PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Game of Thrones Daily
Cosmic Funnies
🩵 avery cochrane 🩵
I'd rather be in outer space 🛸

pixel skylines

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
KIROKAZE
Misplaced Lens Cap
TVSTRANGERTHINGS

No title available

bliss lane
todays bird
Monterey Bay Aquarium
macklin celebrini has autism

No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Jules of Nature
The Bowery Presents

seen from Singapore

seen from United States

seen from India
seen from France
seen from Bangladesh

seen from United States

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from T1

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Sweden
seen from Netherlands
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Israel

seen from Singapore

seen from United States
@oka-ernd
Kamu dan semaumu.
Setelah perpisahan ini,
setiap pagi kamu akan dikagumi mata yg bukan mataku,
rambut hitammu yg sarat kenangan, dielus oleh tangan yg bukan tanganku. Keningmu, setiap pagi atau bahkan sering sekali sebelum tidur, dikecup bibir yg bukan bibirku.
Dadamu didaki jemari yg bukan jemariku. Dan, tubuhmu dijelajahi tubuh lain,
tubuh seseorang yg jatuh cintamu ada di dalamnya, tubuh yg menjadi bagian terpenting setelah tubuhmu sendiri, tubuh yg senantiasa senang tubuhmu tiduri, yg tidak hanya merasakan kenikmatan, tetapi juga kebahagiaan.
Tubuh paling beruntung yg sayangnya bukan tubuhku.
Sudah jauh sekali aku menatap masa depan yg bahkan terlalu getir untuk sekedar terbayangkan, sebelumnya senyata-nyatanya kuhadapi. Padahal punggungmu yg menjauh masih berada dalam jangkauan mataku.
Namun, ini bukan soal satu atau dua atau seribu langkah.
Seberapa pun angkanya, jika bukan aku lagi yg hatimu mau, itu nestapa.
(يأيها الذين امنو عليكم انفسكم)
“Take care of your souls.”
— Surah al Ma'idah 5:105
(“وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا)
“And speak to people kindly.”
— Surah al-Baqarah 2:83
( وبالوالدين إحسانا )
“And to parents do good.”
— Surah al-’Isra’ 17:23
Ada hangat tapi bukan pelukan
Ada tegang tapi bukan listrik
Ada cinta tapi bukan dia
Hallo, apakabar? bolehkah aku menulis lagi?
Selembar puisi
Segelas teh hangat ku sedu Lalu ku seruput pelan-pelan Menikmatinya dengan senandung bossa nova Aku terngiang senyum simpul itu
Diam-diam kenangan merayap Mengendap seolah ia teriak minta terulang Menjerit seolah ingin di dengar Aku terdiam, sejenak. Mengenyangkan kepalaku sendiri Diamlah!!! Aku mulai benci; kenangan.
Pribadi Berbeda (Part.6)
Setelah kian lama kita duduk dan hanya diam, jam dinding sebagai penyorak memberi kode untuk aku memulai percakapan lagi. Tapi entah dengan kata apa aku memulainya yang jelas sekarang aku mulai mati kutu menyadari bibirku bungkam setelah sekian lama kita tidak berjumpa. Sekarang kau lebih sering diam dibanding dulu, caramu bicara sudah mulai dewasa, hal-hal dulu sudah tidak aku temui lagi kecuali satu anting-anting perak polos itu. Pikirku mungkin itu saja hal yang aku buka dalam pembicaraan selanjutnya, aku menunduk sejenak, menarik nafas. Namun kamu sudah lebih dulu mendahuluiku memulai percakapan.
