Hallo, 25 Weeks Pregnancy!
Hi, baby… terima kasih untuk kerja samanya selama 25 minggu ini. Semoga sampai lahiran, kamu selalu sehat dalam perut Bunda ya, Nak! Kamu makin aktif setiap waktu. Pagi, siang, bahkan menjelang tidur, tampaknya kamu selalu berbahagia dalam rimba amniotik.
5 hari lagi, tepat 7 bulan aku dan suamiku membina rumah tangga. Tidak terasa bahwa perutku sudah diisi janin berusia 6 bulan 1 minggu terhitung dari haid pertama bulan terakhir. Awalnya aku berniat menuliskan pengalaman ini ketika 4 bulanan, tapi waktu yang kupunya waktu itu terbagi dengan tugasku sebagai pengajar dan waktu luangku kupergunakan untuk bersama dengan suami. Kini, sebulan sudah statusku berubah menjadi ibu rumah tangga yang terkadang ditinggal suami mencari nafkah sambil menunggu kelahiran baby tiba, aku punya waktu untuk menulis lagi di sela-sela pekerjaan rumah.
Masih teringat jelas baru seminggu kami menikah, teman-teman suami dan aku sudah mulai bertanya, “Sudah ada hilal?” Tentu saja waktu itu aku cuma tersenyum dan bilang, “Doakan saja, baru juga beberapa minggu.” Terkadang saat suami harus kembali ke kotanya dan malam tiba, aku selalu berdoa untuk secepatnya bisa hamil. Mengingat usiaku dan suami yang terpaut 5 tahun sudah cukup dewasa untuk menimang anak.
Dua minggu setelah menikah, aku baru mengambil cuti karena sebelumnya harus mempersiapkan lesson plan untuk mengajar. Waktu cuti seminggu kuhabiskan untuk menikmati masa bersamaku bersama suami di Tasik. Aku tinggal sementara di rumah suamiku yang adalah rumah orang tuanya. Kami cuma berdua tinggal di sana. Gunung Galunggung dengan ratusan tangga, body rafting di Citumang, dan menikmati Pantai Pangandaran pun kami lalui berdua.
Sepulang dari tempat-tempat tersebut badanku meriang, perutku tidak nyaman. Kupikir penyakit maagku kambuh karena siangnya aku menikmati seblak pedas. Malam tiba, panasku meninggi, kata suami aku seperti sudah tidak ingat apa-apa, hanya tertidur lesu. Suamiku dengan telaten mengompresku, menyediakan air putih, dan memberiku susu dan berharap panasku turun. Paginya panasku belum benar-benar turun setelah makan bubur. Aku pun diboyong ke klinik. Sepulang dari klinik, ibu mertuaku mengunjungiku yang sedang terbaring. Masa itu aku teringat waktu masih kelas 4 SD dulu, ketika itu aku dinyatakan thypus kemudian DB dan harus dirawat di RS. Bapak terpaksa menemaniku malam hari sepulang mengajar dan mamah siang hari, sedangkan adik-adikku dititipkan pada kakaknya bapak. Waktu itu malam harinya aku merasa wajah-wajah orang menjadi membesar dan aneh. Kini aku merasakan demikian juga selain langit-langit rumah yang berputar.
