ZIKIR SECANGKIR KOPI SENJA
Senja melarut dalam cangkir, pekatnya kopi memeluk sepi. Bukan hitamnya yang kuingat, tapi aroma yang membisikkan pulang. Di setiap uap yang mengepul, ada nama-Mu yang terucap, perlahan, menjadi doa. Lidah tak perlu bergerak, hati saja yang bergetar.
Mungkin ini zikir paling sunyi, tanpa tasbih, tanpa suara. Hanya hening yang mengendap, bersama ampas kenangan yang pahit manis. Kopi ini saksi bisu, bagaimana waktu memudar, dan aku, masih mencari makna dalam setiap teguknya.
Ya Tuhan, jika senja ini adalah akhir, biarlah cangkir ini penuh syukur. Jika awal, biarlah setiap tetesnya menjadi penuntun. Dalam secangkir kopi senja ini, aku menemukan-Mu, dalam diam, dalam damai, dalam keabadian.