“Kenapa gie?” Tanyanya buru-buru. “Eh..eh.. Engga, cuma tarik nafas.” Jawabku ragu. “Yaelah, kok salting gitu sekarang sama gue hahaha.” Gurau Gea. “Engga kok, ada yang mau gue tanyain. Boleh?” Tanyaku balik. “Tanya aja kok, ini kan first date pertama kita lagi.” Dia mulai menyebalkan. “Anting-anting gak berubah dari dulu Ge?” Tanyaku konyol. “Engga Gie, dalem tau ini ceritanya hahaha.” Jawab Gea. “Sedalem lautan segitiga bermuda gak? HAHAHA.” Aku mulai nyaman. “Engga sih, cuma sedalem perasaan dulu aja.” Gombal si bangke. “Jangan buat salting lagi dong, tolonglah.” Jawabku gugup. “Gie ada cewek yang lagi deket?” Dia bertanya seperti mendesakku. “Eng..Eng..Enggg. Anu.. Belum ada Ge, belum ada yang serk aja sampe sekarang.” Jawabku jujur. “Yakin gie? emang nungguin siapa sih? ada banget yang ditunggu ya?” Pertanyaannya mulai seperti wartawan Tv. -_- “Yakin kok, eh coklatnya di minum Ge. Keburu dingin gak enak loh. Jadi pahit manis gitu rasanya.” Aku mulai mengalihkan pembicaraan nakal dia. “Kok tau? HAHAHA. Pernah coba ya?” Tanyanya lagi. “Iya pernah pas minum Es Susu Coklat AHAHAHA.” Jawabku ngadul. “BEDA WOI SUSU COKLAT SAMA COKLAT ASLI AHAHAHA!” Dia mengelak. “Iya deh males debat eh. :p” Sambil menjulurkan lidahku HAHAHA. “*senyum kecil*” Gea.
Aku mulai merasa bodoh ketika sudah tidak bisa berkata-kata lagi, apa perlu aku tanya sesuatu yang lebih jauh lagi tentang dia sekarang? Atau mungkin nanti saja. Aku mulai memikirkan tentang dia jauh lebih dia memikirkan tentangku bisa saja dia tidak pernah perduli tentangku dari semenjak kita sudah tidak lagi bersama. Sudahlah jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal bodoh seperti itu dulu jelas sekarang aku hanya ingin menikmati lukisan nyata dari sang pencipta, sejujurnya aku mau mengucapkan banyak terimakasih kepada orang tua mu yang telah melahirkan anak secantik dirimu, masa bodoh kamu baik apa tidaknya HAHAHA. Iya kamu adalah mahakarya terbaik sang pencipta yang pernah aku cintai, perasaan itu tetap ada walaupun aku sudah hampir tidak tahu dimananya.
Sejauh apapun insan yang terpilih Engkau hadir dalam kesunyian hati
Saat luka membuat ku terjatuh Perjalanan ini mengajarkan aku Tentang cinta yang aku miliki untuk mu
Mungkin ini takdir ku bersama mu Bukan, bukan dia yang dulu memeluk ku dengan rasa sakit membelenggu. Melainkan malikat tanpa sayap hadir teruntuk ku Andai saja waktu itu Ku masih memiliki waktu untuk menunggu Mungkin dalam dada ini bukan milik mu Kau adalah jalan yang aku temui Saat ku berlari menjauh dari cinta yang buat aku terjatuh
-Nugie
Mungkin kata-kata itulah sekarang yang mengenyangkan isi kepalaku saat bola mata ini mulai melihatmu lagi, aku ingin mengucap terimakasih kepadamu didalam hati semoga kamu mendengar degup demi degup yang mulai kencang, merasakan keringat-keringat yang mulai jatuh, dan bibir getar yang mulai kecut. Ada satu kalimat yang ingin aku bicarakan serius namun aku kalah telak. Dan sekaranglah Aku mau bilang dari hati ini Kamu cantik Ge. Demi Tuhan, Hati ini berkata jujur.
*Bersambung*
Pribadi Berbeda (Part.5)
Dulu.. Sebelum kehidupan dewasa Kita adalah hal bahagia Sekarang apa bisa memulai lembar baru?
Apakah kau tetap sama? Se-ceria dulu, se-manja dulu Se-nikmat dulu. Kau sudah tampak lebih bahagia Atau kau jari dariku? Apa itu?
Sekarang.. Aku adalah orang baru Datang.. dengan pribadi berbeda-ku.
-Nugie
Jentikan jarimu, memecah buyarkan khayalanku. Dengan setengah sadar aku kaget, kau tersenyum dan memulai percakapan.
“Liatin siapa si gie?” Tanyamu. “Eh, eh. Sorry sorry.” “Gak ada gue gak liatin siapa-siapa.” Jawabku sekenanya. “Kenapa? Ada yang beda dari gue ya?” “Iya beda, lebih cantik dari dulu hahaha.” “Duduk, duduk ngapain malah berdiri doang.” “Iya, gak suruh duduk juga gue bakalan duduk sendiri kok.”
