Vice kena hujatan di laman komentar akibat mewawacarai Karin. Tapi untuk konten video ini, Vice mendapat hampir 8000 view. Cukup besar dibanding video2 lain baik yg terjemahan ataupun original. Saya bersikap non etis soal Karin. Saya tak akan menjadi polisi moral di media sosial. Bukan, bukan karena saya penuh dosa. Tapi bagi saya ada paradoks jika menghakimi Karin di media sosial. Saya teringat waktu Inul tampil di publik dan mulai dikenal. Hujatan datang bertubi-tubi. Jagat budaya dangdut memasang garis moral sampai Inul meminta maaf walau sedikit sakit hati karna dapat cerca tanpa henti. Tapi setelah itu. Jagat dangdut berubah. Goyangan ngebor bukan masalah karena setelah itu timbul goyangan yg bikin celana para lelaki sesak. Inul yg kena hujat jadi pintu perubahan itu. Lalu Karin? Melakukan hujatan di media sosial hanya seperti Inul tempo lalu. Sosok Ikonik macam Inul dan Karin bagiku justru semakin melejit akibat sering dibicarakan dan dilihat. Kalau mau membendung, coba bangun wacana tanding. Polisi moral bukan wacana tanding. Jadi tanpa membela siapa pun saya berdoa agar kita tidak jatuh di lubang kesalahan wacana yang sama karena menteri kebudayaan dan pembangunan manusia yg katanya sering berucap revolusi mental itu ada sehingga bisa membangun wacana tsb tanpa harus merasa paling suci. Huehuehue 9 Desember 2016 @RumahIbu










