24.5.16
92 halaman Project Bara. Still progressing.
Semoga.
seen from China
seen from United Kingdom

seen from China

seen from France
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Japan
seen from Türkiye
seen from China
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from T1

seen from Italy

seen from Türkiye

seen from Estonia
seen from United States
seen from Canada
seen from India
seen from Canada
seen from United States
24.5.16
92 halaman Project Bara. Still progressing.
Semoga.
Jkt, 18.05.16
Dear Kak,
Seiring sesapan kopi dari merk franchise superb terkenal yang ternyata rasanya aneh ini, saya hanya ingin minta maaf di awal karena tulisan ini hanya akan berisi racauan tak karuan. Seperti rasa yang sedang saya alami saat ini. Seaneh rasa kopi dengan rum non alkohol namun tanpa takaran yang tepat. Di ambang batas antara mau memberi rasa tapi tidak berani mengambil resiko untuk dicap berdosa.
Apa kabar, kak? Aksi kemarin terlalu keren. Terlalu hebat hingga saya terlena. Berpikir hati saya sudah mulai kembali kuat untuk menghadapi apa yang ada di depan. Tapi hanya Tuhan yang sungguh memiliki hati manusia, kan? Hanya Tuhan yang bisa membolak-balik hati dalam hitungan milidetik. Tuhan Maha Baik, masih mau mengingatkan saya untuk tidak terlena dan berpikir bahwa kita, selalu siap lahir batin menghadapi apa pun yang akan hidup berikan. Tuhan Maha Mengerti, harus diapakan segala lemon yang hidup lemparkan pada kita, hanya saja saya yang belum bisa menemukan resep yang pas untuk menggunakan lemon sebanyak itu. Atau mungkin harusnya saya mulai mencari banyak resep agar lemon yang terlalu banyak ini bisa diolah menjadi banyak makanan yang bisa memberi makan banyak orang? Toh pada akhirnya, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberi manfaat bagi sekitarnya.
Bagaimana kabarnya sekarang, kak? Hidup sedang superb ya, dalam semua idiom superb itu dapat diletakkan. Saya hanya mau bilang bahwa saya baru meresapi lirik Tarintih. Benar bahwa itu adalah hubungan antara Ibu dan Anak, namun selama ini hanya sampai bagian surga saja yang bisa maknai. Sampai hidup akhirnya memberi saya kesempatan untuk memaknai liriknya, versi saya sendiri. Semoga bagian “Ingatmu kau merayu, ingatnya kau berlalu”nya Sendu Melagu tidak harus saya resapi sampai begini ya, Kak. Cukuplah di-PHP in, mah *curcol.
Astaga, saya tidak tahu harus mulai darimana. Saya sedang ada di kondisi lelah luar biasa. Semua orang sedang sibuk bercerita dan mengeluarkan keluh kesahnya pada saya. Bukannya saya tidak suka, saya sebenarnya sudah terbiasa seperti itu dari dulu. Malah sebenarnya saya senang bisa mendapat kepercayaan dari orang lain. Yang sedang menjadi masalah internal dari saya sendiri adalah saat ini saya sedang butuh ditanya. Butuh merasa diperhatikan dan dipedulikan, setidaknya ada yang bertanya bagaimana perasaan saya. Meski tentu pertanyaan semacam itu akan berakhir dengan kebaperan tingkat tertinggi yang bisa diawali dengan segaris aliran air mata.
Saya lelah. Terlihat terlalu kuat ternyata tidak sebaik itu ya, Kak. Semua menjadi terlalu sibuk untuk menceritakan perasaannya, menguras habis semua kesedihan dan kemarahan pada saya. Atau malah menembakkan segala amarah yang mereka rasa (yang sesungguhnya untuk orang lain) kepada saya. Mereka terlalu sibuk untuk merasa tidak diperhatikan dan mengeluarkannya pada saya tanpa pernah bertanya apa saya baik-baik saja. Terlalu sibuk menganggap saya sebagai tong sampah emosinya dan berpikir bahwa ini tanggung jawab saya untuk meluruskan semuanya. Meluruskan apa yang bahkan tidak semuanya saya ketahui. Percayalah, Kak, bahkan lawyer hebat sekalipun tidak akan mampu membantu kliennya secara maksimal jika ia tak mengerti duduk permasalahannya.
