Dari Bandara ke Wisma Karantina
LUBABUN NI’AM
Penulis dan editor partikelir
Saya turun dari Bandara Soekarno-Hatta dengan perasaan yang tak asing lagi. Panas tropis yang eksotis dan sedikit menyiksa, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan. Entah akan seberapa lama. Hawa laut—dan juga keringat. Internet yang lambat; datang dan pergi. Hampir tak bisa diandalkan. Dan sebentar lagi, aplikasi ojek online. Juga jasa-jasa dadakan yang tumbuh dari upaya memanfaatkan situasi sempit dan ketakberdayaan orang, seperti menjajakan pulsa internet yang dilakukan oleh (atau dengan sepersekongkolan) petugas karantina.
Dari bandara, saya dibawa pergi dengan bis Damri. Satu koper besar dan tas naik gunung, yang keduanya terisi penuh dengan berbagai barang bawaan, masuk ke dalam bagasi bis. Satu tas punggung dan tas selempang naik bersama saya ke dalam bis. Paspor diminta oleh sopir bis sebelum berangkat. Tiap penumpang duduk berjarak; masing-masing satu orang pada lajur kiri dan kanan. Satu kursi di tiap lajur dikosongkan. Saya memakainya untuk menaruh kedua tas saya.
Saya jatuh tertidur di perjalanan dari bandara ke Wisma Atlet, tempat saya akan menghabiskan setidaknya delapan hari dan tujuh malam masa karantina. Saya memegangi kedua tas saya begitu saya tertidur. Seperti ingin menjaga kedua barang tersebut dari serobotan orang asing. Sesuatu yang tak masuk akal. Bagaimana orang tidur bisa menjaga sesuatu? Mungkin lebih karena ada rasa takut akan sesuatu yang bakal hilang. Rasa waswas yang muncul begitu saja.
Begitu terbangun, gedung Wisma Atlet sudah terlihat di sisi kiri saya. Dari kaca jendela di dalam bis, saya bisa melihat pintu gerbang Wisma Atlet yang dijaga tentara. Sopir bis masuk dengan segepok paspor penumpang di tangan; disetorkan ke petugas di meja penerimaan. Dia lantas mengeluarkan semua koper penumpang. Semuanya dikeluarkan sendiri. Begitu terkumpul, koper-koper disemprot sesuatu. Mungkin disenfektan. Saya, dan para penumpang lain di dalam bis, baru keluar bis begitu ada aba-aba dari si sopir.
Turun dari bis, kami menuju kursi tunggu yang dijaga oleh dua tentara muda. Tak lama kemudian, salah seorang di antara mereka memberi keterangan tentang segenap aturan yang berlaku selama tinggal di karantina. Seperti memberi perintah. Dilarang berkerumun dan berkeliaran di sekitar Wisma Atlet, kecuali untuk berolah raga! Tidak boleh membawa minuman beralkohol! Makanan harus diambil satu orang di depan lift! Meski sekadar menyampaikan sejumlah informasi pun terdengar seperti memberi perintah. Kantin dan ATM di gedung 10! Klinik di gedung 9! Makan tiga kali sehari! Tes PCR dua kali! Informasi belaka, tapi terucapkan sebagai perintah.
Pengerahan tentara adalah wajah penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Mereka ada di mana-mana. Di bandara, mereka terlihat diposkan di sejumlah titik. Di pintu keluar setelah pengambilan bagasi, ada tentara. Di area kedatangan penumpang, yang menjadi titik terakhir sebelum orang-orang naik bis (atau dijemput pihak hotel), ada tentara. Di dekat bis yang akan membawa orang-orang ke Wisma Atlet, ada tentara lagi. Polisi juga. Di Wisma Atlet, mereka adalah pintu masuk yang harus dilewati, yang juga mengatur orang-orang. Mereka memang mengatur negeri ini.
Di Wisma Atlet, satu ruangan diperuntukkan bagi tiga orang. Dalam satu ruangan, ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu kamar mandi, dan ruang menjemur pakaian. Salah satu kamar tidur berisi dua kasur, satu lagi satu kasur. Saya dan Reza, kawan dari Wageningen yang berangkat dengan saya sejak dari Belanda, berada dalam satu kamar. Kamar yang lain dipakai Fauzan, kawan yang kami temukan di Bandara Schipol. Di setiap kamar, ada pendingin udara, tapi kami tak menemukan remote control-nya. Saya tidak bisa tidur dengan pendingin udara. Saya mendapat jatah kasur, tapi tak bisa memakainya. Saya mengetik tulisan ini di sofa yang berada di ruang tamu, yang ruangannya tidak berpendingin udara. Saya tidur di sana.
