Balada Si Kantong Kering
Aku baru saja resign. Rasanya begitu bahagia. Seperti terbebas dari ruang yang membelenggu. Aku ingat melihat seekor monyet di dalam kandang di halaman sebuah rumah di suatu jalan di Bandung. Kandang yang agak kecil untuk monyet yang berukuran agak besar. Aku pikir, aku bakal tahu perasaan monyet itu seandainya ia terbebas dari kandang.
Sekarang setelah satu bulan lamanya aku menganggur dan uang tabungan semakin menipis, aku merasa frustrasi tiba-tiba. Kumelongok kembali ke belakang, aku pun menemukan makna pada pekerjaanku. Bekerja menurutku, bukan hanya memberi rasa berdaya karena kita menghasilkan uang darinya, namun juga perasaan ‘ada’. Hati kecilku berkata, jika sekarang aku diberi kesempatan untuk kembali, aku akan melakukan pekerjaanku yang dulu tidak terlalu kunikmati dengan lebih bergairah. Bekerja adalah necessary evil. Entah orang terkenal mana yang bilang. Agaknya, sekarang aku sepakat. Memang aku punya tujuan, untuk itu aku berhenti bekerja. Namun arah yang sedang kutuju itu tidaklah pasti. Dan segala yang tidak pasti itu bikin takut.
Mungkin aku hanya sedang ketakutan, terutama mendapati tabunganku yang semakin menipis. Aku mendadak menyesali gaya hidupku yang terlalu let it flow, impulsif dan tidak berpikiran panjang. Di saat terjepit seperti ini, aku paham pentingnya punya sense of purpose. Mungkin, dikarenakan rasa takut itu pula aku meromantiskan persoalan bekerja. Mencoba mengkonstruksi makna dari keberadaan diri yang tengah terasa kurang berarti. Dengan itu, setidaknya aku jadi merasa masih ‘hidup’. Sekali lagi berharap dan yakin bahwa aku bisa lebih baik, bahwa aku masih punya kesempatan lain. Atau, aku sendiri yang akan menciptakannya.
Sebetulnya aku tahu apa yang aku ingin lakukan. Namun yang aku inginkan itu tidak akan segera menghasilkan uang, sementara aku butuh merasa mandiri secara ekonomi. Aku juga punya keinginan ini itu yang pemenuhannya membutuhkan uang. Misal, ingin pergi ke India. Mungkin hal itu pula yang menjadikanku begitu cemas seperti sekarang, alih-alih fokus dan bersungguh-sungguh melakukan hal yang semestinya kulakukan dan memang sangat ingin kulakukan.
“The greatest teacher i know is the job itself,” kata James Cash Penney. Aku tahu. Aku baru saja diajarinya banyak hal. Lebih daripada diajarkan soal menulis, aku diajarkan bagaimana bersabar, menghargai dan menjadi passionate. Bersabar menanti yang diharapkan sambil terus memperjuangkannya. Menghargai yang ada di hadapan dan menjalankan yang terbaik dengan penuh kesungguhan. Passionate dalam hidup. Bahkan meskipun hidup seperti dongeng Sisifus, bikin capek dan muak.













