam-macam makanan khas Asia Tengah dan Selatan
PAMERAN BUDAYA - Seksi-seksi siaran bahasa di divisi Afrika serta Asia Tengah dan Selatan memamerka pernak-pernik budaya khas mereka. (Foto: Adriana Sembiring/Utami Hussin)
Bagaimana perayaan di kalangan VOA Indonesia sendiri?
Dalam acara syukuran ini, beberapa di antara kami berbagi cerita. Sajian berupa nasi tumpeng komplet beserta lauk pauknya, es teler, serta jajan pasar seperti getuk dan lupis kami nikmati dengan gembira bersama sejumlah alumni, mereka yang pernah bekerja bersama VOA Indonesia, yang menyempatkan diri datang untuk turut merayakan pertambahan usia VOA.
KOMPAK, MERIAH - Wartawan senior dan muda, para alumni, peserta magang, pimpinan dan staf VOA Indonesia berbaur memeriahkan perayaan HUT VOA dengan mengenakan baju khas daerah dan menikmati hidangan tumpeng. (Foto: istimewa)
Pesta semeriah ini boleh saja berakhir. Tetapi yang jelas VOA takkan berhenti menyuarakan kebenaran pada setiap berita yang disampaikannya. Juga, terus menyampaikan berita berimbang serta cerita-cerita mengenai Amerika Serikat dan rakyatnya. Namun, terkait dengan apa yang telah dicapai VOA dalam usianya yang ke-75, saya kutipkan judul lagu yang diperkenalkan Tony Bennett dan dipopulerkan Frank Sinatra, The Best is Yet to Come!
Walaupun penting bagi kehidupan bersama dan bernegara, politik hanyalah salah satu aspek kehidupan. Sebagian besar aspek kehidupan pribadi kita, termasuk keluarga, pertemanan, hiburan, dan ibadah, sebaiknya jauh dari politik dan campur tangan pemerintah. Kalaupun ada, campur tangan pemerintah hendaknya minimal saja, hanya untuk kesejahteraan bersama. Ini pendapat saya. Bagaimana menurut Anda?
Bagi orang yang berkarier di Washington D.C. tentu isu politik sudah menjadi menu pembicaraan sehari-hari. Apalagi sebagai orang media dengan kantor di seberang gedung kongres, Capitol Hill.
Selama masa kampanye pilpres Amerika tahun lalu, saya banyak terlibat dalam debat politik, debat sehat untuk membuka wawasan dan memahami argumentasi pihak lawan. Karena belum mengakar pada salah satu dari kedua partai utama di Amerika, saya biasa dan suka mengambil posisi sebagai lawan teman debat saya. Saya jadi banyak belajar tentang Partai Demokrat dan Partai Republik.
Pendukung Hillary Clinton dan pendukung Donald Trump berdampingan membawa poster dukungan masing-masing dalam parade Hari Pahlawan di Chappaqua, New York. (Foto: Dok)
Kampanye pilpres yang lalu memang diakui banyak orang sebagai kampanye paling kotor dan paling memecah belah rakyat Amerika. Tapi setelah Donald Trump terpilih dan Hillary Clinton langsung mengakui kekalahannya, maka yang terbayang di benak saya adalah masa transisi yang damai dan kehidupan kami akan kembali normal, terbebas dari pertikaian politik yang begitu sengit.
Saya membandingkan dengan persaingan ketat dalam pilpres 2000 antara George Bush dan Al Gore, yang dimenangkan Bush, walaupun perhitungan suara nasional menunjukkan Gore unggul.
Apa daya keinginan saya tak terwujud.
Dendamnya masih terus membara, tidak seperti pemilu-pemilu sebelumnya. Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan situasi malah memburuk, memperlihatkan jarak yang melebar antara Republik dan Demokrat dan mengerasnya posisi-posisi ideologis yang menurut para sosiolog dan ilmuwan politik meningkatkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan akan membuat kompromi politik semakin sulit.
Pelantikan presiden sendiri sudah langsung didemo besar-besaran, malah dijadikan ajang politik bagi banyak kelompok, mulai dari pendukung hak-hak perempuan, LGBT, imigran, keadilan rasial sampai perubahan iklim. Padahal upacara itu seharusnya menjadi ajang untuk merayakan persatuan setelah masa pemilu yang memecah-belah dan untuk menunjukkan rasa hormat bagi institusi kepresidenan.
Suasana 'Women's March' di Washington dari atap gedung Voice of America di Washington, DC 21 Januari 2017(B. Allen / VOA)
Sebenarnya banyak hal sudah biasa dipolitisasi di Amerika. Informasi atau satu peristiwa sudah sering dijadikan bahan perdebatan politik atau posisi yang bertentangan antar partai yang dengan mudah menyebar berkat sosial media sekarang ini. Orang-orang yang terlibat rasanya tidak begitu peduli dengan fakta, objektivitas atau dampaknya bagi tatanan masyarakat.
Dalam isu seperti ras, agama, keadilan sosial dan ekonomi, tampaknya orang Amerika tak bisa lepas dari lensa politik. Dalam menalar isu-isu tersebut, mereka sepertinya bergantung pada doktrin partai, baik yang tak kentara maupun yang terang-terangan.
Tapi setelah Presiden Trump menjabat, dan mungkin karena gayanya dalam memerintah, pertikaian antara kelompok yang berbeda ideologi di Amerika semakin ganas dan cakupannya semakin luas.
Sekarang politik ada di mana saja kapan saja di Amerika.
Bayangkan, beberapa toko di daerah saya sampai harus melapor ke polisi karena di-bully oleh orang-orang yang tidak senang dengan pandangan politiknya. Tapi memang agak janggal juga melihat pemilik toko memajang sikap politiknya di depan toko.
