Didi Kempot, Daftar Lagu, Cendol Dawet dan Lain-lain
Dia adalah Bosnya Para Pemuda-pemudi Patah Hati. Lelaki yang patah-tumbuh-hilang-bergoyang.
Seorang lelaki berbaju hitam bertulis Rage Against The Machine berjalan dengan sejumlah kawan-kawannya. Tiga orang perempuan dan empat laki-laki. Saya menduga umurnya sekitar 20an tahun.
Dia berjalan menjauh dari Gedung DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jalan Raden Saleh Raya nomor 9, Senen, Jakarta Pusat ke arah Cikini.
Di tempat yang lain, masih dekat Gedung DPP PKB, seorang lelaki berbaju Seringai berhenti di warung penyetan. Dia memantik rokok.
"Guwa juga lihat ada yang pakai Bad Religion," kata seorang kawan.
Suasana `bubaran konser` itu sungguh unik. Konser yang dihelat di Gedung DPP PKB tersebut merupakan harlah DPP PKB ke-21. Acara tersebut mengundang sosok penting pekan itu: Didi Kempot.
Didi tampil usai sambutan panjang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj dan Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah tamu penting undur diri dari Gedung PKB.
"Untuk pecinta Didi Kempot sabar-sabar dulu, sedang ditata," kata pembawa acara, 23 Juli 2019.
Penonton mulai merangsek masuk ke area utama. Berjejal ingin menonton Didi.
"Yang tertib, tertib, tertib. Ayo duduk, yang tertib," pembawa acara kembali mengumandangkan imbauan.
"Yang patah hati angkat tangan! yang jomblo angkat tangan!" kata pembawa acara.
Sadboys dan Sadgirls, julukan penggemar Didi tertib mengikuti arahan. Didi malam itu mengenakan kemeja lengan panjang warna hijau dan celana chino abu-abu. Rambutnya diikat.
Setelah memuja-muji PKB, Didi membuka penampilannya dengan lagu, Suket Teki.
Suket Teki yang dia nyanyikan tetap menggiring penonton ke kondisi yang menyayat sekaligus bergembira.
Wong salah ora gelem ngaku salah suwe-suwe sopo sing betah. Tak tandur pari jebul tukul e suket teki.
Bayangkan, dalam sekejap sorot ponsel mengarah ke Didi. Ponsel-ponsel itu bergabung diantara lengan-lengan yang menari.
Jangan bayangkan jumlahnya. Dari sepintas lalu, memperkirakan, jumlah orang di halaman PKB itu jumlahnya mencapai ratusan. Padat.
Didi menjadi sorotan muda-mudi gigs ibu kota. Kegalauan dalam lirik-liriknya, meski bahasa Jawa tak banyak dimengerti sebagian besar, para penikmat musik akan memburunya. Bahkan hanya untuk sekadar berjoget.
Didi tak memakai banyak instrumen. Keyboard, kendang, dan gitar elektrik.
"Ini seperti konser di Magelang," kata Didi.
Didi adalah fenomena yang terus berlanjut. Beberapa pekan lagi, Didi akan menjadi penampil di Synchronize Festival 2019, ajang festival musik tahunan yang digarap Dyandra Promosindo dan demajors.
Didi akan bergabung dengan band-band bergenre musik rock, emo, jazz hingga pop.
Tak aneh memang. Melihat daya tariknya, Didi mampu menyedot untung bagi sejumlah penggelar acara musik. Masih ingat tren NDX Aka yang menggemparkan jagad hip hop?
Ya, tak seperti Jogja Hip Hop Foundation (JHF) yang punya lirik-lirik rap kuat, NDX Aka menampikan lirik yang mudah diingat dengan reff ala musik pop Jawa.
NDX Aka dan JHF tampil bersamaan di Synchronize Festival 2018. Masih ingat, NDX Aka percaya diri menampilkan lagu-lagu `kesedihan`.
Opo iki sing jenenge nyawang kowe rabi karo wong liyo nangis getih eluhku remuk ajur rosoko kowe tinggal ninggal aku.
Lirik itu diikuti sejumlah
Pertanyaan kembali memutar ke Didi. "Ini bocah lahir di Jakarta tapi ngerti lagu (berbahasa) Jawa," kata dia.
Misi budaya Didi memang unik. Tak hanya memamerkan lagu Jawa, dia memperkukuh posisi lagu daerah: Jawa di hadapan lagu-lagu daerah lain.
Didi memang penuh dengan keunikan. Di saat masa tuanya dia muncul. Seperti Undertaker di Smackdown. Didi, si lelaki-yang-patah-hilang-bergoyang.
Bayangkan, saat bernyanyi Pamer Bojo, dia disambut Cendol Dawet. "Pamer bojo anyar,...."
Cendol dawet, cendol, dawet seger
Cendol cendol dawet dawet
Cendol cendol dawet dawet
Cendol cendol dawet dawet
4 Oktober 2019. Didi akan tampil di JEC Kemayoran, Jakarta Pusat. Dia akan beradu suara dengan musisi lintas genre. Akankah chant Cendol Dawet akan menyambar tiap lagu yang dibawakan Didi?
Menarik untuk disimak. Eits, tulisan ini belum berhenti. Saya akan mencatatkan sejumlah lagu yang harusnya masuk dalam konser Didi. Tujuh lagu awal merupakan lagu yang dinyanyikan Didi saat di Harlah PKB. Sisanya. Subyektif. Soalnya, saya kemungkinan tak bisa menonton konser tersebut.
Suket Teki
Banyu Langit
Pamer Bojo
Sewu Kutha
Jambu Alas
Cidro
Kalung Emas
Kuncung (lagu yang melekat di kepala saya waktu kecil)
Layang Kangen (hits Didi bernada manis)
Stasiun Balapan (Ya ini lagu keren)
Terminal Tirtonadi (Sudah ada Stasiun Balapan)
Terminal Kertonegoro (Bisa di-mix sih)
Nunut Ngiyup (Lagu berdetak lain iya, ngebeat)
Cintaku Sekonyong-konyong Koder
Untuk Apa Lagi (lagu yang dia nanyikan bareng Deddy Dores)