Banyak orang yang menyangka aku hamil. Tapi aku belum percaya. Terpaksa waktu cutiku kuperpanjang satu hari karena demamku tidak kunjung membaik. Aku pun pulang ke Bandung hari Senin. Suamiku pulang beberapa hari setelah memastikan panasku turun setelah dia beri madu. Sore setelah aku pulang kerja, aku izin pada suamiku untuk pulang ke rumah mamah karena panas kembali turun. Suamiku khawatir. Besoknya aku kaget setelah kutemukan bintik-bintik merah kecil di tangan dan kaki. Apa aku DB lagi? Atau karena panasku yang terlalu tinggi kemarin-kemarin? Atau lebih parahnya, apa aku rubella? Sorenya terpaksa aku ke UGD bersama mamah untuk cek lab. Hasilnya darahku baik-baik saja. Aku tidak terkontaminasi virus rubella yang menakutkan itu, mengingat aku takut jika aku sedang hamil. Dokter cukup lama mengobservasiku, hasilnya aku dinyatakan keracunan obat antibiotik. Mamah pun berbicara padaku 4 mata, “Kamu sakit kemarin minum amoxilin? Kenapa gak bilang sama dokternya atau suamimu?” Aku pun menjelaskan bahwa jangankan untuk ingat alergi obatku, melihat wajah orang aja seram sendiri. Hehe.
Sebulan setelah menikah, aku telat 3 hari. Ada rasa ingin tahu kondisiku waktu itu lewat testpack, tapi ada rasa enggan juga mengingat aku takut kecewa dengan hasilnya. Akhirnya tanpa izin suami karena aku sedang di rumah ibuku, paginya aku testpack sambil berwudhu. Benar saja, garis merah di testpack hanya satu. Ada rasa kecewa dalam hati tapi akal sehat aku kembali pulih setelah kuyakini bahwa belum waktunya, baru juga menikah satu bulan. Barulah jam 8 pagi ketika anak-anak melaksanakan kegiatan cookery, aku mulas dan izin pada partnerku di kelas. Ketika kucek, ternyata aku baru haid.
Aku menghubungi suamiku dan bilang, “Kang, aku mens. Belum rezeki ya kita.” Suamiku menenangkanku dan bilang, “Gak apa-apa, kamu masih muda. Kita baru sebulan menikah. Allah belum ngasih karena belum percaya sama kita sekarang.” Aku pun membalas ucapan suamiku begini, “Iya, ya kang. Kalau sekarang aku hamil juga kasian janinnya. Aku kan sempat demam tinggi terus ditambah kercunan amoxilin.” Suamiku tersenyum di balik sana, “Nah, itu tahu. Segala sesuatunya sudah Allah atur dengan sangat amat baik.”
Tiba di bulan kedua, aku merasakan pegal-pegal dan perut yang gak nyaman. Tentunya gejala ini beda dengan penyakit maagku yang suka kambuh. Perutku serasa panas, rasa malas, dan gampang mengantuk kian menyerang. Hingga suatu minggu tepat di bulan kedua pernikahan, aku ditugasi menemani anak-anak hiking ke tempat yang katanya cukup curam. Entah kenapa kali ini batinku merasa enggan untuk pergi, padahal biasanya aku semangat hiking untuk menghilangkan jenuhku di kelas.
Tanpa pikir panjang, sepulang sekolah aku membeli sebuah ember titipan suamiku sambil diantar adikku. Aku iseng membeli 2 buah testpack biasa dan cukup murah tanpa memberi tahu siapapun termasuk adikku yang tidak curiga. Saat adzan maghrib berkumandang, kupakai satu testpack. Hasilnya … ‘ah, masih strip satu,’ pikirku waktu itu. Setelah kulihat ulang sehabis mengaji, aku pun melihat seperti ada dua garis dan yang satunya berwarna merah muda hampir samar.
Apa iya aku hamil? Soalnya di petunjuk penggunaan dan saat googling, warna merah muda sekalipun pudar adalah hal yang menunjukkan bahwa seseorang hamil. Kufoto testpack tersebut dan kutanyakan pada mamah dan suami. Mereka sepakat menjawab, “Besok pagi coba lagi!”
Isya tiba, aku memberi tahu teman satu levelku tentang kemungkinan yang terjadi. Aku meminta dia untuk menggantikan tugasku untuk menemani anak-anak hiking jika memang pagi besok dua garis itu semakin jelas. Alhamdulillaah, dia mau. Terima kasih, Mutia!