Sejumlah merek terkenal seperti L.L. Bean, Target dan New Balance, menghadapi ancaman boikot karena salah seorang pejabatnya mendukung Trump. Sementara Patagonia, yang menjual pakaian dan perlengkapan untuk kegiatan mendaki gunung, olahraga salju dan lain-lain, menggunakan toko-tokonya untuk kampanye “Vote Our Planet,” upaya mengurangi dampak perubahan iklim bagi lingkungan.
Lain lagi dengan, Phil Boyle, pemilik jaringan toko buku komik Coliseum Of Comics di Florida. Dia marah dan muak dengan politisasi isi buku komik dan mengancam akan berhenti menjual buku komik itu jika mengadu partai politik dengan cerita kekerasan.
Yang lebih kasihan kasus Nordstrom. Toko serba ada kelas atas itu memutuskan untuk tidak lagi memesan produk mode Ivanka Trump karena penjualan selama ini lemah. Keputusan bisnis itu langsung dipolitisasi oleh presiden dengan cuitan ini.
Capeklah mengikutinya. Rasanya tidak sehat.
Mau cari hiburan dengan menonton ajang penghargaan musik dan film malah jadi miris karena diwarnai isu-isu politik yang bikin kesal.
Pada saat menerima penghargaan Cecil B DeMille Award Januari lalu penghargaan Golden Globe, Meryl Streep menjelma menjadi aktor politik, mengecam presiden terpilih AS Donald Trump.
Penyerahan Screen Actors’ Guild dan People’s Choice Awards setelah itu juga diisi pidato-pidato kecaman terhadap keppres yang melarang sementara migrasi dari 7 negara yang mayoritas Muslim.
Tidak heran kalau banyak orang Amerika deg-degan ketika menunggu Super Bowl ke-51, pertandingan sepak bola Amerika antara tim New England Patriots dan Atlanta Falcons. Takut kalau ajang pertandingan olah raga paling terkemuka, yang seharusnya tidak memandang perbedaan ideologi itu, dipolitisasi.
Walaupun Lady Gaga, pengisi acara hiburan paruh waktu yang biasanya spektakuler, tidak terjerat dalam isu politik yang kontroversial dan merangkul semua golongan, jutaan penonton sudah menyaksikan iklan-iklan yang dibuat khusus untuk Super Bowl yang bernada politis dan dianggap memecah belah.
Sekarang saya harus hati-hati kalau berkomentar atau berdebat politik karena suasana yang semakin panas membuat banyak orang dengan mudah mencap kita lawan atau kawan. Seolah-olah tidak ada lagi orang yang netral, yang tidak memihak atau tidak tahu mau memihak siapa.
Mungkin kita perlu ingat kata-kata mutiara: segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik.
Politik memiliki tempat, tetapi ketika berlebihan, ketika pemikiran kita dan banyak aspek kehidupan kita dicemari isu politik, maka masyarakat menjadi tidak sehat dan sejahtera.
Ironis kalau mengingat politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
Presiden Obama dan ibu negara Michele Obama sebenarnya sudah sejak sebulan lalu mulai menggelar berbagai kegiatan untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada rakyat Amerika, para stafnya dan tentu mengucapkan selamat tinggal Gedung Putih.
Tapi menurut saya yang paling berkesan adalah pidato perpisahan Pak Obama di hadapan ribuan pendukungnya di Chicago, terutama kata-katanya yang optimistis ini:
“So that’s what we mean when we say America is exceptional. Not that our nation has been flawless from the start, but that we have shown the capacity to change, and make life better for those who follow.”
Karena menurut saya, hanya orang yang bisa melihat dan mengakui kelemahan/kekurangannya yang dapat maju dan mencapai yang lebih baik dalam setiap aspek kehidupannya.
Sebagai seorang perempuan, saya ikut terharu ketika pak Obama mengambil sapu tangan dan mengusap matanya setelah menyebut betapa besar peran Michele Obama dalam karier dan kehidupannya. Bangga rasanya punya presiden yang rendah hati.
Presiden Barack Obama (R) di atas panggung didampingi ibu negara Michelle Obama dan putrinya Malia, Wakil Presiden Joe Biden dan istrinya Jill Biden, setelah pidato perpisahannya di Chicago, Illinois, 10 Januari, 2017.
Banyak orang Amerika tidak rela ditinggal presiden yang satu ini. Dengan approval rating yang tinggi, mencapai 60%, tidak heran kalau hampir 24 juta orang menonton siaran langsung pidato terakhir Pak Obama sebagai presiden yang berlangsung hampir 50 menit Selasa malam lalu.
Kepopuleran Obama juga terlihat dari banyaknya like dan sambutan terhadap pesan Tweeter-nya Selasa lalu.
Presiden Barack Obama memang merupakan panglima militer AS pertama yang gemar menggunakan media sosial, dan cuitan perpisahannya ini menumbangkan rekor retweet terbanyak sebelumnya terkait keputusan MA untuk membatalkan larangan pernikahan sesama jenis.
Katanya pidato perpisahan presiden ke-44 ini seperti sebuah mimpi.
Bagi pendukungnya yang cemas menghadapi Donald Trump, ini tentu awal mimpi buruk yang tidak mereka harapkan. Sementara bagi para penentang Obama tentu pidato ini menjadi akhir mimpi buruk mereka.
Berbeda dengan pendapat kaum Demokrat, pihak oposisi memandang pidato perpisahan Pak Obama sebagai fiksi belaka, terlalu muluk.
Mereka menuding Obama menyampaikan pidato itu seolah-olah sedang berkampanye lagi, seolah-olah tidak rela mundur.
Tidak heran, kata pihak oposisi itu, kalau substansi pidato perpisahan Obama hanya mengulang-ulang prestasinya, menyebut kembali tentang Kongres yang "disfungsional", menyindir bahwa pandangan yang berbeda tentang perubahan iklim tidak mencerminkan "jiwa" orang Amerika dan malah mengatakan demokrasi terancam karena tidak sesuai dengan perubahan yang diinginkannya.
Apakah benar pidato perpisahan Pak Obama hanya membanggakan diri sendiri dan tidak realistis?
