Februari yang Ungu
Februari yang ungu berderai
pelan sepanjang malam,
menyirami daun-daun
kalender yang mulai kering.
Aku melangkah ke dinding,
membetulkan penanggalan yang tampak miring.
“Jangan gemetar, aku baik-baik saja, tua cuma perasaan,”kata kalenderku yang pendiam.
Kuhitung berapa tanggal yang telah tanggal,
berapa pula tinggal tangkai.
Sambil menggigil kalenderku berpesan,
“jangan kau dipermainkan angka. Tua cuma pikiran.”
Kalenderku suka tertawa
membaca catatan yang kutulis dengan tinta merah jingga:
ah, bulan terlambat datang,
ah, bulan datang terlambat
oh, datang bulan terlambat
Februari yang ungu kuncup
mekar sepanjang malam
pada tangkai-tangkai kalender yang mulai gersang.
Joko Pinurbo, 2004










