Pernahkah terbayangkan dibenak kita, saat usia sekolah, orang seperti apa nantinya yang akan menjadi teman di kelas?. Pernahkah terbayang di fikiran kita teman yang cantik, ganteng, putih yang harus saya temani?.
Tidak bagi ku, aku dulu membayangkan dan bertanya pada diri sendiri. Apakah nanti aku memiliki teman? Apakah nanti aku bisa berteman dengan orang baru?.
Saat itu usia ku baru 15 tahun, aku menamatkan Sekolah Menengah Pertama ku di Bulian. Ya suatu kebanggan mengingat sekolah itu bertaraf Nasional dan terkeren pada zaman nya. Aku teringat tahun 2005 ketika, Murid dulu masuk melalui beberapa seleksi yang lumayan melelahkan, anak-anak zaman old diajarkan berjuang (karena kami belum kenal sistim sogok).
Bapak ku yang tidak pernah tahu urusan-urusan sekolah, sejak dulu aku memang di-biar-kan mengurus urusan sekolah ku sendiri. Mulai dari pendaftaran, membeli sepatu, seragam dan lain sebagainya. Bapakku hanya tahu berapa uang yang di butuhkan selalu ia kasih.
Aku bepergian naik angkot, tidak pernah bapakku mengantar-jemput. Ya terkadang aku iri melihat teman-temanku yang selalu di antar sampai pintu gerbang, tapi mamak ku selalu menjelaskan "bapak itu sibuk yuk, cari duit untuk kita" ya penjelasan tidak mendetail, tapi aku dipaksa memahami.
Aku memutuskan bersekolah di Jambi. Nanti tinggal dengan uwak dan nenek di sana. Bapakku menyetujui, mamak ku juga mengiyakan. Akhirnya bapakku mengambil izin kerja beberapa hari dan mengantarku mendaftar ke sekolah favorit, menunggu hingga tes selesai.
Ya aku baru merasakan, bagaimana urusan sekolah dibantu sama bapak. Namun aku tidak lulus di sekolah yang menjadi tujuanku, alasan nya karena pindah rayon lah, nilai bahasa Arab nya kurang lah (karena aku gak pernah belajar bahasa Arab di SMP).
Ya aku bisa saja masuk sekolah itu, uwak ku yang memiliki sedikit kuasa penuh (karena bersahabat dengan pemilik yayasan sekolah tersebut) bisa saja dengan mudah membuatku diterima.
Tapi bapakku menolak, ya teman-teman ku juga banyak mendaftar di sana. Mereka tahu betul bahwa aku tidak lulus. Lalu jika tiba-tiba aku bersekolah di sana apa jadinya? (bakal ada label, dia nyogok, dia ada orang dalam, dia punya dekengan kuat) ternyata bapakku memikirkan hal itu.
Aku pun merasa galau, tanpa tahu sekolah mana lagi yang ingin aku masuki. Setiap pagi berturut-turut aku melihat bapak-bapak mengantar anak nya, dengan seragam dan atribut yang banyak. Yaah ini masa ospek, Senin depan sudah mulai masuk sekolah.
Ini sudah hari Sabtu, aku masih tidak tahu di mana aku akan bersekolah. Ternyata uwak dan bapakku sudah mendiskusikan hal itu. Uwak ku memiliki rencana, yang disarankan sahabatnya, bahwa aku bersekolah saja dulu di sekolah lain, nanti setelah satu semester baru ajukan pindah, sehingga nanti sekolah dan tamatan nya dari sini (begitu rencana sahabat nya).
Seperti menerima misi dari agen rahasia, uwak melancarkan aksi nya. Ia segera menelpon sahabatnya yang lain yang kebetulan menjadi kepala sekolah madrasah di kawasan sungai gelam. Yaa hari minggu mereka janji bertemu.
Sore itu aku santai menonton drama korea yang berjudul "cruel temptation" yang lagi ngetrend di zaman nya, dari ayuk sepupu, uwak, bibi, bahkan nenek like sekali menonton drama ini.
Uwak datang membawa beberapa lembar kertas, ya namanya formulir aku telah di daftarkan di sekolah tersebut, aku tidak melewati masa ospek, dan ritual lain sebagainya. Yang aku tahu, besok aku harus kesekolah.
Hari telah pagi, aku memakai seragam SMP ku dulu. Padahal aku masuk di sekolah MAN. Saran sepupu ku "kalo namanya murid baru, ya pake baju sekolah asal" ya dengan kepolosan ku, aku terima masukan nya.
Sudah tradisi setiap Senin tentu nya upacara, aku dengan santai nya masuk lapangan padahal terlambat, saat itu susunan acara telah sampai ke amanat pembina upacara. Perjalanan dari rumah ke sekolah 45 menitan. Hal yang belum di perhitungkan uwak ku.
Dengan rambut di kuncir satu kebelakang, poni serong ke kiri, rok pas di lutut, lengan baju di atas siku tangan, aku selow masuk lapangan yang peserta upacara cewek nya memakai jilbab semua.
Pandangan sinia mulai aku dapatkan, celetukan "anaj baru nah", "mau jadi preman dio", "bagak nian ke MAN pake pendek". Saat itu aku tebal muka, tabal telinga, yang memberi amanat di lapangan itu sahabat uwak ku, yang menungguku di dalam mobil iyu uwak ku. Hari ini aku memiliki tameng yang kuat untuk melindungi ku.
Upacara selesai, aku diajak masuk ke ruangan kepala sekolah bersama uwak ku. Bapak itu begitu lembut dia berkata "nduk, besok pakai baju nya yang panjang ya, rok nya juga, rambut nya di tutupin jilbab aja, biar tambah cantik" sambil tersenyum. Kemudian terdengar pbelaan dari uwak ku "iya ini tadi kesekolah bingung pake baju apa, kata ayuk nya pake baju sekolah asal dlu, ya akhir nya kan nurut". Mungkin karena sama-sama laki-laki mereka saling mengerti.
Uwak ku melakukan pembayaran, dan pembelian seragam. Sementara siswa baru lain berebut kursi dan mencocokkan teman sebangku nya, sedangkan aku pulang kerumah bersama uwak.
Keesokan hari nya, aku kesekolah memakai baju muslim, uwak mengantarku dengan proton milik nya. Aku tidak tahu kelas ku yang mana. Hingga akhir nya aku di tentukan masuk kelas 11 A, ruangan deretan Al-Farabi.
Aku masuk kelas mengucapkan salam, seketika mereka di dalam kelas itu menjawab, kemudian menatap dan bertanya, berbisik dan yang aku dengar "eh itu anak yang gak pakek jilbab kemaren dak", " oi tengok tu, itu yang mau jadi preman kemaren". Aku memasang mataku, melihat sekeliling kelas dan aku menemukan bangku kosong paling belakang.
Aku berjalan menuju bangku itu, di pertengahan jalan, ada seorang cewek berbadan kurus, tidak terlalu tinggi, berkukit sawo matang memanggil ku "eh cewek, sini duduk sama aku " temen yang lain melihat dan ada yang mengejek, "cie mau buat genk preman" kemudian cewek kurus itu bilang "sibuk be kamu, diam lah". Ya akhir nya aku mengiyakan untuk duduk di sebelah nga.
Terdengar suara celetukan "cocok nian, wong palembang dengan preman baru tu oii". Aku pun tak menghiraukan, kami pun berkenalan dan dari bangku ini lah kisah kami dimulai.......