Karena penasaran, saya kemudian membaca sejarah pidato perpisahan presiden AS.
Yang mengatakan hal di atas sepertinya membandingkan pidato Obama dengan pidato perpisahan kepresidenan yang pertama oleh George Washington yang menurut mereka seharusnya menjadi standar bagi presiden berikutnya.
Pidato itu diserahkan bukan disampaikan di gedung yang besar dan mewah, dalam arti pidato itu ditulis dan dipublikasikan kepada rakyat Amerika dengan cara sederhana.
Pesan berjudul “The Address of General Washington to the People of the United States on his declining the Presidency of the United States” yang ditulis George Washington pada tahun 1796 itu memang diakui sebagai pesan perpisahan presiden yang paling terkenal dalam sejarah Amerika.
Surat perpisahan itu dibuka dengan menjelaskan mengapa dia melepaskan kursi kepresidenan setelah dua masa jabatan, walaupun banyak tekanan agar dia mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.
Washington mengungkapkan beberapa prinsip yang dia yakini akan menjadi panduan bagi negara yang berkembang pada masa depan, termasuk persatuan, patriotisme, dan netralitas.
Bapak pendiri Amerika yang kemudian menjadi presiden ke-4, James Madison, menuliskan draf pesan perpisahan itu empat tahun sebelumnya, ketika Washington mempertimbangkan untuk lengser setelah masa jabatan pertamanya. Tapi kemudian Alexander Hamilton yang menuntaskan tulisan itu dengan perbaikan dari Washington sendiri untuk mengekspresikan ide-idenya.
Pujian terhadap pidato Washington ini jelas menghantui para penerusnya dalam hal menyampaikan pesan resmi kepada rakyat, sampai akhirnya presiden ke-7, Andrew Jackson, mengimbangi dengan rekor lain, pesan perpisahan terpanjang dalam sejarah Amerika.
Tentara dan negarawan yang dipandang sebagai pendiri Partai Demokrat ini menggunakan sekitar 8.247 kata dalam pesannya, yang antara lain mengingatkan rakyat akan bahaya kepentingan golongan dan pengaruh uang yang mengancam hak-hak kaum jelata.
Tetapi era radio dan televisi kemudian memungkinkan atau memudahkan presiden menyampaikan pidatonya langsung kepada rakyat.
Jadi apa salah Obama?
Oh... rupanya selama ini presiden AS menyampaikan pidato perpisahan hanya dari Oval Office di Gedung Putih. Obama, yang katanya mau mencalonkan diri kalau tidak dilarang oleh konstitusi, memilih cara lain, cara yang mendobrak tradisi. Presiden Obama membuka dan menutup masa kemenangannya di kota yang sama.
Menurut sejarah pidato perpisahan presiden AS, Harry Truman, presiden ke-33, menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan siaran langsung dari Oval Office. Pada tanggal 15 Januari 1953, Truman berbicara tentang beberapa keputusannya yang kontroversial semasa menjabat, khususnya keputusan untuk menjatuhkan bom atom di Jepang dan meminta rakyat agar membayangkan diri mereka di posisi presiden saat itu.
Setelah Perang Dunia Kedua, pidato perpisahan yang paling terkenal katanya disampaikan oleh Dwight D. Eisenhower, presiden ke-34, dari Oval Office pada 17 Januari 1961. Pesan paling penting dari jenderal bintang 5 ini adalah peringatan untuk melihat ke dalam negeri sendiri, kekhawatiran akan bangkitnya “military-industrial complex” yang dirancang untuk menandingi Soviet Union.
Hmmmm.....andai saja peran militer tidak seheboh sekarang... bagaimana ya keadaan dunia?
Sejak Eisenhower, sejarah Amerika Serikat belum mencatat ada lagi presiden yang memberi dampak besar dengan pidato perpisahannya.
Tapi tentu banyak yang merupakan momen yang patut dikenang.
Richard Nixon, yang mundur setelah skandal Watergate yang memalukan pada tahun 1974 tidak lupa menyampaikan pidato perpisahan. Bukan hanya sekali, bahkan dua kali. Pengumuman pengunduran dirinya pada tanggal 8 Agustus 1974, sering dianggap pesan perpisahannya kepada rakyat, tetapi ia juga memberikan sambutan perpisahan kepada staf Gedung Putih pada hari berikutnya, yang disiarkan secara nasional.
George W. Bush membuka pidato perpisahannya pada 15 Januari 2009 dengan menyebut pemilihan penggantinya, Barack Obama, “a moment of hope and pride for our whole nation.”
Dalam pembahasan PBS Newshour mengenai warisan Obama dan pidato perpisahan presiden, pakar sejarah Michael Beschloss, dan Annette Gordon-Reed dari Harvard University mengemukakan pidato perpisahan berkesan ketika memberi kita perasaan bahwa presiden itu berterus terang kepada kita dengan cara yang tidak bisa dilakukannya selama dia menjabat sebagai presiden. Jadi dia mengemukakan sesuatu yang belum pernah kita dengar sebelumnya dengan blak-blakan, sesuatu yang dipelajari dari jabatannya selama 4 atau 8 tahun terakhir.
Apakah pidato perpisahan presiden Obama akan menjadi warisan yang diperhitungkan dalam sejarah?
Jika saya menyebut LeBron James, Kevin Durant, Kobe Bryant, Shaquille O’Neal, Michael Jordan, Magic Johnson atau katakanlah Kareem Abdul Jabbar, banyak di antara Anda mungkin tahu bahwa mereka adalah nama-nama pemain basket terkemuka di Amerika. Tak seperti olahraga asli Amerika lainnya, yakni sepakbola Amerika yang dikenal dengan sebutan American football, permainan dan nama-nama pemain bola basket jauh lebih mendunia. Ya, sebelum tiba di Amerika, saya juga termasuk yang sudah cukup tahu beberapa nama tersebut dan klub terakhir mereka, meskipun saya bukan penonton fanatik permainan ini.