Kali ini, aku menatapmu lebih dalam. Memandangmu lebih lama daritadi, aku bisa melihat senyummu dengan puas, dan bukan hanya senyum tetapi tawamu. Aku jatuh (lagi), jatuh pada sosokmu. Aku sadar sekarang aku lupa pesan kopi, apakah kau masih menyukai capuccino hangat tanpa gula? Pikirku mungkin aku pesan itu aja, kalau salah ya bisa digantikan?
“Mas?” Panggilku kepada salah satu pelayan. Dia datang dengan menu itu, ah sudahlah ditempat ini sepertinya aku terkurung atas satu nama, dia. "Iya mas, mau pesen apa?" "Kopi hitam satu, sama capuccino tanpa gula satu ya mas." "Emang siapa yg pesen capuccino?" Kamu menyadari aku asal pesan. "Iya kamu kan?" Aku balik tanya. "Hahaha udah gak kopi sekarang gie, capuccino nya ganti coklat panas aja mas." Kamu langsung mengganti apa yg tadi aku pesan. "Itu dulu aja mas, makasih dan maaf sebelumnya." Aku memotong iya berbicara. "Kenapa gak ngopi lagi ge?" Aku mencoba meluruskan. "Udah engga gie, sekarang suka coklat." Jawab dia santai. "Oh hahaha, ada yg udah kebiasaan ya." "Iya, hahaha."
Aku tersenyum, dan memulai memikirkan apa ada laki-laki beruntung dapat merubah sifatmu dulu? Aku kalah telak. Dulu aku merelakanmu menjadi dirimu sendiri, tidak pernah membatasimu. Karena apapun yang kau lakukan aku ada, selalu ada dibelakangmu. Entah bagaimana aku mencintaimu dulu yang jelas aku kembali ingin memulai. Namun apa aku bisa? Kau mungkin tidak akan menyadari bahwa aku masih punya perasaan yang sama seperti dahulu. Yang kau ketahui aku adalah orang yang baru. Jujur saja aku mau berubah seperti laki-laki yang bisa membuat kebiasaan lamamu menghilang dan membuat kebiasaan baru bersamaku. Mustahil logikanya jika kau mau mengulangnya lagi denganku. Malam makin larut, keningmu mulai mengkerut, apa bosan? *bersambung*
Pribadi Berbeda (Part.4)
Tibalah hari ini, dimana hari paling ditunggu para pria lain juga bukan hanya aku sendiri. Hari pertemuan. Hari pertemuan aku dan Gea, dulu kami sering melakukannya. Hanya saja setelah dia lulus Sma dia lulus di salah satu universitas negeri di kota seberang, jadi dia lebih memilih tidak untuk berhubungan lagi, mungkin oleh karena ia takut aku kecewa atau sebaliknya. Yah keputusan itu memang sulit diterima namun setiap pilihan punya resiko masing-masing. Dulu kami sering duduk dibawah pohon mangga didekat rumah dia, dibawah pohon itu ada satu bangku panjang aku pun kurang mengerti kenapa ada bangku disana. Sepulang sekolah saat aku mengantar dia kerumahnya, pastilah kami sempatkan duduk disana hanya untuk menatap dunia luas yang semakin buas, memikirkan hubungan kami, atau hanya untuk menyandarkan kepalanya dipundakku. Kebiasaan itu mulai hilang ketika satu bulan sebelum UN (Ujian Nasional). Yah, kami sedikit merenggang memberi ruang pada kesibukan masing-masing. Mungkin setelah ada jarak, kami seperti terdinding dengan satu alasan yang mengkuatkan kami pada masa depan yaitu ‘belajar’. Tidak ada yg menyedihkan namun sekat itu membuat kami jarang berkomunikasi, yah maklum jaman dulu belum ada handphone pribadi. Seminggu sebelum ujian dia memutuskan untuk break terlebih dahulu sampai UN selesai, aku yang tidak terima terasa tercambuk oleh kenangan-kenangan kami, aku tidak terima begitu saja kenapa harua dengan cara itu? Bukankah malah memberi cela untuk hati lain masuk membuntuti ku dari belakang? Atau bisa jadi ia menorobos masuk kedalam kami? Aku dipenuhi perasaan gundah gulana seminggu sebelum UN, merasa tanpa Ia aku bukan apa-apa.