Bagi saya saat ini adalah puncak masalahnya. Mereka yang berpikir saya tidak perlu tahu, tapi berharap saya bisa membantu. Di titik ini saya jatuh, Kak. Di titik ini saya menyerah dalam kesunyian. Mengakui segala ketidakberdayaan saya pada Tuhan, dan sungguh hanya butuh satu orang untuk sekadar bertanya ada apa dan saya runtuh.
Jangan bertanya tentang nya. Ia sedang super sibuk dan saya pun sedang lelah untuk terus mulai terlebih dahulu mengabari sesuatu. Saya dengan penuh kesadaran bahwa ini bukanlah tindakan yang bijak, sedang enggan untuk menjadi kuat dan menjadi penengah. Saya hanya ingin sekali runtuh di hadapan orang yang peduli. *kemudian lari ke kamar mandi kantor dan nangis*
Ah, bicara apa saya ini, hanya buang-buang waktu. Maaf ya, Kak. Kalau dibaca dari atas sebenarnya semuanya kontradiktif, sudah tau saya sedang butuh orang yang peduli, bukannya bicara pada salah satu dari mereka, malah nulis beginian ke orang yang bahkan gatau saya siapa. Woman period ini juga tidak membantu (alasan pamungkas wanita). Yah, anggap saja semua kekalutan ini mengembalikan saya kembali pada khayalan bicara melalui tulisan seperti ini.
Sebelum saya meracau semakin tidak karuan dan malah bicara panjang lebar nan detil tentang masalahnya, mari kita sudahi disini saja. Semoga sukses selalu, Kak. Semoga akan ada gigs yang secepatnya bisa saya datangi. Demi kembali bisa mengunci diri saya dalam satu momen dan merasa hidup, merasa sedang bersama orang-orang yang peduli, setidaknya pada satu hal yang sama.
Warm regards (and a lot of apologize for doing thing like this again),
Nurulita R. Tyas
P.S. Dear Anon ask.fm yang sangat baik hati dan rajin ngirim link tumblr saya ke ask.fm mereka, coba yang bagian ini nggak usah dikirim yaa.. Thank you!
Selesai
“Bar?” Aku memanggilnya, memastikan ia masih cukup sadar untuk menetap di alam yang sama denganku.
“Gue nggak paham kenapa waktu itu gue belum pernah sengaja ngeluangin waktu untuk bikin dia tau, gue bahagia sama dia.” Matanya menerawang menegaskan benaknya yang sedang kembali ke masa lalu.
“Gue kadang mikir, emang gue seegois itu ya? Gue sirik loh, liat dia bisa ketawa lepas sama temennya. Masih bisa tebar senyum sama fansnya. Masih punya tenaga untuk tertawa dan mengacak-acak rambut teman-teman wanitanya. Masih bisa sebahagia itu. Selama bukan sama gue.”
Aku hanya bisa diam saat mendengar kejujuran rasa dari perempuan di sampingku ini. Luruh sudah pertahananku untuk mencoba bijak. Nasihatku larut dalam diam.
“Kalau udah berdua sama gue, dia jadi sisi yang nggak pernah orang liat. Well, it is such an honour to see the not-so-pretty side of somenone. It means that that particular someone puts his trust on you. But not for every single seconds you spent with him. At some point, I just couldn’t take it anymore, Bi. Call me a selfish b*tch but I want to have his smile too for me.”
Ia menghela napas. Menyadarkanku dari napasku yang tertahan sedari tadi, entah semenjak kapan. Mengingatkanku untuk kembali bernapas.
“And you know where’s it all went worse, Bi?”
Aku menggeleng. Pasrah akan jalan cerita yang sudah terasa sedih ini.
