"Nanti aku menyusulmu ke Papua Kak! Aku memang punya keinginan ke sana, menolong orang-orang di sana."
Ada apa dengan Papua? Saya tidak banyak tau. Obrolan saya dan adik di rumah--yang baru saja lulus UMB dan masuk ke Universitas Syahkuala--beberapa waktu lalu berbicara soal Papua. Awalnya karena saya menceritakan soal Ko Rudy yang akan pindah ke Papua, kemudian beralih pada senior saya di gereja, yakni Cie Erni Wiyati yang katanya kalau ada kesempatan ke Papua akan mengajak saya pergi bersamanya.
Tepatnya dua hari lalu. Iya, Senin. Kami berbicara soal Papua cukup banyak. Saya bilang ke dia, kalau memang ada kesempatan, saya mau ke sana. Kemudian Mama setengah tertawa dan bertanya apa saya ingin menginjili? Buru-buru saya katakan kalau ke sana tidak harus menjadi penginjil. Apapun yang bisa saya lakukan di sana akan saya lakukan.
Adik saya ini kemudian menyambung, kalau cita-citanya menjadi dokter adalah untuk bisa pergi ke Papua. Ya Tuhan... saya tidak pernah tau kalau dia punya cita-cita yang begitu mulia di usianya yang masih belia. Saya terhenyak saat menulis ini. Mengantar pada sebuah memori di mana saat saya masih berusia sepertinya, yang ingin saya kejar adalah menjadi wanita karier, punya usaha, punya ini-itu, menjadi pemimpin, berada pada lingkungan orang-orang terkenal. Dan Tuhan menjawabnya. Iya, Tuhan memberikannya bahkan jauh dari perkiraan.
Sampai kemudian saya terhenyak dan merasa kalau sudah berapa lama saya tidak bertanya pada hati ini apa yang harus saya lakukan untuk menyenangkan Tuhan, memberikan dampak dan berkat buat orang-orang sehingga nama Tuhan dimuliakan? Saya jauh tertinggal. Saya dari dulu memang berpikir untuk bisa bergabung dengan UNICEF, supaya saya bisa membantu anak-anak dan ibu-ibu yang melahirkan dalam keadaan tidak sehat. Termasuk pendidikan. Tapi saya memikirkannya dengan cara pikir saya sendiri: termasuk kuliah Strata-2 untuk menggenapi ilmu yang bisa dipakai dalam UNICEF nanti.
Kembali pada Papua. Hari Minggu kemarin, sebelum keesokan harinya saya berbincang dengan sang adik soal Papua, saya dan Cie Erni membicarakan ini dengan cukup antusias. Sampai kemudian saya berujar pada seorang teman yang juga sedang bersama kami saat itu, yakni Wisely, bahwa saya sebenarnya bingung kenapa belum sampai dalam waktu 2 minggu, topik obrolan yang ada pada saya malah tentang Papua. Cukup sulit untuk dimengerti memang. Setengah bercanda, teman saya, Wisely ini kemudian berujar, "Tunggu 1 orang lagi, kalau ada 1 orang lagi yang membicarakan tentang Papua dan mengatakan kalau dia juga mau ke Papua, silakan pergilah ke Papua," katanya yang saya tutup dengan gelak tawa. Iya, kami tertawa bersama sepulang dari Martubung, setelah kami mengajar anak-anak di sana.
Tak perlu waktu yang lama, saya dikagetkan pada pembicaraan bersama sang adik bahwa dirinya juga mau ke Papua kalau dia sudah menjadi dokter nanti. Ya Tuhan, kalau nanti benar kami diizinkan untuk ke Tanah Papua, Indonesia Timur, kiranya Engkau yang menyertai langkah kami. Setengah bercanda juga, adik saya itu kemudian berujar, "Nanti aku akan menyusulmu. Aku serius."
Waduh, kalau dia sudah bilang serius, saya ini bagaimana? Seperti sedang benar-benar dikuatkan kalau saya akan melangkah ke sana nanti. Terus terang, saya sama sekali tidak memiliki panggilan untuk ke sana. Namun pertemuan dengan orang-orang yang membicarakan Papua langsung mulai dari kondisi yang masih begitu mistis atau tentang susahnya kehidupan di sana, membuat saya benar-benar berpikir, apakah ini salah satu maksud Tuhan menempatkan mereka bertemu dengan saya? Saya masih belum tau jawabannya.