“Kring kring kring.” Aku kaget menerima panggilan masuk dari Gea. Ku angkat. “Hallo Ge.” “Hallo gie, nanti malem jangan lupa ya.” “Aman, traktir ya? Haha.” “Untuk pertemuan pertama setelah lama gak ketemu gitu caramu?” “Canda ge, jgn diambil hati. Ambil batu trus lempar hahaha.” “Hahaha masih aja kek dulu.” “Sudah ya, aku mau mandi.” “Okay, bersih-bersih ya.” “Siap buk bos.”
Yah sepertilah aku, aku lebih suka memanfaatkan pembicaraannya untuk jadi bahan lelucon ku, ketahuilah aku seperti itu agar ia tetap tertawa denganku. Segala kesempatan akan aku selipkan candaan hanya untuk senyumnya. Tepat pukul 19.30 malam. Aku bergegas pergi ke tempat janjian kami bedua, aku hanya memakai kemeja corak flora waktu itu dan celana pendek dan memakai sneakers tua ku. Setelah aku sampai disana aku memilih tempat yang biasa kami duduki dulu, dua meja setelah meja terakhir. Entah kenapa kami dulu memilih tempat ini, aku rasa karena tempat ini memang bersebelahan kaca makanya kami memilih tempat ini dulunya. Kaca besar yang langsung melihat keluar sana, orang-orang berjalan kaki, kendaraan lalu lalang, dan kejadian lainnya. 20 Menit sudah aku menunggu disini dan Gea belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin ia tersesat? HAHAHA. Its jokes. Memang pada dasarnya makhluk satu ini memang suka tidak tepat waktu, bisa dibilang ia tukang mager. Mungkin sudah jadi kebiasaan dia dari dulu, entah bagaimana merubah ia. Tapi setelah aku pikir, merubah seseorang bukannya tidak baik? biarkan dia menjadi pribadi seutuhnya dan dia menjadi dirinya sendiri. Tidak berapa lama, mataku tertujuh pada satu sosok perempuan yang rambut hitamnya di urai di tubuhnya terbalut kemeja flanel dan celana jeans blue, sepatu sneakers. Klo dipikir memang biasa saja melihat perempuan berdandan seperti itu, namun kali ini berbeda. Ia perempuan berbeda, jauh berbeda dari perempuan yang sering aku temui. Aku tenggelam sejenak dalam lamunan menatap ia dalam-dalam. Yah mungkin sudah lama tidak ketemu dengan dia, Aku rindu. Iya, Dia seperti ini. Dekatku lagi. *Bersambung*
Pribadi berbeda. (Part 3)
Aku membuka mata di kala senja hampir padam, di sekitaran aku mendengar adzan-adzan sudah mulai berkumandang menandakan maghrib sudah datang. Aku beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi dengan mata masih setengah mengantuk aku dapati handuk yang menggantung ditempat biasanya, aku mandi sebersih mungkin. Sebab sebagai manusia jangan lupa untuk bersyukur atas apa yang telah kita lalui kepada sang pencipta. Kalau bisa untuk kalian yang beragama sama dengan ku, jangan pernah tinggal untuk shalat lima waktu. Yah kalian tau itu adalah tiang agama kita.
Setelah aku selesai menunaikan shalat maghrib, bergegas aku mengambil handphone ku di atas meja. Ku buka lalu aku mencoba mengirim pesan kepada gadis yang aku temui di pasar tadi.
“Hello, lagi apa?” Isi Sms-ku.
Aku menunggu sms balasan darinya, namun sepertinya belum kunjung dibalas. Maka aku sempatkan beranjak kedapur untuk mengisi perutku yang sudah mulai keroncongan, sesampai di dapur ku lihat ibuku sedang menggoreng telur dan sudah menyelesaikan tumisan kangkungnya. Aku izin untuk makan duluan sebab setelah tidur dari siang sampai sore membuat perut kelaparan lebih tepatnya. Sambil makan aku mengecek handphoneku dan ku lihat ia memberi pesan balasan yang kalau dibaca bikin mata perih.
