Tanggal 2 September kemarin adalah hari perdana masuk kuliah sebagai mahasiswa S2 profesi psikologi pendidikan. Di awal, mahasiswa profesi 2013 dikumpulkan di auditorium untuk mendapatkan pengarahan dari mbak Tia selaku wakil dekan. Menurut pengakuan mbak Tia, angkatan 2013 (pendidikan, pio, klinis anak, dan klinis dewasa) adalah angkatan yang paling sedikit mahasiswanya. Ada kurang lebih 55 mahasiswa. Ada laki-lakinya? Ada, tapi sangat minoritas. Jumlah laki laki bisa dihitung dengan satu tangan! Bahkan di profesi pendidikan dan kla engga ada laki-laki loh. Hihihi.. Rupanya profesi psikolog masih dikuasi oleh kaum hawa :D
Setelah pengarahan, saya jadi tersadar akan banyaknya perbedaan antara S1 dan S2. Beberapa pertimbangan yang seharusnya membuat saya dan teman teman semakin rajin lagi belajarnya, pertama karena seleksi S2 lebih sulit dibandingkan S1. Dari sekian ratus pendaftar, hanya diterima 50an mahasiswa. Untuk dapat menjadi mahasiswa S2 profesi psikolog, kami harus melalui seleksi dua tahap. Tahap pertama simak dan tpa, tahap kedua psikotes, fgd, dan wawancara. Pada tahap kedua kami langsung berhadapan dan dinilai oleh psikolog. Sehingga psikolog tau betul apakah minat, motivasi, kepribadian, dukungan sosial yang kami miliki sesuai dengan karakteristik yang dibutuhkan sebagai psikolog yang profesional dan bermanfaat untuk masyarakat.
Kedua terkait biaya. Biaya pendidikan S2 jauh lebih mahal dibandingkan sewaktu saya S1. Dulu saya S1 reguler, jadi biaya pendidikan engga begitu mahal dibandingkan program paralel dan KKI. Kalau dihitung-hitung dari awal masuk hingga tamat (insyaAllah lulus 2 tahun) biaya pendidikan yang harus dikeluarkan sebesar 63 juta. Itu hanya UP dan BOP. Belum termasuk uang buku, fotokopi, beli reward partisipan, transportasi, konsumsi, dan pengeluaran untuk tesis.
Ketiga karena masa studi S2 yang singkat. Masa studi normal itu 4 semester (2 tahun). Fakultas memberikan kesempatan jika ada mahasiswa yang ingin cuti selama 2 semester (1 tahun). Jadi maksimal 3 tahun! Lebih dari 3 tahun, mahasiswa tersebut harus putus studi (drop out). Flash back ke masa kuliah S1, entah mengapa waktu terasa begitu cepat. Baru kemarin masuk, eh besok udah wisuda. Jadi untuk S2 kali ini, waktu harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin.
Dengan tiga pertimbangan ini, saya wajib bersyukur karena dikasih kesempatan sama Allah, didukung oleh orangtua, dan diberi kepercayaan oleh para penguji untuk bisa mencari ilmu di profesi psikologi pendidikan. Salah satu wujud rasa syukur itu dengan terus belajar. Belajar sebenar benarnya belajar. Bukan sekedar belajar. Bukan sekedar tau, kemudian lupa. Belajar untuk bisa menjadikan ilmu itu bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain.
Mohon doa agar studi saya di profesi psikologi pendidikan lancar dan berkah hingga meraih gelar M.Psi :)