JUARA NBA - LeBron James dari Cleveland Cavaliers (tengah) bersama timnya merayakan kemenangan dalam final NBA melawan Golden State Warriors di Oakland, California, 19 Juni 2016. (AP/Marcio Jose Sanches)
Sama-sama ‘diciptakan’ pada abad ke-19, permainan basket muncul lebih belakang daripada American football, tepatnya pada Desember tahun 1891. Ketika itu, James Naismith, seorang guru pendidikan jasmani kelahiran Kanada, bertugas mengajar di YMCA Training School di Springfield, Massachusetts. Ia menginginkan ada olahraga yang cocok untuk dimainkan para siswa di dalam ruangan relatif kecil pada musim dingin yang biasanya lama dengan suhu membekukan di kawasan ini. Naismith ingin menciptakan permainan yang melibatkan keterampilan, bukan yang mengandalkan kekuatan semata.
Pada permainan pertamanya, Naismith memakukan keranjang wadah buah persik pada ketinggian 3 meter di dua sisi balkon yang berhadapan di ruang olahraga sekolah. Dua tim, yang ketika itu masing-masing beranggotakan 9 pemain, berupaya membenamkan bola ke dalam keranjang lawan untuk mencetak skor. Permainan dengan aturan-aturan yang disusun Naismith sendiri itu langsung populer. Pada 20 Januari 1892, kedua tim itu lagi-lagi berhadapan di Albany, New York. Inilah pertandingan resmi pertama permainan yang oleh Naismith kemudian disebut basket ball atau bola basket itu. Skor yang dicetak ketika itu? 1-0.
Perubahan dan perkembangan
Berkat aktivitas YMCA ke berbagai negara, permainan basket semakin mendunia sejak tahun 1893 dan mulai dipertandingkan dalam ajang Olimpiade di Berlin pada tahun 1936. Sebagian dari 13 aturan yang konon disusun Naishmith dalam satu jam saja itu masih terpakai hingga kini. Tak sedikit pula perubahan-perubahan yang dilakukan hingga permainan basket menjadi seperti yang sekarang ini.
Di antaranya, dalam hal jumlah pemain, jenis dan warna bola yang digunakan. Permainan ini tak lagi menggunakan bola sepak, dan warna bola bukan lagi coklat. Yang paling mencolok adalah tidak digunakannya lagi basket atau keranjang beralas. Sebelumnya, setiap kali bola masuk keranjang, perlu ada orang yang mengambilnya dengan tangga. Keranjang seperti itu diakhiri penggunaannya dan diganti dengan yang bentuknya seperti yang digunakan sekarang pada tahun 1906.
Sekarang ini bola basket termasuk salah satu olahraga yang paling populer di Amerika Serikat setelah American football dan baseball. Namun di kalangan remaja Amerika, bola basketlah olahraga favorit mereka. Tak seperti American football dan baseball, bola basket dapat dimainkan oleh lelaki maupun perempuan.
Alasan lain mengapa olahraga basket begitu populer adalah karena permainan ini tidak memerlukan biaya besar untuk memainkannya, baik peralatan - hanya perlu ring basket dan bola - maupun kostumnya. Kalau menyusuri kawasan perumahan di sini, bukan hal aneh jika kita menemukan ada satu dua rumah yang memiliki ring basket di halaman atau garasi mereka. Di gelanggang-gelanggang olahraga komunitas juga biasanya tersedia lapangan basket.
Klub basket di sekolah, mulai dari SD hingga perguruan tinggi, termasuk yang banyak peminatnya. Beberapa tahun lalu saya mengantar putri saya mengikuti try out untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga di SMA-nya. Ia tertarik mengikuti klub basket dan softball. Dan dari tahun ke tahun, mereka yang mengikuti try out untuk olahraga basket ternyata jauh lebih banyak dibandingkan olahraga lainnya.
Try out dilakukan untuk menentukan kelompok yang akan dimasukinya, apakah termasuk golongan yang terampil (varsity) atau pemula (junior varsity). Dan jalan menuju rekrutmen menjadi pemain profesional bisa dikatakan dimulai sejak tingkat SMA. Bintang-bintang basket seperti LeBron James dan Kobe Bryant termasuk di antara pemain varsity di SMA mereka masing-masing yang direkrut para pencari bakat dari klub-klub profesional. Ada pula yang lebih dulu ditawari beasiswa untuk bermain di klub universitas sebelum direkrut menjadi pemain profesional, seperti Kevin Durant dan Dwyane Wade.
Menjadi anggota NBA, National Basketball Association, memang dianggap sebagai karier tertinggi dalam olahraga bola basket profesional putra di Amerika, bahkan di dunia. Para pemain NBA adalah atlet-atlet dengan gaji tahunan tertinggi. Pada tahun ini, LeBron James tercatat sebagai pemain NBA dengan pendapatan tertinggi. Di tingkat dunia, pendapatannya diungguli hanya oleh pendapatan pemain sepakbola Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. James, pemain Cleveland Cavaliers yang dinobatkan sebagai atlet terbaik tahun ini oleh majalah olahraga bergengsi Sports Illustrated, menerima gaji 23 juta dolar. Ditambah dengan bayaran sebagai bintang iklan dan aktivitas lainnya, pendapatan totalnya mencapai 77,2 juta dolar. Sementara itu Kevin Durant dari Oklahoma City meraih total pendapatan 56,2 juta dolar dan bintang LA Lakers Kobe Bryant meraup 50 juta dolar.
March Madness
Lantas kapankah saat paling ditunggu-tunggu penggemar olahraga ini? Bagi para penggemar permainan profesional, pertandingan final tim-tim NBA berlangsung setiap bulan Juni. Namun pertandingan di kelompok perguruan tinggi tak kalah dinantinya, sampai-sampai dikenal apa yang disebut March Madness. Turnamen basket putra dan putri di tingkat nasional ini adalah salah satu acara olahraga terbesar di Amerika yang mendatangkan penonton dan pendapatan terbesar bagi penyelenggaranya, National Collegiate Athletic Association (NCAA). March Madness, yang sebagian besar berlangsung dalam bulan Maret dan finalnya berlangsung bulan berikutnya, diikuti oleh 68 tim sekarang ini dengan sistem gugur. Sejak tahun 2011, pertandingan dalam turnamen ini bahkan disiarkan hingga ke luar negeri.
