seen from Denmark
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from China

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from China
seen from Malaysia
seen from United States
Pluktuin Stoutenburg
Proyek Hidup Belajar Berenang
LUBABUN NI’AM
“Kamu bisa berenang, Am?” tanya Mas Darmanto. Kami duduk-duduk di tepi Sungai Rijn di Wageningen, Belanda, menyaksikan Gerei, anaknya, dari kejauhan sedang bermain-main pasir. Kalau saja ada pakaian ekstra, dan air sungai terasa lebih hangat, dia berkata bahwa Gerei mungkin sudah diajaknya masuk ke badan sungai untuk belajar berenang. “Aku selalu mengusahakan untuk mengajak Gerei ke luar (rumah). Dengan berada di sini, misalnya, dia dapat berinteraksi langsung dengan alam, entah dengan bermain-main pasir pantai atau kecipak-kecipuk di permukaan sungai. Biar dia luwes ketika berada di (alam) luar,” katanya.
Sayang, saat itu kami memang tak merencanakan pelesir ke Sungai Rijn. Bersama Mitha, teman lama yang saat ini sedang kuliah S-2, awalnya kami hendak pergi ke Pluktuin Sayuran, kebun sayur dan buah yang dikelola secara agroekologis oleh salah satu kawan. Setiap Rabu dan Sabtu, kawan kami membuka lapak di depan kebun untuk menjual bibit-bibit tanaman (strawberry, timus, dan lain-lain) serta jus dan selai hasil olahan buah-buahan dari kebun.
Sesampai di sana, ternyata kami tak diperbolehkan masuk ke areal kebun. Kami hanya mengunjungi meja lapak yang berada di tepi jalan. Untuk menghindari penumpukan orang di dalam kebun, yang mungkin sekali sulit untuk dikendalikan, kawan kami memutuskan untuk menutup sementara akses masuk pengunjung. Dalam keadaan normal, pengunjung boleh masuk dengan leluasa untuk memilih sendiri sayuran atau memetik buah dengan sesuka hati. Walhasil, kami pun tak berada lama di sana. Apalagi, ada rombongan lain yang mengantri di parkiran sepeda. Mereka tak mungkin mendekat agar tetap menjaga jarak, kami pun tak mungkin berlama-lama di dekat lapak. Setelah membeli sejumlah bibit dan selai, kami melanjutkan perjalanan untuk mengisi sisa Sabtu (4/11) yang masih panjang.
***
Saya menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja di lingkungan pesisir, tepatnya di Desa Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Meski rumah orangtua saya tak langsung menghadap samudra, saya kira hanya membutuhkan kurang dari lima belas menit berjalan kaki untuk sampai di pantai terdekat. Tetapi, kedekatan dengan laut itu tak sanggup membangkitkan pesona saya akan pantai. Dalam benak saya yang terpatri sejak lama, pantai adalah luka di telapak kaki karena menginjak karang, yang meninggalkan rasa perih sangat menyebalkan.
Di Jenu, anak-anak belajar berenang di sungai atau sendang (bukan kolam renang), seperti umumnya anak-anak desa. Di desa tetangga, terdapat sebuah sungai yang membawa airnya langsung mengalir ke Laut Jawa. Saya bukan sama sekali tak pernah pergi ke sungai dan menceburkan diri ke badan sungai sebagaimana anak-anak lain sebaya saya. Hanya saja, ketika memasuki masa-masa kelayapan ke sungai, periode itu berdekatan dengan kasus seorang anak yang nahas, hanyut saat bermain-main di sungai dan ditemukan meninggal beberapa jam setelahnya. Karena itu, meski sungai tersebut terletak sepelemparan batu dari lokasi keluyuran untuk bermain layang-layang, bahkan saya selalu melaluinya ketika pergi dan pulang Jumatan, saya tetap gagal untuk belajar berenang di sana. Ketika saya kelelep dan megap-megap setiap kali mencoba untuk berenang (tanpa bimbingan), saya diliputi ketakutan akan menjadi anak berikutnya yang meninggal dan dibawa arus sungai. Pada satu titik, saya pun berhenti masuk ke sungai. Tidak ada lagi pengalaman berenang.