“Siapa ya?” Balasan smsnya. “Nugie, yg dipasar tadi.” Balasku seadanya juga. “Oh lu gie, udah inget sekarang?” “Inget apa? Sampe sekarang gue belum tau nama lu.” “Haha coba cari di buku akutansi nama gue pernah lu tulis di buku itu.” “Serius? Emang pernah?” Aku penasaran dibuatnya. “Haha cek aja kalo gak percaya.” “Nanti deh masih makan.” “Lanjut dulu makan deh.” “Itu bentuk perhatian?” Aku mulai dengan agresif hahaha. “Sotoy.” Itu adalah jawaban sesingkat-singkatnya dan semales-malesnya. “Iya deh iya.”
Habis sudah makan ku, aku mulai mencari ditumpukan buku-buku Sma ku dulu, dan ku dapati satu buku yang sampul depannya sudah tidak ada. Namun di bagian belakang masih tertulis jelas Buku Akutansi kelas 2. Aku buka lembar demi lembarnya, ku lihat ada bagian terlipat segitiga. Kalian yang membaca pasti juga pernah melakukan lipatan segitiga itu, aku yakin. Dan disana tertulis jelas “Gea Harumi Putri.” Dan sekarang pertanyaan yang menggantung dikepala ku sudah terjawab, tidak ada lagi teka-teki dipikiranku.
“Harum!” Aku mengirim Sms lagi. “HAHAHA.” Dia hanya tertawa. “Sudah sudah jangan bermain lagi.” “Lu bisa lupa gitu sama gue?” “Sekarang udah inget, kenangan.” “Udah lewat, nyoba hal baru?” “Besok ketemuan?” Ajak ku. “Malam, di cafe tua.” “Jam? Jangan sampe ngaret.” Aku menyindir. “8 Malam.” Pintah mu. “Goodnight, mau keluar dulu.”
Aku meng-akhir sms ku dengan tidak sopan, yah mungkin aku sudah kebingungan mau membalas sms nya dengan seperti apa. Sebab, kalau perempuan sudah sms singkat artinya dia sudah malas atau lagi tidak berada dalam mood yang baik. Maka dari itu ketika sms perempuan sudah mulai singkat, lebih baik tidak membalas atau pergi dengan meninggalkan ucapan seadanya. Itulah caraku. Aku keluar dari rumah pukul 21.00 setelah beres shalat isya, aku menuju game center tempat biasa nongkrong, jika malam biasa seperti ini aku tidak beli billing. Hanya duduk-duduk ngobrol dengan anak-anak net lainnya. Setiba aku disana mereka sudah lebih duluan datang lebih tepatnya mereka bilang ini: merapatkan barisan. Kami duduk bersantai ngobrol tentang dunia gaming, entah itu di Indonesia atau itu di Luar negeri.
"Eh gie, ada rokok?" Tanya deni. "Ada nih den buka." Sembari melemparkan satu bungkus marlboro merah. "Ketok kagak? Haha." Tanyanya. "Bebas den." "Lu kenapa seneng banget?" "Besok gue mau ketemuan sama temen lama, lebih tepatnya sih kenangan lama gue." Gue ketawa. "Hahaha bangke, sih homo dapet cewek juga akhirnya." Edok ketawa girang. "Yaelah, mantan ini mah lebih tepatnya." Balasku. "Emang boleh mantan di pungut?" Tanya edok meledek. "Gppa ini mah beda dok." "Yaelah lu gie, sikat dah klo gitu." Sambil menyalakan rokok yang sudah digigit Deni daritadi. "Rokok nyet." Dia menawarkan. "Taek itu rokok gue HAHAHAHA." "Kopi yuk, kopi yuk." Edok nawarin. "Gue gak begadang malam ini jam 23.00an gue pulang." "Cemen lu ampe pagi aja." Larang deni. "Malam ini sehat dulu bro." "Huuuuu." Teriakan kecewa dari mereka berdua.
Entah kenapa mereka ini seneng banget cengin gue dalam keadaan gimanapun. Yah, mungkin dalam kehidupan kalian harus punya sahabat seperti ini sebab sisi kehidupan kalian tidak mungki semuanya berjalan dengan seneng doang, di saat kalian lagi down atau lagi dalam keadaan yang susah. Mungkin mereka bisa bantu, kalaupun mereka gak bisa bantu-bantu banget seenggaknya mereka bisa memberi lu sedikit senyuman.
*bersambung.*
Pribadi berbeda. (Part 2)
Siapa dia? Perempuan ini sering datang ke mimpi ku, lalu ia beranjak pergi. Siapa dia? Di ingatanku ia begitu dekat. Lalu, siapa dia? Begitu dekat, namun seperti ada sekat. Ia yang pernah dulu aku suka, benar. Siapa nama dia?
