Ini tidak berkaitan langsung dg biem. Ini berkaitan dg media sosial, sebagaimana kami mengelola media sosial juga. . Belakangan ini, labih banyak isi media sosial yg merusak bahasa ketimbang menguatkan sumpah kita: Berbahasa satu, Bahasa Indonesia. . Sayangnya, menjaga bahasa itu malah kadang dicap saklek/kaku. Padahal jelas beda antara gaul vs salah. . Bahasa itu kontekstual (dan berkembang). Dan nyaris semua isi media sosial menggunakan bahasa gaul, sesuai konteksnya. Sayangnya, alih-alih gaul berbahasa, yg banyak ada adalah kesalahan berbahasa. . Masih banyak yg mengetik 'merubah' alih-alih 'mengubah'. Kata depan 'di', 'ke' yg harusnya ditulis terpisah masih banyak yg disambung seperti awalan 'di', 'ke'. Dan sebaliknya, awalan 'di' 'ke' kadang malah diketik terpisah, padahal itu awalan, bukan kata depan. . Belum lagi konversi dari aksara daerah ke aksara latin. Belakangan ini, banyak huruf i yg diganti dengan huruf e, karena pelafalan i yg memang menyaru ke e. Seperti 'lik' (paklik, bulik) yg banyak ditulis 'lek'. . Atau huruf a yg diganti dengan o. Padahal 'anakku lara' itu jelas beda dg 'anakku loro'. Jadi jangan ditulis sama. . Kondisi berbahasa kita seperti kasus besar yg lagi terjadi: semakin ke sini malah semakin ke sana. . Repotnya, saat kami mencoba menerangkan kaidah bahasa yg baik dan benar tanpa harus kita kehilangan kegaulan berbahasa, kami pernah dibalas dg sinisme, "Saklek banget sih, Min! Ah, yg penting kan sama-sama ngerti!" . Kalo sama-sama ngerti, maka orang cukup kumpul kebo, tanpa harus terikat hukum pernikahan. Kalo sama-sama ngerti maka tak perlu ada pelajaran bahasa, baik bahasa Indonesia, bahasa daerah, pun bahasa asing. Ngomong dan nulis aja langsung. . ### Bahasa itu salah satu derajat kehidupan kita. Orang besar, pasti tutur bahasanya mendalam. Bijak. Bajik. . "Ah, saya kan gk pingin jadi orang besar, Min!" . Ya terserah. Tapi apa yg jadi prinsipmu, mbok jangan merugikan hal/pihak lain. Kalo pingin menjadi dirimu sendiri dg bahasa 'yg penting sama-sama ngerti'-mu, mbok ya tempatkan di ranah privatmu, jangan di ranah publik. Mbok ya jangan merusak Bahasa Indonesia yg jadi sumpah para pemuda pendahulu kita. . Gampang kan? . #bahasa (at Kelud) https://www.instagram.com/p/ChoUnhTPR0H/?igshid=NGJjMDIxMWI=