Upaya untuk belajar berenang bangkit kembali ketika saya kuliah S-1 di Jogja. Saya sempat pergi berenang ke kolam renang milik Universitas Negeri Yogyakarta, tapi tak berlangsung lama. Ketika saya bekerja di Pakem, saya juga sempat beberapa kali berenang, tapi juga tak berkelanjutan. Sesekali saya mencoba berenang di sejumlah kolam renang hotel setiap kali saya mengunjungi (mantan) pacar saya yang sedang dinas kerja. Bahkan, dia membelikan saya kacamata renang ketika kami pelesir ke Bogor. Pikir saya, dengan kacamata renang itu, setidaknya ada keterampilan yang bisa menjadi proyek hidup saya bersama dia. Dia mahir dan suka berenang, mungkin satu-satunya olahraga yang dengan senang hati dia lakukan, selain tenis. Proyek itu gagal di tengah jalan seperti halnya berbagai proyek pembangunan.
Saya turut membawa kacamata renang tersebut ketika terbang ke Belanda untuk kuliah kajian pembangunan. Saya tidak lagi merancang proyek belajar berenang dengan durasi sepanjang hayat di kandung badan. Seperti proyek-proyek pembangunan yang dikerjakan oleh LSM, selanjutnya saya beralih pada proyek belajar berenang yang sifatnya musiman.
Kali ini saya belajar bersama Bent, tetangga kamar di tempat tinggal sebelumnya. Dia tahu bagaimana cara mengajari saya. Dia berangkat dari apa yang sudah saya bisa. Saya cukup termotivasi ketika belajar berenang bersama dia. Kami mesti mendengarkan dengan baik ketika seorang nenek berbicara dalam bahasa Belanda tentang bagaimana teknik mengajari dan belajar berenang. Oleh orang yang lain, saya juga sempat diberi saran untuk mengikuti kelas berenang untuk dewasa, yang tak akan membuat berenang menjadi menyenangkan.
Saya pikir-pikir, pengalaman bersama Bent merupakan momen dengan tingkat kemajuan paling impresif dalam kisah hidup saya untuk belajar berenang. Sayang, sebelum saya mahir berenang, kolam renang yang paling dekat dengan kampus itu ditutup karena libur musim panas. Ketika saya hendak kembali ke Belanda lagi Februari silam, saya memastikan kepada Bent bahwa kami tak hanya akan berjumpa kembali, tapi juga harus melanjutkan pelajaran berenang yang belum kelar. Sial, tidak ada kolam renang (atau fasilitas-fasilitas olahraga yang lain) yang diperbolehkan untuk buka karena masih dilarang oleh Pemerintah Belanda.
***
Korona jelas membuat rencana Mas Darmanto, Gerei, Mitha, dan saya untuk menikmati akhir pekan di kebun, Sabtu (4/11), tak terlaksana. Tetapi, korona membuat apa yang belum sempat saya lakukan sebelumnya menjadi nyata, yang kemudian membuat saya bahagia.
Kami beranjak dari kebun, melanjutkan perjalanan. Setelah sempat memberhentikan Gerei di sebuah taman, kami meluncur ke Sungai Rijn. Selama kuliah, saya belum sempat pergi ke sungai ini, coba! Di sejumlah areal pantai dan lokasi yang hangat di sepanjang sungai, saya menyaksikan orang-orang—tentu saja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah tiga orang atau kurang—memanfaatkan siang sampai sore hari dengan menjemur badan. Para pemuda lain membelah sungai dengan perahu motor yang melaju kencang dan dentuman musik yang menggelegar ke mana-mana. Bagi mereka, dengan tetap waspada pada korona, akhir pekan yang hangat terlalu sayang untuk dihabiskan dengan mendekam di kamar saja.
Akhir pekan ini, saya berencana pergi lagi ke Sungai Rijn (mungkin ke hutan kecil di sekitar sana juga). Tapi, saya tak yakin akan berenang di sana. Saya masih menyimpan keterampilan berenang sebagai proyek hidup saya, entah dengan siapa nanti saya akan menuntaskannya.
