Kamis Pagi My Chemical Romance
Perjalanan dari Bekasi ke Tebet, Kamis ini menguras keringat. Sejak dari Kalimalang, Mall Metropolitan Bekasi, hingga Stasiun Cawang kemacetan tak terhenti. Meliuk-liuk Revo Hitam kukemudikan dengan gaya penari India. Berusaha tak menyerempet mobil. Tak menyenggol motor lain. Keringat di punggung sudah menetes sejak tadi.
Earpiece sudah menggelantung sejak dari rumah. Menyampir begitu saja. Musik di Spotify tetap membisu. Fokus mencari celah merintangi macet. Jalanan begitu sempit motor bertambah banyak. Sepertinya pemerintah perlu buat regulasi mengenai gondola. “Bikin gondola dari Karawang sampai Cengkareng!”
Tak banyak yang muncul di kepala. Hanya soal pekerjaan yang belum tuntas. Beberapa lirik lagu berseliweran, dari keroncong hingga Gorrilaz. Kusenandungkan. Tapi, lagu-lagu itu tak masuk ke gendang telinga. Mengawang begitu saja.
Kumainkan musik ketika menyelesaikan rintangan macet di Cawang. Selesai terowongan, kubuka helm-kupasang earpiece ke telinga-membuka lockscreen-mengaktifkan paket data ponsel-membalas pesan WhatsApp-kujawab Siap!-buka aplikasi Spotify-sentuh gambar suryakanta-ketik My Chemical Romance.
Kupilih lagu-lagu teratas yang disediakan Spotify. Lagu dimainkan. Gerard Way bernyanyi. They’re gonna clean up your looks. Entah mengapa My Chemical Romance muncul dibenak. Cuma kudengarkan saja.
Sesampainya di tanjakan dekat BNN, lagu sudah beralih ke judul I’m Not Okay. Bau harum itu menyeruak. Masuk ke sela-sela masker-hidung-dan sensor otak. Rupanya, harum itu bersumber ke seorang pengendara Honda Scoopy putih. Agak freak memang. Tapi, bukan itu poin pentingnya. Si pengemudi Honda Scoopy B 3167 PEI ini punya gaya unik.
Celana jeans baggy-cardigan merah muda-helmnya merah-kaki seputih pualam-sepatu putih. Warnanya terasa terang diantara beton-beton Ibu Kota yang warnya terasa abu-abu.
Bau parfumnya. Kalau tidak salah, aku mengira-ngira saja, mirip harum parfum bayi Johnson n Johnson. Beradu di tengik kepul asap knalpot.
Aku mengamati perempuan pengemudi Honda Scoopy itu sembari mendengar lirik I’m Not Okay. For all the dirty looks//the photographs your boyfriend took. Terasa syahdu.
I’m not okay. I’m not okay. I’m not okay. You wear me out.
Cara mengemudi perempuan itu begitu lihai. Menyelip diantara barisan mobil dan kemudian menghilang. Dia berbelok. Di depan gedung BPK. Jalur yang sama menuju kantor, pikirku. Penasaran, kubuntuti.
Well I’m not okay. I’m not okay. I’m not okay!
Di depan Stasiun Cawang lagu sudah beralih. Hentakan drum Bob Bryar, kocokan distorsi gitar Mikey Way, dan teriakan Gerard berderu. Helena. What’s the worst that I can say? Things are better if I stay.
Kamis pagi ini begitu terasa serba terburu-buru. Mungkin beberapa kantor menetapkan tanggal 1, esok hari, sebagai tanggal gajian. Semua orang ingin menghabiskan sisa uang untuk bersenang-senang.
Perempuan pengemudi Honda Scoopy itu kemudian berbelok. Ke sebuah gang. Aku melihatnya. Seolah berpamitan, yang diwakili Gerard “So long and goodnight. So long and goodnight!”
Tentu ini masih pagi. Bukan malam. Tapi pesannya sama, selamat tinggal. “Can we pretend to leave and then, We’ll meet again.” Dadah! Sesampai kantor, Wahyu sedang mengepel lantai. Dia memutar lagu dari ponselnya. Tanpa pengeras suara tambahan. Kantor masih sepi, ketimbang sunyi. Linkin Park dimainkan. Band kesukaanku. Ku-pause Spotify. Dan menulis perjalanan aneh pagi ini. Kamis, 31 Maret 2022. Sembari mendengarkan almarhum suara Chester.












