
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Brazil
seen from Australia

seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Switzerland
seen from China
seen from South Korea

seen from United Kingdom
seen from China

seen from Spain
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from United States

seen from United States
seen from United States
Do Enjoy The Day Off
By: Nadya Priscilya Hutajulu
I have never noticed how miserable it would be to be working on weekends. I must have witnessed my parents worked overtime or during weekends but I never really paid attention to it until last Saturday. So there were my friends and I having good time together. We couldn’t enjoy the night at that cafe without the tasty meals made by the chef, comforting hospitality by the waitress that came in handy, and the live music beautifully played by the band.
From my side of view, it turned out that the night was pleasant for the restaurant’s guest but not for people that were making money out of what the guests enjoyed. I know it’s very soon to conclude that only the guests were happy. Actually, what I noticed last Saturday have brought me back to microeconomics class I enrolled last semester particularly to the part which the backward bending supply of labor curve was taught.
The curve is interesting. It draws the relationship between wage rate and working hours. From that curve, we can picture a theory saying that after workers reach a certain point, their working hours become less and less though the wage rate is increasing at the same time. The reason is time spent for working is at expense of leisure time and in that certain point, workers can’t bear the opportunity cost any further.
People working in the restaurant may be not applicable for the theory for they might not be able to choose their shifts or they might actually have sufficient leisure time. To make the illustration become easier, let’s take example of the life of college students. With enormous obligations to learn the subjects’ materials, the opportunity to earn life experiences is abundant out there. The college students also fit with the curve’s assumption of independent decision of working hours (hereafter refers to as productivity). Therefore, it’s now common to see students excel in organizations, committees, and also competitions. Sometimes, they all stand balanced in the same time. But it’s not unusual to see some students fail in excelling at all of those.
So, what is it all about? Well, in my point of view, the curve is supposed to be a “wake-up-call” for individual to be aware of their limits in working. But you know that the limit, that certain point itself can be relaxed through personal reasons like a willingness to invest more from the income, a need to buy something really expensive their current savings can’t afford, or simply because they’re no friends to hang with. For college student, the reasons maybe fulfilling ambitions to upgrade CV, expanding networks, or getting recognized as high achiever.
However, the main concern is to realize that no matter how far you shift the curve forward, the shape is still backwards. In other words, the limit of working hours still exists. In the end, the constraints of limit will not be able to be compromised any longer that you end up in a situation where we become less productive if you force yourself to go beyond the limit.
Knowing this helps you realize not to pull the limit before it shrinks to the previous level you’ve been. But the only person who knows the limit is yourself who knows your ambitions, strengths, and weakness better than anyone else. Before contemplating it, I suggest enjoying day off genuinely without guilty of not working. You know, even terrible workaholics deserve it.
Pemanfaatan Energi Nuklir di Indonesia
Oleh: Nadya Priscilya Hutajulu
Membangun sebuah instalasi energi yang mampu menyuplai listrik dalam jumlah yang sangat besar menjadi kebutuhan bagi Indonesia saat ini. Di tengah krisis energi yang dihadapi, berbagai macam solusi berusaha diterapkan. Penelitian tentang elaborasi energi alternatif digencarkan. Rencana pembangunan pembangkit listrik baru juga digalakkan. Salah satu ide yang masih mengundang kontroversi saat ini adalah mengenai rencana pemerintah untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.
Nuklir layaknya pisau bermata dua. Keunggulan nuklir terletak dari kemampuannya untuk menghasilkan energi yang sangat besar tanpa menghasilkan produk sampingan berupa emisi gas rumah kaca. Selain itu, nuklir merupakan sumber energi yang bersih, yang tidak menghasilkan gas-gas berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, aerosol, dan lain-lain. Meskipun menghasilkan limbah padat, hasil sampingan tersebut hanya sedikit bila dilakukan dalam proses normal.
Melihat keuntungan yang mampu diberikan energi nuklir, tentu kita berpikir bahwa inilah solusi yang dibutuhkan Indonesia. Sayangnya, nuklir mempunya sisi negatif yang tak kalah luar biasa. Nuklir adalah sumber energi yang riskan dimana terdapat resiko kecelakaan nuklir dan limbah nuklir. Tentu kita tidak lupa bagaimana kasus Chernobyl menimbulkan kerugian yang luar biasa. Yang masih segar di ingatan tentu kejadian PLTN Fukushima yang bermasalah akibat gempa yang baru-baru ini menimpa Jepang.