Wageningen, 17 April 2020
Lokaal nieuws: 'Kom zondag tulpen plukken in de Pluktuin aan de Robbenoordweg'
De Pluktuin die er niet is (maar er toch een beetje wél is)
Pieters Daglicht over Denkdingen Lieve mensen, Er zijn van die plekken waar de wereld even klopt. Waar de bijen zoemen zonder werkdruk, waar kinderen zonder schermpje weten wat een aardbei is, en waar een mens – met of zonder tuinhandschoen – weer even contact maakt met iets wat we gemakshalve “de natuur” noemen, maar eigenlijk gewoon “de rest van het leven” is. Zo’n plek heet…
In samenwerking met de BIZ Haarlem en Haarlem Marketing is door LOCO Concepts het concept 'Bloemenstad Haarlem' wederom geïnitieerd. Dit jaar zijn de tulpen te bewonderen bij de ondernemers in de winkel, de Bloemenmarkt en de Tulpenpluktuin op de Grote Markt. Haarlem was een echte bloemenstad. Halverwege de 17e eeuw vormde Haarlem het centrum van de bloembollenteelt. Ook nu staat de stad met o.a. de Bloemenmarkt en de Tulpenpluktuin op de Grote Markt in bloei. Net als de etalages in het centrum, want alle 1.100 ondernemers in het centrum hebben een collectorsitem gekregen, namelijk het Haar(l)emmertje gevuld met tulpen mét bol. Een emmer met hierop het wapen van Haarlem, Frans Hals en andere herkenbare illustraties. “In deze activiteiten komen belangrijke elementen bij elkaar,” zo vertelt Hildo Makkes van der Deijl, voorzitter van de Bedrijveninvesteringszone (BIZ) Binnenstad Haarlem. "De lente staat voor de deur en we gaan weer lekker naar buiten, Haarlem is historisch gezien een bloemenstad én we zijn natuurlijk een aantrekkelijke en veelzijdige winkelstad. Bij deze acties komt dat allemaal samen. Zo houden we de binnenstad levendig en creëren we een extra aanleiding voor bewoners en bezoekers om naar het centrum van Haarlem te komen.” Zie https://www.visithaarlem.com/bloemenmarkt-en-tulpenpluktuin/ voor meer informatie. “Door de samenwerking tussen BIZ Binnenstad Haarlem en Haarlem Marketing wordt de stad lokaal, regionaal en (inter)nationaal op de kaart gezet als aantrekkelijke bestemming. Met initiatieven zoals Bloemenstad Haarlem dragen zij bij aan een levendige binnenstad. Ook zet Haarlem Marketing zich met de 'Vier de lente' campagne in voor winkels, horeca en musea om het beste uit de stad te halen," zegt Anne-Marije Hogenboom, directeur van Haarlem Marketing. Zie https://www.visithaarlem.com/lente om te zien wat Haarlem en omgeving te bieden heeft dit seizoen. LOCO Concepts, bedenker van creatieve conceptontwikkeling, werkt samen met Van der Slot Tulips samen, die uit de regio komt én zich actief inzet voor het duurzamer maken van de tulpenteelt. De tulpen, gebruikt in deze activatie, komen bewust aan een bol; na het drogen van de bol kan deze hergebruikt worden in je tuin. Hoe, is te lezen op de pagina van Haarlem Marketing: https://www.visithaarlem.com/bloemenmarkt-en-tulpenpluktuin/.
Pluktuin | Bloomboost.nl
Ontdek het plezier van tuinieren met Bloomboost.nl! Een pluktuin biedt een grote verscheidenheid aan planten, bloemen en struiken om van uw buitenruimte een bijzondere plek van schoonheid en rust te maken.
Set van 3 pluggen met balkon/terras bloemen
€ 9.95 incl. BTW
Of koop nu met extra korting:
2 sets, €16.95
3 sets, €23.95
4 sets, €30.95
Bestellingen boven de €75,- bezorgen wij free.
Uitverkocht
-Voor in de volle grond. Of in een grotere pot van minimaal 10 liter.
-Advies is 6 planten per vierkante meter. Of één per grote pot van ongeveer 10 liter.
-Hoogte in de tuin of boven de pot child 40 cm
-Bloemen van vroege zomer child late herfst.
-Na het knippen van de uitgebloeide bloemen verschijnen er weer nieuwe bloemen.
- De planten worden gekweekt met organische meststoffen en biologische gewasbeschermingsmiddelen.
Eigenlijk zou je bijna alle bloemen wel romantische bloemen kunnen noemen. In deze pluggen zit een selectie van child wel 31 compacte bloemsoorten in alle kleuren. Dit mengsel wordt in de line ongeveer 40 cm hoog en is daarom bij uitstek een blend pass on geschikt is voor de iets kleinere tuin, of aan de lage kant van de line.
Vanwege de hoogte van dit mengsel is hij ook uitermate geschikt voor operation je balkon.
Pot sew over in een grote pot met minimaal 10 liter en hij zal het fantastisch doen.
Zet deze pot (met gaatjes) operation een grote bak kick the bucket makkelijk water te geven is en niet erg is als je een dag vergeet water te geven.
Je zult zien dat zelfs de vlinders het balkon weer weten te vinden.
Website: - https://bloomboost.nl/