Penganut paham monoteis berpegang pada Satu yang kuasa atas segalanya karena mereka percaya bahwa kemahasempurnaan itu hanya dapat diwakili oleh Satu.
Sebaliknya, politeisme lebih manusiawi. Mereka percaya bahwa semesta seluas ini diciptakan, diatur dan dikelola bukan oleh satu zat melainkan oleh banyak zat.
Aku bukan teolog, bukan pula penganut ajaran yang setia. Tapi, bukannya semua paham berujung pada kebaikan? Dengan konstruksi benar-salah, seharusnya setiap manusia penganut kedua paham -baik mono maupun poli- dapat menggunakan prinsip-prisnip tersebut dalam satu harmoni untuk mencapai yang dinamakan kedamaian.
Sayangnya, kedamaian seolah-olah hanya berlaku di dalam hikayat.