Kejadian di PLTN Fukushima adalah sebuah refleksi yang baik bagi Indonesia mengenai kesiapannya membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Satu hal pertanyaan mendasar adalah mengenai kesanggupan pemerintah bertindak cepat dan tepat menyelesaikan dan menanggulangi masalah ketika dua resiko yang disebutkan di atas terjadi. Berkaca dari pemerintah Jepang yang bersinergi untuk tanggap dan tetap tenang menghadapi kasus Fukushima, mampukah pemerintah Indonesia melindungi rakyatnya dan terlebih lagi menjamin keamanan dunia ketika sesuatu terjadi pada pembangkit listrik tenaga nuklirnya?
Kejadian di Jepang tentu membuat masyarakat bertanya-tanya tentang kesiapaan Indonesia. Khusnun Ain, S.T., M.Si. (peneliti dari Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Airlangga) mengungkapkan bahwa Indonesia sudah siap membangun pembangkit listrik tenaga nuklir. Kebutuhan listrik yang kian banyak, suplai bahan bakar fosil yang tidak memadai, dan harga bahan bakar fosil yang semakin naik membuat kebutuhan akan pembangkit listrik tenaga nuklir kian mendesak. Pernyataannya didukung dengan asumsi bahwa saat ini ahli-ahli nuklir Indonesia sudah sangat siap dan bahkan sudah melakukan beberapa kali riset dengan aman.
Lepas dari masalah teknis, kendala pemerintah dalam mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir terlebih setelah kejadian Fukushima adalah psikologis masyarakat sendiri. Masyarakat Indonesia tidak banyak mengenal energi nuklir dan menganggap bahwa energi ini berbahaya terlebih setelah melihat apa yang menimpa Chernobyl. Pemerintah perlu mengedukasi masyarakat agar lebih terbuka tentang masalah ini. Namun, tindakan ini juga harus didukung oleh kredibilitas pemerintah menjamin bahwa implementasi terobosan ini telah mengikuti prosedur dan selanjutnya dapat dipertahankannya. Hal ini bertujuan agar masyarakat semakin yakin bahwa teknologi ini memiliki sisi positif dan sisi negatif yang dapat diatasi oleh pemerintah.
Kembali ke sejarahnya, pengembangan teknologi nuklir telah lama dimulai, yaitu mulai tahun 1954. Saat ini terdapat tiga reaktor percobaan yang berfungsi sebagai lokasi penelitian, yaitu di Bandung, Yogyakarta, dan Serpong. Reaktor penghasil listrik bertenaga nuklir pun sudah dikembangkan di dua lokasi, yaitu di Muria, Jawa Tengah dan Gorontalo, Sulawesi. Menurut Deputi Bidang Pengembangan Teknologi Daur Bahan Nuklir dan Rekayasa Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot S. Wisnubroto, rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia tak akan dibatalkan atau terhambat dengan adanya bencana di Jepang.
Di balik semuanya, Indonesia dapat terus berkaca kepada Pemerintah Jepang. Mengingat semakin tingginya kebutuhan akan energi, pelaksanaan dan pengembangan teknologi ini tentu dapat menjadi solusi terlepas dari kelemahan nuklir sebagai sumber energi. Selain itu kejadian di Fukushima dapat menjadi sebuah evaluasi juga untuk pemerintah terhadap kondisi sekarang ini sekaligus menjadi bahan renungan atas kesiapan pemerintah bertindak seperti pemerintah Jepang ketika terjadi bencana yang menganggu stabilitas instalasi nuklir. Ketika akhirnya pemerintah memutuskan untuk terus melangkah mengembangkan energi ini, seluruh masyarakat dan pihak yang terkait hendaknya dapat bersinergi untuk menyukseskan program ini.
Tentang Jalanan Jakarta
Oleh: Nadya Priscilya Hutajulu
Kata orang, jalanan Jakarta kejam.
Mungkin mereka benar. Mungkin mereka saksikan mulut pengamen bersuara minim teknik terkatup menatapi kantong yang dia edarkan kosong. Atau mereka pernah dengar yang pegang setir besi rongsok berisi sesak manusia mengeluarkan ucapan manis berisi sumpah serapah. Oh, mungkin mereka juga terenyuh melihat pundak kering berselimut kulit yang habis terbakar matahari tak kuasa lagi menggendong sumber pencahariannya. Sementara yang di dalam mesin berpendingin tetap berkacamata hitam dan enggan menoleh ke kiri atau ke kanan apalagi ke bawah.
Tapi, tak perlu terlalu bersimpati pada yang terlihat susah. Toh jalanan menghukum semua yang menginjak-injak dirinya. Toh yang berkacamata hitam tak selalu berlalu dengan lancar. Sesekali mereka pun berhenti saat besi-besi lain memadati jalurnya, menandai dimulainya sebuah cobaan.
Begini, tidak semua yang berkacamata hitam di belakang setir besi-besi buatan Jepang, Jerman, atau manapun itu adalah orang-orang arogan. Beberapa dari mereka sabar dan setia di jalurnya, tanpa membunyikan klakson yang tak perlu, atau sering ikhlas memberikan jalan pada motor-motor urakan yang merebut jalannya. Mereka sampai ke tujuan, walau kadang terlambat tapi juga sering malah cepat.
Tapi lebih banyak yang mau menang sendiri. Ke kanan bila kosong. Kembali lagi ke kiri bila ada kesempatan. Mereka suka memainkan emosi siapapun yang di belakangnya, walaupun banyak juga yang memang diberi kesempatan oleh Si Sabar. Tidak heran bila cepat sampai ke tujuan meskipun, lucunya, sering terlambat karena termakan egoisme sendiri.
Ah, benar kata orang, jalanan Jakarta kejam. Dia bunuh waktu milik Si Sabar dan temannya yang kurang sabar itu. Dia kikis alas berpijak siapapun dan apapun. Dan yang paling kejam, dia ambil nyawa... Si Sabar dan temannya yang kurang sabar itu sebelum mereka sampai ke tujuan.
Biarlah. Pilihan mereka semua untuk titipkan hidup pada jalanan. Tak salah jika ada pengorbanan. Toh, pada akhirnya, mereka semua akan sampai pada hilir yang memberhentikan keberanian mereka. Ya, keberanian mereka untuk tinggalkan hulu dan beradu dengan hidup.