Ada kegiatan yang menarik di luar arena basket. Ini disebut dengan bracketology, suatu proses memprediksi partisipan dalam Turnamen Bola Basket NCAA. Kita mengisi bagan dengan nama-nama tim yang bertanding, memprediksi tim yang kalah atau menang. Media massa dan banyak kalangan biasanya menyediakan bagan tersebut untuk diisi para pembacanya. Bagi para penggemar basket, ini semua ada ilmunya, bukan mengisi asal-asalan. Bracketologist andal dapat memprediksi dengan tepat tim apa saja yang bakal bertanding di pertandingan empat besar atau Final Four dan siapa yang nantinya tersingkir atau menang.
BRACKETOLOGY - Sebuah bar mengadakan tantangan mengisi bagan untuk memprediksi partisipan final March Madness. (AP/Brennan Linsley)
Kalau Anda berada di Amerika bulan Maret, Anda akan mendengar dan melihat sendiri serunya pembicaraan mengenai isian bagan ini, yang tak jarang menjadi ajang taruhan atau kompetisi berhadiah besar. Tahun 2014, misalnya, salah satu perusahaan pemberi KPR terbesar di Amerika, Quicken Loans, dan perusahaan Berkshire Hathaway milik investor Warren Buffet, bergabung menawarkan hadiah 1 miliar dolar bagi pengisi bagan yang memprediksi dengan tepat pemenang setiap pertandingan. Dan suka atau tidak, demam March Madness juga disebut sebagai penyebab berkurangnya produktivitas para pegawai. Inilah salah satu ‘kegilaan’ atau madness dalam bulan Maret di seputar turnamen final basket NCAA.
Kegiatan mengisi bagan ini juga sampai di Gedung Putih. Presiden Barack Obama, seorang penggemar fanatik olahraga bola basket, juga terkenal dengan prediksinya. Saluran TV khusus olahraga ESPN menyediakan segmen khusus yang disebut Barack-etology sejak Obama menjabat, di mana ia memprediksi calon-calon pemenangnya. Namun ia tak bisa dikatakan sebagai bracketologist andal. Prediksinya tahun lalu meleset, sampai-sampai Emilia, seorang anak berusia 11 tahun mengiriminya surat. Katanya, Obama memang hebat sebagai presiden, tapi dia bukan pengisi bagan yang baik.
O iya, seorang sahabat Sonora dalam acara America Now pekan ini bertanya, berapa sih harga tiket pertandingan basket? Tentu saja semua tergantung dari lokasi maupun tingkat pertandingannya. Seingat saya, anak saya membayar beberapa dolar saja sewaktu menonton pertandingan basket di sekolahnya. Tak seberapa dibandingkan dengan harga pada pertandingan Final Four tahun ini yang rata-ratanya sekitar 324 dolar, turun dari 547 dolar pada pertandingan serupa tahun lalu. Sebuah situs penjual tiket, StubHub, tahun ini menjual tiket yang harganya berkisar dari 34 dolar hingga 8.995 dolar. Namun tiket termahal, untuk kursi yang lebih dekat dengan lapangan, dibandrol dengan harga 10 ribu dolar oleh situs tersebut.
Diplomasi
Popularitas pemain basket Amerika juga mengingatkan saya pada mantan pemain Dallas Maverick Dennis Rodman yang menjalin hubungan baik dengan pemimpin rezim represif Korea Utara Kim Jong-un. Usai pertemuan pertama mereka di Pyongyang, Rodman menyebut pemimpin Korea Utara itu sebagai teman, dan menyarankan agar Presiden Obama menelpon Kim, karena kedua pemimpin itu adalah penggemar bola basket. Meskipun bukan bagian dari misi diplomasi basket pemerintah, kunjungan Rodman beberapa kali ke negara yang merupakan musuh politik Amerika itu secara tak langsung membuahkan pembebasan seorang warga Amerika, Kenneth Bae, yang dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa di Korea Utara.
Yang jelas, popularitas permainan basket di berbagai penjuru dunia memang dimanfaatkan pemerintah Amerika sebagai salah satu sarana diplomasinya. Setiap tahun, ada saja pemain NBA dikirim ke luar negeri untuk membantu membangun komunitas global yang lebih kuat.
Tidak lama setelah Amerika resmi memulihkan hubungan diplomatiknya dengan Kuba pada tahun lalu, misalnya, dua mantan bintang NBA, Steve Nash dan Dikembe Mutombo, membuka kamp pelatihan bagi para pebasket Kuba. Mengenai kegiatan itu, Mutombo dikutip menyatakan, “Olahraga bola basket merupakan jembatan yang dapat mempersatukan orang-orang dan budaya.” Mantan bintang NBA lainnya, Shaquille O’Neal, tampak membuka klinik basket bagi anak-anak dan pemuda setempat di Havana pertengahan tahun ini.
Selain menjadi duta resmi dari program yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri, para pemain juga terlibat dalam kerjasama dengan berbagai organisasi internasional seperti Dana Anak-Anak PBB (UNICEF), Palang Merah Internasional serta Koalisi Bisnis Global untuk Kesehatan dalam aktivitas mereka di negara-negara berkembang. Para atlet itu berperan membantu menyebarluaskan nilai-nilai utama yang mereka terapkan di lapangan basket, yakni kerjasama, integritas, inovasi dan respek atau rasa hormat.
Diplomasi basket ini terbukti menunjukkan hasil positif. Menurut jajak pendapat yang dilakukan Pew Research dua tahun silam, masyarakat di daerah-daerah yang dikunjungi para pemain, pelatih maupun pengurus klub-klub NBA dan WNBA pada umumnya memiliki persepsi yang baik terhadap Amerika.
