Bantal Kucel Warisan
Bantal kucel buluk itu usianya setara dengan anak ragilku.
Neneknya membuatkan bantal itu khusus untuknya, saat dia masih bayi.
Neneknya, alias Ibuku, suka menjahit, merajut, memasak dan membuat kue. Keahlian dasar yang tidak pernah menjadi hobiku, atau lebih pas nya, karena aku malas mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.
Dulu sewaktu kami masih kecil (aku dan kedua adik laki-lakiku), Ibu sering menjahit sendiri baju buat kami. Rok untukku dan celana pendek, atau celana monyet untuk adik-adik.
Bahagia rasanya memakai baju buatan Ibu, hingga saat mulai beranjak remaja dan melihat teman-teman lainnya memakai baju dengan model yang lebih keren dan mengikuti perkembangan jaman, aku mulai menolak baju buatan nya.
Tapi kecintaan Ibu dengan menjahit tak pernah padam. Saat aku hamil anak ragil, beliau mencicil membuatkan selimut bayi, bantal dan guling bayi lengkap dengan sarungnya, serta sprei untuk matras bayi dan printilan nya.
Tapi sayang, saat kami sekeluarga pindah ke Melbourne, hanya beberapa lembar selimut dan bantal bayi ini yang ikut terbawa.
Busanya tidak lagi fluffy seperti dulu, warna sarung bantalnya pun sudah pudar, tapi bantal ini menjadi saksi tumbuh kembang dari seorang bayi hingga menjadi seorang gadis kecil berusia sebelas tahun.
Beberapa waktu yang lalu akhirnya kepemilikan bantal ini berpindah kepadaku. Ada rasa haru dan bahagia sebab akhirnya aku bisa "merebutnya" dari seorang anak perempuan--yang sudah punya terlalu banyak boneka lucu-- dan kurasa tidak lagi membutuhkan bantal ini.
Awalnya dia protes, tapi akhirnya menyerah juga setelah kujelaskan dengan setengah merajuk, mengapa sekarang aku lebih membutuhkan nya.
Kupeluk dan kuciumi dengan harapan masih ada bau "bayi" yang menempel, atau bahkan sedikit bau sengir dari ompol nya, tapi nihil, tak ada lagi yang tersisa.
Seperti nya bukan fisik bantal ini yang kubutuhkan, tetapi memori akan cinta seorang nenek kepada cucu nya, serta kerinduan seorang Ibu terhadap kenangan indah saat sebagian besar waktunya dihabiskan bersama bayi lucu nan montok itu.
Menemaninya dalam setiap milestones, mulai dari tengkurap, merangkak, berdiri, berjalan, hingga kata-kata pertama nya. Dari seorang bayi merah hingga tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang tidak lagi membutuhkan bantuanku, tidak lagi mau diantar jemput sekolah, tidak mau lagi dipeluk dan dicium di depan teman-teman nya, yang lebih senang tinggal di rumah daripada ikut pergi belanja denganku.
Kemandirian ini membuat ku bangga sekaligus sedih, sebab aku berhasil mendidiknya menjadi pribadi yang mandiri, tapi di sisi lain, aku masih belum siap untuk benar-benar melepaskan "pelukan" dan "rasa ketergantungan" nya dariku. Aku merasa hampa dan kehilangan saat dia tak lagi ingin tidur denganku, atau sekedar pergi belanja denganku. Dan rasa hampa itu sungguh menyiksa.
Tapi aku sadar, suatu saat pelukan itu harus sedikit direnggangkan agar dia bisa bebas terbang menggapai impian dan potensi terbaik nya, dan menjadi tempat aman dan nyaman bagi nya untuk "pulang" di saat dia membutuhkanku.
Dan untuk diriku sendiri, aku harus mulai belajar untuk melepas kemelekatan dan melakukan yang terbaik, serta memastikan dia mampu menghadapi dunia yang penuh tantangan tanpa harus kehilangan jati dirinya, semoga.