- Nugie
Mulai ku beranikan diri untuk mendekatinya lebih dekat, tetapi belum berani untuk ku sapa. Aku berulang kali mempertanyakan ia dalam kepalaku. Siapa nama dia? Siapa nama dia? Siapa nama dia? Entah setan apa yang masuk kedalam diri ini, tanganku mulai berani menepuk pundaknya.
“Hey, Ingat aku?” itu pertanyaan agar aku tidak malu bisa salah orang. “Yap, siapa ya?” tanya nya balik. “Kamu benar dulu SMA 3?” “Iya benar.” “Kelas 2 IPS 3?” tanyaku lagi. “Eh, siapa ya? iya bener kok.” “Aku nugie, kenal?” “HAHAHAHA,” Ia tertawa. “Kenapa?” aku heran,” “Kamu lupa siapa aku?” “Aku inget siapa kamu, dari tadi aku ingat kamu siapa. Tapi aku lupa nama kamu siapa.” “Kelewatan kamu, sama siapa kesini?” “Oh aku? sama Ibu, oh iya Ibuku dimana ya.” “HAHAHAHA GAK BERUBAH.” “Ayolah siapa namamu, atau gak begini aja. Catet nomor hp mu, terus aku pergi nyari ibuku. Adil kan?” sambil menyodorkan hp ke arah dia. “Oke, tapi setelah aku kasih nomor hp ku, jangan langsung di tanya nama aku siapa ya?” “Oke aku janji.” *sambil menyatatkan nomor hpnya ia berkata* “Bisa juga ya lupa nama orang, kirain dulu gak bakal lupa namaku siapa.” “Hahaha.” aku hanya bisa tertawa konyol. “Sudah, ini hp nya.” “Makasih ya, sampai ketemu lagi. Aku cari ibuku dulu ya.” “Iya sama-sama, ketemu terus kok.” bibir itu tersenyum simpul. “Hehe, bye.” “bye.”
Aku beranjak meninggalkan dia, dia yang belum tahu namanya. Aku kebingungan disini dikeramaian pasar yang aku tidak tahu arah jalan keluarnya dimana, dan sekarang aku harus mencari ibuku yang entah dimana ia berada sedang menawar apa atau lagi mencari apa aku tidak tahu. Dimana ibuku sekarang. AH SIAL! Gara-gara dia aku kehilangan ibuku disini. Aku berjalan mengelilingi pasar sambil melongok-longok kedepan, kekanan, kekiri, kebelakang. Kemana perempuan yang aku cinta satu ini, dalam tekanan aku sempatkan berdo’a. Mungkin ini tampak berlebihan atau semacamnya namun ketahuilah, mencari satu orang dikeramaian sama seperti mencari jarum ditumpukan jerami. Ku keluarkan hp ku dari saku celanaku, ku cari nomor hp ibuku. Beberapa kali aku coba telpon dan beberapa kali coba aku sms namun tidak ada jawaban. Ku putuskan mengambil pilihan aku kembali ke parkiran saja, siapa tahu ibuku sudah nunggu dimotor atau ia masih berkeliling cari belanjaan lainnya.Sesampai aku dimotor, belum nampak juga ibuku. “Where’s you mom?” Tunggu saja disini, nanti juga ia balik kesini. Sekitar 30menitan ibuku datang juga akhirnya. Langsung aku dihujani beberapa pertanyaan yang hanya ku jawab iya,iya dan iya. Tiba dirumah, aku membereskan belanjaan ibuku yang dibeli tadi. Setelah selesai semua dan berakhir tanpa omelan, aku menuju kamar. Merebahkan badanku ke kasur, ku keluarkan hp ku. Lalu ku cek nomor hp yang ia kasih tadi, entah aku bingung mau kasih nama apa ia dia daftar kontak ku. Sibuk aku memikirkan itu, kantuk ku datang. Ku coba memejamkan mata tanpa pikir panjang, tampaknya pikiran, tubuh dan isinya harus butuh istirahat juga. Tepat pukul 11.55, aku sudah terlelap dalam lautan mimpi-mimpi.