Nah, sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin memompa semangat saya sendiri dengan mengutip kunci kesuksesan salah seorang pemain basket yang tenar sekali pada masa muda saya, Michael Jordan. Dengan segudang prestasi dan penghargaan yang diraihnya, tak pelak ia adalah salah seorang pebasket terhebat sepanjang masa. Berikut kata-kata mantan bintang Chicago Bulls yang sering dikutip, dibuat stiker atau poster:
"I've missed more than 9000 shots in my career. I've lost almost 300 games. 26 times, I've been trusted to take the game-winning shot and missed. I've failed over and over and over again in my life. And that is why I succeed."
“Lebih dari 9.000 lemparan sepanjang karier saya meleset. Saya kalah dalam hampir 300 pertandingan. Telah 26 kali saya dipercaya melakukan lemparan penentu kemenangan namun lemparan itu meleset. Saya pernah gagal, gagal dan gagal lagi dalam hidup. Dan itu sebabnya saya berhasil.”
Selamat ulang tahun ke-125 permainan bola basket!!
Berita bohong yang sensasional, yang diputarbalikkan, dipenggal-penggal ataupun dihubungkan satu sama lain tanpa bukti, telah membanjiri media sosial selama musim kampanye pemilu lalu sehingga menyesatkan banyak orang di Amerika.
Termasuk Edgar Maddison Welch yang mendatangi restoran piza Comet di Washington DC dengan membawa senapan serbu dan mengancam nyawa. Untungnya tidak ada yang cedera ketika pria berusia 28 tahun itu melepaskan tembakan yang membuat karyawan dan para pelanggan yang sedang makan di sana panik dan menelepon polisi yang segera tiba untuk mengamankannya.
Comet Ping Pong ternyata sudah berminggu-minggu menjadi pusat teori konspirasi #PizzaGate yang digaungkan oleh kelompok supremasi kulit putih dan sejumlah website berita palsu. Mereka menyebarkan berita tanpa didukung fakta bahwa Hillary Clinton dan manajer kampanyenya terlibat dalam jaringan prostitusi anak dengan menggunakan restoran piza itu sebagai kedok.
Salah satu website yang dicap pabrik berita bohong atau hoax (AP)
Gosip yang kemudian menjadi hastag atau tagar dan berkembang menjadi teori konspirasi itu akhirnya benar-benar menjadi berita setelah Welch datang jauh-jauh dari North Carolina untuk menyelamatkan anak-anak teraniaya yang dia yakini disembunyikan di terowongan-terowongan misterius di bawah restoran piza itu.
Insiden ini menunjukkan konsekuensi nyata sebuah berita bohong yang menyebar dengan sangat cepat di dunia maya.
Tampilan berita yang tidak masuk akal, aneh, tetapi dikemas seperti berita konvensional itu sering kali diterima begitu saja di dunia maya dan bahkan disebarkan oleh para pejabat tanpa mengecek keakuratannya sehingga bisa menciptakan reaksi berbahaya, atau mungkin pertumpahan darah.
Bayangkan! Seorang jenderal Amerika yang berpendidikan tinggi pun tak kebal berita bohong yang buntutnya memicu penembakan di restoran Comet Ping Pong itu.
Konsekuensi nyata yang mengerikan akibat berita palsu untuk menjatuhkan pihak lawan di Amerika malah sudah pernah merenggut nyawa.
Setahun lalu, sebuah rekaman video rahasia yang telah diedit oleh sekelompok orang untuk menunjukkan dokter-dokter organisasi nirlaba Planned Parenthood memperjualbelikan jaringan embrio telah memicu Robert Dear menyerbu klinik mereka di Colorado.
Dia meneriakkan kata “no more baby parts” setelah membunuh 3 orang dan melukai 9 lainnya dengan tembakan membabi buta.
Rekaman gambar yang sudah diedit habis-habisan itu ternyata digunakan untuk memperkuat kesaksian anggota Kongres AS yang ingin menghapus dana pemerintah untuk penyedia layanan kesehatan reproduktif itu karena dituduh memfasilitasi aborsi.
Mengapa berita bohong di internet sulit dibasmi?
Sebelum era internet, kita lebih mudah mencurigai berita bohong karena biasanya diterbitkan oleh koran kuning atau majalah gosip.
Tapi kita mungkin tidak tahu berita bohong atau hoax jika kita melihatnya di Google atau Facebook. Google mencantumkan cerita paling populer dengan jelas di Google News. Cerita-cerita bohong itu muncul tanpa ada yang memeriksa di Facebook, di mana cerita itu menuai banyak ‘like’, disebarkan dan dibaca.
Ini menjadi masalah karena Facebook dan Google sekarang merupakan dua situs terbesar dan paling populer di internet. Mereka juga rakus akan iklan digital yang menghasilkan dolar. Mereka menarik miliaran pengunjung per hari. Jadi jika Facebook dan Google memiliki masalah berita palsu, ada argumen yang mengatakan internet itu sendiri memiliki masalah berita palsu yang meracuni masyarakat.
Keprihatinan akan berita palsu ini mencapai puncaknya sejak 8 November, ketika Donald Trump, calon Partai Republik, memenangkan kursi kepresidenan AS dalam kemenangan yang mengejutkan. Sebagai buntut dari pemilihan itu, lawan Trump menuduh bahwa berita palsu yang beredar di Facebook dan situs lainlah yang membantunya menang.
Tuduhan ini langsung dibantah Mark Zuckerberg, CEO Facebook, yang mengaku telah menerbitkan pedoman untuk hal-hal yang ingin dilihat atau tidak dilihat di Facebook. Ini saja tidak cukup, kata para pakar media yang merasa frustrasi dengan sulitnya memahami algoritma yang digunakan kedua raksasa internet itu untuk mempromosikan dan membagi cerita.