“He has soooooo many girls cheering for him.”
Aku gagal menyembunyikan keterkejutanku. “Kak San, emang Bar…”
Sandra hanya mengangguk lemah. “Gue juga nggak paham apa itu sebenernya. Yang bikin gue sedih bukan masalah ada yang nyemangatin dia. Banyak itu sih, gue juga paham dari pertama-tama gue kenal dia. Resiko gue mengingat dia adalah publik figur dan memang ramah sama semua orang. Apalagi cewek.” Ia mengambil cangkir putih di hadapannya, menenggak habis isinya sebelum kembali bertutur.
“Yang bikin gue sakit adalah kenyataan dia nggak cerita ke gue tentang si wanita ini. Padahal selama ini dia selalu cerita tentang wanitanya yang lain. Yang bikin gue jatuh adalah kenyataan yang menghantam terlalu kencang bahwa ternyata setelah semua sendu dan muram yang tak pernah padam dari wajahnya saat hanya ada aku dan dia, dia masih memilih untuk tidak cerita saat ia menemukan sumber kesenangan lain.”
“Tapi kan…”
“Persetan sungguh wanita itu siapa, aku tidak peduli.” Sandra memotongku. “Yang aku pedulikan adalah sikap Bara saat menyikapi wanita itu. Sikapnya yang tidak cerita padaku sama sekali. Sikap seperti itu yang membuat aku sadar bahwa aku telah merasa lelah terlalu jauh, Bi. Telah mencoba mengerti dan memahami lebih dari yang aku mampu. Terlalu memaksakan. Dan mungkin ini saatnya aku berhenti.”
“Kenal darima…”
“Aku tidak peduli, sungguh. Bukan minatku untuk menjadi mata-mata wanita dan mengumpulkan semua info tentangnya. Kami baru saja berantem hebat, aku yang seumur pacaran tidak pernah melihat chat di HP Bara, kemarin ini dengan penuh kesadaran melihat chat dia dengan teman-temannya. Dan lagi, kutemukan seorang wanita. Ah, aku bahkan tak tahu ia sama atau tidak dengan si wanita baru kesayangan Bara. Yang jadi masalah adalah masih ada yang begitu. Bara masih membiarkannya terjadi. Mungkin semangat dari sudah tidak cukup untuknya. Sudah terlalu lama dan mulai terasa usang.”
Aku memegang kotak tissue yang ada di meja, menggesernya ke tengah, tepat di hadapan Sandra. Tak tahan aku melihat matanya yang merah. Meski sebenarnya yang membuatku benar-benar tak tahan adalah suara tercekat yang ia keluarkan. Sakit sekali.
Sandra mengambil selembar tissue dan ia mainkan di tangannya. “Buat Bara itu bukan masalah, malah ia yang marah padaku, bicara aku yang terlalu penasaran. Yang selalu jadi masalah bagiku adalah kenyataan bahwa aku masih bisa menemukannya, demi Tuhan!” Ia menarik napas panjang. “Dan yang lebih gilanya lagi, saat aku mencoba menemukan teman pria untuk cerita perihal semacam ini... tidak ada. Tidak ada yang bisa aku temukan satupun. Salahku yang terlalu percaya bahwa Bara adalah sahabat terbaik sekaligus pasangan sempurna untukku. Hingga tidak pernah terbersit sedikitpun keinginan atau rasa kebutuhan akan mencari teman pria lain sekadar untuk cerita. Padahal saat kulihat sekarang, teman wanitanya bahkan jauh lebih banyak jumlahnya dari teman dekatku. Brengsek!” Sandra memiringkan cangkir putih yang sedari tadi ada di hadapannya, memastikan isinya yang sudah kosong. Melambaikan tangannya saat aku hendak memanggil pelayan untuk menambah pesanan.
“Tidak usah, Bi.” Ia menggeser cangkir putih hingga berada jauh dari jangkauan kami. “Ah, kalau cinta adalah soal percaya, mungkin aku memang sudah tidak cinta lagi, Bi. Kalau berjuang adalah soal keyakinan, Bara dengan gagahnya sudah mengoyak semua keyakinanku akan dia.”