Besoknya sekitar jam 3 aku terbangun dengan segar. Saat aku mengeluarkan testpack kedua, kulihat bayangan dua garis merah semakin jelas. Kuhubungi suamiku, mamah, dan tentu saja teman kerjaku. Aku tak kuasa bersyukur dan mengucap, “Alhamdulillaah, Ya Allah. Waktuku tiba!”
Satu minggu setelah testpack, kuberanikan diri menemui dokter kandungan dengan diantar suami. Hasilnya, ada satu kantung janin yang sedang mengalami proses penebalan kata dokter. Dokter tersebut memintaku datang dua minggu lagi untuk cek kandungan sekalian mengecek tensi darahku yang sempat meninggi.
Alhamdulillaah, setelah cek lagi. Janinku berkembang dengan baik. Tensi darahku normal. Aku bahagia. Kubiarkan teman-teman kerjaku tahu kabar baik ini seperti yang dipesankan teman kerjaku satunya lagi, “Jangan sampai orang lain gak tahu, Yul. Ini kabaf bahagia. Performa seorang ibu hami juga akan menurun apalagi di trimester pertama.” Berkat teman tersebut, kuberanikan diri untuk mengakui bahwa aku HAMIL. Terima kasih, Bu Puja!
Memasuki usia kandungan 2 bulan sampai 4 bulan, aku mengalami mual dan muntah tiap sore hari. Tidak nyaman dengan bau masakan. Tidak nafsu makan tapi terpaksa aku makan siang dengan menu tempat kerjaku karena aku harus menemani 25 anak di kelas makan siang. Aku tidak menyukai sayuran karena akan membuatku merasa mual, aku tidak suka krupuk karena rasanya aneh di lidahku, dan aku tidak suka pedas karena akan menimbulkan rasa pahit di lidah. Semua terhenti saat aku memasuki usia kandungan 4 bulan lebih ketika nafsu makanku kian menggila hingga kini. Berat badanku naik 5kg saat memasuki 6 bulan kandungan dan aku selalu berdoa untuk dia yang sedang ada dalam perut untuk sehat selalu dengan berat badan normal, fisik yang sempurna, sehat jasmani dan rohani, cerdas, dan tentu saja sholeh/sholehah. Aamiin.
4 bulan belum diketahui jenis kelaminnya karena waktu itu fokus pada penyembuhan flu dan batukku. 5 bulan janin masih malu-malu menampakkan jenis kelaminnya karena tertutup oleh kedua kakinya. 6 bulan kemarin, dokter dan perawat bilang kalau dia baby girl. Beberapa orang termasuk saudara yang sempat bertemu denganku semua bilang bahwa aku seperti sedang mengandung anak laki-laki. Hehe… entahlah mereka melihat darimana, yang jelas kuingin dia hidup sehat dan sempurna fisiknya, dia perempuan atau laki-laki.
Alhamdulillaah… Bunda dan Yanda akan sayang kamu selalu anak pertamaku. Bunda bersyukur sebab kamu nyatanya adalah doa-doa waktu kecil yang pernah Bunda ucapkan bahwa Bunda ingin punya teman perempuan, sebab semua saudara laki-laki. Kehadiranmu yang nyata, kami berdua bersyukur dan sudah menyediakan nama untukmu. Bulan depan, mungkin kami akan USG 4 dimensi untuk mengetahui jelas rupa dan jenis kelaminmu. Perempuan atau laki-laki, kami akan selalu menyayangimu. Terima kasih untuk perjuangan kita selama 25 minggu ini. Terima kasih untuk selalu kuat dan sehat ketika Bunda harus membawamu bekerja dan pulang pergi ke luar kota menemui Yandamu. Sampai jumpa di dunia nanti 3 bulan lagi. I love you …
Dear mommy to be, percayalah bahwa Allah akan memberimu kepercayaan besar di waktu tepat dan amat baik bagimu. Semoga Allah segerakan! Aamin.