*bersambung*
Pribadi berbeda. (Part 1)
Aku mulai dengan mata kantuk pagi ini, entahlah seberapa benci aku kepada matahari. Rasanya melihat terik itu, aku dendam. Mataku kecut, corak hitam mulai melingkari kantung mataku. Bagaimana tidak, hidup di dunia malam membuat aku lupa begitu cerah pagi untuk di lewatkan.
Di ruangan persegi empat, aku duduk di tepat depan meja. Ku perhatikan ada beberapa barisan buku, ku lihat satu-satu judul di bagian sampingnya. Rupanya itu buku kala aku beranjak masuk kelas 2 SMA, aku mulai berpikir. Dulu aku tidak begini, lelap disaat matahari tiba, bangun kala senja mulai padam. Yah… Bisa di bilang, tepat pukul sembilan malam. Aku sudah mulai beranjak meniduri guling, memejamkan mata tidak lupa membaca do'a.
Aku mulai bertanya-tanya teruntuk diriku ini, mau jadi pria idaman tetapi hidup begini. Tamparan-tamparan tanya mulai lalu lalang, seenaknya saja memerahi pikiranku. Istri mau sholehah, mau punya rumah mewah, mobil mewah, kerja maunya dirumah. Khayalan-khayalan durjana itu ku mulai sejak lulus SMA, entahlah. Rasanya pun Tuhan tidak sanggup meng-izinkan semua titipanku itu.
Kantuk mulai menyerang pertanda aku harus terlelap pagi ini, akan tetapi pikiran-pikiran yang ku anggap fiktip belaka itu tetap pada tempatnya, yah… tetap mengenyangkan kepalaku. Dari ujung pintu terdengar suara ketukan “Tok, tok, tok..” Aku terdiam sejenak sambil menatap pintu itu dalam-dalam, aku sudah tahu itu siapa. Wanita yang sudah tidak muda lagi, wanita yang kulitnya mulai mengkerut, wanita yang dulu gemuk sekarang perlahan mengurus. Yah itu Ibuku. Lalu, kubukakan pintu kamarku. Belum sempat aku menyuruhnya masuk, ia sudah berkata.
“Pulang pagi lagi?” “Darimana?” Tanyanya lagi. “Tidur tempat temen.” Jawabku “Gak sekalian baju diangkut kesana?” “Suntuk dirumah, abisnya gak bisa ngapa-ngapain.” “Klo suntuk, jangan dikamar makanya. Cari kegiatan, atau kerjain urusan kampus. Biar gak tidur pagi terus. Rumah bukan hotel.” Aku terenyak kaget. “Yaudah sekarang mau apa?” Aku mulai bertanya soal hidupku. “Mandi sana, anter kepasar.” “Iya.” Jawabku singkat.
Aku mengambil handukku, berjalan kearah kamar mandi rasanya berat sekali. Mataku sudah tidak bisa lagi menahan kantuk, mau bagaimana aku harus jadi anak taat kepada orang tuaku. Aku berjalan sambil memikirkan, perkataan Ibuku yang terakhir tadi. “Rumah bukan hotel.” Perkataan yang jelas belum aku dengar sampai 5 Tahun kelakuanku begini. Sampai didalam kamar mandi, saat aku mandi, dan ketika aku sudah memakai bajupun tetap memikirkan tiga kata tersebut. Tamparan keras bagiku.
Aku sudah rapi, saatnya pergi. Ku keluarkan motor dari dalam rumah, ku panggil ibuku dengan nada sedikit tinggi namun bukan membentak, hanya menandakan aku sudah siap mau mengantarnya. Ia tidak menjawab, berjalan dengan santai ke arahku.
“Nganternya jangan cuma di parkiran, temenin masuk juga. Soalnya belanjaan rada banyak, jadi bantu angkut belanjaan.” “Gak mau, sampe parkiran nanti aku tunggu diparkiran.” Aku menolak “Terus yang angkatin siapa?” “Iya.” Aku meng-iyakan, namun memasang wajah tidak enak.
