Pribadi Berbeda (Part.6)
Setelah kian lama kita duduk dan hanya diam, jam dinding sebagai penyorak memberi kode untuk aku memulai percakapan lagi. Tapi entah dengan kata apa aku memulainya yang jelas sekarang aku mulai mati kutu menyadari bibirku bungkam setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Sekarang kau lebih sering diam dibanding dulu, caramu bicara sudah mulai dewasa, hal-hal dulu sudah tidak aku temui lagi kecuali satu anting-anting perak polos itu. Pikirku mungkin itu saja hal yang aku buka dalam pembicaraan selanjutnya, aku menunduk sejenak, menarik nafas. Namun kamu sudah lebih dulu mendahuluiku memulai percakapan.
“Kenapa gie?” Tanyanya buru-buru. “Eh..eh.. Engga, cuma tarik nafas.” Jawabku ragu. “Yaelah, kok salting gitu sekarang sama gue hahaha.” Gurau Gea. “Engga kok, ada yang mau gue tanyain. Boleh?” Tanyaku balik. “Tanya aja kok, ini kan first date pertama kita lagi.” Dia mulai menyebalkan. “Anting-anting gak berubah dari dulu Ge?” Tanyaku konyol. “Engga Gie, dalem tau ini ceritanya hahaha.” Jawab Gea. “Sedalem lautan segitiga bermuda gak? HAHAHA.” Aku mulai nyaman. “Engga sih, cuma sedalem perasaan dulu aja.” Gombal si bangke. “Jangan buat salting lagi dong, tolonglah.” Jawabku gugup. “Gie ada cewek yang lagi deket?” Dia bertanya seperti mendesakku. “Eng..Eng..Enggg. Anu.. Belum ada Ge, belum ada yang serk aja sampe sekarang.” Jawabku jujur. “Yakin gie? emang nungguin siapa sih? ada banget yang ditunggu ya?” Pertanyaannya mulai seperti wartawan Tv. -_- “Yakin kok, eh coklatnya di minum Ge. Keburu dingin gak enak loh. Jadi pahit manis gitu rasanya.” Aku mulai mengalihkan pembicaraan nakal dia. “Kok tau? HAHAHA. Pernah coba ya?” Tanyanya lagi. “Iya pernah pas minum Es Susu Coklat AHAHAHA.” Jawabku ngadul. “BEDA WOI SUSU COKLAT SAMA COKLAT ASLI AHAHAHA!” Dia mengelak. “Iya deh males debat eh. :p” Sambil menjulurkan lidahku HAHAHA. “*senyum kecil*” Gea.
Aku mulai merasa bodoh ketika sudah tidak bisa berkata-kata lagi, apa perlu aku tanya sesuatu yang lebih jauh lagi tentang dia sekarang? Atau mungkin nanti saja. Aku mulai memikirkan tentang dia jauh lebih dia memikirkan tentangku bisa saja dia tidak pernah perduli tentangku dari semenjak kita sudah tidak lagi bersama. Sudahlah jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal bodoh seperti itu dulu jelas sekarang aku hanya ingin menikmati lukisan nyata dari sang pencipta, sejujurnya aku mau mengucapkan banyak terimakasih kepada orang tua mu yang telah melahirkan anak secantik dirimu, masa bodoh kamu baik apa tidaknya HAHAHA. Iya kamu adalah mahakarya terbaik sang pencipta yang pernah aku cintai, perasaan itu tetap ada walaupun aku sudah hampir tidak tahu dimananya.
Sejauh apapun insan yang terpilih Engkau hadir dalam kesunyian hati
Saat luka membuat ku terjatuh Perjalanan ini mengajarkan aku Tentang cinta yang aku miliki untuk mu
Mungkin ini takdir ku bersama mu Bukan, bukan dia yang dulu memeluk ku dengan rasa sakit membelenggu. Melainkan malikat tanpa sayap hadir teruntuk ku Andai saja waktu itu Ku masih memiliki waktu untuk menunggu Mungkin dalam dada ini bukan milik mu Kau adalah jalan yang aku temui Saat ku berlari menjauh dari cinta yang buat aku terjatuh
-Nugie
Mungkin kata-kata itulah sekarang yang mengenyangkan isi kepalaku saat bola mata ini mulai melihatmu lagi, aku ingin mengucap terimakasih kepadamu didalam hati semoga kamu mendengar degup demi degup yang mulai kencang, merasakan keringat-keringat yang mulai jatuh, dan bibir getar yang mulai kecut. Ada satu kalimat yang ingin aku bicarakan serius namun aku kalah telak. Dan sekaranglah Aku mau bilang dari hati ini Kamu cantik Ge. Demi Tuhan, Hati ini berkata jujur.
*Bersambung*