Sebenarnya ruangan dan fasilitas karantina ini tidak terlalu buruk. Ada air hangat di kamar mandi. Ada tali jemuran baju. Ada lemari pakaian. Ada bak untuk mencuci baju. Masing-masing orang diberi selimut dan handuk, juga sikat dan pasta gigi, seperti di hotel. Saya rasa banyak kos-kosan mahasiswa yang lebih buruk dari ini. Kami hanya tidak bisa menemukan gantungan baju, tidak di kamar mandi maupun di kamar tidur. Plafon di kamar tidur kami sudah retak. Kata Reza, cat putih dindingnya sudah kusam. Kami akhirnya juga mendapati bahwa pintu kamar mandi terkunci otomatis begitu ditutup rapat, jadi kami membiarkannya sedikit terbuka kalau tidak ada orang yang memakainya.
Saya sendiri berharap ada kompor di sini. Setidaknya saya bisa merebus air untuk bikin kopi. Saya sudah menyiapkan biji kopi yang sudah disangrai dan coffee maker-nya, termasuk juga seperangkat alat masak naik gunung. Semua itu tidak berguna karena tidak ada kompor. Sebelumnya, saya sempat tanya Ardha, seorang kawan yang sudah lebih awal karantina di Wisma Atlet. Dia bilang bahwa ada water heater di sini. Saya salah tangkap. Water heater yang dimaksud adalah pemanas air di kamar mandi, bukan teko pemanas air. Itu namanya water boiler, katanya. Untuk minum, kami akhirnya bergantung pada air mineral dalam kemasan, yang disediakan bersamaan dengan jatah makanan.
Sebelum masuk Wisma Atlet, kami juga mendengar bahwa tidak ada fasilitas internet di sini. Ardha bilang memang ada router, tapi tidak ada jaringan internetnya. Itu router sisa ajang Asian Games yang dihelat pada 2018 lalu. Saya akhirnya membeli mobile WiFi (MiFi), yang dijual dengan kartu perdana Simpati di dalamnya. Dibantu beberapa kawan, saya pun bisa menerimanya begitu tiba di bandara dan sebelum diberangkatkan ke wisma karantina. Di wisma, dengan bantuan internet dari kartu Halo yang masih aktif di hape saya yang sudah rusak baterainya, Fauzan mendaftarkan nomor perdana bawaan MiFi. Dia tinggal di Bekasi. Jadi, dia bisa memakai kartu tersebut begitu masa karantina selesai. Pendaftaran kartu memakai hape punya Reza. Cuma hape dia yang bisa dipakai. Hapeku dan hape Fauzan dibeli di Belanda, belum bisa dipakai di Indonesia.
Namun, sinyal MiFi tersebut rupanya berjalan sangat lambat, bahkan lebih sering tidak ada koneksi internetnya. Kami mencoba mencari jalan keluar selama berjam-jam. Reza memutuskan untuk tidur sejenak karena sudah tak tertahankan lagi. Begitu dia terbangun petang hari, kami memutuskan untuk mengganti kartu perdana bawaan MiFi dengan kartu Halo. Kali ini berjalan lebih baik. Jauh lebih baik. Semua hape sudah tersambung dengan internet. Hape Fauzan juga sudah bisa dipakai setelah diurus di bandara sebelumnya. Sebelum tidur, saya dengar Fauzan bercakap panjang dan tertawa di ujung telepon.
Dengan adanya MiFi tersebut, saya sendiri akhirnya bisa memutar sejumlah cuplikan pertandingan bola yang saya lewatkan, meski saya selalu gagal memutar streaming. Saya melewatkan laga Arsenal lawan Tottenham Hotpurs. Reza melewatkan pertandingan Juventus. Tapi kehilangan waktu menonton pertandingan sepakbola bukan satu-satunya kekesalan yang terjadi. Laptop saya, yang sudah lama bermasalah dengan penangkapan sinyal, susah sekali menangkap sinyal MiFi. Lebih sering tak tersambung. Saya berharap mengejar tenggat editan selama masa karantina dan melanjutkan kursus bahasa Jerman lewat Zoom dari kamar karantina. Saya ingin masa karantina ini terasa tak begitu lama.
Jakarta, 27 September 2021
Untuk Mas Yanuar, yang menyarankan saya untuk membeli MiFi!


