Tiba di pasar, aku menemani ibuku belanja. Aku mulai tidak mengerti wanita, entahlah dari tawar-menawar, harga sayuran, harga kerupuk, harga bumbu dapur, dll. Semua di perhitungkan dengan setipis-tipis isi kantong, walaupun hanya beda Rp.500,- tetap mahal menurut mereka. Aku benci didalam pasar, hampir satu jam aku berkeliling membuntuti nyonya besar satu ini. Kaki ku rasanya mau patah, tangan ku pegal membawa belanjaan ini. Ya mungkin efek belum tidur. Tidak sengaja, seperti telintas begitu saja. Aku mulai memperhatikan satu sosok wanita lain didepanku. Aku mengingat siapa Ia? Sekitar dua menit aku berhasil menebaknya. Yap! Dia teman lamaku lebih tepatnya wanita yang aku suka dari SMA, tetapi aku lupa nama. Entah siapa namanya aku benar-benar tidak ingat, yang jelas ia makin cantik. Aku terus mengikuti teman lamaku ini dari belakang, aku belum berani untuk menyapanya. Dari sejak dulu memang aku suka dia, yah Dia. Dia teman SMA ku.
*bersambung*
Menari di atas sepi
Gempita malam jadi saksi bisu paling sendu, jangkrik-jangkrik bernyanyi hingga larut berganti pagi. Kepulan-kepulan asap yang terhembus jadi teman terjaga, tepat pukul satu dayun-dayun irama jazzy berkumandang bebas menggelantung di daun telinga.
Sepi seolah menikam lebih tajam dari belati, dini hari aku berteman sepi. Sudah ku sesap dua gelas kopi, berselimut keram di hati. Malam ini ku temui jalan sekitaran kosong, tak ada orang-orang lalu lalang.
Tanya mulai datang berbondong-bondong di kepalaku. Kapan ini berhenti? Kapan aku tidak lagi sepi? Kapan aku bahagia? Kapan aku sukses? Pertanyaan terakhir yang menyakitkan ialah Kapan aku wisuda?
Semua pertanyaan hanya tanya, tidak ada jawab. Hanya diam, aku menghela nafas tanda aku mulai menyikapinya dengan bijak. Barangkali itu caraku tidak dapat menjawab semua pertanyaan. Bukankah manusia punya cara masing-masing menjawab masalah?
Aku tersenyum. Meratapi apa-apa yang belum bisa aku jawab, bersikaplah seolah tidak apa-apa dalam semua masalah. Bila kamu mampu menyelesaikannya sendiri, selesaikan. Bilamana tidak bisa, dekatkan diri kepada-Nya. Barang kali masalah datang bertubi, kamu jauh dari sang Illahi.
Bukankah tidak harus dengan temu kita bisa berselancar? Yah, cukup ku kenali ombakmu dari tulisan.
Sewaktu-waktu akan ku tinju kaca buram berselimut embun itu, agar sekat tahu. Apa itu, Rindu.
Sewaktuwaktu akan aku perlihatkan retak di kacaku. Agar kau tahu, disini rindu sudah tak lagi berlaku.
Bila rindu sudah tak berlaku, ku tulis namaku di retak kacamu. Sewaktu-waktu embun akan menghapus semua.
Jangan biarkan embun mengambil alih tugasmu. Apapun itu, meski menghancurkanku sekalipun, aku ingin itu kamu.
Sudahi saja. Terimakasih, kaca.
Sepuluh, duka, karam.
Tuntas sudah malam Ada jerit tak bersuara Perahu mulai karam Aku bukan nahkoda Iya, bukan nahkoda handal. Mentari datang pelan-pelan Mengintip di balik langit-langit Ia hadir bersama embun-embun Disini aku kehabisan kata-kata Iya, kehabisan kata-kata duka. Pagi menyubuh Dingin menusuk tubuh Harap ku sudah jatuh Pada bagian ke sepuluh Iya, bagian ke supuluh cerita kita. Perahu ku karam Habis sudah kata-kata Di bagian ke sepuluh Aku tenggelam.
Raya duka
Manis sudah kata perpisahan Bibir tipis mu terakhir memberi kecupan Mendarat di pipi sebelah kanan Mengakhirinya dengan tangisan. Sudah tidak ada lagi tawa di tempat yang sama Kerap adanya kenangan-kenangan menjerit minta terulang. Air mulai jatuh satu persatu. Sendi-sendi ku membeku. Mencari-cari dimana dirimu. Bibir ku mulai getar kala aku Rindu. Aku berduka merayakan kita. Setelah tidak ada lagi kita. Sisa-sisa aku dan kau hanya cerita. Baturaja, 25 November 2016 Cc : @rintikkecil @kelaspuisi @narasibulanmerah