Tentang yang Hilang dan Tak Kembali
Seperti biasanya, setelah selesai nyekar di pusaranya Nita, tante selalu mengajak kami untuk makan siang bersama. Tempatnya pun selalu sama sebagaimana yang selama 8 tahun ini kami lakukan.
Nita pergi sebelas tahun yang lalu, tepat di hari ulang tahunnya: tanggal ini—12 Juni. Empat tahun setelahnya, dengan dibantu dan diyakinkan bahwa kepergian Nita sepenuhnya bukan karenaku, aku baru berani mengunjunginya di pusaranya.
Tapi itu cerita lama. Sudah delapan tahun sejak hal itu aku alami. Kendatipun demikian, ada hal-hal yang tak berubah setiap kali aku, tante, om, dan Epha, berkunjung ke pusara Nita.
Selama tujuh tahun terakhir, sepulang dari pusara Nita, tante selalu bercerita tentang bagaimana rindunya beliau kepada anak perempuan pertamanya itu. Cerita yang kemudian akan berlanjut dengan bayang-bayang bagaimana rupa Nita sekarang: adakah ia semakin tinggi atau adakah ia tetap mempertahankan rambut panjang miliknya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, tante akan terus melanjutkan ceritanya sampai menu makan siang dihidangkan. Setelah makan siang, cerita tante tentang yang hilang dan tak kembali akan berganti menjadi hal yang datang dan tak terganti.
Mula-mula tangannya akan menggenggam erat tangan om yang duduk di sampingnya. Kadang, jika mendapat tempat duduk dengan meja yang memungkinkan, tante akan mengusap sayang kepala Epha, lalu memberikan pelukan kepadaku.
Hari ini, di delapan tahun setelah kali pertama aku mengunjungi pusara Nita, alih-alih bercerita hal yang sama, tante lebih banyak diam ketika kami berada di rumah makan yang sering kami kunjungi.
Merasa ganjil, aku memberanikan diriku untuk bertanya kenapa atau ada apa. Pertanyaan yang kemudian dijawabnya dengan sebuah pertanyaan lagi kepadaku.
Hari ini kami hanya bertiga ketiga mengunjungi pusara Nita tersebab Epha yang kini menerima beasiswa di Selandia Baru. Biasanya, jika ada hal-hal yang tak bisa aku jawab dengan cepat seperti pertanyaan tante itu, aku akan menjadikan Epha sebagai kambing hitam untuk mengalihkan arah pembicaraan.
Pertanyaan yang diberikan tante sebenarnya cukup sederhana secara kata, tapi entah kenapa untuk bisa mendapatkan jawabannya, aku perlu diam cukup lama.
Kapan kamu benar-benar merasa bahagia akhir-akhir ini?
Bagi tante, akhir-akhir ini—setelah didiagnosis dengan anxiety disorder which can lead to high functional depression—aku terlihat lebih suka murung jika sedang sendirian. Itu yang menjadi alasan tante untuk kemudian memberikan pertanyaan itu.
Tentunya aku bisa memberikan banyak jawaban atas pertanyaan yang tersebut. Namun, sejak pertanyaan itu diberikan oleh tante, aku rasa jawabannya tak akan pernah sederhana. Itulah mengapa aku hanya bisa diam untuk beberapa lama.
Susah rasanya bagiku untuk benar-benar merasa bahagia setelah semua yang hilang dan tak kembali. Walaupun, di dalam bukuku #TentangTemanSeperjalanan aku coba mendefinisikan ulang bahwa bahagia itu adalah sebuah pilihan, tetap saja jika ditanya kapan aku benar-benar bahagia, aku tak tahu jawabannya.
Bahkan, semakin ke sini aku semakin sangsi seperti apa bahagia itu.
Setelah Nita pergi dan tak kembali, memang kemudian banyak hal yang datang dan silih berganti. Namun, hal-hal itu—hal yang aku kira akan membuatku bahagia—malah menjelma sebagai hal lain yang pergi, hilang, dan tak kembali.
Saya tidak tahu, Tante. Kapan saya benar-benar merasa bahagia setelah semua yang hilang dan tak kembali. Saya bahkan sangsi apa saya bisa benar-benar merasa bahagia tanpa perlu repot memikirkan hal-hal yang tidak membuat saya bahagia. Atau mungkin begitu, Tante. Cara saya untuk bahagia adalah dengan memikirkan bahwa saya tidak bahagia.
Kamu tahu bahwa bahagia itu bukan kerja otak, kan? Tante kenal kamu. Dan bagi tante kamu itu anak laki-lakinya tante. Oleh sebab itu tante tahu bahwa bahwa apa pun akan selalu menjadi beban di pikirmu. Termasuk bahagia. Bahagia itu bukan satu hal yang harus kamu pikirkan kapan atau bagaimananya. Bahagia itu kerja hati, itulah kenapa tante bertanya kapan kamu benar-benar merasa bahagia.
Aku kembali terdiam setelah mendengar hal itu.
Tante tahu pasti kamu masih merasa bersalah oleh karena banyak hal yang hilang dari dirimu. Tapi bukan hanya kamu saja yang merasa kehilangan. Bukan hanya kamu yang kehilangan. Tante tak ingin kamu terus-terusan menghukum dirimu seolah kamulah yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Nita—atas apa yang hilang darimu. Tante mau kamu juga bisa bahagia, sebagaimana yang tante, om, Epha coba lakukan.
Aku hanya bisa menunduk lesu, menahan semua yang ingin jatuh dari mataku.
Nita juga pasti ingin kamu bahagia dengan apa pun meski sudah banyak yang hilang dan tak kembali.
Aku mendongak. Perlahan mencoba menaruh senyum, lalu memberikan sebuah pelukan kepada tante dan om...