Google sendiri sudah mengakui bahwa mereka membuat kesalahan dengan membiarkan cerita bohong bertengger di jajaran Google News dan kabarnya akan berusaha memperbaiki algoritmanya.
Kesulitan untuk memverifikasi atau menunjukkan pembuktian berita yang tak masuk akal juga membuat penyebarannya tidak terhambat, seperti pernyataan terkait serangan terhadap Comet Ping Pong.
Verifikasi, yang merupakan persyaratan minimum yang mutlak untuk mempublikasi berita, tidak hanya dicampakkan tapi dikutuk oleh situs berita palsu. Jurnalis yang terlatih untuk mencari dan mempromosikan kebenaran yang diverifikasi untuk pembacanya sekarang malah dituntut untuk membuktikan firasat para pembaca. Dan ketika jurnalis gagal, mereka tanpa sadar memberikan kredibilitas kepada konspirasi yang berusaha mereka runtuhkan.
Masalah lain adalah sejarah berita palsu di Amerika sendiri.
Benih berita palsu, kata NPR, sudah ditanam sejak dahulu kala oleh kaum konservatif yang terperanjat mendapati bintang realitas televisi berhasil menguasai partai mereka.
Selama bertahun-tahun, Partai Republik telah menanamkan rasa tidak percaya kepada media, mengejek statistik dan ilmu pengetahuan, dan umumnya memperlakukan informasi yang diverifikasi sebagai bias.
Ada juga situs berita palsu yang khusus dibuat untuk pemirsa/pembaca sayap kiri atau liberal, tapi menurut beberapa pencipta berita palsu, kaum konservatif jauh lebih rentan terhadap berita palsu, umumnya karena mereka lebih banyak yang tidak percaya pada berita yang sebenarnya.
Pada era informasi digital ini, berita-berita bohong atau hoax diciptakan bukan hanya untuk menjatuhkan lawan politik atau orang yang dibenci tetapi untuk mencari uang, dengan kata lain menarik minat pembaca/pembeli/pelanggan untuk suatu produk tertentu.
Pembuat berita palsu atau pabrik hoax di internet ini tidak peduli dengan etika jurnalistik dan ketenteraman masyarakat karena tujuannya hanya untuk mendapatkan ‘klik’ sebanyak mungkin di website mereka.
Harian Wall Street Journal kemarin menurunkan laporan yang menyebut merek-merek terkenal serang kali, secara tidak sengaja, ikut mendanai situs-situs yang membuat berita bohong di internet.
Iklan dari perusahaan seperti Hotels Choice, SoundCloud dan Bose Corp muncul di situs dengan berita palsu atau menyesatkan. Perusahaan-perusahaan itu termasuk di antara ribuan merek yang bisa muncul di situs tersebut berdasarkan riwayat browsing pengguna atau demografi.
Eksekutif industri itu mengatakan beberapa situs berita palsu bisa menghasilkan pendapatan bulanan puluhan ribu dolar dari iklan online.
Kalau urusan uang, siapa yang ingin mundur atau menghentikan aktivitas yang menghasilkan uang.
Bagaimana kalau pemerintah membuat aturan keras dan denda besar terhadap berita bohong, seperti yang baru-baru ini diterapkan Tiongkok?
Mantan calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton hari Kamis dalam acara perpisahan dengan Pemimpin Minoritas Senat Harry Reid kembali mengingatkan tentang bahaya berita bohong atau hoax, seperti insiden "Pizzagate" di Washington, D.C. dan harus ditangani dengan cepat. Menurut Clinton, undang-undang yang didukung kedua partai sedang dibahas di Kongres untuk meningkatkan respons pemerintah terhadap propaganda asing, dan dunia internet yang sudah menghadapi ancaman gelombang berita palsu.
Belum jelas bagaimana bentuknya, tetapi kebanyakan orang Amerika tidak menginginkan sensor ketat pemerintah. Umumnya orang berpendapat kebijakan yang mengendalikan media sosial akan melanggar hak asasi manusia, khususnya kebebasan berekspresi.
Para pendukung amandemen pertama konstitusi Amerika telah mengkritik negara-negara yang menutup internet mereka selama pemilu karena kontrol media hanya akan menyusutkan ruang politik seperti di Rusia dan Turki. Pemerintah di sana menutup LSM, menindas warga jurnalis, dan berusaha menguasai Twitter dan Facebook.
Mungkin akan lebih baik kalau warga sendiri yang belajar mencerna berita untuk mengetahui mana yang palsu mana yang sah, mencari informasi tentang situs-situs mana saja yang diketahui sebagai pabrik hoax atau mau meluangkan waktu untuk memeriksa sebelum mengklik “share.”
Tapi bagaimana kalau dia tahu bahwa berita itu bohong tapi tidak peduli?
Perlukah Studi Perbandingan Agama Diajarkan di Sekolah Negeri Amerika?
Pertanyaan ini kembali mencuat dan ramai dibahas para pelaku pendidikan setelah salah satu kandidat presiden Amerika melontarkan sentimen anti Muslim dan mendapat banyak dukungan dalam kampanye pilpres 2016 ini.
Walaupun sebagai bangsa yang memiliki agama sangat beragam, pengetahuan orang Amerika tentang agama-agama yang ada di dunia cukup memprihatinkan. Mereka sepertinya masa bodoh soal agama-agama lain.
Banyak orang Amerika selama ini melihat agama sebagai hal yang tabu dan tidak boleh dibahas di sekolah negeri Amerika, mulai dari sekolah dasar sampai sekolah menegah atas.
Guru-guru mengaku banyak murid SMP dan SMA bahkan tidak tahu agama Katholik adalah agama Kristen juga, bahwa Dalai Lama adalah seorang Buddha, bahwa Sabat adalah tradisi Yahudi dan bahwa Al-Quran adalah kitab suci Islam.