Sampai tadi pagi, saya dan adik kembali bicara soal Papua dengan Mama. Mungkin Mama masih agak bingung, dia berkata bagaimana kalau Bapak tidak mengizinkan? Kemudian saya menjawab--entah dengan kekuatan darimana--bahwa saya tetap akan pergi. Banyak hal yang tentunya bisa saya lakukan di sana. Meninggalkan zona nyaman, memenuhi Amanat Agung yang merupakan perintah mutlak dalam kehidupan setiap orang percaya yang beriman.
Saya tidak mau muluk-muluk. Ke manapun itu, asal Tuhan yang menyertai, kiranya Tuhan yang membulatkan dan menyiapkan hati untuk melangkah ke sana. Janji saya dan sang adik, kami mau ke Papua, menolong orang-orang di sana. Kalau adik saya diizinkan untuk mengambil kedokterannya tahun depan, dirinya akan melangkah ke sana, menyusul saya. Seolah-olah saya ini sudah pasti akan ke sana. Lucu memang. Padahal rencana untuk ke sana saja tidak ada sama sekali. Hanya saja dia seperti ingin menguatkan lagi, kalau dirinya akan ke sana nanti menyusul saya.
Janji Papua...
* Kepada Ibu Yosefine, saya pernah berujar kalau suatu hari saya akan mengenalkan beliau dengan Ibu Dosriana Bakara, pendiri Dian Bersinar Foundation yang saat ini menetap di Wamena. Itu pembicaraan singkat padat kami saat bertemu dengannya di Surabaya...
* Kepada Ibu Yosefine, saya juga pernah mengutarakan bahwa nanti saya akan mengenalkannya pada Nantulang saya yang merupakan perempuan asli Papua...
* Kepada Ibu Dosriana Bakara, saya juga pernah menuliskan lewat email, bahwa suatu hari saya akan mengenalkannya pada Ibu Yosefine...
* Kepada Ibu Dosriana Bakara, saya pernah menceritakan bagaimana pertemuan luar biasa saya dengan Ibu Yosefine pada malam itu. Bagaimana tentang cerita-cerita kami tentang anak-anak, baik itu anak-anak jalanan maupun anak-anak korban kekerasan...
* Kepada Ko Rudy, pendeta yang akan pindah ke Papua dari Surabaya, saya bercerita bahwa pada April kemarin, saya ke Surabaya dan bertemu dengan Ibu Yosefine sambil bercerita tentang Papua. Inilah yang menjadi awal kami memperbincangkan tentang Papua...
* Bersama Ko Rudy dan istrinya Cie Merry, saat itu beliau menuturkan kalau ada kesempatan saya pergi ke Papua, apakah saya bersedia, dan saya hanya tersenyum...
* Kepada Ko Rudy, dari dalam hati yang terdalam, saya menuturkan kalau nanti saya akan mengenalkannya kepada Ibu Dosriana Bakara. Tentang Ko Rudy dan segala hal yang kami bicarakan tentang Papua inipun saya menceritakannya kepada Ibu Dosriana.
Saya, Ibu Dosriana Bakara, Ko Rudy, Cie Merry, Ibu Yosefine, Cie Erni, Adik saya Ani, dan Nantulang saya. Mereka semua saling tidak mengenal kecuali Cie Erni dan Ko Rudy beserta istrinya Cie Merry. Tapi entah kenapa saya memiliki keyakinan bahwa suatu saat jika Tuhan berkenan, mereka akan diizinkan untuk saling mengenal. Saya juga masih belum tau bagaimana caranya. Ko Rudy dan istrinya Cie Merry mengenal Ibu Dosri lewat cerita saya. Begitupun sebaliknya. Ibu Yosefine mengenal Ibu Dosriana juga lewat cerita saya dan sebaliknya. Cie Erni mengenal Ibu Dosriana pun lewat cerita saya dan saat menulis ini saya memang belum bercerita pada Ibu Dosri soal Cie Erni. Nanti mudah-mudahan ada waktu yang tepat.
Tinggal menunggu waktu bagaimana Tuhan menyusun puzzle-puzzle yang ada untuk menjadi sesuatu yang indah, bagaimana nanti kami bisa bertemu satu per satu di sana.