Dalam episode Transnasional ini, Rana Thamrin memulai perjalanan spiritualnya ke satu-satunya pesantren di Indonesia di Yogyakarta di mana wanita Muslim tran...
✸ Splendid Documentaries [1].
Berawal dari tuntutan tugas kuliah yang mengharuskan menulis berbagai review dokumenter, menonton dokumenter di Youtube bisa dibilang menjadi salah satu hobiku selama beberapa tahun kebelakang (aku mengumpulkan beberapa dokumenter bagus yang terangkum dalam playlist Youtube disini, silahkan mampir☻ ).
Thanks to recommendation Youtube. Not long after I read the title, aku langsung tertarik untuk menonton. Selain karena mengangkat pengalaman dan penuturan langsung dari salah satu kelompok marginal dalam masyarakat Indonesia, aku juga penasaran dengan fakta-fakta di lapangan mengenai relasi para transpuan dengan kelompok keagamaan (yang kita sudah sama-sama tahu, beberapa gencar dengan keras menolak eksistensi dari kelompok LGBTQA+).
Melalui penuturan Rana Thamrin, a part of the community herself, dokumenter ini terasa sangat jujur dan kita dibawa untuk melihat sisi lain dari pengalaman para transpuan di Indonesia, terutama dalam hal hak untuk beribadah dan memeluk keyakinan. Di lingkungan yang tidak memberikan kelompok transgender menganut agama Islam pilihan yang bisa berjalan berdampingan, Pesantren Waria Al-Fatah menjadi bukti nyata bahwa hak beribadah berlaku bagi semua manusia, terlepas dari identitas gender mereka.
“Religiusitas itu kebutuhan seluruh manusia. Jadi kamu harus menemukan agama yang menurut kamu membawa kabar baik, yang menerima kamu dan membawa perubahan padamu. Saya meyakini Islam yang seperti itu, yang memberikan kabar baik kepada saya. Maka setiap kawan-kawan yang datang untuk belajar di sini, yang pertama kali saya kasih tau itu, ‘kamu tidak berdosa menjadi waria’. Kembalilah ke pelukan Islam” –– Shinta Ratri, pendiri Pesantren Waria Al-Fatah.
Penggalan cerita dalam dokumenter ini––mulai dari stigmatisasi masyarakat umum untuk kawan-kawan transpuan yang menyebabkan mereka sukar mendapat akses ke pekerjaan tertentu, hingga peristiwa ancaman penggusuran pesantren oleh kelompok Islam konservatif––menguak pengalaman sehari-hari mereka yang kerap kali mengalami berbagai macam bentuk diskriminasi ganda, labelling dan bias gender saat beribadah maupun bermasyarakat, terutama di ruang publik.
Setelah emosiku dibawa naik turun dengan melihat berbagai imbas dari interseksi antara gender, agama dan kultur bagi para transpuan di level sehari-hari, di bagian akhir dokumenter aku bisa melihat sedikit sense of optimism and hope. Masih banyak orang-orang yang memiliki rasa kemanusiaan dan bisa melihat bahwa mereka dengan terbuka pada identitas gendernya, mereka justru menjadi individu (penganut agama dan warga negara) yang lebih baik, dan hal ini yang terkadang luput dari penilaian orang-orang. I feel really hopeful knowing that there’s still a person like Bapak Haji Abdul Muhaimin who fight for peaceful and inclusive Islam. Indonesia butuh tokoh-tokoh seperti beliau untuk bisa terus merawat keberagaman kedepannya.
“Saya merasa harus memberikan contoh bagaimana Islam itu tidak kehilangan humanismenya... [Bahwa] Anda itu, bagaimanapun juga dengan segala keunikan dan plus minusnya, adalah makhluk Tuhan yang mulia” ––Haji Abdul Muhaimin, imam dan cendekiawan Islam
Last, as a person who believe that gender and sexual orientation are diverse, aku meyakini bahwa tidak ada salahnya memiliki jati diri dan identitas yang berbeda-beda selama tidak merugikan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Yang salah adalah ketika memaksakan apa yang kita yakini kepada orang lain, apalagi sampai menjadi hakim dan Tuhan bagi saudara seiman maupun saudara dalam kemanusiaan. Special shoutout untuk team Vice Indonesia sudah membuat dokumenter ini. Really hope this documentary can be accepted with open heart to many people and can be found by people who need it the most ♡