Menurut survei tahun 2010 oleh Pew Research Center, lebih dari setengah dari peserta berpikir bahwa guru dilarang menawarkan kelas yang membandingkan agama-agama dunia, sementara hanya 36 persen yang benar, bahwa UU membolehkan pelajaran tersebut.
Memang benar keputusan Mahkamah Agung Amerika pada tahun 1963 melarang guru sekolah negeri mengajak murid berdoa di kelas. Tapi orang Amerika cenderung mengabaikan keputusan selengkapnya, yaitu bagian yang menekankan bahwa guru diberi izin untuk mengajarkan ilmu pengetahuan tentang agama secara akademis.
Yang penting diingat di sini adalah ilmu pengetahuan menyeluruh tentang agama-agama di dunia, bukan mempelajari agama tertentu untuk membentuk dan memperkuat keyakinan.
Selama lebih dari satu dekade, sebagian besar negara bagian di Amerika telah mengharuskan ilmu perbandingan agama dunia diajarkan sebagai bagian dari ilmu sosial, sejarah dunia dan geografi. Namun, tidak banyak sekolah yang menawarkannya dan kalau pun ada, pelajaran itu hanya pilihan saja.
Para guru dan pihak sekolah yang bertanggungjawab atas kurikulum sekolah (catatan: di Amerika tidak ada kurikulum nasional) tampaknya kagok dalam menghadapi orang tua yang tidak ingin anaknya mengenal agama lain, seperti yang terjadi di negara bagian Tennessee, di mana seorang ibu bersikeras bahwa hak beragama mereka dilanggar karena putrinya diharuskan belajar tentang sejarah dan informasi obyektif tentang Islam sebagai bagian dari studi sosial yang wajib diambilnya.
Dewan sekolah menekankan bahwa ilmu sosial standar di Tennessee mewajibkan murid mempelajari sejarah dan fakta tentang agama Kristen, Budha, Hindu dan Yahudi untuk kelas 6 dan agama Islam untuk kelas 7. Ketika putrinya kelas 6, si ibu itu tidak pernah mengajukan keberatan, dia hanya bermasalah dengan pelajaran tentang Islam.
Insiden menyedihkan ini adalah salah satu contoh dari berbagai cara orang memutarbalikkan definisi kebebasan beragama menjadi sesuatu yang merugikan orang lain, ketidakperdulian pada keyakinan orang lain.
Sekolah-sekolah di Amerika sepertinya perlu meningkatkan kesadaran orang tua tentang perbedaan antara pelajaran agama dan pelajaran tentang agama-agama secara keseluruhan atau studi perbandingan agama yang berimbang porsinya.
Orang tua juga perlu mengetahui bahwa guru-guru yang terlibat dalam pelajaran sejarah agama-agama harus melalui pelatihan intensif tentang First Amendment, yaitu amandemen yang melindungi kebebasan beragama, kebebasan berbicara, kebebasan pers, kebebasan untuk berkumpul dengan damai dan kebebasan untuk membuat sebuah petisi untuk mengkritik pemerintah.
Ilmu perbandingan agama di sekolah, dari usia muda, sangat penting dalam mendorong toleransi beragama, menurut Linda Wortheimer, mantan guru dan penulis buku “Faith Ed.: Teaching About Religion In An Age Of Intolerance.” (AP Photo/Thomas Kienzle)
Berbagai survei yang mengindikasikan bahwa mengejek atau mem-bully karena perbedaan agama sudah dimulai sejak TK tentu bisa menjadi pemicu untuk mulai mengajarkan perbedaan agama sedini mungkin. Paling tidak mereka memahami bahwa di dunia ini ada beragam agama.
Saya mendengar anak TK beragama Sikh diganggu karena ikat kepalanya, atau anak Muslim yang diteriaki “kamu teroris!” di sekolah dasarnya dan anak Yahudi yang mengeluh karena teman-teman di sekolah menengahnya melemparkan uang receh sebagai ejekan terkait stereotip Yahudi dan uang. Siswa lain mengatakan temen-teman SMA-nya bertanya apakah keluarganya dari sekte karena mereka Jehovah’s Witnes.
Dalam sebuah studi tahun 2005 yang dilakukan untuk Bible Literacy Project, hanya 10 persen remaja Amerika bisa menyebut lima agama besar di dunia.
Ini bukan pertanda baik. Melek agama diperlukan untuk kesehatan masyarakat yang majemuk dan demokratis. Agama bukan fenomena yang terlepas dari sejarah, malah sebaliknya, agama merupakan bagian integral dari sejarah dan budaya manusia.
Tanpa secuil pemahaman tentang tradisi keagamaan dunia yang beragam, siswa akan mengalami kesulitan memahami sastra, sejarah, seni, atau lanskap politik saat ini.
Buta akan keragaman agama tidak hanya menghalangi siswa dalam hal kekayaan budaya yang sudah menjadi hak mereka sebagai manusia, tapi juga membuat mereka menjadi para pemilih yang kurang informasi dan menjadi mahasiswa yang kurang siap untuk bersaing di pasar global.
Di Amerika Serikat sendiri persentase pemeluk agama sudah berubah. Penduduk Kristen turun dari 80 ke 71 persen antara tahun 2007 dan 2014, sementara persentase penduduk dari agama lain dan yang tidak beragama meningkat, kata sebuah studi demografi Pew yang dirilis tahun ini.
Persentase Muslim, dan Hindu meningkat paling besar. Anak-anak harus belajar tentang keragaman agama di dalam negara mereka sendiri.
Banyak pihak mengakui bahwa tantangan terbesar adalah menyakinkan masyarakat bahwa pelajaran tentang keragaman agama sangat penting mengingat situasi sehari-hari yang dihadapi siswa sekarang ini, di mana isu agama menjadi sumber kontroversi dan kebencian.
Jika ingin anak-anak kita mengenal dunia sepenuhnya, mereka perlu memiliki pengetahuan dasar tentang tradisi keagamaan yang berbeda, sebagai modal untuk mengembangkan toleransi beragama.