Penyesalan Kita Semua
gambar dari sini
Setiap orang punya cerita. Ada cerita tentang seorang dokter muda yang sangat pintar dan kaya raya, yang barusan kubaca kisahnya di status panjang Facebook bibiku. Katanya, dengan segala kekayaan yang dia punya, dia enggak bahagia tuh. Dulu, sebuah mobil bermerk (yang aku lupa apa) adalah kebanggaannya, tapi setelah sakit, katanya, ia jadi sadar bahwa uang bukan segala-galanya.
Ada juga cerita tentang bibiku sendiri. Aku enggak akan ceritakan kisahnya di sini sebab itu rahasia. Usianya lewat 40 dan terdapat begitu banyak kejadian di dalam hidupnya yang menjadi rangkaian cerita panjang. Cerita tentang masa kecilnya, masa remaja, masa jadi ibu, sampai sekarang. Bibiku cukup sering curhat banyak tentang hidupnya padaku. Aku pun jadi bisa bayangkan suka dan dukanya; kebanggaan serta penyesalannya.
Nah, soal penyesalan. Salah satu tokoh di Reply 1994 pernah bilang, hidup adalah rangkaian pilihan. Karena hidup mesti memilih, penyesalan enggak bisa dihindari. Begitu kurang lebih redaksinya. Penyesalan yang enggak bisa dihindari itu, ada di dalam kehidupan yang kita jalani dan menjadi bagian dari cerita kita.
Usiaku 24 tahun dan aku punya segudang penyesalan. Beberapa di antaranya begitu besar hingga aku merasa malu dan berdosa. Terkadang, aku pun enggak merasa berharga setiap kali ingat betapa bodohnya aku di masa lalu. Aku enggak bangga dengan itu. Boro-boro! Tapi, itu adalah catatan kaki yang enggak akan pernah hilang di dalam cerita hidpku. Catatan kaki itu akan selalu ada dan menjadi keterangan tambahan mengenai diriku. Yang kurasakan, semakin banyak penyesalan, semakin besar juga rasa tidak percaya pada diri sendiri. Mengambil langkah pun jadi sulit (terutama mengenai hal yang dulu pernah salah).
“Apakah aku salah lagi? Aku takut salah lagi.” Begitu kira-kira.
Manusia begitu lemah. Kapanpun bisa melakukan kesalahan. Karena itu aku menyadari, semua orang pasti menyesal. Menyadari itu membuatku bisa lebih menerima penyesalanku sendiri. Membuatku berani berpikir, “Oh, penyesalan adalah bagian dari cerita hidupku. Pasti ada di salah satu babnya. Mungkin di setiap bab. Tapi sekarang aku sudah beranjak ke bab lain. Aku akan membuat kesalahan yang lebih baik.”
Aku sering bertanya-tanya, hidup tuh apa sih? Aku enggak ngerti sebab semua orang menjalani hidupnya dengan cara berbeda. Dan setiap kejadian dalam hidup tidak membantuku mendefinisikan hidup itu sendiri. Meski demikian, aku jadi memahami beberapa hal yang tidak bisa aku urai sebelumnya. Melalui penyesalan, aku merasa bahwa hidup adalah soal belajar dan memaafkan, terutama memaafkan diri sendiri. Sebab ternyata, yang paling sulit bukanlah memaafkan orang lain, tapi memaafkan diri. Penyesalan membuat kita perlahan-lahan jadi membenci diri. Lalu, kita pun akan menutup diri dari orang lain, sebab kita bahkan tidak percaya pada diri sendiri. Bahkan, kita juga menutup diri dari kehidupan. Orang yang pernah begitu terluka dan jatuh pada jurang penyesalan, pasti mengerti maksudku.
Aku merekomendasikan satu film yang begitu baik menggambarkan bagaimana kehidupan mengalahkan seseorang sehingga orang itu menutup diri dari apa pun juga. Memories of Matsuko judulnya. Film musikal asal negeri sakura ini menceritakan kisah hidup getir seorang perempuan, dari kecil hingga kematiannya. Film yang dikemas dengan penuh warna ini diiringi oleh lagu-lagu dan adegan-adegan riang yang menjadikan kegetiran terasa lebih mudah diterima. Meski demikian, kamu enggak akan tertawa lepas menontonnya. Dengan keriangannya, film ini justru mencuri empati penuh darimu. Dan tiba-tiba saja, kamu akan menangis haru. Tapi melalui warna-warni dan keriangannya pula, film ini justru membuatmu damai, sebab kamu diperlihatkan sisi indah dari seorang manusia yang pernah terpuruk. Kamu pun akan mulai melihat dirimu dari sisi yang lebih indah.