Sandra melilitkan tissue dengan lebih kencang di telunjuk kirinya yang sudah mulai memutih.
“I bet this is it, Bi. I’ve done enough and I guess Bara should know this.”
Sandra memutus tissue yang daritadi ia lilitkan. Tissue itu dibelahnya jadi 2 sebelum berakhir sebagai bentuk tak beraturan di atas meja. Setidakberaturan hatinya, hanya keteguhan yang ia punya saat itu untuk bicara dengan Bara.
Dan setidakberaturan itu reaksiku saat mendengar bahwa 2 hari setelah pertemuan kami, Sandra memutuskan hubungannya dengan Bara.
**
“Bi...”
“Eh, duh kenapa, Bar? Sorry, sorry.”
“Ngelamun mulu, bosen ya dengerin gue terus?”
Aku nyengir sebisanya. Tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan disaat begini.
“Ah, laper lagi jangan-jangan lu.” Bara memutar pergelangan tangan kanannya, melihat jam silver dengan rantai yang sama persis dengan milik Satya. “Tuh kan udah jam segini. Makan dulu, yuk. Ntar gue anterin pulang deh, habis makan.”
Aku tertawa. Bara pun membuka pintu kecil yang langsung menunjukkan tangga. Untuk turun dari rooftop apartemenku, tempat kami berdiam selama 4 jam ke belakang.
Halo Mas,
Sudah lama tidak berjumpa. Hm, ralat. Sudah lama saya tidak datang dan melihat. Semesta sedang tidak mengizinkan. Banyak urusan lain yang harus dikerjakan dahulu, katanya.
Apa kabar sekarang? Senang melihat semuanya maju semakin cepat. Sudah sesukses itu kata orang lain. Masih ingat dengan nya? Kata nya, “Udah banyak banget yang nonton sekarang. Baru pada tau sih, telat.”
Saya hanya tertawa mendengarnya. Si nya ini yaa sifatnya memang begitu. Suka nggak rela kalo idola kesayangannya mendadak diketahui banyak orang. Apalagi kalo orang yang tahunya telat (oh iya, nya selalu punya timeline kapan sebaiknya mengenal musik. Jadi kalau lewat dari timeline nya, dengan penuh semangat akan ia katakan telat). Padahal inti musik adalah selalu tentang berbagi kan ya, Mas? Telat atau tidak hanya masalah waktu yang sedang mengurai jalan.
Apa kabar sekarang semuanya? Semoga baik-baik saja. Meski di beberapa media sosial kemarin ini ada kabar bahwa ada yang sedang sakit, semoga untuk beberapa waktu ke depan bisa lebih menjaga kesehatan ya, mengingat akan ada konser di bulan Mei.
Bagaimana hidup sekarang? Sedang baik-baiknya, nampaknya. Tuhan Maha Baik. Saya juga amini itu. Tuhan Maha Mengerti, saya yang belum mengerti. Jika memang hidup sedang begitu membingungkan, bahkan sekadar untuk melaju, harusnya apa yang saya lakukan? Berdiamkah sejenak? Atau paksakan diri meski harus merangkak?
Tuhan Maha Memahami, saya yang masih belum paham. Mengapa hati yang baik bisa memilih jalan yang kurang baik. Mengapa hati yang tulus malah lebih sering terluka daripada merasa bahagia. Mengapa niat yang teguh harus dihantam gelombang tinggi sebelum menjadi laksana.
Maaf ya, malah meracau (kapan juga saya nggak meracau kalau menulis kepada Mas?). Percaya atau tidak, sampai detik ini, di titik rendah ini, melihat kalian semua masih menjadi hal yang menyenangkan bagi saya. Entah terpapar energi yang selalu berhasil disebarkan, entah merindu kapan saya bisa punya waktu untuk menunjukkan cinta sebesar itu pada apa yang saya lakukan, entah... semua hentakan itu bisa membuat saya sekadar hidup dalam satu momen, menikmatinya, dan sejenak melupakan segala titik posisi kehidupan.
