Itulah Jawabannya
Selama kuliah ini, beberapa kali saya mengalami percakapan seperti di bawah ini:
“Kak, kuliah jurusan apa?” | “Pembangunan Wilayah, Dek” | “Ooh, teknik yaa?” | “Bukan, kalo yang di teknik itu Perencanaan Wilayah & Kota, disingkatnya PWK. Kalo jurusanku disingkatnya PW.” | “Lah bedanya apa, Kak?”
atau yang langsung tembak...
“Apa sih bedanya PW sama PWK?”
Setelah sampai pada pertanyaan itu, biasanya saya menjawab copas jawaban dari kakak tingkat saya dulu ketika saya menanyakan pertanyaan serupa di tahun pertama saya. Dan jawaban copas itu adalah....
“Kalo PW itu kajiannya general dan perspektifnya spasial, kalo PWK lebih teknis”
Kemudian setelah mendapat jawaban itu, si penanya biasanya akan manggut-manggut berpretensi mengerti, padahal saya yakin dia nggak ngerti sama jawaban saya. Ya gimana bisa ngerti, wong saya aja yang menjawab juga nggak pernah yakin sama jawaban tersebut. Biasanya, untuk mengantisipasi terjadinya dia berpretensi mengerti hanya agar memuaskan saya sebagai penjawab, saya melanjutkan dengan ilustrasi-ilustrasi dari apa yang sering diceritakan oleh dosen-dosen saya, dan saya membandingkan dengan konteks pembicaraan anggota komunitas yang saya ikuti yang kebetulan basisnya adalah PWK .
“Misalnya, nih, dalam suatu wilayah, anak PW itu kerjaannya mengidentifikasi potensi-potensi wilayah tersebut, terus mereka menentukan deh yang mana spot-spot yang cocok dijadikan perumahan, yang mana yang harus dijadikan kawasan lindung (nggak boleh dibangun), dan sebagainya. Nah, selanjutnya, untuk urusan desain kota dan hal-hal teknis lainnya, itu kerjaannya anak PWK. Jadi kita (anak PW) lebih general, dan mereka lebih teknis. Gitu.”
Barulah setelah saya “repot-repot” menjelaskan sepanjang itu, dan dia juga kayaknya “kepaksa” mendengar penjelasan saya, saya bisa yakin bahwa dia mengerti. Minimal, kalau pertanyaan itu adalah pertanyaan titipan dari temannya atau adiknya atau siapapun yang sedang galau memilih jurusan kuliah dan berniat belajar tentang perencanaan, dia memiliki gambaran yang (saya anggap) paling representatif dari fenomena yang sebenarnya, dan bisa memberikan jawaban yang sama ke yang bertanya kepadanya.
Saya memang orang yang high-demanding untuk urusan convincing or to be convinced. Ketika ada seseorang yang mencoba meyakinkan saya, tetapi saya saja tidak tertarik, saya tidak akan repot-repot berusaha memahami. Makanya, (kalau ada yang pernah ngobrol atau dengerin saya sedang menjelaskan pasti tau), saya senang sekali menggunakan variasi intonasi dan penekanan, hanya di bagian yang saya anggap perlu ditekankan.
Skip aja paragraf di atas. Lanjut soal bedanya PW dan PWK ya.
Siang ini, saya secara tidak sengaja menemukan jawaban yang paling dicari-cari selama saya kuliah. Kalo dengerin pendapat teman sih, mereka pada jago berpersepsi, didasarkan pada pengalaman-pengalaman mereka melanglangbuana dari satu seminar ke seminar lain, dari satu konferensi ke konferensi lain, dari satu dosen ke dosen lain, dari satu juniorcantik satu ke juniorcantik yang lain. But somehow, their answers could never really satisfy me. At least, I always thought that their answers are personal perception, which I can not surely refer when I am discussing about the stuff with my friends. Sampai saya ketemu sama bukunya Prof. Achmad Djunaedi, guru besar PWK UGM, yang judulnya Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota.
Jadi, menurut Djunaedi (2014), perbedaan mendasar antara perencanaan wilayah (regional planning) dengan perencanaan kota (urban planning) adalah objek perencanaannya. PW memiliki objek perencanaan berupa wilayah, sedangkan PWK memiliki objek perencanaan berupa kota. Lalu, dari objek perencanaan yang berbeda, otomatis isu-isu yang menjadi fokus kajian pun berbeda.
PW akan sangat concern terkait isu-isu kewilayah, misalnya tentang ketimpangan perkembangan wilayah satu dan lainnya, atau tentang stagnansi perkembangan suatu wilayah akibat terserap perkembangan wilayah di sekitarnya yang lebih pesat, atau juga tentang gimana suatu wilayah dapat mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakatnya, dan lain lain.
Sedangkan PWK, di sisi lain, interest mereka ada pada isu-isu perkotaan dari mulai kemacetan, squatter & slum area, pencemaran, kepadatan penduduk, dan lain-lain yang masih sejenis dengan permasalahan-permasalahan perkotaan. Beban amanah yang dipikul orang-orang PWK adalah menekan seminimal mungkin masalah-masalah perkotaan tersebut, meanwhile orang-orang PW akan dipusingkan dengan pengembangan wilayah-wilayah secara sehat (tanpa mengorbankan perasaan wilayah lainnya).
Jadi, kalau kamu seorang calon mahasiswa yang tertarik dengan bidang ilmu perencanaan, first lemme tell you that:
UGM has 2 department majoring in planning! Yak! PWK (di Fakultas Teknik) dan PW (di Fakultas Geografi).
The difference between those two department majoring in planning are not-that-much. Main field-nya tetap sama-sama di perencanaan, tetapi bedanya di scope perencanaannya itu sendiri.
Jadi, kalau kamu seorang mahasiswa baru di PW UGM, dan kamu masih punya kegalauan yang mendalam tentang bedanya kalian dan teman-teman di PWK, I’ll tell you this: you absolutely have no reasons to worry. Because you are different in the very basic yet important of any sciences: perspective.
Jadi, kalau kamu bingung apa sih bedanya PW dan PWK, ya itulah jawabannya.
Regards,
elsus.
Mahasiswa tingkat akhir Pembangunan Wilayah, Universitas Gadjah Mada.
*Referensi:
Djunaedi, Achmad. 2014. Pengantar Perencanaan Wilayah dan Kota. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.












