SENJA DI PELABUHAN RASA
Perahu-perahu tertambat, membisu dalam jingga yang memudar. Di sini, di dermaga yang basah oleh air mata pasang, senja adalah jeda. Bukan akhir, bukan pula awal. Ia adalah ruang di antara. Ombak tak lagi bergemuruh, hanya desiran pelan yang menyisir pasir, seolah bisikan rahasia dari laut yang lelah.
Langit, selembar kanvas yang dilukis dengan kuas rindu, menyajikan gradasi warna yang tak sanggup diucapkan kata. Merah membara yang perlahan melebur menjadi ungu sendu, lalu biru tua yang menelan segalanya. Di sana, di cakrawala, matahari pamit. Tak ada ucapan selamat tinggal, hanya janji temu esok hari.
Angin yang bertiup, bukan lagi angin laut yang asin dan keras, melainkan hembusan lembut yang membawa aroma kenangan. Aroma kopi yang tumpah, tawa yang hilang, dan janji-janji yang tak sempat diucap. Semua mengendap, seperti sisa-sisa air di perahu yang ditinggalkan.
Di pelabuhan ini, rasa adalah nakhoda. Ia yang menentukan ke mana layar akan terkembang, ke mana sauh akan dilabuhkan. Dan senja, adalah jeda. Waktu untuk menimbang, apakah kita akan berlayar mencari fajar, atau tetap di sini, menjadi pelabuhan bagi senja yang abadi.












