Cerita PPL 2
Salah satu nikmat PPL di sekolah almamater adalah berjumpa kembali dengan guru-guru. Ada yang hanya ingat penampilan saat jadi siswa, yang hanya ingat jurusannya, yang hanya ingat angkatannya, dan momen-momen lain saat bapak atau ibu guru berpikir keras para alumni ini siswanya dulu :D
Sedari dari SD hingga SMA/SMK tentunya kita mempunyai guru-guru kehidupan, yaitu guru yang bukan saja guru di kelas, namun juga guru kehidupan.
Pak Afif
Beliau bernama Pak Afif. Menjabat sebagai WKS. Saya pernah diajar mata pelajaran ekonomi saat kelas XII. Saat mengajar selalu berkualitas. Oleh guru lain sering dipanggil Pak Ustadz. Iya, pandai sekali beliau meramu pembelajaran yang digabungkan dengan nasihat-nasihat agama tanpa kesan menggurui.
Satu nasihat yang masih teringat jelas:
“Mari kita ilustrasikan bolpen dan tutup bolpen ini untuk berbicara tentang jodoh (bolpen beliau pegang di tangan kiri dan tutupnya di tangan kanan). Jodoh akan bertemu jika sudah Allah ijinkan, sudah timingnya. Nah, kalau kita paksakan untuk bertemu, bolpen dan tutupnya hanya akan mendapat angin kosong, tak bisa bertemu.”
Bu Mugi
Lalu, ada lagi guru lain, namanya Bu Mugi. Guru matematika saat kelas X sekaligus pembina Mathematic Club dan OSTN. Beliau satu-satunya guru yang ketika saya telah lulus, tetap membaca tulisan-tulisan (receh) saya. Saat masih duduk di semester 1 Bu Mugi mengirim sms apresiasinya atas tulisan saya. Ya Allah saya tentu campur aduk rasanya. Berasa haru, bangga, tapi juga malu pada tulisan sendiri. Beliau mendoakan kelancaran kuliah saya.
Bu Gigih
Ada lagi, namanya Bu Gigih. Saya belum pernah diajar akuntansi oleh beliau. Qodarullah kami dipertemukan saat saya bergabung di Accounting Club.
“Jadilah orang yang baik dulu, membuat orang jadi pinter itu gampang,” nasihat beliau yang masih lekat di ingatan.
Iya, walaupun beliau sering membersamai teman-teman saya yang maju kompetisi akuntansi, tapi semangat yang beliau tularkan adalah menjadilah orang baik dulu. Perbaiki hubungan dengan Allah. Saat bersama dengan beliau, semangat meraih masa depan selalu menyala-nyala. Banyak pengalaman bersama Bu Gigih, terutama terajut saat aktif di Accounting Club.
Hingga di hari terakhir PPL, saya bertemu beliau di ruang Kaprodi Akuntansi. Bu Gigih menunjukkan foto teman saya saat masih SMK. Lalu bilang,
“Nanti Senin masih ke sekolah kan Mbak?”
“Wah, nggih nanti kami ilegal to Bu.”
“Gapapa, PPL lagi saja disini.”
“Tapi nanti ibu carikan pengganti kami KKN, hehe.”
Iya, beliau selalu guyon seperti itu, tak jarang membully juga :D. Lalu saya pamit untuk mengembalikan buku ke perpustakaan.
Saat balik dari perpustakaan, kami papasan lagi, beliau sudah otewe pulang.
“Pokoknya sukses nggih Mbak Titin. Pokoknya main saja ke rumah ibu sama temen-temen yang lain. Nanti lebaran jangan lupa mampir.”
“Nggih Bu, aamiin. Ibu juga.”
“Nggak tahu kenapa ya, PPL tahun ibu sangat berasa kehilangan saat mau penarikan,” mata beliau sudah mulai berkaca-kaca.
“Saya, kalau bertemu ibu, selalu ingat bahwa goal hidup bukan soal materi saja,” saya menjawab dengan terbata-bata. Tak kuasa menahan haru.
Kemudian, hujan gerimis di antara kami berdua.
***
Tentu tak akan cukup layar ini untuk menceritakan tentang guru-guru saya, sedari SD sampai SMK banyak guru yang mengajar. Walaupun di postingan ini saya baru menceritakan 3 guru, tentu tak menyurutkan hormat saya pada guru-guru yang lan. Ya Rabb, semoga engkau menjaga guru-guru kami dan mengampuni kesalahan-kesalahan kami.















