Menganggap dirimu adalah yang paling sengsara di dunia, lantas mengurung diri sebab takut ditertawakan dunia bukanlah hal yang tepat kau lakukan, Sayang.
seen from Kyrgyzstan
seen from Japan
seen from United States

seen from Japan

seen from United States
seen from Japan
seen from Malaysia
seen from Russia

seen from Germany
seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from China

seen from Malaysia
seen from Italy
seen from China
seen from Australia
seen from Italy

seen from Japan
seen from Malaysia
seen from Germany
Menganggap dirimu adalah yang paling sengsara di dunia, lantas mengurung diri sebab takut ditertawakan dunia bukanlah hal yang tepat kau lakukan, Sayang.
Selalu Ada Setitik Harapan
Seseorang pernah berkata "Jangan pernah berhenti berharap". Kata-kata amat ringan tapi rupanya sukar untuk terus dilakukan pada setiap kondisi yang ada.
--------------------------------------------------
Ditulis : 8 Mei 2019
MegaHardianty
Hujan di Pelupuk Mata
Matahari sedang bahagia dan menghujami bumi dengan sinarnya yang terang. Siang ini cerah. Awan terlihat jelas menemani langit.
Kebahagiaan matahari sudah terlihat sejak pagi. Awan pun ikut merasakan bahagianya, hingga tak ada setitik mendung menyapa pagi. Burung-burung berkicau, saling bersahutan.
Manusia mulai beraktifitas selayaknya rutinitas biasa. Hari ini hari kedua puluh satu, sepertiga terakhir ramadan. 10 hari terakhir yang digadang-gadang salah satunya akan menjadi malam paling spesial.
Kebahagiaan semesta rupanya tak serta-merta dirasakan oleh seluruh penghuninya. Di sudut kamar salah satu rumah, ada dia yang tengah bertikai dengan hatinya sendiri.
Ada mendung terlihat di balik sayu matanya. Hujan tengah bersiap menghujami pipinya. Entah apa yang terjadi, hanya saja dia tak mampu menahan segala hal-hal buruk yang mengacaukan pikirannya.
-----------------------------------------------
Ditulis : Minggu, 26 Mei 2019
MegaHardianty
Tak Beriringan
Malam ini terasa sangat panjang bagiku. Segala gegap-gempita jalanan tak ada artinya untukku. Pun kerlap-kerlip bintang di atas sana tak mampu meruntuhkan kesedihanku.
Langkahku terseok. Kupaksa diri agar tetap melangkah. Badanku lelah, hatiku porak poranda.
Sesekali jatuh, lalu kupaksakan berdiri lagi. Langkah demi langkahku diikuti suara tapak langkahmu.
Aku berjalan di depan. Kamu mengawasiku dari belakang. Aku menangis sesenggukan. Kamu menahan diri untuk tak memelukku dari belakang.
Aku tahu kamu ada. Berjarak dua-tiga langkah. Jarak yang cukup untuk matamu tetap menatapku.
Aku tahu kamu ada disana. Tapi aku tak berniat menoleh. Kamu pun tak berani untuk menyusul langkahku.
Kita ada di jalur yang sama tanpa mampu beriringan, entah sampai kapan.
-------------------------------------------------
2 November 2019
MegaHardianty
Unwanted Crown
Alkisah di sebuah negeri nun jauh dari pelupuk mata, tersebarlah berita malam penobatan sang putri menjadi pemimpin negeri. Kasak-kusuk rakyat terdengar dimana-dimana. Mereka membicarakannya di depan meja pedagang di pasar. Di tengah-tengah riuhnya kedai kopi. Di ujung jalan tempat toko kue berjejalan. Berita ini dibicarakan di seantero negeri.
Kabar tersiar mengenai sang putri yang tak dipercaya mampu memimpin rakyat. Sebab ia dikenal terlalu lemah-lembut untuk menjadi sang tertinggi. Sang putri bukanlah sosok yang keras nan tegas untuk dipercaya memegang tampuk kekuasaan kerajaan.
Sang putri diremehkan dimana-mana. "Mengapa harus sang putri?" pertanyaan itu berseliweran dimana-mana. Tak kunjung menemui jawabannya. Tetapi bagaimanapun ketidakpercayaan rakyat terhadap penobatan tersebut, tak ada yang bisa menghentikan penobatannya menjadi pemimpin kan?
Lalu, apakah penobatan ini adalah kehendak sang putri? Apakah ini yang diimpikan sang Putri?
Sang Putri tak pernah menginginkan tahta ini. Beliau lebih senang dengan gelar putri dibanding pemimpin. Beliau lebih senang mengelilingi negeri tanpa harus terikat status sebagai pemimpin negeri. Beliau senang bertemu negeri tetangga tanpa harus menjadi sang pemimpin. Tetapi, setidak inginpun beliau dengan penobatan ini, beliau tetap tak bisa menolak kan?
Kicauan tentang rakyat yang meremehkan kemampuan sang Putri telah sampai di telinga beliau. Betapa tak nyaman rasanya mendengar bahwa tak ada yang memercayainya dengan tahta ini. "Ambillah, ambil gelar ini. Aku tak butuh. Aku hanya ingin hidup biasa" katanya sambil menangis terisak.
Tetapi, apakah dengan ini tampuk kekuasaan tidak jadi diberikan padanya? Tidak. Dia telah dipilih. Tak ada jalan untuk mundur.
Tak Kunjung Ingin Pergi dari Bejana Kenangan
Kutunggu kamu memberi kabar lebih dahulu
Namun pada akhirnya, akulah yang mencari-cari alasan untuk bisa menyapamu
Tetapi, respon darimu membuatku ragu
Perasaan yang kujaga ini mungkin hanya akan bertemu kecewaku
Apakah sudah saatnya aku berhenti menunggu
Sebab sebenarnya kau tak pernah menitipkan pesan untukku
Bahwa kamu ingin ditunggu
Menunggu, semata keinginanku
MegaHardianty
01.02.2020
Pamit
Entah sudah berapa banyak tinta kuhabiskan karenamu. Tuk menuliskan rasa yang tak juga pudar untukmu.
Mungkin sudah saatnya aku pergi. Membawa semua kisah tentang rasa yang masih tersisa disini.
Biarlah keping-keping tulisanku tentangmu tetap menghiasi dindingku. Sebagai satu-satunya kenangan untuk kutunjukkan padamu. Bahwa aku pernah sesendu itu menuliskan tentang dirimu.
Tentang akhir yang tak punya permulaan ini. Tentang rasa yang tak kunjung terucapkan. Tentang kata yang mengendap di lidah.
Aku masih disini. Masih dengan segala kenangan tentangmu. Meski kutahu takkan pernah ada kamu turut menemaniku disini.
----------------------------------------------
MegaHardianty
Ditulis : 28 Juni 2020
Di antara lirih doamu di tengah sunyi malam, percayalah Allah Subhanawata'ala mendengarmu dan sedang memeluk dirimu.
(Ditulis 14.02.2021)