Ternyata Dia Adalah Artis
Cerita ini hanya saya persembahkan untuk rangkaian cerita masa lalu yang cukup menarik untuk saya bagi, meskipun menurut orang lain tidak. Tapi saya hanya ingin berbagi, karena bisa saja ini terjadi juga pada Anda di masa lalu atau bahkan masa yang akan datang.
Bertemu dengan public figure ketika saya bekerja di perusahaan tempat saya bekerja dulu bukanlah hal baru. Seperti ketika bertemu dengan artis yang juga penulis dan hendak menulis di perusahaan saya tempat bekerja dulu.
Misalnya saja Cak Nun atau anaknya Noe ‘Letto’ yang lagu-lagunya disukai ibu-ibu bahkan ibu saya. Seniman yang pemikiran-pemikirannya banyak dibumbui filsafat. Saya juga pernah bertemu dengan Gobin Vashdev, salah satu kandidat Penghuni Terakhir, sebuah acara di ANTV yang booming saat saya SMP. Gobin adalah kandidat yang saya kagumi dulu, tidak pernah terbayangkan saya bisa bertatap muka dengan jarak hanya beberapa senti saja. Dia juga menikah dengan sesama kandidat Penghuni Terakhir, Tika namanya. Gobin yang juga menulis buku, sengaja diundang oleh perusahaan untuk acara Kamisan di kantor.
Bahkan tidak bisa saya hitung berapa kali saya bertemu dengan surayah Pidi Baiq. Saya pernah ditraktir dia makan saat IIBF 2014, sampai bercengkrama mengenai Milea, tokoh yang ada di novel Dilan. Tidak canggunh, surayah memperlihatkan foto wajah Milea asli ketika SMA. Milea anak jenderal yang waktu tahun 90-an saja sudah punya kamera bagus. Beberapa kali saya todong untuk mau menandatangani novel Dilan 2 pesanan teman. Meski sering saya sodori buku untuk ditandatangani, dia sosok yang sangat rendah hati dan mau berbagi. Itulah seniman yang sesungguhnya menurut saya. Entah kapan lagi saya bisa bertemu dia langsung, bukan di kantin The Panas Dalam.
Pernah juga Pak Miftah Faridl mengisi acara Kamisan. Pak Miftah terkenal sebagai ustadz dan juga penulis buku islami yang buku-bukunya sudah saya baca sejak SD. Banyak ustadz bahkan menteri yang pernah saya temui ketika saya bekerja dulu, termasuk Pak Anies Baswedan sebagai menteri pendidikan.
Entahlah siapa lagi yang pernah saya temui dulu, saya lupa. Yang jelas terakhir kali di bulan-bulan terakhir saya tugas, saya beberapa kali meeting dengan Shafiq Pontoh, salah satu tim sukses Jokowi. Bersamaan dengan Shafiq Pontoh, disana juga ada Sogi Indra Dhuaja yang dulu bermain Ekstravaganza di Trans TV. Bahkan kami sempat bertukar kartu nama dan saya sering mengirim email proyekan yang kami kelola bersama. Minggu terakhir saya bekerja di luar kota juga sempat bertemu Umay, pemain sinetron sekaligus penyanyi cilik yang sekarang sudah remaja.
Hmm… saya juga pernah berjabat tangan dengan ayahnya Rio Haryanto si pemain F1. Waktu itu ayahnya bersama tim dari perusahaannya yang bernama Solo Murni sedang banyak mengadakan kerjasama. Termasuk kerjasama mencetak buku yang saya tulis. Hehe. Sayangnya saya belum sempat ketemu Dee Lestari, penyanyi sekaligus novelis yang saya sukai karyanya. Tapi waktu Frankfurt Book Fair 2015 kemarin, atasan saya meminta Dee memegang buku saya sambil difoto untuk kemudian dikirim ke saya sebagai kenang-kenangan. Hanya itu, tapi saya cukup senang berada dalam naungan satu perusahaan bersama Dee dalam menerbitkan buku. Hehe.
Kali ini yang membuat saya kaget adalah satu orang rekan saya dari kemendikbud yang melakukan event sastra kerjasama kemendikbud dengan perusahaan tempat saya bekerja dulu. Saya pernah melewati event itu dua kali dan keduanya dia bersama saya mengerjakan tugas yang sama walau dia dari dikbud dan saya dari perusahaan, yaitu mengumpulkan dan membereskan naskah masuk sampai mendapatkan pemenangnya dari juri. Teman saya itu saya panggil dengan Mas Anto.
Bahkan di hari ketiga, yakni hari terakhir event itu. Saya dan dia adalah orang yang tidur hingga larut malam walau di kamar yang jaraknya berjauhan. Dia menunggu saya mengumpulkan pemenang dan tugas dia menuliskan pemenangnya di sertifikat untuk kemudian diketahui atasannya di kementerian. Selain itu, saya dan dia selalu kerjasama apabila saya membutuhkan bantuan dia untuk keputusan-keputusan kementerian dan dia meminta saya membantunya apabila teman saya yang tugasnya lain, lama mengumpulkan tugas.
Beberapa kali saya lihat istri dan anaknya dia bawa ketika event sastra tersebut. Anaknya lucu, cantik, dan lincah sekali. Saya pernah ajak anaknya berbincang saat dia menghampiri.
Anehnya saya baru tahu kalau Mas Anto itu adalah salah satu bassis grup band Putih, band asal Jakarta yang cukup terkenal saat saya SMA. Saya mengetahuinya ketika saya sudah tidak bekerja lagi di perusahaan saya bekerja. Saya baru tahu ketika saya menemukan Path dia dengan embel-embel Putih band di belakangnya. Path saya tersambung dengan akunnya karena saya dan dia sama-sama bertukar alamat email dan nomor handphone untuk keperluan bekerja.
Serasa mengenal grup band itu, saya pun searching melalui google engine. Ternyata benar, band itu cukup sering dinyanyikan lagu-lagunya saat saya SMA dulu. Bahkan lagunya suka saya nyanyikan ketika SMA. Kira-kira beginilah reff-nya:
Sampai mati kisah ini kan kujaga/ hingga berakhir napasku/putih cintaku untukmu//Sampai mati dirimu kan dihatiku/tiada mungkin tuk terganti/walau semua telah berlalu//
Itulah reff-nya yang saya ingat, mudah-mudahan tidak salah kata-katanya. Hehe.
Saya baru sadar kalau Mas Anto itu bassisnya adalah ketika saya cari wajahnya di google dan benar dia memakai kacamata dari dulu. Hanya bedanya, dua tahun ini saya kenali, wajahnya lebih dewasa dan lebih keren sekarang dibanding dulu. Hhii. *maaf ya, mas*
Duh, mas Anto. Saya memang tidak tahu wajah-wajah personil Putih Band kecuali vokalisnya saat itu yang sejenak sempat saya perhatikan di video klip. Namun seperti grup band lain di era itu yang banyak bermunculan, tidak ada satu band pun yang sangat saya sukai jika bukan karena musiknya yang easy listening. Makanya saya tidak mengenali wajah Mas Anto. Hahaa…
Terima kasih kerjasamanya selama dua tahun ini, Mas. Terima kasih juga untuk lagunya yang pernah saya nikmati waktu SMA dulu.
Semoga Mas Anto tidak pernah baca tulisan saya ini. Hahaaa….