Masih ingat dengan nya? Sekarang ia memilih untuk bekerja, seperti yang memang sudah diprediksi sebelumnya. Hanya saja yang membuat saya iri padanya adalah dia bekerja di bidang yang akhirnya akan mempertemukan nya dengan kalian semua di akhir Mei. Ingin marah rasanya, ditambah kenyataan bahwa nampaknya karena ada keperluan lain, saya harus ikhlas melewati 2 konser kalian di bulan Mei yang digelar baik di Jakarta maupun Bandung, nampaknya iri dengan nya saja tidak cukup. Biarlah ya, sesekali ini saya mengalihkan energi negatif pada nya. Saya bukan cewek yang setiap bulan rajin menjadikan dia korban PMS saya, kok.
Apa kabar, Mas? Semoga sekali nanti semesta mendukung nya untuk sekadar berbincang dengan Mas, ya. Entah mengapa tapi membayangkan ia berhasil berbincang dan memberikan huruf v di salah satu kotak ceklis mimpinya selalu bisa membuat saya tersenyum. Meski bukan dengan usaha saya sendiri yang membantunya mewujudkan itu. Semua adalah perpanjangan tangan Tuhan, yang harus saya pahami bahwa tidak semuanya harus terjadi melewati saya.
Hidup saya tidak sedang sebaik itu. Dan meracau selalu bisa membantu meringankan pikiran saya sedikit. Seperti biasa, tidak pernah ada inti dalam tulisan seperti ini. Hanya saya yang meluapkan apa yang belum bisa saya ceritakan jelas ke orang lain. Dan entah kenapa dari banyak orang, saya malah meracau kesini. Dari banyak orang yang saya kenal, mungkin sejauh ini kenyataan bahwa ada orang dengan idealisme seperti kalian semua ditambah kenangan betapa bahagia nya saat bertemu beberapa detik di Sabuga waktu itu, adalah kenangan terbaik yang bisa menenangkan hati. Bahwa pada akhirnya semua pasti bisa diraih. Tidak ada mimpi yang mustahil selama kita tidak lupa untuk bangun dan berusaha untuk mewujudkannya.
Di penghujung racauan ini saya hanya mau berterima kasih, karena Mas dan teman-temannya sudah bersedia menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi saya untuk membantu mengerti bahwa tidak peduli kita mengawali darimana, pada akhirnya kita akan berada di tempat seharusnya kita ada.
Sehat selalu, semoga akan ada gigs yang bisa saya datangi secepatnya. Sampai hari itu, dan seterusnya nanti, sehat-sehat ya, semua.
Best Regards (and again, apologize for wasting your time),
Nurulita R. Tyas
*P.S. yang nanya ini dikirim apa ga, nggak lah gila lau.
“Salah gue juga sih kali, ya. Gue segitunya mikirin diri sendiri waktu itu. Di idup gue waktu itu yang terpatri ya cuma gue, mimpi gue, dan cara buktiin ke orang-orang terutama bokap gue kalo gue bisa. Jarang banget terlintas di pikiran gue tentang dia. Tentang dia dan keluarganya. Tentang dia lagi butuh apa, lagi ngerasa apa di kerjaannya, betah apa nggak dia di kantornya. Sampai di hari dia mutusin gue, di hari dia bilang dia siap idup tanpa gue… Di hari itu gue tau gue belum pernah memperlakukan dia secara baik. Secara pantas. Selama itu gue cuma melihat dia sebagai pendukung paling setia gue, energi gue. Tapi toh dia selalu ada. Mau gue seemosional apapun juga, dia tetep bakal ada. Dan disitu lengahnya gue. Gue nggak pernah nyadar kalo ketiadaannya adalah kryptonite gue. Sesimpel karena dia selalu ada.”
Bara Lintang, 2016.
Sesimpel karena dia selalu ada.